Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dari Mao ke Marcuse – Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin

Rate this book
Inilah buku ketiga dan terakhir dari buku-buku Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ yang memperkenalkan pemikiran Karl Marx dan pengaruhnya yang sedemikian dahsyat. Dalam Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (1991), Prof. Magnis menjelaskan pokok-pokok pikiran Marx dan perkembangan Marxisme sampai sebelum Lenin. Sementara dalam buku kedua, Dalam Bayang-Bayang Lenin: Enam Pemikir Marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka (2003), ia memaparkan pikiran utama tokoh-tokoh yang telah mengubah Marxisme dari sebuah teori menjadi gerakan politik internasional, yang dengan nama komunisme pernah menguasai sampai sepertiga umat manusia.

Dalam buku yang ketiga ini, Dari Mao ke Marcuse: Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin, Prof. Magnis kemudian menjabarkan perkembangan teori-teori Marxis mulai dari Karl Marx sampai ke bagian kedua abad kedua puluh, serta pokok-pokok pikiran Mao Zedong, Ernst Bloch, Karel Kosik, Max Horkheimer & Th. W. Adorno, dan Herbert Marcuse hingga munculnya gerakan Kiri Baru.

"Karl Marx, apalagi Lenin, tidak memahami diri sekadar sebagai pemikir yang lantas pantas didiskusikan dalam rangka sejarah filsafat melainkan sebagai pendorong praksis revolusioner. Maka mereka tidak dapat dibaca secara netral, dari perspektif pengamat tak terlibat. Para tokoh Marxis sendiri selalu kritis dan mengambil sikap, dengan hati yang terlibat pada usaha untuk menciptakan masyarakat yang benar. Saya pun bukan seorang penulis yang netral. Saya berusaha untuk memaparkan masing-masing pikiran seobjektif mungkin, tetapi saya berpendapat bahwa menyikapi pikiran merupakan tuntutan kejujuran, maka saya tidak menyembunyikan sikap saya.

408 pages, Paperback

First published January 1, 2013

15 people are currently reading
96 people want to read

About the author

Franz Magnis-Suseno

43 books88 followers
Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno SJ adalah rohaniwan yang lahir tahun 1936 di Eckersdorf, Jerman, dan sejak 1961 hidup di Indonesia. Dia adalah guru besar filsafat sosial pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta dan guru besar luar biasa Falkutas Pasca Sarjana Universitas Indonesia, dosen tamu pada Geschwister-Scholl-Institut Universitas Munchen, pada Hochschule fur Philosophie, Muchen, dan pada Falkutas Teologi Universitas di Innsbruck. Ia belajar Filsafat, Teologi dan Teori Politik di Pullach, Yogyakarta dan Muchen. Pada tahun 1973 ia memperoleh gelar Doktor dalam ilmu filsafat dari Universitas Munchen dengan sebuah disertasi tentang Normative Voraussetzungen im Denken des jungen Marx (1843-1848) (1975,Alber)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
18 (28%)
4 stars
34 (53%)
3 stars
11 (17%)
2 stars
1 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
134 reviews82 followers
August 18, 2019
MARXISME, HORKHEIMER, MARCUSE

YANG menarik dari Marxisme ialah klaim bahwa idenya menyediakan suatu analisis yang ilmiah di hadapan masalah kemiskinan dan ketidakberdayaan kelas bawah. Analisis Marxisme itulah yang memukau Sneevliet, Semaun, Muso, dan beberapa tokoh kemerdekaan lainnya ketika mereka berusaha menjawab penyebab persoalan realitas sosial Indonesia yang pincang pada tahun-tahun 1920-an: bahwa yang tengah terjadi adalah "struktur masyarakat tanah jajahan yang diperas oleh kaum kapitalis".

Saya kira itu sebabnya kita tak pernah bisa melupakan Marxisme dan mengecilkan arti buku Dari Mao ke Marcuse ini.

Kita ingat, sebagai bagian dari jalan keluar, Marx dan Engels memberi suatu khotbah yang berusaha meyakinkan secara akademis: eksploitasi dan penghisapan kapital terhadap kelas proletar hanya dapat tercapai dengan penghapusan hak milik pribadi. Keadaan itulah yang disebut sosialisme. Penghapusan hak milik pribadi menjadi syarat-syarat objektifnya. Perjuangan kelas dalam masyarakat modern pun terjadi saat kaum proletar menuntut dan bergerak demi penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi yang dikuasai kaum borjuis.

