Riuh adalah buku kumpulan cerita pendek dan prosa.
Sebagaimana judulnya, berbagai tema diusung sepanjang Riuh: kasih sayang, hubungan yang rumit, setengah rumit, hingga sederhana dan sangat amat sederhana antar dua (atau lebih) manusia, idealisme yang bertemu realita, pemikiran-pemikiran liar pukul 2 pagi saat mata susah betul diajak berehat, dan banyak di antaranya, tentang permulaan. Kenapa Riuh?
Dalam pengertiah harfiah, Riuh biasa diterjemahkan sebagai keramaian, kebisingan, noise. Tapi kata itu juga dapat mewakili suasana yang hidup: liveliness. Ketika bermacam kesibukan, interaksi, dan topik obrolan yang tak berkaitan saling membaur, menciptakan harmoninya sendiri.
I knew the author since Taste Buds, an anthology she co-wrote with someone whose Tumblr account I follow back in college days, and I fell in love with her (their) writing ever since. I didn't follow her anywhere tho, not until a couple of months ago when Kinsia happened to reach me out thru Tumblr (and Twitter as well lol she stalked so good) so we follow each other. That's how I know she wrote another book which, I guess, is self-published and sold for exclusive market only.
This hardback ain't born alone but together with things the author called self-made prakaryas. One of those is a booklet consisting of photos with tiny, cute captions. Me likey.
Enough for introduction, let's talk about the book.
As stated on its Goodreads page, it's a bundle of prose and poems. And quotes. Kinsia was born in Tumblr, and Riuh tastes a lot like Tumblr. You Tumblr fellow must've known what I mean. Those simple words that stab so hard in front? Check. Quotable sentences? Check. Stories that make you think like they're written for or about you? Check. Aww and uuunch moments? Check. Written in Indonesian, English and a bit Singlish, Riuh is such a freshener in my shelf of mainstream reads.
But Riuh is just like its title it's so riuh I didn't see the reason why these stories gotta be bundled into one. It's so sparse it feels like reading loose pieces instead of a good piece of book. Also, pardon my editorial eyes, I bet this is a second or third draft of self-revised writing. Things could, should, have been so much better in professional's hand. Don't you know that "dimana" is one of those seven deadly sins (revised edition)? The next thing to rant about is perhaps the layout for the short stories. Idk, it's just not pretty to read em with the same layout as the poems. Oh, and since the author could doodle too, more illustation would be much appreciated.
Whatever. I still love Kinsia's writing.
The opener hits close to home, the closer a big question. The love stories edgy. The poems bearable for not-so-poetic person like me. My favorites are Slip and Misfit and Solo. And Soda. Mumumu :*
Ada seseorang teman di Instagram yang menginginkan buku ini. Saya ingat bahwa saya punya dan saya ingin ia juga bisa membacanya. Satu-satunya hal yang patut disayangkan dari buku ini adalah karena buku ini dicetak terbatas.
Saya membacanya kembali malam ini. Wah, saya teringat belum sempat menulis ulasan di laman Goodreads. Saya membaca lagi malam ini dan menyadari betapa kak Kinsi itu bagus sekali ya tulisannya. Pilihan katanya itu loh baik di Bahasa Indonesia maupun English. Saya suka sekali cerita-cerita di dalam buku ini. Manis.
Saya tidak menyesal memutuskan ingin berbagi buku ini. Saya sudah puas membacanya.
Dari covernya saja buku ini sudah memiliki daya tarik yang kuat. Lalu ketika halaman demi halaman dibuka... saya jatuh cinta! Betapa tidak, Kinsia begitu apik dalam menuliskan semua cerpen dan prosanya. Seringkali saya dibuat terhenyak mendapati akhir cerita dari cerpen nya yang begitu *$*%&Y (baca: nano-nano). Lalu, bahagia adalah rasa yang kemudian kan kau dapati setelah membaca buku ini. Aaak terimakasih, K!!
luar biasa!! isinya benar-benar diluar ekspektasi saya. bahasa yang mengalir, ide cerita yang unik. oh ya! twistnya juara juga. kak kinsi bukan sekedar penulis, dia pencerita! terimakasih telah berbagi ceritanya kak.
Dedikasi waktu, tenaga, uang, perasaan dan loyalitas membuat karya yang seriuh "Riuh" tentu bukan main pusing tujuh keliling trapesium. Saya bisa membaca "Riuh" dengan hati tentu karena penulisnya menuangkan sepenuh hati dalam penyelesaian buku ini. Popularitas hanya milik Raffi Ahmad, maksud saya popularitas hanyalah bonus bagi sebuah karya. Pada hakikatnya, karya tak ternilai hanya dari popularitas, lebih bangga rasanya memamerkan hasil bacaan yang bagus lalu ditanya "Wuih, bisa booming tuh" daripada mengetahui bacaan yang biarpun tidak dipamer pasti mencolok "Oh, yang asal jadi aja itu iya". Saya membaca "Riuh" tidak perlu waktu dan tempat khusus, "Riuh" yang membuat semua waktu dan tempat terasa tepat karena begitu dekat dengan kita. Tidak perlu berpikir keras karena "Riuh" cocok untuk mampir sejenak dalam dimensi dunia yang sering kita hindari, kesederhanaan. Kompleksitas membuat bahagia kita tidak sederhana lagi. Namun, cukup membaca "Riuh" kita bisa mendapatkan senyum dari hal sederhana dan Insya Allah bisa dapat kaos untuk begaol kan kalo menang reviewnya*ehm*uhuk*
Ayo semua baca Riuh! Apapun momennya, "Riuh" bukunya! Mau dibaca nyicil? Boleh! Mau dibaca sekali duduk? Boleh! Mau baca sambil kayang? Boleh! Ini buku yang bisa beradaptasi, Gaess! Ayo buat "Riuh" berkembang biak! "Riuh 1" - "Penulis Riuh Naik Haji"
Ketika akan me-review buku ini, awalnya saya berniat untuk menuliskan salah satu quote atau kalimat manis yang ada di buku ini sebagai pembuka. Namun, niat itu saya urungkan karena terlalu banyak kalimat manis (dan mengena) di buku ini, hingga saya bingung mau milih yang mana. hahaa..
Buku ini, menyuguhkan dua puluh tiga judul prosa, cerpen, atau sekedar kumpulan kalimat manis dengan tema yang begitu berbeda, tapi anehnya dapat berpadu dengan sempurna. Membaca halaman pertama, membuat saya tidak mau menutup buku jika belum sampai di halaman kedua, lalu ketiga. Lalu ia menjelma candu. Karena setelah sampai di halaman akhir, saya kembali ingin membuka halaman pertama.
Solo. Dia lah yang menjadi pembuka cerita, yang mau tidak mau bagian ini membuat saya mengingat tentang sosok yang walaupun jarang ditemui, tapi dia ada di dalam setiap kehidupan kita.
Kisah Yaz dan Naz adalah salah satu kisah paling romantis, dengan awal yang menjebak dan akhir yang tidak tertebak. Yang ketika membaca sampai dibagian akhir, saya menangis, dan tersenyum disaat yang sama.
Cerita tentang Kana, mengingatkan saya pada sosok Aisha di buku Taste Buds. Si Kana ini, semacam versi SD-nya Aisha. Yang ceria, banyak bertanya, suka mendengarkan cerita, dan suka berfikir secara dalam. Mengingatkan kita bahwa terkadang, anak-anak justru lebih peka dibandingkan orang dewasa.
Dan pada bagian Confession of, Uh! saya takjub dengan Kak Kinsia, yang mengumpulkan ide sederhana menjadi begitu renyah, membuat saya tergelak ataupun berteriak, "iyaa banget!!"haha.
Bagi saya, setiap tulisan dalam buku ini tidak hanya menjadi rangkaian kalimat yang ditulis dengan manis dan nyastra, tapi ia menyisakan makna, dan nilai untuk dijadikan pegangan suatu hari nanti.
Saya bertekad untuk tidak akan meminjamkan buku ini kepada siapapun kecuali dia baca di depan saya dan setelah dia janji tidak akan meminta buku ini seingin apapun dia memilikinya. Buku ini, rawan untuk dicuri.. :)
Dibaca saat hati sedang tidak grasa grusu, sampai kita pelan-pelan dapat menghayati setiap cerita yang menampilkan episode hidup dalam keadaan lapang maupun sukar, lalu diajak merenungi bahwa setiap manusia mempunyai sisi romantisme hidup dalam hal-hal yang sederhana. Riuh mengajak kita untuk memandang peristiwa dari sisi yang tak biasa namun penuh makna, sisi-sisi yang sangat manusiawi. Ditulis dengan bahasa yang mengalir namun bisa tiba-tiba membadai, bahkan menetes pelan-pelan dan menyadarkan, bahasa yang membidik, mewakili ucapan dari kedalaman hati seorang manusia. Membaca Riuh, membuat hati kita riuh dalam sepi dan dingin malam sekalipun, yeay!
Kalau kamu ingin baca sesuatu tentang ketulusan hati, maka ini jawabannya.
Saat menamatkan halaman terakhir, saya tahu isi buku ini begitu tulus. Setulus hati Kinsia yang ingin membagikan pemahaman tentang hidup tak perlu direka, toh jalannya nanti Tuhan yang akan membuka.
Terima kasih Kin atas an (very) insightful point of view!
Kinsi menyajikan semua rasa dalam sebuah buku yang apik. Rasa sedih, bahagia dan kecewa tertuang penuh dengan gaya penulisan yang lugas. Sehingga kita dapat membacanya dikala santai. Berbagai pelajaran dapat di temukan tidak hanya dalam bentuk prosa yang tertuang indah dengan gaya bahasa sehari-hari tanpa menggunakan kata-kata yang formatif. Quote-nya pun tertuang jelas tanpa gaya bahasa yang ambigu da multi tafsir.
Rasa yang tercampur baur menjadi menarik dan random tetapi mudah di resapi karena mengambil situasi sehari-hari menjadi senjata pamungkas untuk membuat pembaca terus membaca tanpa jeda. Mengutip perkataan Penulis Seno Gumira Ajidarma "Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.” telah berhasil dicapai kinsi dalam karya keduanya.
Pernahkah kalian membaca sebuah buku --kemudian merasa senang setelah menyelesaikannya? Hahaha buku ini membuat saya begitu *ea* itulah kenapa menurut saya buku ini layak dapat bintang lima. Cerita dalam buku ini manisnya pas. Hal-hal sederhana yang dikemas dengan begitu rapih sehingga dapat menghadirkan senyum bagi pembacanya. Worth it juga buat dibaca berulang kali. Suka!
meski udah baca di tumblr, ga pernah bosen baca tulisan kak kinsyu :3 super heartwarming, cocok dijadikan teman meringkuk dibalik selimut kala cuaca hujan-hujan sendu begini.