Nusantara merupakan salah satu deskripsi sejarah Indonesia yang ditulis secara mendalam namun populer. Kendati buku ini terbit pertama pada 1943, banyak hal-hal yang disampaikan oleh Vlekke aktual sampai abad ke-21. Berbeda dengan buku sejarah selebihnya, Vlekke menampilkan proses sejarah Indonesia tanpa terlalu memusatkan proses pada perluasan kolonialisasi. Dalam buku ini Vlekke misalnya memaparkan bahwa perang agama sangat langka di Jawa dan boleh jadi penyebabnya adalah sinkretisme terpelihara sejak zaman dulu. Ada kisah kegagalan Sultan Agung menyatukan Nusantara karena tak punya angkatan laut yang memadai. Kisah lain yang langka adalah perubahan tabiat orang Belanda yang rajin di tanahairnya (Homo batavus), namun jadi pemalas ketika tinggal di Batavia (Homo bataviensis). Edisi Indonesia buku ini merupakan terjemahan edisi revisi 1963. Penulis menyajikan sejarah Nusantara secara populer. Oleh karena itu, buku ini seolah-olah berisi dongeng Indonesia pada masa silam. Pembaca muda Indonesia dapat dengan mudah memahami kisah yang ditampilkan dalam buku ini. (
Buku 528 halaman ini akhirnya officially finish terbaca. Sebagian halaman memang dibaca dengan nafas dan antusiasme yang berbeda, terakhir terutama. Membaca buku setebal ini dengan rentang sejarah panjang tentunya anda akan dihadapkan pada banyak harapan: akan seperti apa wajah Nusantara ditangan Vlekke?
Menulis buku sejarah yang memasukan rentang panjang memang tidak gampang. Ia kadang begitu dalam, hingga sempat berkesan mirip sejarah kecil (le petite historie), seperti ketika mengupas kopi dan perkebunan di Hindia Belanda. Namun lain waktu ia begitu cepat, seperti ia menutup akhir Hindia Belanda. Bab yang mengupas pergerakan nasional Indonesia dan tanda-tanda kelahiran sebuah bangsa baru itu menceritakan akhir Hindia Belanda dengan klimaks dramatis melalui 3 alinea. Dengan tiga kalimat terakhir, buku ini ditutup melalui , "Begitu Singapura jatuh, nasib Jawa pun terkunci. Pertempuran di Laut Jawa hanyalah epilog dari drama Malaya. Ia adalah sebuah perlawanan yang heroic namun agak romantik yang memungkinkan sejarawan mencatat bahwa penerus-penerus Jan Pieterszoen Coen gugur, dengan pedang di tangan, dalam perjuangan membela warisan Coen melawan kekuatan musuh yang terlalu besar.” Akhiran yang dramatik namun meninggalkan pertanyaan, kapan buku ini ditulis? Karena Jawa jatuh bukan melalui kejatuhan Singapura, namun karena gerakan Jepang melalui Laut Sulawesi. Apakah Vlekke melakukan kesalahan yang sama seperti para Jenderal ABDA dengan meramal atau mencatat kedatangan Jepang via Singapura? Hmmm sebuah buku sejarah yang menarik untuk ditilik sejarah penulisannya.
Selain itu, beberapa detil ceritanya menarik karena ada kutipan sumbernya. Namun sayang ia terletak dibelakang, end notes jadi bikin membaca kurang mengalir karena jeda membuka halaman ke belakang. Ulang-alik itu memang tidak terhindari dengan ukuran buku (A5?), karena bila footnote tentunya akan menyita banyak halaman untuk kterangan di bawah halaman. Sebenarnya ada beberapa kutipan yang kurang mencantumkan sumber dengan baik. Namun sayangnya pembacaan saya kali kemaren kurang teliti untuk mencatat hal itu ada di halaman berapa.
