Jungkir Balik Jagat Jawa merupakan buku kumpulan esai karya wartawan yang juga cerpenis, Triyanto Triwikromo. Bagi penggemar sastra, nama Triyanto Triwikromo tentu sudah tidak asing lagi. Karya cerpen dan esainya sudah besliweran di media massa. Dengan segala kualifikasi yang dimilikinya, tidak mengherankan kalau tulisan-tulisannya selalu bernas dan berkualitas. Sejumlah cerpennya turut menginspirasi seniman dan penulis lain untuk mengubahnya dalam media yang berbeda, karena memang saking bermutunya. Namanya semakin melejit ketika kumpulan cerpennya, Surga Sungsang: Buku Cerita masuk dalam 5 besar nomine Kusala Sastra Khatulistiwa 2014. Tahun ini, nama Triyanto Triwikomo kembali menjadi sorotan setelah bukunya lagi-lagi masuk dalam 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2016. Dengan sederet prestasi tersebut, kita tidak perlu lagi meragukan kehebatan beliau dalam menulis, termasuk di buku ini. Jadi, apa yang ditulis beliau lewat buku ini?
Apakah kita masih menjadi manusia Jawa, Veva? Atau kita hanya tinggal di sebuah dunia yang seakan-akan Jawa? (hlm. 5)
Dalam buku terbarunya ini, penulis menulis banyak tentang Jawa. Diubek-ubeknya Jawa hingga mendetail. Apakah sastra Jawa harus ditulis oleh orang Jawa dengan bahasa Jawa dan berisi Kejawaan? Itu adalah salah satu dari sekian banyak pertanyaan tentang Jawa yang tengah dipertanyakan dan dicoba cari jawabnya di buku ini. Jawa seperti apa yang "diubek-ubek" penulis lewat buku ini? Jawa dengan beragam kejawaannya, mulai dari Serat Gatholoco hingga Jawa Gaul. Bagi penulis, sungsang dan jungkir balik bukanlah sesuatu yang aib. Dalam situasi darurat, boleh saja kaki jadi kepala dan sebaliknya. Bagi orang Jawa, ada kalanya pranata atau aturan kaku itu tidak selalu bisa digunakan untuk merespons dengan baik situasi yang tengah terjadi. Lewat buku ini, penulis sepertinya hendak menunjukkan orang Jawa yang luwes, yang dengan keluwesannya telah mampu membuat bangsa ini lestari. Lewat buku ini, penulis mengajak pembaca untuk mempertanyakan ulang Jawa dengan segala identitas kejawaannya, mulai dari sastra hingga budaya.
Lewat esai-esai bernasnya di buku ini, penulis menyemangati Jawa untuk terus berkembang dengan tetap luwes terhadap perkembangan zaman. Alangkah kerennya jika kelak akan muncul teenlit atau chicklit berbahasa Jawa atau yang bermuatan Jawa yang kental, sehingga Jawa pun menglobal. Keterpurukan karya sastra Jawa saat ini, menurut penulis, hanya bisa diselamatkan dengan melakukan dosa-dosa kultural. Apa itu dosa kultural? Silakan disimak sendiri di buku unik ini. Beberapa esai di buku ini memang terasa berat, tapi berat yang menyenangkan. Kita dipaksa tanpa terasa terpaksa untuk membaca lagi dan lagi. Bagi Anda yang Jawa atau mungkin meminati beragam hal tentang Jawa, buku ini akan menjadi koleksi pustaka yang sangat berharga.
Pikiran-pikiran Triyanto Triwikromo dalam buku ini bisa dibilang "menyesatkan," tetapi menyesatkan yg mengundang pencarian akan pengetahuan. Buku ini memberi pemahaman segar ke arah manusia dan budaya Jawa masa depan. ecara provokatif, buku ini mendorong Jawa menemukan Jawanya lagi. Kita harus menyelamatkan Jawa dengan mengaktualisasikan nilai-nilai Jawa itu dalam kehidupan masa kini. Dan, Triyanto sudah memulainya lewat buku ini.
"Hanya kesetiaan kpd kejawaan yg membuat Jawa hidup sepanjang masa. Buku Triyanto mengajak kita untuk mengungkapkan kesetiaan itu." (Ahmad Tohari)