Aradia Morgana hidup di dua dunia. Di dunia manusia dia harus pandai-pandai membagi waktu untuk menerjemahkan, mengurus keponakan, dan mengelak dari perjodohan yang di atur ibunya. Di dunia satu lagi, dia di sibukan segala urusan yang berkaitan dengan sihir.
Ketika keseimbangan antara dunia sihir dan manusia terganggu, mana yang akan di pilih?
Apa sebagai Ratu Penyihir, Aradia bersedia mengorbankan segalanya, termasuk jiwanya?
Call her Donna or Angela, she might respond with a smile. This Indonesian writer divides her time juggling to make ends meet, writing, balancing her attention between her partner (Isman H. Suryaman) and children, managing the household, and of course, occasionally sipping earl grey tea to keep her sane. She has written twenty books so far, popular fiction, in Gramedia Pustaka Utama (GPU). Her newest book, Candrasa, is published in August 2017.
Her passion for new experiences propels her to seek new chances to meet more people. Enthused for fresh inspirations, she longs to join multicultural events, collecting data and broadening her horizon.
She claims to be unique, independent and strong. She dreams and imagines a lot. "But what is love, and what is life, if you do not let yourself live?"
Menulis fantasi memang menantang karena justru kita dituntut untuk lebih logis. Semua keajaiban harus dapat dijelaskan dengan caranya tersendiri. Mengapa? Karena mayoritas pembaca buku fiksi (terutama fantasi) sebenarnya plin-plan: suka berimajinasi tapi tidak mau melepaskan rasionalitas.
Saya adalah salah satunya. Karena itu, saya banyak mengernyit saat menemukan sejumlah bolong dalam cerita buku. Walaupun akhirnya bolong-bolong tersebut dijelaskan oleh penulisnya (saat ngobrol langsung), tetap saja saya tidak menemukan penjelasan tersebut pada saat membaca.
Dan itulah yang terpenting: pengalaman saat membaca. Pengalaman membaca saya terganggu karena bolong-bolong tersebut yang tidak diterima standar ganda saya. Saat seharusnya saya terpukau oleh aksi penuh sihir, saya malah mempertanyakan kenapa dunia sihir kok hanya bergantung pada satu orang--mana sistem strukturalnya? Saat seharusnya saya terkaget-kaget oleh lonjakan alur cerita, saya malah mempertanyakan kenapa penyelesaian konfliknya harus oleh orang lain terus? Saat seharusnya saya membiarkan diri saya terbawa oleh cerita, saya malah mengkalkulasi untung-rugi saya sudah menginvestasikan emosi pada tokoh utama.
Plin-plan, memang. Itulah saya, seorang pembaca fantasi.
Sebenarnya bab pembuka sangat menarik dan menjanjikan. Awalnya terlihat akan menjadi bacaan fantasi ringan yang menghibur. Ternyata kandungan fantasinya menjadi sangat kental dan di situlah sepertinya cerita jadi keteteran. Karena berbagai penjelasan harus dimampatkan dalam cerita yang harus terus mengalir.
Aradia Morgana. Pertengahan dua puluhan. Selain karena menjadi penerjemah, tuntutan pekerjaan membuatnya banyak bepergian. Tidak dengan menggunakan kendaraan biasa, namun dengan cara teleportasi!
Sebagai Ratu Penyihir, Aradia harus pandai-pandai memilah dunia nyata dan dunia yang ia perintah. Memilih tinggal bersama manusia biasa, Aradia punya mimpi yang sederhana. Suatu saat menemukan pria yang dicintainya, yang bisa menerimanya sepenuh hati.
Tapi bagaimana kalau ia harus memilih, antara seorang shadowlord----musuh bebuyutan para penyihir----dan malaikat pelindungnya? Bagaimana kalau di masa pemerintahan Aradia, nasib dunia sihir tergantung pada keputusannya?
Universe Dunia Aradia adalah universe metropolitan terkini dengan dunia penyihir secara paralel hidup bersama di dalamnya. Sedikit menyerupai universe Harry Potter, with a feminine touch (giggle).
