Kompas Way atau Cara Kompas tidak hanya kumpulan kode etik dan tuntunan moral, tetapi juga kiat agar tetap survive dan berkembang. Sebagai lembaga idealisme dan bisnis, sebagai bagian integral masyarakat, Kompas berusaha terus meraih kepercayaan (trust) masyarakatnya. Karena itu perubahan adalah keniscayaan. Di suatu zaman pernah sebagai anjing penjaga yang galak, di zaman lain sebagai anjing penurut dan sopan. Dalam kondisi zamannya, tanpa menutup kemungkinan polesan, Kompas Way jadi sumber rujukan: kiat dan nilai yang ditransformasikan dan diwariskan para pendirinya lewat kata-kata yang mengajar dan perbuatan yang meninggalkan keteladanan dengan terus didialogkan dengan realitas.
Kompas Way tidak hadir begitu saja, tetapi sintesa dari berbagai sumber, tidak sesaat tetapi lewat perjalanan panjang sejarah keberadaan lembaga. Kompas Way menyejarah, hasil jatuh bangun, usaha keras, kerja sinergik tetapi juga membuat sejarahnya, yang diinisiasi dan dimotori para perintis dan pendiri perusahaan. Setelah P.K. Ojong (1920-1980) meninggal, pengembangan Kompas Way dimotori dan dikembangkan mitra dwitunggalnya: Jakob Oetama. Kompas Way melekat sebagai legacy, warisan ilmu dan kebijakan Jakob Oetama. Kompas Way Jakob Oetama’s legacy.
Kalimat-kalimat bijak Pak Jakob Oetama:
“Peranan pokok media untuk mencari dan menghadirkan makna dari peristiwa atau masalah. Media bukan sekadar menghadirkan fakta, melainkan juga latar belakang, riwayat dan prosesnya, hubungan kausal maupun hubungan interaktif. Kesetiaan dan kemampuan melaksanakan tugas itu akan menentukan media berhak atau tidak berhak berperan sebagai suara hati bangsanya.” Pidato penerimaan gelar Doktor Kehormatan dari Fisipol UGM, 17 April 2003
“Falsafah kita adalah kemanusiaan yang beriman. Iman silakan sesuai dengan hati nurani kita, pilihan pendidikan masing-masing. Tetapi kemanusiaan yang beriman ekspresinya yang langsung sikap peduli terhadap rekan-rekan, terhadap masyarakat, terhadap bangsa dan negara. Kemanusiaan yang beriman ini diterjemahkan menjadi agenda dalam bidang politik, dalam bidang sosial, pendidikan kebudayaan dan ekonomi. Adanya keindahan, setia kawan, rasa keadilan, rasa kepantasan ini yang saya rasa menjadi roh dari lembaga kita”. Pidato syukuran 44 tahun harian Kompas, 28 Juni 2009
“Bersama almarhum Ojong, kita punya prinsip untuk tidak bekerja setengah-setengah, jujur masalah keuangan maupun jujur dalam menyikapi keadilan serta peduli terhadap sesama. Ini trilogi kita yang tetap berlaku sejak dulu, kini dan selama perusahaan ini masih ada”. Syukuran ulang tahun ke-79, 27 September 2010
Membaca ini seakan diajak masuk dalam keredaksian Harian Kompas dan mengenal pemikiran Jakob Oetama, salah satu pendirinya.
Dalam buku ini membuka bagaimana Jakob mempertahankan Harian Kompas dan membawanya. Tujuan Harian Kompas dijelaskan dan ditegaskan di berbagai bab. Setidaknya sebagai pendidik dan anjing pengawas.
Dalam buku ini pula menjawab bagaimana tantangan media cetak, termasuk Harian Kompas menyesuaikan zaman digital. Bagaimana pun media massa cetak bila ingin terus hidup juga harus menyesuaikan zaman.
Yang menarik, Jakob berpendapat, media cetak tak akan mati dan tak tergantikan walau ada media digital. Namun, saling melengkapi.
Secara pandangan Jakob di buku ini banyak hal. Seperti kisahnya dalam memandang Indonesia yang memberi warna dalam Harian Kompas hingga perjalanannya sebelum mendirikan Harian Kompas
Buku ini rasanya pas bila ingin mengenal Jakob Oetama dan Harian Kompas dari tulisan yang subjektif. Mungkin juga pas bila ingin menilik bagaimana redaksi menghadapi masalah.