Namun kelebihan buku ini adalah untuk mereka yang baru memulai lagi mencerna apa itu sejarah. Buku ini akan terasa menantang dan menyajikan sejarah sebagai sebuah menu yang diracik seorang koki handal. Ia menyajikan hidangan sejarahnya dengan cukup terbuka. Baik bahan dan teknik racikannya. Vlekke menuliskan pendapat dari bermacam sumber, sekaligus membedakannya dalam tulisannya mana kutipan, mana interpretasi. Jika membaca tulisan Vlekke dibuku ini maka melihat sejarawan sebagai seorang detektif tidaklah salah.
Buku baik untuk dibaca, agar kita tahu, sejarah bukanlah sebuah sajian instan!
Membaca buku ini sungguh menuntut kesabaran untuk bisa menerima kenyataan2 pahit masa lalu, hancurnya satu persatu kekuasaan lokal oleh kompeni, karena keserakahan dan kebiadaban kompeni dan junjungan2 mereka di blanda serta karena perseteruan diantara penguasa lokal sendiri dan kelemahan raja-rajanya, yang dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh kompeni untuk memperluas dan memperdalam cengkaram kekuasaannya.
Tidak kah sejarah berulang? Raja-raja dan penguasa lokal sekarang bertransformasi dalam bentuk bermacam-macam. Meski kompeni sudah lenyap, kompeni-kompeni lain dan kekuatan yang jauh lebih dahsyat terus bergentayangan menghisap tiada henti...
Buku yang memuat kisah tentang Nusantara dari mulai penjajahan Belanda sampai dengan era Organisasi Soetomo yang dibahas dengan ringkas.. Salah satu hal yang aku sukai adalah ketika ada pembahasan tentang bagaimana buruknya kinerja VOC dan korupsi yang didalamnya membuatku kesal setengah mati dan sekaligus terkejut karena ternyata sampai segitunya :')
Salah satu buku yang menarik kalau kalian ingin mengetahui intrik-intrik politik, bagaimana indonesia ketika jaman dijajah Belanda dan Inggris semuanya dibahas juga dibuku ini.
Terimakasih Perpustakaan Kemendikbudristek atas peminjaman bukunya!
Awalnya mengira buku ini akan membahas sejarah Indonesia dengan lengkap, ternyata tidak juga. Rasanya lebih mirip menyusun potongan puzzle ketimbang membaca buku sejarah; banyak kepingan peristiwa yang tidak disebutkan dalam sumber lainnya namun dijelaskan di sini. Ketika informasi tersebut dijadikan satu, akan muncul keseluruhan kronologi peristiwa sejarah yang utuh.
Pro tip: Wajib hukumnya untuk paham sejarah dasar dan geografi Indonesia, bahkan dunia, saat membaca buku ini kalau tidak mau bolak-balik buka Google seperti yang saya lakukan.
ini buku lama, edisi aslinya saja terbit tahun 1943, dan yang dijadikan dasar terjemahan ini adalah edisi 1961. NUSANTARA: a history of indonesia", mulai ditulis pada tahun 1941, tepat rentang terakhir dari rentang waktu yang hendak dikisahkan sejak awal ditemukannya bukti-bukti tertulis di indonesia: diawali oleh deskripsi geografis, dan diakhiri oleh deskripsi situasi perang revolusi. bila buku ini ditulis hingga rentang waktu 1941 dan tepat pada tahun itu pulalah ia memulai menulis, bagaimana mungkin buku ini sudah bercerita perihal perang revolusi? agaknya, edisi aslinya gak sampai ke sini. wal hasil, buku ini banyak berkisah pada masa-masa sebelumnya. dan kisahnya menarik, mengalir, seperti berasal dari satu sumber [padahal, penulis mengandalkan banyak sumber-sumber yang sebenernya juga gak baru-baru amat, sudah dengan mudah dikenali dari pembacaan pertama saja]. mengapa buku seperti ini yang sumber-sumbernya gak istimewa dan rentang waktu yang dikisahkan pun hanya berakhir di masa penjajahan harus diterbitkan juga? untuk itu, peran dari penulis kata pengantar [luthfi assyaukanie] cukup berpengaruh. buku ini dibahasnya dalam kerangka peran historis islam di nusantara [lho kok?]. memang dari arah situ, buku ini punya pandangan yang pada jamannya [jaman ketika edisi pertama dan edisi kedua] agak beda, tapi jadi relevan bagi masa kini. buku kuna setebal 450-an halaman [belum termasuk catatan dan index] ini dibikin baru dengan kertas ringan dan dibawakan dengan ringan pula. gak ada yang baru. tapi asyik aja baca dongengan beginian. untung ada pengantar dari luthfi! he..he..
