What do you think?


Bisma Dewabrata
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
February 22, 2017
Tak sengaja menemukan HF Indonesia ini di Ijak, dan aku happy banget karena akhirnya bisa membaca kisah Bisma dari sudut pandang yang berbeda.
"Cinta dan benci tumbuh dari akar yang sama, hanya bermuara pada buah yang berbeda. "
Selama ini Bisma dipandang sebagai karakter besar yang dihormati, berkharisma tapi dingin dan menjadi penyebab kematian Dewi Amba. Buku ini merajut kisah Bisma dan memberinya nafas baru yang lebih terasa adil. Aku suka bagaimana penulis menggambarkan para karakternya di sini. Walau terasa masih hitam dan putih sekali tapi terasa manusiawi. Sisi ini akan lebih menarik kalau bisa di gali lebih mendalam. Bisma atau Dewabrata terlahir sebagai seorang putra mahkota idealis, sakti dan punya kualitas pahlawan dalam dirinya. Di tinggal mati ibundanya semenjak bayi dia mengais kasih sayang dari ibu tiri yang membencinya. Kegelisahan hatinya menuntunnya dalam perjalanan mencari bunga pusaka yang bisa memberi kedamaian cinta. Perjalanan ini mempertemukannya dengan cinta pertamanya Dewi Amba dan seorang calon prajurit bernama Wulandari.
Aku suka bagaimana chemistry Dewabrata, Amba dan Wulandari terjalin sejak awal. Walaupun kalimat-kalimatnya sederhana dan penuh pesan moral tapi tak terasa membebani karena di sisipkan dengan cerdas di tiap scene. Beberapa tembang, puisi dan istilah juga semua ditulis dalam bahasa Indonesia jadi tak akan memyulitkan pembaca yang tidak familiar dengan bahasa Jawa. Aku bahkan menghighlight beberapa quote penuh makna yang banyak bertebaran di buku ini. Konflik yang menimpa kisah cinta mereka juga di ceritakan kembali dengan lebih masuk akal dengan menambal plot hole yang ada di kisah-kisah pewayangan aslinya. Ending kisah ini agak terburu-buru tapi so far ini adalah HF yang berpotensi untuk para pemula di genre ini.
Rating : 3.5/5
"Cinta dan benci tumbuh dari akar yang sama, hanya bermuara pada buah yang berbeda. "
Selama ini Bisma dipandang sebagai karakter besar yang dihormati, berkharisma tapi dingin dan menjadi penyebab kematian Dewi Amba. Buku ini merajut kisah Bisma dan memberinya nafas baru yang lebih terasa adil. Aku suka bagaimana penulis menggambarkan para karakternya di sini. Walau terasa masih hitam dan putih sekali tapi terasa manusiawi. Sisi ini akan lebih menarik kalau bisa di gali lebih mendalam. Bisma atau Dewabrata terlahir sebagai seorang putra mahkota idealis, sakti dan punya kualitas pahlawan dalam dirinya. Di tinggal mati ibundanya semenjak bayi dia mengais kasih sayang dari ibu tiri yang membencinya. Kegelisahan hatinya menuntunnya dalam perjalanan mencari bunga pusaka yang bisa memberi kedamaian cinta. Perjalanan ini mempertemukannya dengan cinta pertamanya Dewi Amba dan seorang calon prajurit bernama Wulandari.
Aku suka bagaimana chemistry Dewabrata, Amba dan Wulandari terjalin sejak awal. Walaupun kalimat-kalimatnya sederhana dan penuh pesan moral tapi tak terasa membebani karena di sisipkan dengan cerdas di tiap scene. Beberapa tembang, puisi dan istilah juga semua ditulis dalam bahasa Indonesia jadi tak akan memyulitkan pembaca yang tidak familiar dengan bahasa Jawa. Aku bahkan menghighlight beberapa quote penuh makna yang banyak bertebaran di buku ini. Konflik yang menimpa kisah cinta mereka juga di ceritakan kembali dengan lebih masuk akal dengan menambal plot hole yang ada di kisah-kisah pewayangan aslinya. Ending kisah ini agak terburu-buru tapi so far ini adalah HF yang berpotensi untuk para pemula di genre ini.
Rating : 3.5/5
November 11, 2022
Secara tidak sengaja saya menemukan buku elektronik ini di Gramedia Digital. Meski halamannya tipis -- total hanya 193 halaman -- tetapi tetap saja butuh waktu lebih dari satu hari (tepatnya dua hari) buat saya untuk menamatkannya. Menandakan saya memang semakin tua semakin susah untuk fokus membaca buku, tetapi anehnya bisa fokus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengecek lini masa media sosial. Huft.
Well, anyway, yang menjadi hal utama begitu mencolok dari Bisma Dewabrata adalah pemilihan katanya yang indah. Selain itu, Bisma Dewabrata mengambil cerita dari sudut pandang yang berbeda. Mengutip dari kata pengantar yang ditulis oleh Sindhunata:
Akibat dari suatu fitnah dan ambisi keji seorang patih membuat Dewabrata dan Dewi Amba terpaksa berpisah. Membuat saya tidak bisa tidak untuk menaruh iba terhadap mereka berdua. Bagaimana rasanya harus berpisah karena kesalahpahaman akibat dari fitnah? Dua-duanya memegang janji untuk menunggu satu sama lain, tetapi dua-duanya tidak bisa bersatu karena seperti yang ditulis oleh Sindhunata, "Kemalangan yang menerkam mereka." Saya tidak bisa membayangkan. Saya tidak mau membayangkan. Cukup sudah rasa sakit yang pernah hinggap di hati waktu dulu. Tidak usah dicari lagi, meski hanya membayangkan.
