Berkat sekutu tak terduga,Valadin dan teman-temannya berhasil meloloskan dir. Tidak hanya itu, mereka juga mengobarkan pertempuran di Kota Kuil demi merebut kembali Relik Elemental. Di lain pihak, Vrey menemukan alasan di balik pengabaian Reuven-ayahnya-dengan belas tahun yang lalu. Namun jawaban yang ditemukannya justru menorehkan luka yang lebih dalam dan membuat perasaanya semakin hancur.
Peperangan yang disulut oleh Valadin dan teman-temannya pecah di hadapan Vrey dan mernggut nyawa orang yang berharga bagunya. Mau tak mau, Vrey harus bangkit untuk bertarung melawan Valadin.
Kebencian dan kemarahan meledak dalam pertempuran antara Vrey dan Valadin, PERTENTANGAN di antara mereka kini mencapai puncaknya!
Writing is her passion since elementary school. She’ve been writing short comics/ stories and sending them to tabloid/ magazine since high-school.
Her first book Past Promise was published by Elex Media Komputindo. It was the first comic made by young female artist that was published in Indonesia at that time.
Beres baca dalam hitungan jam~ Kira-kira berapa jam yah? Kemarin malam sekitar 2-3 jam, pagi sampe siang ini sekitar 2-3 jam. Mungkin sekitar 6-7 jam total baca. Karena libur aja nih jadi bacanya cepet. :P
Buku ini sebenarnya sudah dibeli sejak sekitar November silam. Alasan kenapa baru dibaca sekarang? Karena saya guling2 pas random-page-read menemukan hint2 yg menjurus lovey-dovey sementara saya gak tahan ama yang romantis2~ Aaaa, itu baru random-page-read aja udah jadi panda gatal2.
Tapi akhirnya, kemarin mulai dibaca juga. Alasannya? Karena saya mulai desperate melihat Reading Challenge Goodreads ketinggalan makin jauh dan gak nambah2 karena dua buku yang ada di list yg satu tebel dan sifatnya teknis, yang satu mood bacanya timbul tenggelam. Akhirnya sambar Ther Melian deh.
Oke, di buku ketiga ini, tensinya melonjak dengan cukup tajam. Nuansanya--dalam arah positif ya--lebih chaos daripada buku kedua (apalagi pertama). Gak salah deh kalau dikasih sub-judul "Discord" (terlepas dari saya menduga kuat kata "discord" ini sedikit banyak terpengaruh Dissidia: Final Fantasy di mana ada God of Discord bernama Chaos).
Makin banyak karakter galau di dalam cerita karena satu dan lain hal. Buat saya, ini menunjukkan perkembangan karakter yang cukup dinamis dan menarik juga melihat bagaimana "alignment" para karakter ini berubah dari yang tadinya abu-abu, lalu mulai ada pergeseran nilai RGB (Red Green Blue, jangan merasa rendah diri karena nggak paham istilah ini, biasanya yang ngerti yang hobi urusan ama Photoshop ato anak IT yang pernah belajar grafika) sehingga si warna abu-abu ini menunjukkan kecenderungan putih dan hitam.
Karakter "abu2" menurut saya tidak jelek. Bosan kan disodorin karakter yang terlalu jelas hitam dan putihnya? Makanya saya bilang karakter abu2 tidak jelek. Tapi, harus diingat bahwa pembaca mempunyai keinginan untuk dapat lebih mendukung salah satu dari dua pihak yang berseteru dalam cerita (atas dasar faktor apapun itu). Kalau pada akhirnya karakter utama berkecenderungan abu2 gelap menjurus hitam, pembaca harus dapat merasakan rasa simpati padanya. Jangan sampai sepanjang cerita malah "Ini kenapa karakter utamanya bukan si antagonis sih? Kenapa malah pake si ini? Si ini kan jahat, dst, dst. Si itu kan baik, dst dst."
Dari Ther Melian buku pertama yang kedua kubu terasa setara abu2nya, di buku ketiga ini saya merasa lebih dapat menentukan saya akan ikut mendukung Team Valadin atau Team Vrey. That's a good thing. Rawr.
Oke, lalu tentang ceritanya sendiri. Buku ketiga masih melanjutkan cerita tentang Valadin dan misi nasionalisnya, tapi sekarang ditambah dengan pihak yang secara jelas mengoposisi dia. Konsisten. Dan arahnya jelas. Itu harus, tapi kenapa saya merasa patut mengomentari di review ini adalah karena masih ada buku fiksi-fantasi lokal yang bahkan untuk konsistensi dan arah cerita saja bingung mau dibawa kemana. Entah mereka harus minta tolong diiringi band Armada atau Ayu Ting Ting soal "kemana" ini.
Saya sebenarnya menemukan banyak "kemudahan" di sepanjang cerita. *ngecek ke wikipedia dulu jangan sampe salah sebut* Yep, plot device. Salah satunya menurut saya adalah Putri Ashca dengan sejumlah "perhiasan" (seriously? itu semua perhiasan beneran??? dasar putri yang boros...) berisi ramuan alkimia ini dan itu. Mulai dari menutup luka (mungkin kalau ada yang mengikuti Twitter saya sempat melihat saya menanyakan tentang kauterisasi pada Bu Dokter Anggra sekalian senggol2 pengarang TM, itu nanyain sesuatu dari buku ini :P), memadamkan api, membuka jalan, Ashca punya solusinya!
Membuat saya barusan mikir Ashca ini saingannya Doraemon...
Intermezzo: Saya tahu alasan kenapa Desna sangat protektif pada Putri Ashca. Karena dengan semua perlengkapan alkimia itu, sang putri bisa tersandung, jatuh, lalu meledak! MELEDAK! Karena salah satu perhiasannya pecah dan isinya mungkin memang cairan yang bisa meledak...
Plot device lainnya adalah kapal udara dari jaman baheula yang ditemukan di sekitar pertengahan cerita. Kapal udara ini terutama sangat membantu dalam kejar-kejaran antara Team Valadin dan Team Vrey.