Ingin mengurai air mata ketika akhirnya menyelesaikan buku ini, saya membaca hampir 4 bulan sejak Januari. Pasang surut keinginan untuk menyelesaikan dikebut dalam waktu 2 hari selama akhir minggu panjang. Nusantara adalah buku pertama dari seri sejarah terpilih KPG yang berhasil saya selesaikan.
" Cita-citanya adalaha mendidik laki-laki dan perempuan yang memiliki kemandirian, dengan pemahaman akan prinsip harmoni , karena hanya berdasarkan kehidupan harmonis dan masyarakat harmonislah suatu perabadan sejati dapat dibangun, " -halaman 356.
Saya salut dengan penulisnya yang memaparkan serta menguraikan sejarah Indonesia 1000 tahun dalam 372 halaman yang terasa begitu padat. Nusantara ini bukan buku sejarah--itu menurut saya karena saya sama sekali tidak melihat buku ini sebagai buku sejarah, tapi sebagai buku informasi. Informasi yang menceritakan kisah dan cerita yang dialami Nusantara sejak jaman pra-sejarah sampai jaman awal pendudukan Jepang. Penggunaan kata Nusantara merupakan istilah umum yang digunakan untuk merujuk pada suatu bangsa yang belum terbentuk di masa silam. Istilah yang merujuk kepada suatu kesatuan wilayah.
Kata 'nusantara' merujuk pada periode khusus ketika Indonesia dikuasai Majapahit, khususnya ketika Majapahit berada dalam kendali patih besarnya, Gajah Mada. Majapahit adalah model negara kesatuan Indonesia di masa silam meskipun masa kejayaannya hanya singkat (1293-1389), sebagai simbol kesatuan Indonesia, Majapahit merupakan simbol pergerakan nasional Indonesia sebagai model kesatuan politik di masa silam
Nusantara ini diawali dari bab Fajar Sejarah Indonesia yang mengisahkan teori asal-muasal orang pribumi dan bahasa yang dipakai masa itu. Berisi fakta dan catatan kuno sejarah bangsa lain yang merujuk pada keberadaan dan kehadiran orang Nusantara di masa lampau, termasuk asal mula keyakinan Nusantara yang bersifat sinkretisme di masa itu. Bernard H.M Vlekke menuliskan riwayat Nusantara secara terperinci, mulai dari penemuan Homo erectus yang menunjukan adanya suatu peradaban masa lampau Indonesa di jaman prasejarah, kemudian diawali dengan imperium kuno Jawa dan Sumatra--kerajaan Hindu dan Budha yang memberi entitas lain Nusantara di masa lalu.
Hingga kedatangan Islam dan Portugis di abad 15 yang ternyata bisa ditarik konklusi mengenai permasalahan Bangsa ini di masa kini sampai kedatangan pedagang dari negeri rendah--negeri yang tak punya identitas, yag kemudian menjajah Nusantara sampai akhir abad 19-awal abad 20. Tidak mudah menyelesaikan buku ini tanpa pemikiran yang rasional dan logis, seringkali saya bertanya dalam beberapa bab dalam buku ini mengenai pertanyaan kecil terhadap sistem kolonial, maupun pemerintah kuno raja-raja Jawa jaman dahulu. Pernyataan-pernyataan kecil yang tidak saya dapatkan dalam pelajaran Sejarah semasa sekolah dulu.
Saya menyukai penulisan Vlekke dalam buku ini yang mampu membedakan fakta dan kisah, terutama ketika Vlekke membahas kitab Negarakertagama dan Arjunawiwaha yang menurut beliau ada beberapa poin yang bersifat legenda dan fakta, dan beliau jabarkan dalam paragraf. Karya sastra yang lebih cocok dikategorikan sebagai karya sastra seperti Mahabrata-kisah dan legenda, dibandingkan kisah sejarah. Atau ketika, Vlekke memiliki argumen bahwa Van Den Bosch, si mandor proyek jalan Pantai Utara Jawa yang dikenal sebagai sosok yang kejam, dan dibenci. Penulis berargumen bahwa masih ada beberapa poin baik dari sosok Van den Bosch, hingga teori yang mengatakan sifat buruk Van den Bosch merupakan fitnah yang disebarkan oleh orang Perancis-Indo yang membenci setiap keputusan sang gubernur jenderal.
Nusantara ini hanya bercerita sampai penyerahan de facto Hindia Belanda kepada Jepang. Membaca buku ini membuka wawasan dan pandangan baru dalam memahami dan memaknai sejarah Indonesia, terutama melihat sejarah bangsamu yang ditulis melalui kacamata orang asing. Buku ini layak untuk dibaca semua kalangan. Tapi saran saya, siapkan post-it dan pulpen saat membaca buku ini, kali-kali saja ada poin yang ingin kamu ingat :)
Selamat membaca! Dan selamat hari buruh internasional :)
" Begitu Singapura jatuh, nasib Jawa pun terkunci. Pertempuran di Laut Jawa hanyalah epilog dari drama Malaya. Ia adalah upaya perlawanan bersenjata yang heroik namun mungkin agak romantik yang memungkinkan sejarawan mencatat bahwa penerus-penerus Jan Pieterszoon Coen gugur, dengan pedang di tangan, dalam perjuangan membela warisan Coen melawan kekuatan musuh yang terlalu besar,"
Melalui buku ini, kita diajak untuk berfikir ala Barat, alias curiosity, riset & sedikit "pengremehan" terhadap pribumi. (owh apakah ini hanya perasaanku saja???)
Ada sedikit keluhan saat saya membaca buku ini, yang pertama dikarenakan terjemahannya kurang rapi, dan yang kedua adalah hilangnya beberapa bagian tentang kolonialisme pada cetakan awal-yang sengaja dihilangkan oleh Vlekke.
Buku ini memaparkan sejarah Nusantara, dari mulai kerajaan Syiwais dan Budhis di beberapa daerah di Indonesia seperti di buku-buku sejarah, sampai masa-masa kemerdekaan Indonesia. Bedanya, Vlekke lebih terbuka dalam penyampaiannya, sehingga buku ini terasa lebih menarik.
Vlekke sepertinya berusaha menempatkan diri seobyektif mungkin (secara dia juga seorang Belanda), tapi pendapat pribadinya sendiri tentang kolonialisme Hindia Belanda sangat terasa di buku ini.
Membaca buku ini, sambil repot membaca catatan kaki dan referensinya (kadang2 malah sambil nyatet, sapa tau ada yang bisa diburu..hehehe), saya juga mencari-cari data yang relevan dengan latar historisnya rahasia Meede, buku yang sampai sekarang masih menyisakan pertanyaan: WHY????WHY???? WHY ALL THE GOOD DIE YOUNG???? hiks...gada hubungannya ya....huhuhuhu.....
Dari 16 bab, hanya bab 2 yang membosankan. Layak di rating diatas 5. Mengesankan bagaimana penulis menceritakan sejarah berabad-abad Nusantara dalam satu buku. Memberikan helicopter view terhadap hubungan antar peristiwa dalam sejarah. Bahkan apa yang terjadi pada ratusan tahun lalu masih terlihat pada situasi hari ini, dalam institusi-institusi maupun dalam kondisi sosial-politik-ekonomi Indonesia. Kalau buku psikologi menarik karena memberi penjelasan kausalitas dari kondisi kita saat ini, buku ini menarik untuk mengetahui mengapa masyarakat kita bisa menjadi seperti sekarang. Pada akhirnya yang penting bagaimana belajar memaafkan kesalahan masa lalu dan belajar, supaya bangsa ini dapat berkembang di masa yang akan datang.
Ctt : edisi terbaru yang di gramedia covernya sudah bagus, terjemahannya juga.
A history book that provides a different perspective on the East Indies or Indonesia issue. History should be written as important material for learning and provision for transcendence for a better future life, not as barbitura with an apologetic dimension of Indonesia's underdevelopment. This book is quite capable of providing these materials.
As an axample: Prof. Dr. N.J. Krom was an archaeologist and cultural researcher from Univ Leiden. He was one of the first Dutch academics to research pre-Islamic history in Indonesia, in the early 1900s. He collected and studied ancient texts, artifacts, and remnants of ancient kingdoms in Indonesia, until finally he was able to 'tell' again about the greatness of ancient Mataram, Singosari, and Majapahit to Indonesian people. It was the history of past greatness that turned out to be the motor of nationalism and unity among Indonesian educated youth who wanted independence. Their famous idiom: "Borobudur was already established in the 8th century, when the Netherlands was still wild and uninhabitable". That's how we transcend history.
Buku ini sangat berguna bagi siapa saja yang ingin mempelajari sejarah Indonesia sejak masa Prasejarah sampai beberapa saat sebelum Jepang menginvasi kepulauan Nusantara pada tahun 1942. Bahasa terjemahan yang digunakan (buku ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris) cukup mudah dipahami karena penulis mampu memberikan narasi sejarah yang tidak berbelit dan sepertinya ditujukan bukan hanya untuk kalangan akademisi saja melainkan untuk dinikmati bagi kalangan secara umum.
Ringkasan kronologis dan indeks yang dicantumkan sudah cukup komprehensif dan mempermudah jika ingin mempelajari periode maupun peristiwa sejarah tertentu saja dalam buku tersebut. Walaupun tulisan sejarah ini tetap dapat dipertanggungjawabkan karena penulis mencantumkan berbagai referensi ilmiah di catatan pada bagian akhir buku, tidak adanya daftar pustaka cukup membuat saya kesulitan untuk menemukan karya rujukan penulis yang relevan secara alfabetis dengan periode atau peristiwa tertentu yang ingin saya fokuskan.
Meskipun begitu, saya tetap merekomendasi buku ini bagi siapa saja yang berminat akan sejarah Indonesia karena penting sekali untuk mengetahui asal usul atau jati diri kita dan mengapa persatuan dan kesatuan sangatlah penting bagi bangsa yang majemuk seperti Indonesia. Salam Jasmerah!
Saya pikir keunggulan Vlekke adalah dalam kepiawaiannya menceritakan Indonesia dalam sebuah alur kronologis yang linear. Mungkin ini metode bercerita yg paling mudah dipahami karena melalui proses sebab-akibat. Tapi keunggulan ini pula yg menjadi kekurangannya: Vlekke, demi menjaga alur tersebut, akhirnya seperti terpaksa harus memusatkan ceritanya ke orang-orang besar pelaku sejarah yang berpusat di Jawa. Dari Airlangga, Ken Arok, dan Hayam Wuruk sampai Coen, Daendels, dan van Bosch.
Dengan segala keterbatasannya, Vlekke bercerita dengan laju yg menyenangkan. Kita bisa merasakan semakin dekat ke era sekarang (buku ini pertama kali terbit di tahun 1943), semakin cepat laju dan rasa kegentingannya. Vlekke jg menyediakan referensi yg cukup runut untuk bacaan lebih lanjut. Ini adalah buku yg tidak sulit untuk dibaca. Untuk itu saya beri 4 bintang.
Karya Bernard H. M. Vlekke, Nusantara: Sejarah Indonesia menarik untuk dicermati. Ia menyuguhkan garis besar bagaimana evolusi dari yang awalnya ekspedisi kapal dagang pengusaha-pengusaha Belanda menjadi kekuatan imperialis yang sangat kuat di Asia Tenggara, yang dalam buku tersebut disebut sebagai Hindia-Timur. Niat berdagang ternyata tidak cukup untuk mengatasi persoalan persaingan dengan Bangsa-bangsa Eropa sendiri di wilayah baru, yang sebelumnya telah diduduki oleh Bangsa Portugis. Kemudian Bangsa Inggris datang. Ditambah, konflik-konflik kecil diantara raja-raja di jawa dan beberapa konflik antara pedagang Eropa dengan penduduk lokal. Persoalan pun menjadi kian rumit. Akhirnya, penggunaan kekuatan militer tak bisa dihindari. Inilah yang kemudian menciptakan perubahan struktur relasi, dari berdagang menjadi berperang kemudian memerintah.