Memang mungkin muncul konflik di situ—darah atau tanpa darah. Tapi Marxisme, sebagaimana saya ambil dari bagian-bagian awal buku ini, mengingatkan kita: konflik adalah hal yang sangat penting untuk kemajuan umat manusia.

●●●
Apa salahnya kestabilan?

Keselarasan, kestabilan, adalah pandangan dasar feodalisme. Ada struktur ekonomi + politik + ideologi yang mapan di situ: kaum kapitalis menguasai perekonomian dengan dukungan kekuasaan negara dan nilai-nilai agama di hati rakyat. Dengan kata lain, borjuis melakukan eksploitasi yang ditutupi dengan ilusi politik dan agama—dalam The Manifesto of Communism Marx sampai menyebutnya “brutal exploitation”.

Memang ada kemajuan dalam struktur yang semacam itu. Sesuai tuntutan pasar yang semakin luas, kapitalisme telah menciptakan era revolusi industri. Revolusi industri tersebut merupakan reaksi penting dalam perdagangan dunia. Harus diakui bahwa selama revolusi ini muncul penemuan-penemuan baru, mesin-mesin baru, juga jalur-jalur kereta api, yang dimanfaatkan untuk mendukung perdagangan, navigasi, dan komunikasi.

Tapi Marx memperingatkan: kemajuan yang selama ini dibangun oleh kelas borjuis adalah kemajuan palsu. Sebab ada kepentingan yang bertentangan di sana: yang terjadi adalah penindasan suatu kelas terhadap kelas yang lain. Feodalisme, dengan begitu, hanya melahirkan kekeluargaan dan keselarasan palsu. Oleh sebab itu, seperti yang ditulis Franz Magnis-Suseno dalam buku ini, Marx percaya bahwa revolusi sosialis lah yang akan mengakhiri sistem kekuasaan sebuah kelas atas terhadap kelas bawah.

●●●
Kemajuan palsu itulah yang juga diamati Max Horkheimer kira-kira satu abad sesudah Marx. Pada tahun 1947, Horkheimer menerbitkan Eclipse of Reason yang menelusuri suatu pandangan bahwa kemajuan manusia saat ini diikuti oleh proses de-humanisasi.

Hampir sama seperti pengakuan Marx terhadap kapitalisme, kita agaknya harus mengakui bahwa manusia telah berhasil membangun dunia modern dengan teknologi yang masih akan terus berkembang. Dunia hari ini, meminjam kalimat Franz Magnis, adalah dunia yang sama sekali berbeda dari 200 tahun yang lalu, yang hampir-hampir tidak berbeda dari 2000 tahun sebelumnya. Kemajuan teknologi hari ini merupakan hasil dari pengamatan dan eksperimen terhadap alam. Manusia tersambung pada teknik, dan juga pasar, dan pada akhirnya menjadikan manusia berada dalam langkah untuk menguasai alam.

Tapi, menurut Horkheimer, ada masalah gawat di situ: rasionalitas yang mendorong kemajuan telah dipakai manusia sebagai "sarana kalkulasi penguasaan dunia". Yang terjadi adalah penggelapan rasio. Dengan memakai rasio, manusia mengejar apa yang paling menguntungkan bagi mereka. Manusia berusaha "memanfaatkan hukum alam untuk menguasai alam". Pada posisi itu alam menjadi bernilai hanya jika dapat diungkapkan sebagai nilai tukar, dan individu menjadi bernilai dengan menjadi "sekrup" dan "gigi roda" dalam sistem.

Dengan kata lain, Horkheimer ingin mengatakan bahwa manusia modern telah memerkosa alam—tindakan yang justru merendahkan manusia sendiri.

●●●
Persoalannya kemudian, jika sikap dan kemajuan yang ada itu justru menimbulkan penindasan dan merendahkan manusia, kenapa manusia tidak lari dari kapitalisme?

Di sini Herbert Marcuse memberikan sedikit pencerahan. Menurutnya, dalam perkembangannya, kapitalisme sanggup mengubah dimensi-dimensi negatif, yaitu unsur-unsur yang menentang struktur kapitalisme, menjadi dimensi yang mendukung sistem. Kapitalisme menaikkan produktivitas dan standar hidup sehingga kelas proletar yang berada pada dimensi negatif merasa bahwa dirinya maju dan dengan begitu merasa tak perlu lagi bergerak demi revolusi. Meskipun nantinya muncul oposisi, tapi dengan tak adanya sikap revolusioner, kapitalisme tidak merasa perlu menindas kelas proletar. Kapitalisme bahkan memberi ruang untuk kritik.

