Hanya kegelapan pekat yang tertera Sama seperti hari-hari yang selalu dilewatnya Tetapi kegelapan itu lebih hampa..
..Sendiri ..Benci ..Sakit
Sekaligus rapuh
"Seru dan mengaduk emosi pembaca. Luar Biasa! Duet penulis muda berbakat yang sangat menjanjikan!" ( Ninit Yunita )
"Sebuah novel penuh dengan intrik memikat dengan memadukan dua jaman yang dibalut dendam, hingga melahirkan permainan-permainan dan teror yang penuh pemikiran cerdas. Ini baru yang namanya thrilleer." ( Ruwi Meita )
sebuah novel suspense, demikian janji novel ini. saya tidak tahu apakah sebelumnya ada novel Indonesia yang terang-terangan mengklaim dirinya sebagai novel suspense, oleh karena itu saya hendak mengklaim sajahlah bahwasanya inilah novel Indonesia pertama yang mengklaim sebagai novel suspense.
saya bayangkan ketegangan demi ketegangan akan saya jumpai sepanjang buku ini, karena ia berjanji ini sebuah suspense... tapi yang saya tak mendapatkan apa yang saya cari.
============================================================= “Bugg,” sebuah notes tebal terjatuh di lantai, atau lebih tepatnya lapisan semen pelembut pijakan. Tidak ada lantai di sini. Tidak ada terrazzo, keramik apalagi marmer. Sama sekali tidak ada nilai estetis di rumah ini.
Lampu tidur itu berkedip-kedip. Tapi laki-laki itu tidak beranjak sedikit pun dari tidurnya. Dia sama sekali tidak terganggu oleh beat cahaya yang merangsang kontraksi bola mata. Dia begitu terlelap. Begitu nyenyak terbuai dari mimpinya, itu pun jika dia masih bisa bermimpi setelah semua yang terjadi. (hal 1, Awal)
ceritanya berubah menjadi cerita misteri di paragraf kedua. tanpa sebab, sebuah notes TEBAL jatuh ke lantai. tidak ada penjelasan apakah tiba2 gempa atau si laki2 memasang kipas angin super kencang sebelumnya. sementara satu-satunya tersangka yang mungkin menjatuhkan notes itu disebutkan "tidak beranjak sedikit pun dari tempat tidurnya". seram…
Dia berlari keluar rumah memungut koran paginya yang kuyup dan lembab. Saat dia mengangkatnya, kertas tipisnya satu per satu berderai. Jatuh ke tanah. Namun dia masih dapat membaca headline yang menghiasi halaman pertama koran tersebut. (hal 1, Awal)
.kertas basah justru sulit dipisahkan dari lembaran lainnya, bukan? alih alih berderai satu per satu, ia justru rapuh/gampang robek ketika diangkat, bukan?
“Mi aku mau ngomong sebentar. Boleh?” kata pria itu kepada sang gadis masih dengan posisi duduknya di sofa Jepara itu. Dia mengeraskan suaranya, menantang hujan yang kini menderu semakin keras di telinga. Mata indah gadis itu mengerjap. Bola matanya membulat. Ekspresi wajahnya cemas dan takut. Ratih juga menampakkan gurat yang sama. Sepertinya hanya Galih yang bersikap wajar, seolah sudah mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. “Ngomong aja sekarang,” sahut sang gadis. “Di teras?” tawar sang pria. “Hujan.” “Sebentar aja. Lima menit.” “Nanti kebasahan.” “Kan hujannya nggak sering mampir ke teras. Lagian kayaknya sudah agak redaan.” (hal-9-10, Satu)
saya bayangkan pria di atas berbicara dengan mengeraskan suaranya, menantang hujan yang menderu semakin keras di telinga lalu ia membuat pernyataan bahwa hujannya gak sering mampir ke teras dan kayaknya sudah agak redaan, tetap dengan suaranya yang keras, menantang hujan yang menderu semakin keras di telinga.
