Ulasan ini mungkin mengandung spoiler yang tidak disengaja karena banyak banget hal yang perlu aku cipratin dan kenapa harus bintang dua yang dikasih buat rating. Jadi, semisal kebetulan baca ulasannya, kusarankan hati-hati.
Oke, aku bukannya tega kasih bintang rendah banget ke satu buku, tapi jujur buku ini bikin mixed feeling. Yeah, ada sedikit rasa geli dan (sorry author) jijik juga. Preference masing2. Lemme tell you why.
Pertama, soal alasan Anna LDR sama suaminya. I mean, yaaa mereka emang meniti karier masing2 yang bisa dibilang cemerlang lah, ya, tapi harus pakai pisah, kah? Di sini aku udah nethink ke Anna karena dia kelihatannya wanita keras kepala.
Kedua, that scandal with her dean. OMG. Aku merinding bacanya! Ya, ya, ya, nggak ada yang salah sama perasaan cinta yang mendadak tumbuh (bahkan kalau itu ke orang yang salah), tapi plis, Anna hormat, kan, sama professornya? Kenapa dia ngelakuin itu? Even dia pinter dan cinta bisa tumbuh karena berada di lingkungan yang sama, tetep aja nggak seharusnya dia ngaku. Sori, Ann (and the author), kesannya kamu kayak murahan dengan menyodorkan diri. Salam perpisahan? Yuck. Geli setengah mampus sama cara berpikir so-called-smart-and-gorgeous-woman.
Sekali lagi, ini preferensi dan selera masing2. Age gap memang bukan topik, tema, atau trope favoritku. Apalagi yang jaraknya sampai belasan tahun. Just no. Dan lihat selipan di sini, aku nggak bisa tahan lagi. Langsung skimming, bahkan bagian si professor juga (bahkan aku nggak tahu buat apa ada pov si Sindu segala).
Ketiga, Anna memang dibilang di awal masih belum tahu cinta atau enggak ke Frans, tapi perilakunya idk, feel dia sebagai orang yang belum cinta tapi lama2 luluh, tuh, nggak ada. Karakternya ... just flat. Apalagi penulis pakai tipe show-nya banyak banget. Karena malas dan sering diulang, akhirnya aku skip. Perasaan Anna ke that professor bikin eneg dan sepertinya hasil skimming bikin aku melewatkan beberapa hal. Hah, udah kepalang gedeg, mau gimana lagi. Agak sayang aja kenapa Sindu dikasih porsi, sih? Padahal nongol juga nggak sampai akhir. Perasaan Anna yang katanya masih nyisa untuk si profesor tercinta juga nggak jelas. Hanya tertulis di narasi. Nggak lebih dari itu.
Keempat, aku memang nggak membenarkan ks, bahkan dalam rumah tangga, dan apa yang Frans lakuin itu udah keterlaluan banget. Cemburu, seburuk apa pun, nggak dibenarkan melakukan kekerasan. Jadi, kalau akhirnya dia ngelakuin itu ke Anna, dia berengsek. Banget.
Kelima, awalnya Frans bakal kudapuk menjadi karakter paling kusuka di sini karena udah sabar banget. Tapi karena kelakuannya yang di poin keempat, rasa suka, kagum, respek, atau apa pun itu langsung luruh. Cara dia mengatasi masalah juga nggak banget. Entahlah. Makin ke belakang, karakternya malah kerasa miss.
Masih banyak hole sebenarnya dan saking kepengin cepat selesai, bahkan nggak sempat kucatat apa saja. Intinya, buku ini bagus, buat mereka yang suka tema pernikahan dengan konflik datangnya orang ketiga dan lain-lain. Hanya saja bukan mangkok mie-ku. That's it.