Satu hal yang menarik, Pengarang menetapkan bahasa Inggris sebagai 'Bahasa Sihir' di universenya. Konsisten dengan referensi nama Aradia 'Morgana', serta referensi Wicca yang dipergunakan, tampaknya Pengarang mengambil sari sistem universe sihirnya dari tradisi Celtic atau Anglic sana, gak jauh-jauh dari Harpot, dan jadinya sama-sama memoyang ke referensi King Arthur dan Camelot (Itu lho, mbah Merlin yg jadi guru besarnya. Walau, Harpot series pakai bahasa latinesque buat mantra-mantranya). Menurutku itu ide sederhana tapi mengena dengan tepat.
Ya gak papa, ngambil dari yang sudah ada. Dengan demikian pengarang malah bisa menyusun settingnya secara lebih mendalam. Dan aku pikir, penerapan setting sihir di dalam novel ini tereksekusi cukup bagus. Terutama dari pemilihan mantera sihir yang gak asal dan bernilai sajak, lumayan.
Look at these: Bring me two shades of story remove me from any worry into another dimension, I go, and you go into another realm we move, to and fro But this time, I'm bringing the key But this tima, I can't and won't bring us back to our reality
Kemudian naming system. Yah, gak rumit-rumit sih, straight forward sebagaimana dunia sehari-hari. Yaitu nama-nama berbau Barat abiss, liat aja nama: Jasper, Seth, Sylvan (tapi emang mereka gak murni orang lokal juga sih, heheh). Yah secara setting sih cukup masuk ajah, gak ada keberatan. Catatan untuk kakaknya Aradia, ada dua nama yang dipakai, entah typo atau sengaja: Eir dan Erin. Tidak ada penjelasan dari Pengarang.
Lantas apa yang masih perlu dikritisi. Lha ini. Hal ini juga sempat bikin saya sedikit bingung, koq pengarang rada missed di part ini, ya: PLOT.
Plot Dunia Aradia inilah, yang aku nilai, kurang begitu baik dieksekusi. Cerita yang cuma 250 halaman memiliki alur yang terasa nggak fokus. Bukan soal paralel side stories, lho ya. Melainkan justru ga terasa adanya tema besar yang mengikat buku ini menjadi suatu 'cerita'. Secara ekstrim, saya bisa membagi buku ini dalam tiga potongan besar episode berurutan: Aradia The Queen of Witches, Aradia with (beautiful, metrosexual) Men, dan Aradia versus Shadowlords, dan ketiganya biarpun berurutan, gak terorganisir sebagai satu rangkaian kesatuan. Tiga hal itu sepertinya klip terpisah aja.
Memang ada benang merah cerita, tentu saja. Tapi at least saya expect ada situasi yang bisa dipertukarkan antar episode tadi untuk membuat plot lebih gurih, misalnya ancaman Shadowlord harusnya sudah terasa di bab-bab depan. Dengan peristiwa apa gitu kek, atau dalam rapat majelis paduka Ratu, gitu? Dan bagaimana peristiwa-peristiwa di bab awal punya signifikansi di bab-bab belakang.
Kalau di buku ini, tiga potongan besar itu terasa berlangsung sendiri-sendiri, sehingga terus-terang saja saya merasa urusan Shadowlord, misalnya, nongol tiba-tiba di halaman 137. Lho, padahal dalam setting ditetapkan bahwa antara kaum Shadowlord versus Penyihir sudah 'berseteru' selama ribuan tahun. Sementara di halaman-halaman depan, gak terasa tuh tingkah laku Aradia sebagai seorang Ratu Penyihir yang (suppose to be) punya peran mengawasi musuh-musuh kaumnya secara ketat. Dan dia bisa 'nggak tahu' beberapa knowledge inti mengenai shadowlord? C'mon!