“Bisa bicara dengan dokter Alika?”kata suara di seberang telepon itu. “Ya, ini saya.” “Dokter! Astaga…aku seneng banget denger suara dokter. Sumpah deh!” “Oh ya? Kenapa?” “Nggak tahu, seneng aja. O ya Dok, aku bisa minta resep obat penenang lagi nggak?” Sejenak Alika terdiam. Dia sudah biasa mendapat telepon dari pasien-pasiennya tanpa menyebutkan nama. Jadi sekarang dia mengingat-ingat, suara siapa yang terdengar di telinganya ini. “Amara. Ah ya… kamu punya masalah sama pacar kamu, kan?” “iya, dan sekarang rasanya gara-gara masalah itu aku malah makin stress. Jadi bingung sama orientasi aku sendiri. Kayaknya sekarang malah makin menjadi-jadi, makanya aku minta obatnya lagi dokter.” “Kamu, saya jadwalin ketemu saya besok jam sembilan pagi. Di kantor.” “Oke! Thank you banget dokter, sorry ganggu malem-malem.” “It’s okay. Everything for my beautiful patient.” “Astaga! Kalo Dokter bilang gitu, aku bisa jatuh cinta sama Dokter nanti.” “Don’t be… Ingat jam sembilan.” “Baik…baaikkk…” Klik! Telepon ditutup. Perempuan itu, Alika Larasati S. Biasa dipanggil Alika, usia 27 tahun. Seorang dokter psikiatri. Orang bilang dia jenius sejak tahun pertamanya menginjakkan kaki di Fakultas Kedokteran. Cantik. Dingin. Brilliant. (hal 18-19, Satu)
cantik, oke deh. brilliant (dengan double l dan akhiran t), silakan deh. tapi dingin? nanti dulu. percakapan di atas tidak menunjukkan karaker Alika sebagai seorang yang dingin. sok penting dan sok wibawa sih iya. genit apalagi…
Ketika diperlihatkan gita cinta yang mengguncang jiwa, pemuda itu menoleh sekilas ke arah gadis itu. Laksmini Setyaningsih. Panggilannya Laksmi. Selalu mengepang dua rambutnya, dan senang memakai gaun sutra putih bermotif bunga-bunga mawar merah.
Kulitnya kuning langsat. Rambut hitamnya yang terkepang, selalu mengeluarkan cahaya bila terkena pancaran sinar matahari. Matanya indah dan bulu matanya lentik. Hidungnya memang tidak seberapa mancung, dan bibirnya tidak seberapa tipis. Namun, justru itu yang membuatnya memiliki senyuman yang khas, bagai sutra putih yang sering dia kenakan. Namun, tanpa motif sedikit pun. Tanpa noda.
Laksmini terpekur dalam, menyimak jalan cerita film itu. Mungkin karena mereka mendapat bangku strategis di bioskop Megaria yang selalu penuh ini. Sehingga semuanya –kecuali pemuda yang sedang memandanginya- benar-benar terfokus terhadap layar dengan backsound suara yang terdengar balanced.
Mereka bersepuluh. Dia tidak duduk bersisian dengan gadis jelita itu, tetapi duduk di pojok sebelah kanan. Di samping kirinya, Rinto, sahabatnya. Di samping kiri Rinto ada Ratih, sahabat Laksmini. Setelah Ratih, barulah Laksmini, gadis idamannya. (hal 21, Satu)
baiklah pemuda, sebenarnya dirimu menoleh sekilas atau memandangi Laksmini sih? atau awalnya engkau hanya menoleh sekilas namun karena kejelitaan Laksmini lalu engkau memandanginya? pastilah engkau memiliki mata setajam elang, karena dari tempat dudukmu yang berjarak 3 kursi dari Laksmini di sebuah bioskop yang sedang memutar film (pernahkah anda menonton bioskop dan mencoba menatap wajah tetangga kursi anda yang posisinya sejajar, kalau bisa yang posisinya 3 kursi setelah anda), kau sanggup menyesap pesonanya (hal 22). terlebih kau mampu mendeskripsikan mata Laksmini indah dan bulu matanya lentik. sungguh sakti…
Selina Ardiany. 24 tahun. Bukan buta sejak lahir, tetapi sejak dia menginjak usia sepuluh tahun. Dia adalah anak dari produk rumah tangga yang gagal. Dia mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Sebuah pukulan dari Ayah kandungnya , menyebabkan penglihatannya hilang. Tetapi Tuhan Maha Adil. Ketika kehilangan indera penglihatannya, Tuhan memberikan indera yang lain. Indera keenam. Setelah itu Selina mampu melihat masa lalu atau masa depan seseorang, atau merasakan sebuah benda hanya dengan menyentuhnya. Dengan itulah, Selina merasa masih dapat melihat dunia bagaikan orang normal. (hal 52, Dua)
seandainya -seandainya saja ya soalnya saya nggak ngarep beneran- anda buta kemudian mendapat gift bisa melihat masa lalu dan masa depan seseorang, apakah kelebihan itu akan berguna untuk hidup bagaikan orang normal? anda mungkin bisa memanfaatkan kelebihan itu untuk menjadi peramal, mendapatkan uang dari profesi itu dan bisa membiayai hidup anda tapi apakah gift itu berguna untuk hidup bagaikan orang normal misalnya memasak, berjalan, berbelanja, dst
lagi, anda pura-puranya buta (cobalah katupkan sepasang kelopak mata anda) lalu menyentuh sebuah benda dengan tangan. apakah anda bisa merasakan benda tersebut? lalu sekarang bukalah mata anda lalu sentuhlah benda yang sama. apakah anda bisa merasakan benda tersebut? ya ya ya dua-duanya memang sanggup anda lakukan, bukan? setiap orang yang sehat dan indera perabanya berfungsi baik pada dasarnya akan mampu merasakan sebuah benda, dengan menyentuhnya tentu saja.
barangkali yang dimaksud si novel adalah si tokoh Selina yang buta tapi mampu mengenali benda yang disentuh karena mendapat penglihatan non-visual tapi cara menuturkannya menimbulkan dugaan lain.
Dia sama sekali tak menyangka akan ada hujan tadi pagi. Sementara di kala matahari menampakkan sedikit senyumnya, hawa di siang hari ini sedemikian panas. Membakar. Mungkin saja matahari tidak tersenyum. Dia sedang marah pada hujan karena seenaknya tanpa permisi merusak pagi yang indah bagi penghuni bumi. (hal 6, Awal)
saya geli dengan paragraf tersebut. mengapa? ah biar hanya rumput bergoyang yang tahu (oh saya pun sungguh tak tahan dengan kalimat yang saya tulis sendiri ini :D)
Hujan berkisah tentang dendam kesumat Alika Larasati pada lima orang pria yang menjadi penyebab bunuh diri kedua orangtuanya. Sebagai psikiater, Alika memiliki rencana tersendiri untuk menghabisi setiap pria itu pada waktu dan jam yang telah ditentukan, waktu yang mewakili setiap kejadian di masa silam. Setiap kematian dirancang supaya tampak "lazim" tanpa ada unsur kesengajaan, dan menurut saya pembunuhan paling menarik adalah kematian pertama, Beno Martin.
Masa lalu yang kelam juga menjadi penyebab disorientasi seksual Alika yang hanya tertarik pada wanita, dan jatuh hati pada Selina, perempuan yang memiliki kekuatan mata batin. Sedangkan, Selina selalu diandalkan Briptu Daud untuk membantunya mengungkap teka-teki di balik setiap kematian, yang dia yakin telah direncanakan dengan apik.
Situasi yang saya agak bingung, bagaimana Selina selalu bisa berada di club malam, bekerja menjadi penyanyi tanpa 'penuntun' mengingat kondisinya yang buta. Selain itu, melihat bagaimana penulis begitu detail menuturkan setiap hal dalam cerita, latar belakang Selina yang samar-samar terasa tidak pas dengan konsistensi dari penulis dan menurut saya, Selina adalah tokoh yang sangat berpengaruh bagi Alika.
Teka-teki kematian beruntun berhasil dikaitkan Briptu Daud dengan kejadian masa silam. Kasus heroin yang melibatkan lima penjahat kelas kakap dan berhasil mengorbankan Handoko, itu mulai diselami kembali oleh Daud, meski tidak mendapat dukungan dari atasannya. Tapi kenapa Briptu Daud yang tidak mendalami sosok Handoko, sebagai korban dari Sindikat '85?
Rasa thriller dalam novel ini tidak terlalu terasa, mungkin karena banyaknya penjelasan dalam alur cerita dan minimnya penulis menggambarkan situasi untuk mendukung kesan mencekam. Terlepas dari segala kekurangannya, saya menyukai bagaimana penulis menggunakan potongan-potongan masa lalu dan sekarang untuk mengatur plot cerita.
Awalnya, saya berharap bisa memuaskan dahaga saya pada novel 'suspense' buatan asli anak negeri. Di bab awal, saya sedikit terpuaskan dengan puzzle yang dibikin penulis. Sayangnya, cerita yang seharusnya menarik tidak disertai detail logis yang memuaskan.
Saya bisa hitung beberapa celah sebagai kritik kepada penulis.
1. Kejadian kecelakaan di Cipularang. Mengapa pasien luka-luka dirawat di RSCM tanpa kejelasan detail apakah ada komplikasi atau tidak? Karena seharusnya kejadian kecelakaan langusng dirujuk ke rumah sakit terdekat, mengapa harus dibawa jauh-jauh dari Cipularang ke RSCM? Keanehan dalam fragmen cerita ini adalah kejadian kecelakaan yang tanpa penjelasan yang cukup malah justru ditangani dengan sekonyong-konyong oleh Polda Metro Jaya. Tanpa penyalinan berkas dan pemeriksaan perkara, justru dengan candaan kepada Daud, "Masih mau menganggap ini pembunuhan?"
2. Dari mana Selina datang sehingga tiba-tiba bisa didekati Daud? Kecenderungannya sebagai indigo yang dipakai polisi justru aneh tabnpa dasar yang jelas.
3. Kematian Omar. Mengapa pihak Carrefour tidak diselidik, malah justru langsung menarik kesimpulan ke arah Alika? Tidak ada kesinambungan data yang menyebabkan alur cerita menjadi terkesan dibuat-buat. Jika kemudian Omar mati bunuh diri, mengapa tidak diotopsi, padahal kasus (katanya) sedang ditangani sebagai kasus pembunuhan. Aneh. Meski keluarga menolak, tidak ada halangan untuk otopsi untuk kasus yang memang ditangani sebagai kecurigaan pembunuhan.
4. Diary Handoko. Ditemukan oleh sipir setelah kasus bunuh diri. Mengapa justru dibiarkan dan dengan begitu saja sikembalikan ke pihka keluarga tanpa ada penyelidikan lanjutan dari kepolisian? Data sepenting itu lenyap begitu saja. Kemungkinannya dua. Polisi terlampau bodoh atau polisi menganggap "Tidak ada uang, tidak ada kasus"?
5. Suntikan darah berisi virus ke tubuh Selina. Jelas aneh. Dapat dipahami jika penulis bukan dari kalangan medis. Darah yang diambil pun dari bayi usia 10 bulan. Darah diambil akan mengalami, dalam bahasa awam, penggumpalan, kecuali bila disertai heparin. Memasukkan darah orang lain ke aliran darah justru menimbulkan reaksi, tidak semudah perkiraan awam.
Ah, banyak sekali celahnya. Sayang sekali... Seharusnya bisa dibuat lebih rapi dan rinci sehingga cerita tetap memikat dari awal sampai akhir. Termasuk gaya bertuturnya.
Nilai yang tepat sebenarnya 2,5. Sayangnya, tidak ada angka setengah di sini. Setidaknya, niat baiknya untuk menghadirkan cerita suspense di tengah cerita cinta-cintaan bergaya religi dan petualangan anak desa ke luar negeri menjadi pemikat buku ini.
Awalnya gue tau soal buku ini dari adeknya Rien,salah satu penulis ini.Gue udah kenal Rien dan gue bener-bener gak nyangka dia sama Thee bisa bikin novel thriller sekeren ini.They are girls,bro!And i cant believe it,they wrote it like a gentle-man!Pas dikasih liat,gue langsung naksir sama covernya.Mana ada hujan darah kan,terus bisa aja gagang payung diblend sama judulnya.Edan banget kan nalarnya!Dan ternyata isi novelnya jauh lebih dahsyat lagi.Awal baca sih rada bingung,soalnya mulainya tahun 66,trus dicut dengan tahun 2007.Alurnya mirip film thriller holywood gitulah.Tapi ni novel bener-bener indonesia banget.Dua penulis ini bener-bener edan bisa gambarin setting jakarta tahun 60an,80an,sama 2000an itu nyata banget.Apalagi pembunuhan yang terjadi di tiga masa itu,sumpah gila banget,smart untuk ukuran penulis indonesia jaman sekarang.Gue bilang,lo jangan cuma minjem buat baca ini,tapi lo harus punya!Novel ini worth it banget buat pecinta thriller indonesia.Bagusnya dibuat film nih!Wooi hanung bramantyo,kemane aje loo!??
novel suspense pertama dari orang indonesia yang gw baca,langsung tertarik pas pertama kali megang ini buku, rasa penasaran gw akhirnya menang untuk kemudian membuat gw membeli dan membaca buku ini halaman demi halaman, dan ternyata novel ini sangat tidak mengecewakan. gw suka plotnya, keren!! karakter alika kuat sekali,,gw jadi ikut deg-deg-an baca novel ini,,bener-bener novel yang tidak biasa.
I considered this as a really fascinating book that i've ever read, especially this is come form my lovely country. I read this back when i was in the middle school and the suspense was really killing me i had to read slowly page per page, and i really like the timewarp system in this book, back in middle 90's than go forward in 2000 ish.. really good.. really interesting theme, and is rare to see indonesian author that are really brave to create this type of theme..
Got this book from a book fair a couple of months ago. I like the theme, it's not common to came up with a suspense novel like these.
It has two storyline, somewhere in 1980s and nowadays. The pace are quick, altough it's moving back and forth between 80s and 07. Maybe it's not John Grisham's or Michael Crichton's thriller novel, but it's still a good light reading to me.
Terimakasih atas review teman-teman semua. Sangat menarik dan membangun untuk kami. Jika ingin berkomunikasi langsung dengan kami,silahkan teman-teman mengirim email ke : thee.rien@gmail.com.. Kami akan dengan senang hati menerima kritik dan komentarnya,selain itu teman-teman akan mendapatkan berita mengenai novel terbaru kami.. Kami tunggu yaa :) -thee&rien-
Kasih bintang 4 dengan alasan: 1. ending yang beda dengan novel yang pernah ada 2. Pribadi tokohnya ditonjolkan dengan berani, walau mereka memiliki pilihan hidup yang berbeda dengan orang kebanyakan 3. setting lokasi kejadian
Alasan tidak bintang 5 adalah setting waktunya yang maju mundur membuatku sedikit susah memahami rentetan kejadian yang berlangsung.
Cukup menarik dan menghibur. Mengundang rasa penasaran, walaupun ceritanya mudah ditebak.. "Masa orang Indonesia bisa sepintar itu???" Hahaha...sebaris kalimat dalam buku ini yang mempertanyaan kemampuan intelektual orang Indonesia. Jawaban gua : "Ada dong...Alika!!" ;p