Dengan demikian, apa-apa yang menjadi kebutuhan penting masyarakat telah dipenuhi oleh kapitalisme. Akibatnya, masyarakat membeli segala hal yang dilempar ke pasar tanpa sikap kritis. Pertanyaan “apa gunanya” barang ini atau itu jadi tak berguna, atau kalau perlu ditampik. Manusia merasa bahwa ia harus terlibat dalam proses produksi kapitalisme. Manusia merasa bahagia kalau dia “sesuai” dan “trendi” dengan barang-barang tertentu yang tak benar-benar mereka butuhkan dan mungkin hasil dari eksploitasi terhadap alam.

Dengan alur logika semacam itu, menurut Marcuse, kapitalisme telah berhasil memanipulasi dua hal. Yang pertama adalah rasionalitas. Yang kedua adalah kebebasan. Apa yang nampak rasional dan apa yang sepertinya bebas dalam pilihan manusia terhadap barang-barang yang ingin dimilikinya telah dikendalikan "oleh segala macam promosi dan iklan, oleh irama di tempat kerja, oleh sistem lalu lintas, oleh media, oleh mekanisme pasar". Kapitalisme bertahan dengan memanipulasi kebutuhan manusia.

Memang, seperti juga pemikir-pemikir kiri lainnya, Marcuse tidak menunjukkan jalan keluar yang meyakinkan. Ia menawarkan pada setiap orang agar melakukan "penolakan agung" untuk tidak tunduk pada sistem produksi kapitalis. Jalan keluar semacam itu tentu saja dipertanyakan bahkan untuk sekedar menggoyahkan satu sistem yang besar dan kuat.

Tapi saya kira bukan berarti tafsiran-tafsiran pemikir kiri setelah Marx tidak perlu untuk dibahas. Pemikiran-pemikiran Horkheimer dan Marcuse, misalnya, bagi saya mencerahkan. Sebagaimana ditulis Franz Magnis-Suseno dalam buku ini, analisis-analisis kiri yang bertolak dari pemikiran Marx setidaknya bisa "mempertajam kesadaran kita akan ancaman-ancaman inheren dalam proyek masyarakat konsumis".

Jika itulah yang saya dapatkan ketika membaca Dari Mao ke Marcuse, saya tentu saja tak akan menyesalinya.
Profile Image for Kristoporus Primeloka.
116 reviews6 followers
August 2, 2017
Beberapa waktu lalu saya diberi tahu seorang teman satu film berjudul Captain Fantastic. Meskipun sudah rilis tahun kemarin (2016), entah kenapa film ini tidak tayang di bioskop-bioskop di Indonesia. Menonton film itu saya kemudian mendapat gambaran apa yang menjadi ide "the great refusal" Herbert Mercuse dalam buku Romo Magnis ini. Ide yang kemudian menghinggapi kaum kiri baru dan hippies di sekitar tahun 60 digambarkan kembali dalam Captain Fantastic sebagai sebuah keluarga yang menolak sistem besar masyarakat Amerika yang salah satunya dibilang terlalu konsumtif dan sangat tergantung dengan obat-obatan, termasuk juga menolak sistem pendidikan dan menerapkan pendidikan alternatif sendiri bagi anak-anak mereka.

Anak-anak mereka dididik di dalam hutan; diajari berburu hewan, berkebun, mengenali tumbuh-tumbuhan yang dapat dimakan dan tidak, membuat pakaian dan rumah dari bahan-bahan yang ada di sekitar mereka, dengan demikian kebutuhan dasar terhadap pangan, sandang dan papan mereka dapat terpenuhi dari hasil didikan seperti itu. Selain itu kemampuan motorik untuk mempertahankan diri; kebugaran tubuh, bela diri dan teknik-teknik lain ketika hidup di alam diajarkan bergaintian dengan rutinitas membaca buku-buku berbobot untuk melatih kemampuan intelegensia mereka.

Sekilas tampak utopis. Orang tua fantastis macam apa yang sanggup mengelola pendidikan selengkap itu? Namun, bila kita memperhatikan lagi pandangan materialis historis Marx : "Masyarakat ditentukan oleh faktor ekonominya," ekonomi dalam arti cara masyarakat mengelola (nemein) rumah tangganya (oikos), maka ide-ide dalam film Captain Fantastic kemudian akan mendapat kekuatannya untuk menjawab keraguan subtil Romo Magnis terhadap dobrakan terhadap sistem kapitalisme. The great refusal Mercuse mendapat pedoman-pedoman praktis yang bisa diterapkan secara sederhana dalam banyak keluarga : bahwa menolak sistem yang eksploitatif dan manipulatif itu cukup dengan cara hidup yg sedikit berbeda dan kesadaran bahwa kebutuhan hidup dasar perlu mendapat akses yang mudah diusahakan dalam lingkup kecil, yakni keluarga.

Mungkin tidak serta merta langsung mengubah struktur dalam masyarakat, tapi setidaknya ide Marx bukan isapan jempol belaka.
Profile Image for Paul.
19 reviews
February 6, 2018
I liked it for the most part. If you have read the whole series the books do get a bit repetitive. I especially liked the chapters on Marcuse and the New Left. Hope to see Father Magnis-Suseno's books translated in English sometime soon. This will be a definite reference book for me in the future.
Profile Image for Airlangga Auvijan.
15 reviews2 followers
April 2, 2018
Edisi Terbaru. Membaca bukunya tidak harus berurutan dan termasuk mudah dimengerti.
126 reviews14 followers
January 30, 2021
Mantep! Kalau buku pertama unggul karena dalamnya pembahasan yang lebih terfokus (secara awam) dalam keseluruhan satu bukunya, pembedahan pemikiran2 tokoh yang diuraikan setiap babnya tergambar dengan cukup gamblang saya kira. Meskipun sebatas dalam pengetahuan awam, saya merasa mulai mengenal pemikiran beberapa tokoh pemikir yang diuraikan dalam buku ini. Dua bab pertama pun yang kurang lebih nostalgia, mengingat kembali uraian pada dua buku pertama, tetapi bagi saya yang telah membaca keduanya, uraian 2 bab awal di sini pun tidak terkesan kering. Bahkan bab kedua yang mungkin agak disayangkan Romo Magnis-Suseno karena sedikitnya pembahasan, tetap terasa menggugah (sangat suka dengan ide pemaparan daftar isi buku Osnovy. Sungguh menarik!).

Sekali lagi terlepas dari segala kelebihan buku ini, saya pada awalnya kurang menyenangi bab pembahasan pemikiran Mao. Bab tersebut dibuka dan memaparkan tentang kegagalan pemerintahan Mao, korban2, dan terus2 berulang sampai saya bertanya2, "lah mana ini bagian yang membahas pemikirannya...". Meski demikian saya merasa sangat terobati dengan pemaparan pemikiran Mao yang saya kira cukup terpapar dengan gamblang dan mengena.

Begitu pula gagasan2 unik hingga "sulit" dari Bloch dan Adorno. Meski pemikiran keduanya saya kira memang agak berbelit, saya tetap mendapatkan inti dari pemikiran keduanya.

Saya suka dengan titik berpikir yang diambil Kosik yang benar2 terasa menyuguhkan Marx secara utuh, dari sisi Filosofis dan Ekonominya yang saling berhubungan dan Horkheimer yang mulai membicarakan soal eksploitasi manusia terhadap lingkungan. Saya kira itu kritik yang benar2 tajam, meskipun tidak semuanya dapat diterapkan, di-iya-kan begitu saja.

Melihat bagaimana Romo masuk ke perdebatan intelektual dengan Ken dan Saiful/Eko, saya sebagai pembaca cukup puas dengan paparan2 jawaban Romo dalam bab terakhir itu. Meski dengan sedikit kikih ketika melihat seorang Romo Magnis-Suseno (entah karena saking apanya), sampai menggunakan panggilan "Bung".

Harus saya akui, trilogi ini benar2 karya populer yang berkualitas. Nuhunuhun Romo!
Profile Image for Setadipa.
99 reviews3 followers
January 11, 2015
buku romo magnis selalu mengasyikan dibaca, mengingatkan saat bacaan sekolah dulu bahwa ada kelas di masyarakat kita yg layak diperjuangkan, dmana saat ini kita pun samar2 teringat apa yg ingin kita perjuangkan dulu :) how time flies....
Displaying 1 - 7 of 7 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.