Karya Vlekke memiliki beberapa keunggulan. Cara penyuguhannya yang ringan kemudian diikuti oleh ilustrasi-ilustrasi dan detail-detail yang kaya akan data menciptakan karya ini tidak bisa disebut karya sejarah biasa. Pada bagian pendahuluan dijelaskan garis besar kondisi geografis Nusantara, kemudian pada bab pertama hingga bab tiga menjelaskan garis besar sejarah Indonesia semasa kejayaan Kerajaan Hindu-Budha di Jawa dan Sumatera. Kemudian masuknya Islam dan bangsa Eropa awal, yaitu Portugis, dimulai pada Bab empat. Bab lima kemudian menyuguhkan kisah bagaimana pedagang dari negeri Rendah, Belanda, datang. Bab tersebut hingga bab penutup, yaitu bab enam belas, banyak menjelaskan bagaimana evolusi itu terjadi hingga meletusnya revolusi kemerdekaan yang diawali oleh persaingan antara ide-ide konservatif dan liberal di parlemen belanda sehingga mempengaruhi kebijakan-kebijakan politik dan pendidikan di negeri koloni Hindia Timur.
Kedua, Yang menarik selain alur dan gaya penulisannya. Buku ini juga memberikan data-data ‘tak terduga’ terkait kebijakan berbagai bidang. Dari sisi moneter, pertanahan, keagamaan, dan bahkan beberapa Introduksi tanaman yang bukan khas Indonesia yang sekarang ini telah banyak mengubah landskap Indonesia. Dalam bidang moneter, Vlekke menggambarkan bagaimana pemerintah Belanda pada saat periode kerajaan Mataram dan Banten kebingungan dengan beredarnya koin-koin cetakan lokal dari Madura, Cirebon serta koin-koin timbal dari Palembang dan Bali yang banyak beredar. Sehingga memaksa Belanda melakukan kebijakan moneter terpusat dengan menggunakan mata uang tunggal untuk transaksi. Yang pada akhirnya pemerintah Belanda memulai kebijakan inflasinya (Hal 248).
Atau tentang awal berdirinya Batavia, menurut Vlekke, yang dibangun oleh Jan Pieterszoon Coen merupakan strategi untuk memenangkan persaingan jalur perdagangan antar Asia dengan mengontrol laut Jawa. Walaupun harus mendapatkan perlawanan dari Mataram, Banten dan bahkan Inggris. Penggambaran kondisi Batavia awal sangat menarik. Digambarkan bahwa letaknya yang menghadap pantai membuat orang Belanda membangun benteng-benteng tertutup karena takut dengan angin laut yang ‘tidak sehat’.
Hal lain yang patut dicatat ialah tentang beberapa introduksi tanaman perkebunan yang sekarang membentuk sebagian landskap Indonesia. Hoby sebagian pejabat Belanda di Batavia terhadap pertanaman ternyata mengalihkan perhatian pemerintah Belanda terhadap hasil-hasil perkebunan dibandingkan dengan perdagangan rempah-rempah yang merupakan tanaman asli Indonesia. Sekitar tahun 1700-an sebagian holtikulturis Belanda mulai bereksperimen dengan tanaman-tanaman non-Indonesia di ladang-ladang sempit mereka di Batavia. Salah satunya ialah tanaman kopi yang dikembangkan oleh Van Hoorn. Walaupun pohon kopi Van Hoorn tidak bisa tumbuh subur di tanah Jawa, namun eksperimennya dilanjutkan oleh Zwaardecroon dan Chastelein dengan sangat berhasil. Namun hasil eksperimen saja tidak cukup. Adalah Witsen yang kemudian merealisasikan pembudidayaan tanaman kopi secara lebih luas, yaitu dengan membagikan bibit-bibit kopi di kalangan para kepala daerah di sekitar Batavia dan Cirebon (hal. 217).
Kemudian system kultur diperkenalkan oleh Van den Bosch, yaitu system pertanian yang dikontrol oleh pemerintah. Dampaknya ialah pengorganisasian lebih luas terhadap system pertanian di jawa, yang itu artinya pemaksaan besar-besaran penanaman tanaman-tanaman komoditas baik yang tanaman asli Indonesia maupun bukan asli Indonesia. Gula, kopi, nila, teh dan tembakau menjadi komoditas favorit. Untuk Teh, ia adalah barang dagangan yang sangat menguntungkan sejak akhir abad ke-17. Ia di-impor langung dari Cina. Adalah J. Jacobsen seorang ahli teh dari perusahaan dagang Belanda yang mengimpor benih teh dan pohon dari Cina kemudian mempelajari dan membudidayakannya di Pulau Jawa (hal 330).
Berbagai data disuguhkan oleh Vlekke, inilah yang membuat buku ini menarik. Sangat bisa dipahami mengapa Vlekke mampu menyajikan secara mendetail dan menyuguhkan analisa yang lebih kompleks dibanding analisa-analisa historis lain yang cenderung menyederhanakan. Pertama, karena si penulis ialah orang Belanda sendiri, kedua, berdasar pada keterangan di kata pengantar, ia adalah ahli dalam bidang hubungan internasional, dan ketiga datanya banyak diperoleh dari perpustakaan Harvard. Namun demikian, seperti karya historis lainnya, tak ada yang netral dalam usaha penjelasan historis. Posisinya yang cenderung memandang negatif kebijakan Inggris, terkhusus Raffles—-walaupun diimbangi dengan usaha penilaian yang ‘proposional’ dari kebijakan-kebijakan Raflles.
Buku ini patut dipakai sebagai atat pelacak sumber data yang bermanfaat bagi penelitian historis walaupun pembaca berhak memiliki penilaian sendiri terkait argument-argumen Vlekke tentang Indonesia sebelum revolusi kemerdekaan.
Bagiku yang suka dengan sudut pandang berbeda, buku ini sangat menarik untuk dibaca karena bercerita tentang sejarah indonesia dari sudut pandang orang belandanya sendiri. Jadi lebih match antara pandangan sejarah yang selama ini kita pelajari, meskipun sebenarnya tidak terlalu suka dengan sejarah tapi tetap enjoy menghabiskan buku ini. SAtu kalimat yang cukup menggambarkan ternyata pandangan orang Belanda hanya terkait bisnis dan company itu sendiri. Dibuku ini banyak ditemukan fun fact terkait indonesia.
Alur sejarah dan narasi kisah-kisahnya asik untuk dibaca. Keterangan yang diberikan, walau cukup singkat, namun cukup bisa merangkum kejadian yang ada. Namun yang jadi masalah adalah bahasa yang "terlalu terjemahan" sampai kadang-kadang denyut-denyut sendiri mikirinnya hahaha. Yang pasti must-read kalau pengin memperkaya pengetahuan tentang Indonesia dan masa lalu yang saya sadari, cukup mind-blowing.
Membaca kembali sejarah Nusantara, dari kurun pra-kolonial sampai 1941, yg memang diajarkan di SD-SMP-SMA, tapi kali ini lebih komprehensif. Vlekke menulis seobyektif mungkin, meski ada beberapa pendapat dan pandangannya yang terasa sangat bias. Ditulis warsa 1940an tapi tetap faktual untuk dibaca.
A book that discusses the long history of Indonesia from the time of the Hindu Buddhist kingdom, the early interactions of natives with Europeans, until the end of the Dutch East Indies. The language is a bit sparse but it's fun to get lost in it.
The description of history is very vivid, seldom found in other books, which makes it a very interesting read. It is also deep in its analysis and a pleasure to read.