Ketidak sinambungan plot juga memiliki efek negatif berupa informasi yang seolah sekonyong-konyong muncul, sehingga bahkan saya sampai mengira telah terjadi kesilapan editing. Misalnya tentang Shadowlord di atas. Gimana ya? Apakah memang sudah tuntutan genre? Bayangkan bagaimana rasanya membaca sebuah novel yang berisi adegan belanja-belanji, atau lirak-lirik cowok, atau kepusingan urusan domestik di depan, lalu ujug-ujug switch situasi genting bersama Darklords?
Lalu salah satu yang cukup membuat kening berkerut: informasi bahwa leader Shadowlord yang tadinya disangka ayah Aradia teryata saudara tiri ayahnya. Pivot point sedahsyat itu cuma hadir melalui beberapa kata di halaman 241, dalam bentuk diceritakan pulak. Ouch. There goes the excitement.
Akibatnya jadi terasa kurang seru. Bahkan sampai tingkat mengesalkan (untuk diri saya). Contohnya saat adegan klimaks... wait. Come to think of it, jadinya nggak ada adegan klimaks! Lha wong adegan klimaksnya: si Aradia bertempur, diserang, pingsan dan... pindah bab. Masuk Epilog, semua udah beres. Diceritakan bahwa si Jasper anu-anu-anu ... tapi itu bukan adegan langsung, itu secondhand opinion.
Hm, dan lagi. Oke kalau cerita ini genre-nya fantasi, jadi romance dikit banget bahkan tokoh Sylvan baru muncul setelah seratus halaman (Oh mi got!). Karena romance-nya dibatasi, aku jadi bingung sejak kapan Ara sama Sylvan saling menyukai. Selain itu aku juga ngerasa janggal dalam novel ini. Penulis hanya menceritakan kehidupan Ara kalau lagi di rumah atau lagi berteleportasi ke Pulau Misteri. Kehidupan Ara sehari-hari sebagai manusia nggak pernah dibahas sama sekali. Cuma pernah disebutkan kalau Ara punya editor yang tentu saja editornya manusia tulen. Nggak nyambung banget sama ringkasan belakang sampul. Jadi aku rada meragukan kehidupan Ara di dunia nyata. Kayaknya tuh orang nggak punya temen deh..
Dan penyelesainnya itu lho, juga kurang oke. Kayaknya emang gaya penulisnya kayak gini, klimaksnya nggak berujung, belum apa-apa langsung ke epilog.
Dan btw, di profil pengarang, ditulis kalau ini novel pengarang yang ke 14, tapi kena di cover belakang sendiri ditulis kalau ini novelnya yang ke 15? So, yang benar yang mana?
Tapi, bicara detail dunia sihir, harus diakui buku ini cukup kuat. Walau mungkin bukan pada detail visual seperti Harry Potter dengan visual-fiestanya yang menawan, Dunia Aradia memiliki kekuatan pada detail sistem 'ilmu' sihirnya itu sendiri. Setiap mantera dikonstruksi dengan cermat, dan sistem sebab-akibat sihir-nya terjaga baik. Ada hukum Three Laws segala untuk mengatur dunia sihir. Ada historical 'track-back' ke legenda Menara Babel segala, yang membuat settingnya jadi terasa 'wuah'. Aku bayangkan kalo setting ini diolah secara lebih 'fantasy', bakalan jadi karya yg keren.
Ya, overall, ceritanya lumayan menghibur lah ya. Cocok banget buat yang lagi pengen baca dunia sihir gitu.
Saya sempat maju mundur saat hendak membaca buku ini. Ulasan yang saya baca di internet rata-rata menganggap buku ini buruk. Setelah menunda berbulan-bulan, karena stok bacaan kian menipis, akhirnya saya putuskan membacanya. Sempat terbesit harapan akan ada perbedaan signifikan yang lebih baik ketika mengetahui bahwa buku ini diterbitkan kembali oleh penerbit berbeda sebab terbitan awal sudah habis kontrak. Di awal Aradia digambarkan sebagai sosok Ratu Penyihir yang berwibawa, tegas, serta hebat. Akan tetapi, tanpa alasan yang jelas, sosoknya tiba-tiba menjadi cengeng, rapuh, mudah putus asa, dan lemah. Unsur Indonesianya sama sekali tak terasa meski settingnya di sana. Terlebih nama-nama yang dipakai cenderung kebarat-baratan. Saya bahkan mengira Arianrhod itu laki-laki sebelum ada penjelasan bahwa dia perempuan. Penulis sepertinya ingin memadukan genre chiklit dan fantasi. Akan tetapi, penggarapannya terasa tidak utuh alias nanggung. Mungkin karena jumlah halaman yang tipis atau gimana banyak hal yang kurang dieksplore. Kejadian-kejadian di dalamnya terkesan ujug-ujug tanpa lanjaran yang kuat. Kejutan-kejutan yang coba dihadirkan sama sekali nggak berasa. Datar. Tak sedikit hal-hal yang mengganggu. Contohnya Aradia sebagai Ratu Penyihir masa kerjaannya cuma jadi penengah antara dua penyihir cewek yang berseteru memperebutkan seorang cowok dan jadi mentor penyihir pemula doang? Harusnya kerjaan semacam itu didelegasikan ke anak buah dan sebagai Ratu dia mengerjakan hal-hal yang lebih besar dan penting. Unsur chiklitnya sih lumayan, tapi fantasinya? No komen deh.
Aradia Morgana. Hidup di dua dunia. Di dunia manusia. dia harus pandai membagi waktu untuk menerjemahkan, mengurus keponakan, dan mengelak dari perjodohan yang diatur ibunya. Di dunia satu lagi, dia disibukkan segala urusan yang berkaitan dengan sihir.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ide ceritanya sangat fresh. Walaupun genre fantasy, tapi dibalut dengan segala hal yang berbau modern. Alurnya sangat berkembang pesat. Teratur dan diakhiri dengan sebuah konflik yang membuat pembaca seolah bisa merasakan seperti apa dunia sihir. Yang paling aku suka adalah, plot twits-nya. Meskipun predictible, tapi penulis bisa balut dengan diksi yang mengalir.
Pembaca seolah merasakan dan bisa membayangkan bagaimana karakter dalam tokoh di dalam cerita. Tapi, ada part, di mana tiba-tiba Seth dibawa Aradia ke Isle of Mystery. Di situ, konfliknya terlalu tajam, sehingga perpindahan karakter Seth yang lembut dan baik hati, tiba-tiba saja berubah menjadi kenyataan bahwa Seth adalah salah satu tokoh antagonis. Ah, iya, penggunaan bahasa-bahasa latin/asing yang menurutku sangat keren sekali. Meskipun terdapat bahasa-bahasa latin/asing, tetapi penulis tidak lupa mendeskripsikan makna dari penggunaan bahasa latin/asing tersebut. Tidak lupa penulis mencantumkan arti dari bahasa asing di halaman terakhir.
Baca bagian awalnya rasanya "meh", kayak ini sih macam belum moveon dari hype Harry Potter. Plus, penulisnya pasti penggemar serial Charmed (saya juga mwihihihi ga pernah lewatin episodenya dari era Piper, Prue, Phoebe hingga ke Paige. Piper is always my favourite). Kenapa Charmed, ya karena aromanya kental banget di buku ini.
Pertama, buku bayangan aka book of shadows, lalu Leo atau malaikat pelindung, lalu warlock, lalu emmm mantra dalam bahasa Inggris. Lalu emmm apa ya, untungnya aroma Harpot ga terlalu kental di sini. Kerennya, penulis benar benar riset soal dunia penyihir ala Barat. Nama karakter utamanya saja Aradia Morgana.
Membaca seperempat bagian pertama kayak belum jelas ini mau ke Harpot apa Charmed. Tapi menjelang tengah ceritanya mulai menarik. Seru dan segar. Sayangnya, awal yg berpanjang panjang (terutama itu bagian ibu Aradia yg suka ngomel ngomel) tidak diimbangi dengan ending yang panjang. Jujur, endingnya kecepetan. Kayak diburu-buru. Bagian perang akhir terutama.
Selain itu, masih banyak hal menarik yang mestinya bisa dieksplore lagi. Saya setuju kalau novel ini kurang tebal.
Belum lama baca novel ini Sebenernya ceritanya bagus. Fantasi-nya dapet banget ngebaca bab awal novel ini, aku langsung suka dengan karakter Aradia. Sosok Ratu penyihir yg keren bangeeettt
Tetapi setelah itu, bisa dikatakan novel ini jauh dari yang aku harapkan Aradia kehilangan karakter awalnya. Dia nggak terlihat seperti Ratu penyihir yang anggun dan hebat seperti di bab awal. Aradia terlihat seperti beban dan selalu pingsan ! Dan sepertinya dia terlalu mudah dibodohi oleh musuh2nya. If you know what I mean Ardia terlalu gegabah, mengambil keputusan tanpa banyak pikir dan setelah kupikir -pikir, sepertinya Aradia lah yg membuat banyak konflik di dalam cerita ini. Seperti yang kubilang, Aradia kehilangan karakternya.. Dan karenanya cerita ini menjadi kurang menjanjikan tidak seperti bab bab awalnya
Maunya si ngasih bintang 3, soalnya buku ini sebenernya menjanjikan ceritanya. Sayang karena halamannya ketipisan, jadi kehilangan roh buku ini. Coba ceritanya bisa lebih dikembangin bagian Seth and Sylvan pasti seru! Soalnya tiba-tiba aja kita disuguhin itu 2 tokoh katanya 'deket' sama aradia tapi porsinya kurang dari si Jasper ;D
Btw, entah kenapa cerita ini ngingetin sama cerita anak2 tentang penyihir yang dulu pernah aku baca. Beberapa bagiannya mirip buku Which Witch si Jasper ke Aradia seperti si anak yatim piatu ke belladonna ;D
HA! Saya tadinya mau ngasih tiga aja sih. Tapi terlepas dari ke-hakhakhakhak apa sih ini?, saya suka sama idenya yang berani dan ceritanya yang nggak norak. Soal kovernya yang keterlaluan jeleknya, ya udahlah. Untung sekarang udah terbit versi barunya :p
Sebenarnya suka sama ceritanya. Cerita fantasi yang cukup rasional. Tetapi eksekusinya kurang dikembangkan, apalagi sifat-sifat karakternya kurang sesuai dari yang dijabarkan. Aradia Morgana, sebagai Queen of all Witches kok ya bisa salah mengetahui malaikat pelindungnya. Seorang Ratu Penyihir kok ya gampang banget ditipunya, dan gampang banget pingsannya. Sylvan Stone, hingga di saat krisis pun tidak memberitahu siapa dirinya, membuat Aradia bingung sendiri sebenarnya Sylvan itu berpihak pada siapa. Seth, si penyusup yang diawal terkesan menjauhi Aradia, kok malah tiba-tiba dekat. Pertarungannya sendiri kurang meriah ya, eksekusinya masih kurang maksimal. Alurnya juga masih kurang rapi. Tapi aku suka ceritanya.
Novel kali ini adalah novel yang bercerita tentang 'a witch' atau penyihir tapi tetap di sisipi dengan kisah romance. Dunia Aradia bercerita tentang Aradia Morgana sebagai Ratu penyihir, yang secara tiba-tiba di jadikan ratu penyihir mengangantikan sang kakak yang meninggal, dan harus mengemban tugas untuk memerintah dunia sihir dan sekaligus hidup sebagai manusia biasa. Di tambah lagi dengan kisah asmaranya yang mengaharuskannya memilih shadowlord musuh bebuyutan para penyihir atau malaikat pelindungnya. Belum lagi kegilaan dan stressnya mengurus keponakannya yg bernama jasper. Menarik kisah yang menyuguhkan kisah lain tentang penyihir yang hanya terdiri dari perempuan saja mengingatkan kita pada zaman banyak perempuan yg di bunuh dan di tuduh sebagai penyihir, dan juga kekuatan elemen" dasar yang di jadikan sebagai kekuatan sihir, menarik! berbeda dengan kisah penyihir karya J.K. rowling dan kisah ini berlatar belakang di Indonesia. Bagi pencinta genre fantasi recomended lah.