Dan kalau membicarakan tentang peradaban purba yang mulai banyak disebut2 di buku ketiga ini (curiga terkuak di buku keempat), saya yakin akan dua hal:
Lalu yang kedua, tentang 7 putri dan pangeran yang sempat disebut2 itu, somehow saya mencocokkan ulang dengan para Aether dan sepertinya ada kecocokan tersendiri di sana.
Kembali soal plot device. Bukannya tidak setuju. Plot device itu perlu. Saya sendiri berpengalaman menulis cerita dan mengalami sendiri bagaimana rumitnya suatu situasi dan potensi bertambah panjangnya sebuah cerita kalau tidak ada plot device yang terlibat. Jadi saya bukannya tidak menyetujui plot device.
Di Discord, sayangnya, saya pribadi beranggapan ada terlalu banyak plot device. Kalau cuma sedikit dan sesekali, pembaca bisa menerimanya sebagai keberuntungan dari sang karakter, tapi kalau terlalu banyak, kebetulan dan keberuntungan jadi tidak terasa valid dijadikan alasan. Mungkin kecuali karakter utamanya adalah si Untung kali yaa.
Jika saya boleh menjabarkan plot device di sini, ada 4 yang paling mencolok: Ascha, Mythressil (CMIIW cara nulisnya), pedang Valadin, pedang Leighton.
OOT, ditujukan pada pengarangnya: Kamu harus mencoba memainkan Monster Hunter~ Rasakan sendiri gimana repotnya menghadapi monster dengan "gaya konvensional" alih2 "gaya Dissidia". *merujuk pada ujian di Templia Sylvestris*
OOT terakhir itu bagian dari pendapat pribadi. :P Saya jenis orang yang menyukai battle scene "konvensional". Jadi jika disuruh memilih film action, antara Crouching Tiger Hidden Dragon dan Ip Man, saya lebih pilih Ip Man. Dengan sedikit keterlibatan ilmu meringankan tubuh.
Lalu, mari, saatnya MENGELUH.
ROMANTIC SCENE DI BUKU TIGA BANYAK BANGEEEETTTTT!!! AAAAAAAAAAAA-A-A-A-A-AAAAA-A!!!
*panda mulai garuk2 kegatalan*
Mulai yang melibatkan air ala Final Fantasy X (maaf, saya blak2an) sampe yang selintas doang di atas kapal udara~ Kadarnya buat saya udah bikin gatal2~ NOOO~
Ini agak melempar target konsumen juga menurut saya. Tadinya sih saya kira Ther Melian ini untuk pembaca pria maupun wanita, tapi semua berubah saat Negara Api menyerangbut then I took an arrow in the knee, tapi begitu di buku tiga, saya langsung merasa ini sih pembaca cowok (yang kebanyakan gak gitu suka muatan romansa terlalu kental di bacaannya) dan pembaca cewek (yang mayoritas menerima muatan romansa, tapi saya percaya pasti ada yang kadar sensitivitasnya macam saya) bakalan jengah juga nih.
Agak disayangkan juga sebenarnya diputuskan untuk dimunculkan dalam kadar tinggi di satu buku begini. Padahal menurut saya bisa agak disebar sampai ke buku keempat nanti. Jadi pembaca nggak langsung "kaget".
Sedikit kembali soal karakter sebelum saya mengakhiri review ini, ada dua karakter yang tewas di buku ketiga ini
yang jika diperhatikan sebenarnya adalah karakter figuran. Peran mereka sejauh ini juga lebih sebagai plot device dan selebihnya, sebelum mereka sempat unjuk gigi lebih jauh, mereka "punah" duluan di buku ketiga ini.
Ini pertanda lanjutan bahwa pengarangnya sayang ke karakter2 utamanya. :P
3 dari 5 bintang. Penilaian berdasarkan deskripsi Goodreads, yakni "I liked it". Bukan berarti buku ketiga ini jelek, tapi tahu sendirilah... ada faktor yang membuat saya guling2 gatal waktu bacanya. Sesuatu yang bukan selera saya. Jadi saya tidak bisa kasih "I really liked it" (4 bintang) karena masalah selera.
Vrey akhirnya mengetahui alasan dibalik kepergian ayahnya yang meninggalkan dia dan saudaranya bertahun-tahun yang lalu. WHAT? Cuman itu doang, komentar yang keluar begitu aku membaca alasan ayahnya kenapa dia pergi meninggalkannya. *garuk-garuk tembok*
Dan seperti dugaan awal, Leighton tentu saja tidak mati. *yes* Kalau di buku #2 Valadin terlihat labil, di sini Valadin terlihat galau.
Di buku ini lebih banyak menceritakan perjalanan Valadin dalam menaklukkan relik elemental yang tersisa yang berunjung dengan kesuksesan hingga dia mempunyai ketujuh relik.
Jujur, aku lelah membaca buku ini, terlalu banyak pertempuran yang justru membuat bosan untuk dibaca karena plot yang sama, hanya berbeda tempat dan cara mengujinya. Entah kenapa, menurutku lebih menarik di buku #2, walaupun di buku #3 ini lebih chaos dan ada beberapa yang mati juga, tapi yah, yang mati juga bukan orang yang penting-penting banget, kecuali Desna sih.
Ooooh, God, I still hate Laruen. What’s wrong with that girl? Seriously, aku masih tidak menangkap alasan dibalik kebeciannya terhadap Vrey.
Dan Putri Ascha, kok aku membayangkan seperti perhiasan berjalan? Entah kenapa dia selalu punya perhiasan yang digunakan untuk mengatasi berbagai rintangan seperti membuka jalan, membuat Valadin membeku, membuat api dan ledakan. Yak ampun, gak takut jatuh terus perhiasannya pecah dan jadi senjata makan tuan gitu?
Typo, typo, typo, bad typo. Masih aja ada typo. Yang parah adalah typo penyebutan nama. Pffff…..
