Buku esai & reportase yang sangat mencerahkan. Kaya referensi, data, analisis & pengalaman penulisnya. Topik beraneka. Ya, iyalah, namanya juga buku kumpulan esai & reportase. Penulis buku ini mengupas mitos kekuasaan di jawa, bahasa, masa revolusi kemerdekaan, kisah-kisah keluarga yang luar biasa, situasi politik dunia, dll. Beberapa esai sempat bikin kaget, karena isinya lain dengan apa yang saya baca & tahu. Tapi rasa kaget itu saya sadari mungkin sebuah dampak dari banyaknya info & pengetahuan yang tidak lengkap, setengah setengah atau bisa jadi keliru yang saya dapat sbelumnya, yang dikritik penulis lalu membuat dia menulis buku ini. Dari buku ini saya tahu sulitnya perjuangan kemerdekaan dulu. Penjajah mengerahkan bermacam cara, pasukan & bhkan merekrut kaki tangan dari bangsa yang dijajahnya. Tapi paling saya sukai itu esai "Dewi Ibu dan Orang Kasim". Di esai ini ada ungkapan Linda Christanty yang menginspirasi mengenai nasib perempuan dalam kecamuk sejarah Indonesia, di hlm. 151: Pernyaian di masa penjajahan Belanda & Iugun Ianfu di masa pendudukan jepang membuktikan kekerasan terhadap perempuan di Indonesia tidak hanya serangan fisik, melainkan serangan politik.
Aktivis maupun pembela kaum perempuan harus baca esai ini yang tajam analisis & detail banget datanya.
Dari buku ini saya baru mengetahui dulu negara Cina di masa Ching hancur akibat narkotika & harus berperang melawan negara kerajaan Inggris yang memasok narkotika/candu. Pejabat & rakyat Cina kecanduan semuanya. Ching melawan tapi malah diserang oleh Inggris yang ingin memaksa orang-orang di negara itu terus memakai candu. Berkebalikan dengan keadaan sekarang. Sekarang ini negara Cina menjadi salah satu pemasok narkotika terbesar di dunia, yang bukan rahasia lagi. Negara Filipina yang diperintah Duterte harus melawan keras sampai memburu & membunuh pedagang-pedagang narkotika. Kata teman saya di Kalimantan, narkotika dari Cina mengalir deras masuk ke Kalimantan. Melemahkan suatu bangsa bisa dengan senjata dan penguasaan ekonomi, tapi bisa juga dengan zat adiktif yang merusak sel-sel otak!
Esai "Membunuh Atas Nama Tuhan" membuat hati miris. Dari buku ini saya belajar mengenai penyebab perang, kekerasan, teror. Semua diawali oleh ketidakadilan penerapan hukum & kelambanan pemerintah bertindak atau malah membiarkan katanya. Linda melancarkan kritik terhadap cara penanganan aparat terhadap pelaku teror. Di hlm. 191 ada kutipan tentang penembakan Santoso di Poso, yang menurutnya harus ditangkap hidup hidup untuk diinterogasi demi kepentingan & keselamatan nasional bukan dibunuh: Tindakan AD (Angkatan Darat) terhadap Santoso mengulangi kesalahan yang telah mereka lakukan di masa lalu & sangat merugikan negara Indonesia, yaitu ketika mereka berhasil menangkap Dipa Nusantara Aidit &membunuhnya sebelum informasi penting berhasil digali tuntas dari ketua PKI itu. Akibat peristiwa tersebut masalah seputar 1965 tidak akan tuntas hingga ke masa depan.
Penulis buku ini pun sangat sangatlah dekat dengan tiap topik yang dibahas. Kalau bukan pengalaman pribadinya dan orang-orang terdekat, Linda menulis berdasarkan wawancara-wawancara dengan saksi-saksi peristiwa. Esai "Charlie Hebdo dan Monumen Kegilaan" dibuka dengan penuturan temannya sendiri yang bernama Gilles, seorang keturunan Aljazair-Perancis, mengenai rasialisme di Perancis. Dalam esai "Membunuh Atas Nama Tuhan", Linda mengetahui eksekusi wartawan Amerika yang dilakukan ISIS dari Twitter rekannya sendiri yang bekerja menjadi editor media di Boston, Amerika Serikat dan rekan si wartawan yang dieksekusi itu. Di esai terakhir di buku ini walau Linda tidak menyebut nama yang berkomunikasi dengannya mungkin untuk melindungi orang itu, jelas temannya berada di daerah berbahaya di kancah konflik dunia lalu... bom bunuh diri meledak sehingga seluruh manusia dalam satu gedung harus dievakuasi!
Paling sedih baca esai terakhir di buku ini. Esai paling indah, namun paling menggugah. Bikin tercenung juga. Baca saja buku ini agar mengetahui isinya dengan lengkap.