Informatif tapi tulisannya rada flat dan analisisnya sepintas-sepintas banget. Jadi kaya reportase aja gitu, deskripsi datanya aja yang panjang. Aspek manusianya ada tapi kurang dalem. Agak bosen baca ini yuyur, padahal aku suka bgt yg Rijsttafel.
Hal yang aku dapet/catat:
- Penulis buku resep awalnya sebagian besar adalah perempuan Belanda. Ga disebut kenapa demikian but it's an interesting colonial aspect I guess. I could only assume that Indonesian didn't have a room of their own to sit down and write a book, or the connection and resources to publish and make a name. Selain itu keterbatasan ekonomi juga akan menghalangi orang punya akses ke bahan makanan, bumbu, atau bahkan untuk sekedar mencoba beragam makanan yang kemudian bisa dikumpulkan resepnya. Perempuan - perempuan Belanda di atas menulis untuk orang Belanda lain yang akan pindah ke Hindia Belanda. Nama-nama penulis buku resep baru muncul setelah kemerdekaan.
- Penulis mengajukan bahwa orang Indonesia pada waktu itu masih kurang punya kesadaran boga nasional dan lebih mengedepankan etnonasionalism dalam dunia kuliner. Tapi aku bingung, gimana cara makanan bisa jadi makanan nasional tanpa menjadi makanan daerah sekaligus? Makanan yang udah ada kan pasti punya identitas daerah karena lahir di tempat tertentu, dikenal di lingkungan kecil sambil menyatu dengan budaya tertentu dulu sebelum menyebar. Kecuali kalau ada yang menciptakan makanan baru yang jadi viral dan tersebar serentak di semua daerah. Bisa juga makanan daerah diajukan sebagai makanan nasional sambil menghapus identitas kedaerahannya (which is VERY ethical ofc). Yang kedua ini sih yang agak terjadi waktu penulis buku resep mulai menyarukan kategorisasi etnis dari makanan. Anyway, aku bahkan ga tau "kesadaran nasional" itu artinya apa bagi rakyat yang baru aja merdeka, apalagi kesadaran boga nasional di negara yang pulaunya ada 17000 lebih ini. Kayanya bisa lebih menarik juga kalo bahasan ini disertai analisis kebudayaan/antropologi.
- Penggunaan kata pribumi udah dilarang melalui instruksi presiden tahun 1998 dan UU tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis. Tapi di buku ini kata pribumi dipake terus sebagai pembeda dengan kelompok etnis lain. Mungkin penggunaannya emang bagian dari sejarah, dan diskusi kenapanya emang bukan ranah penulis, tapi kayanya worth buat dikomentari dikit deh. apa ada ya di footnote yang aku skip sama-sekali karena dipisah di halaman belakang :0
- Ternyata penggagas 4 sehat 5 sempurna tuh mendorong konsumsi susu kedelai bukan susu sapi! Programnya sendiri dibuat karena rasio protein:karbo intake kita masih kurang. Ga salah sih