Sepanjang buku banyak kalimat yang layak dikutip. Beberapa saya tuliskan di sini:
Selepas membaca ini, setidaknya membuka pikiran baru buat saya. Terasa juga ikatan tali simpul kencang yang penuh dendam akibat rasa sakit mulai terlepas sedikit. Bisma Dewabrata juga bisa memberikan efek yang menenangkan.
Buku ini membuat hati menjadi terasa lebih ikhlas. Atau, dalam kata pengantar dari Sindhunata menulisnya dengan lebih baik:
Well, anyway, yang menjadi hal utama begitu mencolok dari Bisma Dewabrata adalah pemilihan katanya yang indah. Selain itu, Bisma Dewabrata mengambil cerita dari sudut pandang yang berbeda. Mengutip dari kata pengantar yang ditulis oleh Sindhunata:
Bukan Dewabrata atau Dewi Amba yang bersalah, melainkan kemalangan yang menerkam mereka, dan membuat cinta mereka tak kesampaian.
Akibat dari suatu fitnah dan ambisi keji seorang patih membuat Dewabrata dan Dewi Amba terpaksa berpisah. Membuat saya tidak bisa tidak untuk menaruh iba terhadap mereka berdua. Bagaimana rasanya harus berpisah karena kesalahpahaman akibat dari fitnah? Dua-duanya memegang janji untuk menunggu satu sama lain, tetapi dua-duanya tidak bisa bersatu karena seperti yang ditulis oleh Sindhunata, "Kemalangan yang menerkam mereka." Saya tidak bisa membayangkan. Saya tidak mau membayangkan. Cukup sudah rasa sakit yang pernah hinggap di hati waktu dulu. Tidak usah dicari lagi, meski hanya membayangkan.
Sepanjang buku banyak kalimat yang layak dikutip. Beberapa saya tuliskan di sini:
"Cinta dan benci tumbuh dari akar yang sama, hanya bermuara pada buah yang berbeda. Mengundang orang untuk keluar dari dirinya, sedangkan benci melumpuhkan orang dari dalam dirinya karena tidak menerima keterbatasan jiwanya." (Dewabrata, hal. 49 - 50)
"Setiap manusia dilahirkan dengan kemampuan untuk memilih. Dia bisa memilih untuk mengakhiri dendam dan kemarahannya. Ada lebih banyak hal dalam kehidupan yang lebih menarik untuk digeluti." (Dewi Amba, hal. 55)
... cinta bukan sesuatu yang menghendaki kenikmatan untuk dirinya sendiri. Cinta tidak ingin memiliki, tetapi melepaskan dan membebaskan. Cinta tidak ingin menguasai, tetapi membiarkan diri terbuka pada sesuatu yang lebih besar dari perasaan cinta itu sendiri. (hal. 68)
Menghancurkan lebih mudah daripada menghidupkan. Merusak lebih mudah daripada membangkitkan kembali. (hal. 91)
"Keseimbangan itu penting untuk menjaga kesehatan jiwa. ... Alam semesta mengandung banyak keseimbangan. Maka, apabila satu sisi terganggu, alam semesta akan mencari jalannya untuk membuat seimbang lagi. Semakin besar gangguan yang terjadi, semakin keras usaha alam untuk menyeimbangkannya." (Rama Bargawa, hal. 103)
"Apakah kesempurnaan itu? Sempurna itu tidak berarti hidup putih bersih tanpa noda. Itu bukan manusia namanya. Tidak ada siang tanpa malam. Tidak ada putihnya awan kalau tidak ada langit biru yang menyatakannya. Kesempurnaan itu suatu keutuhan. Utuh berarti semua unsurnya ada, ya kelebihan, ya kekurangan. Tinggal bagaimana kita menjalinnya dalam kehidupan sehingga kelemahan menjadi kesempatan untuk menampilkan kekuatan, dan kekuatan menjadi kewaspadaan bahwa segala sesuatunya hanya bersifat sementara." (Rama Bargawa, hal. 109)
Kemerdekaan batin tercapai ketika jiwa mampu berkata: "Aku bebas dari rasa dendam, penderitaan, kemarahan, dan rasa bersalah. Aku bebas dari rasa diriku adalah yang terpenting. Aku bebas dari rasa mengasihani diri. Aku bisa menertawakan diriku sendiri. Aku melihat kejenakaan kehidupan." (hal. 117)
Selepas membaca ini, setidaknya membuka pikiran baru buat saya. Terasa juga ikatan tali simpul kencang yang penuh dendam akibat rasa sakit mulai terlepas sedikit. Bisma Dewabrata juga bisa memberikan efek yang menenangkan.
Buku ini membuat hati menjadi terasa lebih ikhlas. Atau, dalam kata pengantar dari Sindhunata menulisnya dengan lebih baik:
Buku ini menarik, karena membawa kita untuk realistis menerima, bahwa kemalangan adalah bagian dari cinta. (hal. 4)
July 18, 2024
Singkat, padat, jelas. Penulis mengajak pembacanya untuk berefleksi penuh atas setiap kisah yang terjadi di bab ini.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews




