Ayah Louisa, Dokter Christian Ford -seorang dokter ternama di Jakarta- tewas di ruang kerjanya di rumah sakit Santa Cruz. Sidik jari orang yang diduga adalah pelaku menempel di cermin kamar mandi ruang kerja dr. Ford. Forensik telah melakukan penyelidikan, dan hasilnya: sidik jari itu tidak ada pemiliknya! *** Louisa yakin ia mengenali sidik jari yang menempel di cermin di ruang kerja ayahnya. Meski memiliki ingatan photografik, namun sekuat apa pun ia coba mengingat, hasilnya tetap nihil. Dibantu oleh Daniel -detektif swasta yang selama delapan tahun ini telah menemaninya memecahkan berbagai kasus- Louisa berusaha mengungkap misteri kematian ayahnya. Penyelidikan menggiring mereka pada sebuah organisasi kejahatan besar, dan juga catatan dr. Ford tentang formula penyembuh penyakit Alzheimer!
Dokter Christian Ford, ayah Louisa, ditemukan tewas di rumah sakit tempatnya bekerja. Polisi menduga ia bunuh diri atau mengalami kecelakaan karena tidak menemukan bukti kekerasan di tubuh korban. Namun Louisa berpikiran lain. Ia yakin ayahnya dibunuh. Bersama detektif Daniel, Louisa yang memiliki ingatan photografik, memulai penyelidikan dari sidik jari di cermin kamar mandi ruang kerja dr. Ford yang menuntun mereka pada terkuaknya sebuah misteri.
***
Ini adalah novel detektif paling amburadul yang pernah saya baca. Saat melihat sampul dan judul, saya pikir ini novel terjemahan. Begitu baca blurb dan nama penulis, saya kira novel yang banyak berlatar di luar negeri berdasarkan nama-nama tokohnya. Ternyata tidak dua-duanya. Penulis sepertinya hendak mengikuti gaya kepenulisan serial Sherlock Holmes. Sayang eksekusinya gagal total. Pemilihan nama tokoh yang asal keren cukup mengganggu. Karakter mereka tidak dieksplor dengan baik. Jangankan antar banyak tokoh, dialog antar dua tokoh saja sulit dibedakan. Saya mesti bolak-balik untuk mengetahui siapa yang tengah berbicara. Perpindahan scene amat kasar. Sama sekali tidak ada penanda. Tiba-tiba sudah ganti adegan saja. Tata bahasanya kaku. Datar. Tidak ada 'rasa' di dalamnya. Satu bintang.
Baca buku ini bulan kemarin tp mandeg ditengah jalan krn mood baca langsung ilang&akhirnya skarang dipaksakan utk menyelesaikan buku ini.awalnya semangat baca,reviewnya lumayan positif tp aku gak tahan baca buku ini.pilihan kata&bahasa terlalu kaku,karakter louisa juga nggak bgt,mungkin pengen kayak sherlock yg jenius tp sibuk dgn dunia sendiri ga peduli ma sekitarnya tp gagal..akhirnya jd karakter yg nyebelin menurutku,terlalu kaku,egois,self center,dll.kasus yg harus dipecahkan juga terlalu mbulet gak jelas,makin kebelakang ceritanya makin gak nalar..entahlah..yg jelas kecewa baca buku ini
Sebenarnya dari segi ide cerita, novel ini cukup menarik. Tapi sayangnya menurutku eksekusinya kurang pas di beberapa bagian. Penggambaran beberapa karakternya seperti kurang digali, terkadang saya merasa kalau saat membaca novel ini, ada beberapa hal yg kurang saya pahami krn tiba-tiba saja karakternya sudah digambarkan seperti ini atau itu seakan sudah dijelaskan sebelumnya. Padahal ini novel stand alone, kok semacam seperti series dan banyak bagian yg muncul di series sebelumnya jd bagi yg langsung membaca novel ini bakalan merasa tertinggal banyak hal. Selain itu saya jg merasa ceritanya kurang fokus, mungkin niatnya sih membuat kasus yg saling berkaitan tp malah terkesan ga nyambung dan mengaburkan kasus utamanya. Endingnya jg kurang greget, semacam masih ada yg kurang. Menurutku itu flaws dari novel ini, tp ga menutup kemungkinan kalau novel ini berbeda bagi pembaca yg lain. Secara keseluruhan novel ini menarik untuk dibaca saat senggang.