Sebelum memulai review buku ini, izinkan aku menyampaikan bahwa membaca buku tapi tidak langsung membuat reviewnya itu ternyata bukan sesuatu yang bagus. Kesibukan dan buku-buku lain yang dibaca bisa membuat kita lupa kalau kita sebenernya ngutang satu review, dan tiba-tiba aja udah setahun lebih berlalu, dan review nya bahkan belum ditulis draftnya. Untungnya sih masih ada catata-catatan kecil soal poin-poin yang mau dibahas di dalam review, tapi karena feel yang didapat setelah baca buku udah hilang, jadinya agak bingung juga sama poin-poin yang udah ditandain tadi. Ini kutandain karena apa ya? Yah, pertanyaan-pertanyaan seperti itulah.
Anyway, aku akan mencoba membuat review ini sebaik mungkin, dengan ingatan yang tersisa (duile kesannya amnesia amat).
Here it goes.
Secara keseluruhan buku ini masih belum banyak berubah dari kedua buku sebelumnya, namun dalam artian yang baik. Penulisannya masih rapi dan enak dibaca. Ada beberapa misteri yang diungkap, seperti kenapa Valadin mau menerima dan merawat Vrey, dan belakangan Laruen. Namun ada beberapa misteri baru yang kembali dilempar, yang kemungkinan besar dijawab (mudah-mudahan) di buku terakhir dari seri ini.
Yang membuat kenikmatan bacaku berkurang drastis adalah cukup banyaknya logika cerita yang dilempar di kisah ini yang tidak tepat, berkontradiksi dengan apa yang sudah ditulis beberapa bab sebelumnya, atau hanya sekedar tidak logis saja. Bagi yang ingin tahu, silakan buka spoiler di bawah. Bagi yang lagi males baca review kelewat detil dan rese, silakan langsung lanjut ke bawahnya.
Masih ada banyak kesalahan tulis di buku ini. Salah satunya adalah Paradisa yang salah ditulis jadi Leighton di hal. 466. Belum lagi gaya bicara Feyn yang berubah-ubah, sebentar-sebentar bilang “saya”, sebentar-bentar pake “aku”. Atau sebentar-sebentar pake “kamu”, sebentar-sebentar pake “anda”. Benar-benar aneh dibacanya.
Mengenai karakterisasinya, buatku di buku ini terlihat sekali upaya penulis untuk “menyetir” opini pembaca supaya memihak tim Vrey. Di hal. 316 Vrey marah-marah sama Ceana karena Ceana menyebut Valadin baik karena orangnya ramah. Dengan gencar Vrey berteriak-teriak, ”Apa menurutmu orang baik akan menusuk seseorang lalu meninggalkannya begitu saja untuk mati? Apa orang baik tega menghancurkan seisi kota dan membunuh banyak orang tak bersalah? Valadin melakukan semua itu dan dia melakukan semuanya sambil tersenyum, tanpa penyesalan sedikit pun! Apa kamu masih berpikir dia orang baik?!”
Lalu, yang kamu lakukan sendiri apa Vrey? Membantai ratusan peri hanya untuk membuat sebuah jubah? Dan dengan alasan apa, selain hanya karena itu adalah artefak paling oke seseantero benua Ther Melian?
Menurutku masih lebih mending Valadin. Dia melakukan semuanya karena ingin memajukan bangsanya. Lah Vrey? Cewek itu cuma ngejer ketamakan diri sendiri.
Buatku, orang yang sendirinya nggak bisa dibilang baik tingkah laku dan perbuatannya nggak punya hak buat menghakimi apakah orang lain itu baik atau tidak. Jadinya kayak seorang maling yang menghujat maling lain.
Dan menurutku, setelah melalui dua buku di mana karakternya digambarkan “abu-abu”, yaitu memiliki alasan masing-masing untuk melakukan tindakan mereka, di buku ini aku jadi merasa diceramahi oleh penulis supaya memihak Vrey dan timnya.
Kenapa sih nggak dibiarin aja pembaca yang nentuin, tim mana yang mau mereka dukung?
Lanjut, pertarungannya masih sangat kental akan nuansa RPG. Bagaimana di tengah pertarungan Sylvestris sempat-sempatnya mengenalkan nama kedua burungnya. Bagaimana Astrapia dan Paradisa itu digambarkan sebagai tipikal bos RPG, yang satu tipe attacker yang satu lagi tipe support.
Nggak ada yang salah sih soal itu. Tapi kalau aku pribadi sih lebih suka kalau pertempurannya lebih riil dan nggak terlalu kental RPG-nya.
Terakhir, soal kisah cintanya, aku pribadi bukan orang yang akan protes kalau banyak adegan romantisnya. Tapi aku merasa di buku ini sepertinya dipaksain supaya semua “tokoh utamanya” punya kisah cinta. Yang kumaksud adalah getar-getar asmara antara . Aku jadi ngerasa penulis ingin semua tokohnya tuh berpasang-pasangan, walaupun jadinya agak maksa dan mungkin nggak penting buat plot. Jangan-jangan nanti . Atau malah ?
Pokoknya, kalau getar-getar asmara di atas nggak penting peranannya di buku terakhir, aku akan mempertahankan pendapatku kalau pasangan itu ada hanya karena penulis mikir, “Ah kan kasian si X kalo nggak ada pasangannya. Ya udah, kupasangin ama si Y aja ya?”
Demikianlah review dariku. Sebenarnya penulisannya yang rapi saja sudah cukup untuk membuat buku ini diberi tiga bintang, sayangnya hal-hal di atas benar-benar mengurangi kenikmatanku membaca, jadinya nilai buku ini juga merosot di mataku.
Discord. The third installment in the (romance) fantasy series, Ther Melian. Aku tahu bakal banyak yang protes kenapa aku kasih dua bintang, tapi biar aku tulis reviewku dulu.
Yang pertama mau kubahas adalah soal cover. Cover Ther Melian selalu terlihat "mengkilap" dan menarik untuk dipandang. Dua buku Ther Melian sebelumnya tidak terlalu berpengaruh buatku untuk mengambil buku dari rak buku atau nggak (bukan dalam artian negatif. Aku sudah memutuskan beli sejak sebelum liat covernya). Tapi khusus buku ketiga ini, ternyata beda. Covernya mempengaruhi feel-ku untuk mengambil buku ini dari rak.
Bukan membuatku tertarik, justru sebaliknya.
Sebenarnya covernya memang keren. Kinclong seperti dua buku sebelumnya dan gambar cowok bishonen itu jelas bakal menarik perhatian cewek buat ngambil bukunya. Yang jadi masalah adalah... cover ini nggak berhubungan sama judulnya.
Begini... judul seri ketiga ini adalah Discord. Search artinya di berbagai web penerjemah kita akan menemukan arti yang terkesan bloody. Penuh dengan pertempuran dan pertikaian. Penulisnya pun juga sudah menggembar-gemborkan di mana-mana kalau seri buku ini akan penuh dengan pertikaian keras dari kedua belah pihak.
Tapi kenapa, oh kenapa, gambar yang dipilih buat melambangkan pertikaian itu justru cowok bishounen lagi pegang kalung?!! Ditambah dengan background biru!! It does not reflects any discord situation at all!
Belum lagi karena aku ngerasa ada cover lain yang lebih cocok jadi cover Discord. Cover yang juga dipamerkan sama penulisnya sendiri. Namely, this:
Nah, ITU baru cocok jadi cover Discord! Gambar dua kubu yang sedang bertempur, ditambah background merah menyala. Apalagi kalau dibuat dua versi cover, satu dari tiap kubu. Bisa buat maksa seorang kolektor buat beli dua buku cuma buat ngelengkapi gambar Discord.
Jadi, sewaktu penulis berniat bagi2 gambar di atas buat jadi poster + tandatangannya, aku berasa pengen teriak. "Harusnya gambar ini jadi cover Discord! Baru gambar Leighton itu yang dicetak gede2, trus dibagi2 ke pembaca cewek! Pasti laris manis tuh!"
But, yea, that's juist my personal ranting. Doesn't got anything to do with the story. Now, let my real review begins.
Seperti dua buku sebelumnya, Discord dibuka dengan masa lalu salah seorang tokoh. Kali ini antara Valadin dengan Reuven, ayah Vrey, sang Kamen Rider Decade di buku sebelumnya. Di sini, Valadin memuji dan mengagungkan Reuven sebagai seorang elvar yang bijak... tapi rasa bijaknya itu ga nyampe ke aku.
Di sini Reuven justru kerasa kaya Valadin di prolog buku dua; seorang elvar yang tertarik pada manusia yang umurnya jauh lebih muda (mencoba menjauhi kata pedofil.) Dan, IMO, cara pandang Reuven dan semua alasan yang dia kasih ke Valadin untuk membenarkan kepergiannya itu benar-benar kerasa jauh dari bijak. He's just another elvar that fell in love with a human. Nothing special.
Masuk ke story di masa kini. Vrey memulai pembicaraannya dengan sang ayah yang telah meninggalkannya selama sekian-belas tahun. Mengetahui alasan kenapa sang ayah meninggalkannya dulu. Di sini, aku merasa aku berharap terlalu banyak.
Setelah alasan Reuven dijadikan salah satu kalimat khusus dalam sinopsis di belakang buku, aku berharap kalau alasan kepergiannya itu akan menjadi sesuatu yang grand. Yang berhubungan dengan plot utama. Mungkin Reuven sudah punya firasat buruk di masa lalu dan melakukan sesuatu di kuil-kuil templia lain untuk mencegah seseorang seperti Eizen mencoba menyalahgunakan kemampuan para Aether. Sesuatu yang memakan waktu belasan tahun, seperti usaha Hohenheim meletakkan titik-titik Philosopher Stone di berbagai penjuru negeri untuk melawan Homunculus.
Tapi.... ternyata... alasannya... cuma itu doang?
GRRAAHHH!!!! SAYA KECEWWAAAAA!!!
Belum lagi setelah itu Reuven mati dalam usaha yang klise banget untuk menyelamatkan Vrey. Bikin aku tambah kesel dan pengen nyabik2 ini ayah ababil.
Dan cerita berlanjut... menuju bagian Valadin. Jujur, aku kecewa dengan bagian perjalanan Valadin ini. Bukan karena jelek, tapi karena kisahnya ini sudah diceritakan berulang-ulang sejak buku pertama.
Valadin menuju templia Aether. Valadin melewati gardian penjaga. Valadin melewati ujian sang Aether. Valadin mendapatkan kekuatan Aether.
Pola yang sama, hanya di tempat dan anggota party berbeda. Membuat bagian Valadin dalam buku ini menjadi sangat predictable. Aku sudah ga peduli lagi seberapa sulit ujian dari para Aether karena, toh, akhirnya Valadin pasti bisa melewati ujian itu.
Akhirnya bagian Valadin ini lebih banyak aku skip aja.
Memang ada beberapa bagian dialog yang berpengaruh pada cerita ke depannya, tapi aku bisa membaca dan mengerti itu tanpa harus mengikuti keseluruhan langkah Valadin.
Kembali ke cerita Vrey, ada satu hal lagi yang ngganjel banget di kepalaku. Sewaktu Kota Kuil hancur dan bala bantuan datang dari berbagai negara, termasuk kerajaan Lavanya. Mereka mengirimkan kapal udara, obat-obatan, dan juga prajurit untuk membantu proses pemulihan kembali Kota Kuil.
Tapi dari sekian banyak pasukan bantuan itu, kok ga ada satu pun anggota keluarga kerajaan Lavanya? Aren't they worried about their little princess that might die in the previous conflict? Ato Desna adalah satu-satunya orang dalam kerajaan yang mikirin keadaan dan keselamatan sang putri?
Ato jangan-jangan putri Ascha ini bukan putri kandung raja Lavanya?
Aku jadi terpaksa men-switch otakku untuk menganggap cerita ini seperti tipikal cerita RPG. Ga usah peduli politik dan keadaan keluarga kerajaan lain yang ga berhubungan sama tokoh utama. Asal tokoh utama dan ceritanya jalan, beres.
Aku pun terseret lebih lanjut ke dalam cerita. Mencoba menerima segala plot device yang ada.
Tapi sebelum lanjut dengan ceritanya, ada satu lagi yang mau aku bahas. Kadar lovey-dovy-nya.
Sejujurnya, aku ga bermasalah dengan kadar romance dalam cerita fantasy. Aku sudah baca beberpa buku yang memasukkan romance dalam cerita. Fantasy or non-fantasy. Dan asal kadarnya pas, aku sangat bisa enjoy dengan romance dalam fantasy.
Asal kadarnya pas.
Tapi... di buku ini.... GRRRAAHHH!! Dosisnya itu kebanyakan!!! Saking banyaknya kayanya romance di cerita ini bisa dipake sama Shazin buat bunuh orang!!
Belum lagi ditambah sama deskripsi macam "mata Leighton blablabla..." atau "mata Valadin blablabla..." Oke, aku tahu ini adalah deskripsi yang sudah ada semenjak buku pertama, dan aku bisa menerimanya. (di buku kedua dosisnya sedikit naik. Ada deskripsi Vrey mencium aroma Valadin)
But, bear in mind that I'm a guy. And a guy doesn't really feel comfy staring at other guy's eyes. Aku ga tahu apa yang ada di pikirannya cewek waktu baca deskripsi ini, but it really turns a guy off!
Ditambah lagi dengan kemampuan sang penulis yang super jago nggambar tokoh2 cowok yang bishounen banget, aku jadi tambah yakin kalau buku ini seharusnya ditujukan buat cewek.
Dan... dengan sekian banyak deskripsi cowok super bishounen, super keren, dan super hot yang bisa bikin cewek2 ON, deskripsi tentang ceweknya malah sedikit banget. Sekalinya ada deskripsi soal cewek, deskripsi itu cuma ditulis "Wanita itu berwajah cantik." Sudah. The end.
GRRRAAAHHHH!!! IT DOES NOT TURN US ON!!!!
Apalagi melihat berbagai keadaan dan situasi yang memungkinkan untuk para karakter cewek itu dgambarkan dengan lebih seksi, misal:
- Hujan di sekitar templia ini membuat tubuh Laruen basah kuyup. Pakaiannya mencetak seluruh lekuk tubuhnya dengan sempurna.
atau:
- Gaun putih berenda yang dikenakan Leidz Thyddia terlihat seakan mengambang hanya beberapa mili di atas kulit putihnya yang mulus.
Now, THAT will turn us on. At least walopun kadar romance naik sampe tingkat lethal, kita para cowok ga akan banyak protes, karena ada bagian imbang yang bikin kita seneng juga.
Dan ngomong2 soal Laruen, aku jadi ngerasa kasian banget sama karakter ini. Bukan karena cintanya yang gagal sama Valadin, tapi karena peran Laruen di buku ini seolah sudah out of focus. Dulu dia gadis kecil yang penuh semangat dan sangat memuja Valadin, kemudian kita tahu masa lalunya dan hubungannya dengan Vrey. But now, she looks like she just graduated from Imperial Stormtrooper Marksmanship Academy. Missing Vrey even when she was POINT BLANK.
Dan sewaktu baca buku ini, aku juga ngerasa kalo penulis terlalu sayang sama para karakternya. Which is not a bad thing.... no, actually it is a bad thing. Penulis terlalu sayang sama karakter2nya sampai mencegah mereka mati dengan entah-alasan-apa-yang-ada, membuatku jadi tidak merasakan greget yang seharusnya ada sewaktu aku tidak tahu apakah karakter akan hidup atau mati. Atau apakah misi akan berjalan sempurna atau tidak.
Apa di Discord ga ada yang mati? Ada, tapi semuanya karakter figuran. Karakter yang ga terlalu berperan penting di cerita, yang kematian mereka tidak banyak mengganggu perjalanan hero/ villain dalam mencapai tujuannya.
Kecuali mungkin Desna. His death means that Princess Ascha will be left alone in this world. Poor girl.
Dan yang bikin aku ga semangat lagi adalah selamatnya para tokoh utama itu karena Dark Lord Valadin adalah seorang noble demon. Which means, he won't kill Vrey or permanently prevent her from stopping his quest for glory.
*Ngeliat ke atas* Wow, what a long review. So, to summed it up: Ya, aku sedikit kecewa dengan Discord; Ya, aku ga menikmati adegan dan dosis romance-nya; Ya, aku merasa Valadin terlalu lembek dan Vrey terlalu dibuat menjadi hero yang mampu menyelematkan semuanya dalam kondisi apa pun. Tapi aku masih menunggu Genesis dan akan melihat akhir kisah ini. Walaupun akhir itu sebenarnya sangat sudah bisa ditebak.
Here be warned; SPOILER AHEAD! Continue at your own risk.
Menyambung buku sebelumnya, saya bersyukur untuk dua hal; - Lei masih hidup walaupun tidak utuh - Valadin jelas dicoret dari kemungkinan dapat Vrey
Bicara soal Valadin, saya tidak mengubah penilaian; dia tetap saja BUODOH. Perjalanan status penilaian dia di kepala saya mungkin bisa diuraikan jadi; Nyebelin -> BEGO -> Amit-amit -> Kasihan -> Orang DODOL yang malang
Soal kekuatan, bolehlah. Ja-imnya pun, yah, dia memang seperti itu (kalau tidak mana mungkin Lar dan Eizen kesemsem sama dia, kan? Vrey waktu ingusan juga). Tapi di sini kita berkesempatan melihat sisi rapuh (kalau nggak mau disebut HETARE) dan labil Valadin, terutama waktu dia masih memandang ayah Vrey sebagai 'senior', dan sewaktu dia frustrasi tentang Vrey dan pembantaian yang dilakukan kelompoknya (aduh ini orang, umur udah berapa sih! kok masih aja ragu melulu) dan berakhir dengan love scene yang sama sekali tidak vulgar ataupun panas secara perasaan (saya rasa akan banyak yang nyumpahin manager mak lampir aka Lady Ella setelah ini). Hal bagus di sisi Valadin sepertinya hanya bahwa mereka sukses mendapat semua Relik - kesampingkan harganya, yang kalau pakai pakem cerita shonen dijamin dibayar belakangan dengan amat sangat mahal sekali dan akan nyusahin banyak orang. Oh, dan jangan lupa buli-buli Eizen yang tampaknya sudah benar-benar dicap jadi yarare-chara alias karakter korban, tak peduli betapa kuatnya dia.
Kalau dari sisi Vrey... Kayaknya banyakan cerita apesnya, sejujurnya. Tentu saja, tidak semuanya jelek karena akhirnya hints yang sudah diberikan sejak buku 2 akhirnya kejadian! Oh yey! Dan kembali saya krik krik, kenapa yang nggak pakai adegan 'wow', di tempat basah pula, bisa lebih HOT ketimbang yang di padang pasir yang panas dalam berbagai arti itu?. Sayangnya satu coupling yang saya cukup suka kandas di sini. Dan Vrey ini kok jago amat merusak kemenangan yaa... Tapi, yah... Nasib tokoh di tangan pengarang.
Tinggal satu buku lagi! Mudah-mudahan berakhir baik, dan awas kalau pasangan utama jadi janda/duda! Kalau mau dosa, lakukan sampai akhir! Kalau mau pasangan, jangan dipisah! Sekian!
awal discord ini lanjutan dr ending chronicles. masih pas aksi kaburnya si valadin dkk, dan skrg dia berhasil memboyong sluruh 4relik yg dikumpulin + pengkhianat Izahra (sumpah, saking kecewa ama ni elvar, aku ampe lupa namanya). kok tetua-tetua elvar gampang banget yah matinya? kecewa bangeet, kayaknya ini tetua gak ada ebat-ebatnya, pdhl secara dia kan "tetua" gitu loh (oke deeh, emang ada campur tangan para aether jg di sini, tapi yaah tetep ajaaa..)
hasilnya.. kekalahan besar di pihak vrey dkk. mereka byk kehilangan. dan aku makin benci ama valadin yg tega-teganya. udah gak kepikiran lagi tujuan "mulia" elvar satu ini. tetep aja dia BODOH abiiiiss! sok memperjuangkan bangsanya, tapi kok ngorbanin semua org?? geez!!
nasib leighton? yee,, baca aja sendiri. yang penting nih, hbgn dia ama vrey ada peningkatan (nah lhoo,, udah aku bocorin nih)
seperti 2 buku sebelumnya, mbak shienny emang gak segan-segan ngorbanin para tokohnya. dan di buku ini, pasti ada kematian lagi. jujur, gak kebayang tiba-tiba nasibnya gitu :(
pertengahan buku ini rada mono buat aku. berkutat di penyembuhan pihak vrey dan misi pencarian relik berikutnya oleh pihak valadin. tapi yah aku emang gak tertarik ama valadin dkk, pengennya mereka cepet-cepet mati aja.( pisss mbak ^^) dan tantangan dr aether gnomus kok rada-rada ngebosenin ya? mereka dipisah 3 kelompok, tapi lawannya hampir sama aja . kirain bakal ada yg "ngagetin" gitu. malah terkesan buatku yg mereka dipisah itu, buat ngertiin karakter antar tokoh, contohnya eizen dan laruen
daan.. sampai deh relik terakhir. pas baca bagian ini, aku udah kayak main bola aja. pas si pemain tinggal dikit lagi masukin bola, tapi meleset. ugh! gitu deh pas bagian leighton, vrey, dan feyn. leighton oh leighton.. gara-gara cinta kok jadi lupa misi gitu sih? T_T
oh sial! nunggu berapa lama lagi nih buat buku terakhir? huaaaa
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kalau diistilahkan dengan musik cerita ini dimulai dengan allegreto (tempo cepat), lalu ditengah2 mendadak jadi adagio (lelet pisan!), dan di 100 halaman terakhir mendadak jadi acelendro (dinaikin lagi.)
Awalnya cukup asik dinikmati. Vrey dengan galau-galaunya, lalu oleh sang penulis dengan kejamnya dibikin tambah galau lagi. Walaupun ga terlalu kaget juga, dimulai dengan kematian seseorang (karena buku sebelumnya diakhiri begitu), tetapi aku ga sangka secepat itu.
Selanjutnya, tempo mendadak jadi lelet. Karena.... perlukah aku sampaikan kenapa? >.< Yeap. Lovey dovey is in the air. <3 No komen ah soal ini. =))
Lanjut. Tokoh-tokohnya sendiri makin banyak. Sampai aku sempat merasa beberapa tokoh terasa mirip satu sama lain. COntoh: KarthxLeighton , FeynxReuven. Lalu beberapa tokoh cuma dijadikan sampingan. (eh tapi yang ini bukan aku bermaksud komplain lho). Contoh: Izahra -> , Ella -> Dan... errr.. entah bagaimana, aku paling suka Valadin di sini. Nyaris banget dia gantiin posisi Leighton jadi tokoh cowok kesukaanku. Huahahaha!
Jalan ceritanya sendiri makin lama makin intens di -seperti yang sudah kusebutkan sebelumnya- 100 halaman terakhir. Rasanya aku baru melek waktu... . Entah kenapa lebih terasa sedih dibandingkan kejadian yang sama di bab-bab awal. Mungkin karena aku sudah mengenal tokoh ini dari buku sebelumnya? Kurasa ini adegan paling favoritku di sepanjang buku ini.
Akhir kata, di samping banyak kekurangannya, Discord adalah seri yang lebih membuatku merenung soal pesan yang ingin disampaikan penulisnya. Dunia ini ga ada yang hitam dan putih. Yang ada abu-abu. Yah kurasa begitu. Kuharap Genesis bisa lebih baik lagi dari yang ini. ^^
1. Sejauh ini sudah ada 4 relik elemental (Safir, Ruby, Aquamarine, Emerald)) yang berhasil didapat oleh Valadin dkk, jadi kira-kira berhasil tidak Valadin dkk dapat 3 lainnya? 2. Terus bagaimana nasib Lei, hidup atau mati? 3. Mengapa ayah Vrey meninggalkan Vrey sewaktu dia masih kecil? 4. Apa Valadin masih labil mengenai perasaannya terhadap Vrey?
Kesan saya (3.5 stars dibulatkan ke atas)
Secara cerita saya lebih suka Chronicle dibanding Discord. Ngga tau mengapa, mungkin karena ingin menuntaskan misi mengumpulkan relik elemental, jadinya berasa tema cerita repetitif (bagian battle vs guardian templia) meskipun ujian templianya sendiri beda-beda tapi yah rata-rata pembaca sudah nebak pasti bakal berhasil. Untungnya ada banyak informasi yang diperoleh dari ujian-ujian templia itu meski informasinya tambah bikin penasaran, saya rasa semua jawabannya disimpan untuk buku ke-4. Tapi ada kalanya saya berharap ujian templianya jangan fisik melulu,sesekali ujiannya teka-teki atau quest lagi (misal).
Terus kecewa sama karakter Reuven, yah bukan Vrey saja yang kecewa, saya pun sebagai pembaca juga kecewa, soal dia itu digambarkan sebagai Elvar bijaksana tapi tindak tanduknya ngga ada yang mencerminkan sifat bijaksana sama sekali, yang terlihat malah ngga bertanggung jawab (ingetin aku sama ibunya Katniss Everdeen dari THG).
Soal karakter lain, masih sebelas-dua belas sama buku-buku sebelumnya. Valadin masih bunuh dulu nyesel belakangan dan cocok dapat sebutan Mr Galau dan memenangkan galau award, Karth tetap cool, Eizen mulutnya tetap nyablak, Ellanese masih tetap digambarkan tidak simpatik dan sasaran bully pembaca (dan Eizen tentunya) dan Laruen masih tetap galau soal Valadin meskipun Karth jelas-jelas sudah kasih sinyalemen kalau dia suka sama Laruen. Duh Laruen, terima aja si Karth, ngapain ngarepin cowok plin plan macam Valadin.
Vrey dan Lei makin menunjukkan arah traditional hero, yang menurut saya bagus karena sebagai pembaca konservatif (eh), saya lebih nyaman dengan hero yang tidak neko-neko. Baca tradisional hero adalah hero dengan sifat mulia, macam suka menolong, rela berkorban, setia kawan, baik hati, ramah dan tidak sombong (eh).
Lalu Putri Ascha, hmm rada ribet membayangkan dia membawa semua tabung dengan cairan berbahaya sebagai perhiasan dan dimana raja atau ratu atau pangeran dan putri kerajaan Lavanya yang lain, mengapa hanya Ascha yang terlibat padahal skalanya sudah mulai global.
Buat yang yang suka romance, mungkin bakal demen sama Discord, secara scene romance-nya cukup jelas disini. Walau beberapa kalimat narasinya ada yang bikin saya nyengir kuda karena berasa norak, misal "Mereka berciuman untuk kedua kalinya, dan kali ini, jauh lebih hangat dan jauh lebih :-D MEMBARA :-D dari ciuman pertama."
BTW, saya tidak anti-romantisme atau adegan keju, hanya saja kalau dalam fantasy (bukan paranormal romance) ada beberapa takaran yang perlu diperhatikan dalam memasukkan bumbu romance agar jangan sampai pembaca merasa terlalu lebay atau terlalu dipaksakan. Saya pribadi merasa takaran romance dalam Ther Melian masih dalam kadar wajar meskipun eksekusinya mirip manga, (terutama adegan Karth dan Laruen, itu berasa membayangkan adegan dalam manga shoujo) mungkin karena pengarang juga dulu seorang mangaka.
Sayangnya ada 2 karakter yang mati disini, tapi tidak terlalu pengaruh sih, secara mereka bukan karakter utama, kalau istilah dalam dunia penulisan disebut plot device yang sudah tidak terpakai lagi dalam cerita. Walaupun 1 karakter lain yang mati, cukup saya sayangkan.
Last paragraph, buku ini tetap ringan dan gampang diikuti walaupun ada point-point yang menurut saya sebaiknya lebih dipadatkan macam pembahasan perasaan Valadin yang galau melulu.
Nunggu ketemu PC ripiunya... *sesak napas bareng Vrey. Paiiiitttt*
Ini dia ripiunya [image error]
EMOTIONAL!!!
REDUNDANT!!!
Begitu kesan yang saya tangkap ketika membaca chapter2 awal buku ketiga Ther Melian ini. Bagaimana tidak? Emosi penyesalan seorang Lourd Valadin yang di plot sebagai The Dark Lord disini menghabiskan berlembar lembar halaman. Belum lagi sang penulis yang terlalu banyak mem-flashback konflik antara Valadin dan Vrey dari buku keduanya. Ditambah lagi ketakutan Vrey kehilangan Leighton. Baiklah, Leighton memang ‘teman’nya yang setia mendampingi selama 3 tahun, dan Vrey mulai mempunyai perasaan istimewa terhadapnya, tapi penggambaran keterpurukan Vrey rasanya terlalu berlarut2. Jadi, maaf saja ya, kalo saya men-skip beberapa bagian halaman ketika saya sekilas melihat di lembar2 itu tidak ada pengembangan kisah yang berarti, selain Vrey dan Valadin yang merutuki dendam, perasaan takutnya, dan masa lalu mereka.
Untunglah, novel ketiga ini sedikit terselamatkan dengan alur yang kembali keras, dan sedikit mengecawakan para pembaca yang menginginkan pihak rombongan Vrey menang. Tapi sepertinya Shienny, sang penulis memang menyimpan kuda hitamnya untuk menang di buku ke empat nanti. Biasalah, lakon utama menang di bagian akhir hahahaha.
Kenapa saya letakkan komen di bagian awal review ya? Ngga biasa2nya saya begini. Mungkin saya memang lagi kepengen menumpahkan perasaan saya yang ’sedikit’ kecewa di buku ini. Seperti diskusi saya dengan teman saya sesama pembaca Ther Melian the series, buku kedua begitu menggebu, tidak menyisakan pembaca berkesempatan menebak akhir cerita, tetapi yang ini, seolah saya sudah menyiapkan hati untuk menerima kepahitan yang nanti akan menimpa Vrey. Satu hal yang saya suka adalah, sang penulis cukup tega ‘membunuh’ karakter2 dari dua belah pihak. Terus terang, saya suka dengan karakter sadis penulis mematikan karakter, dan tidak membiarkan akhir yang happily ever after macam tetralogy Vampire VS werewolf yang sudah difilmkan itu. Eh, malah ngelantur wakakakak…
PS. Tiga bintang saja ya. Satu bintang untuk covernya yang keren. Leighton nggantheenngg banget wahahahaha. Satu bintang untuk kesadisan sang penulis mematikan karakter, satu bintang lagi untuk kedetilan efek, deskripsi background yang saya yakin membutuhkan riset. Tapi sayang, kok saya malah ngga memperhatian kedetilan itu ya. Justru di bagian2 itu saya bisa skip sana sini, sehingga saya bisa segera menyelesaikan novel ini dan beralih ke novel lainnya. Dasar.
Covernya, cuy! Tampan sekali dikau, Pangeran Leighton. Hahaha...
Bersambung dari buku sebelumnya... Pengkhianatan Izahra membuat Valadin dan kawan-kawannya berhasil kabur. Sambil melarikan diri, mereka semua menghancurkan Kota Kuil dan seluruh penduduknya.
Sementara itu, Vrey yang sedang berada di hutan menemui ayahnya. Mengetahui alasan di balik kepergian ayahnya, Vrey pun kecewa dan marah. Ia meninggalkan ayahnya di hutan dan kembali ke Kota Kuil hanya untuk menemukan kalau semuanya dalam keadaan kacau. Ia bertemu dengan Valadin yang berkata kalau Leighton mungkin sudah meninggal karena terjebak di dalam lorong yang terbakar.
Vrey panik dan mencoba mencari Leighton ditemani oleh Putri Ashca. Betul, Leighton terluka dan sudah lemah karena ditusuk oleh Izahra sebelumnya. Dengan susah payah, Vrey memapah Leighton untuk keluar dari reruntuhan yang terbakar. Dan dalam keadaan terjebak, ayahnya datang mengorbankan diri untuk menyelamatkannya.
Dalam kesedihannya, Vrey memutuskan untuk menghentikan Valadin dan kawan-kawannya.
Valadin kembali berpetualang. Ia ingin menaklukkan tiga Aether yang tersisa. Di sisi lain, Vrey dan teman-temannya juga menyiapkan rencana untuk menghentikan Valadin. Hanya sayang, dalam prosesnya mereka kehilangan dua korban.
Untuk menambah kegagalan tim Vrey, Valadin akhirnya berhasil memiliki ketujuh Aether dan siap menggunakannya untuk mendapatkan kekuatan terbesar.
Menurut saya, buku ketiga ini jauh lebih lemah dibandingkan buku pertama dan kedua. Alurnya jauh lebih lambat dan bertele-tele sekalipun saya tetap senang dengan kejutan kematian yang tak disangka di akhir itu. Membuat semuanya jauh lebih sedih dan kemarahan pun semakin berkobar.
Namun beberapa bagian agak kepanjangan. Terutama adegan di Lautan Pasir untuk mendapatkan Aether Tanah. Tiga set ujian yang sama dalam medan yang berbeda. Kurang menantang, ah walau saya sangat suka bagian Eizen yang beradu mulut dengan Gnomus.
Di sini Leighton akhirnya beraksi juga. Ia menyatakan cinta ke Vrey! Akhirnya...
Untuk tokoh... saya paling suka Eizen! Ah, sudahlah. Tidak ada yang mengalahkan tokoh yang satu itu. Celotehan kakek tua pemarah satu ini bikin ngakak. Narsis dan sok. Ejekannya aneh-aneh. Cecunguk, lalat, entah apa lagi. Selain itu saya suka sama Karth yang diam-diam mematikan (saya memang selalu suka assasin sih sejak dulu). Dan Rion. Mata duitannya nggak sembuh-sembuh. Haha...
Hiya! Lanjut ke buku keempat langsung. Beginilah kalau sudah punya semua serinya, bacanya puas dan nggak perlu nunggu lama-lama.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Seri ke-3 Ther Melian ini melanjutkan petualangan Vrey dkk dan Valadin & Co. yang terputus di buku ke-2. Valadin yamg dibantu oleh Izahra berhasil melarikan diri dan bahkan merebut kembali 4 relik elemental yang ditahan oleh para Tetua. Sementara itu Vrey berhasil menyelamatkan Leighton walau dia kehilangan sang ayah dalam usahanya itu.
Kawanan Valadin yang lolos dari penjara segera menuju 3 Templia yang tersisa untuk menyelesaikan misi mereka. Vrey dan teman-temannya yang berhasil lolos dari serangan di Kota Kuil mulai menyusun rencana untuk menghentikan Valadin. Dengan 4 relik di tangan Valadin, kekuatan menjadi tidak imbang. Sanggupkah mereka menghentikan Valadin?
Sejauh ini saya bilang bahwa cover buku ke-3 ini adalah yang terbaik di antara seri Ther Melian yang sudah saya baca. Saya suka dengan komposisi warnanya. Tidak terlalu gelap seperti di buku 1 dan tidak terlalu genjreng seperti di buku 2. Selain itu saya juga suka dengan ilustrasi ketujuh Aether yang ada pada akhir buku.
Bagian awal buku ini sempat membuat kening saya berkerut. Kematian ayah Vrey saya rasa terlalu cepat dan tidak dramatis. Selain itu alasannya pergi meninggalkan Vrey juga kurang kuat.
Pertarungan dengan para Aether kali ini terasa kurang seru. Khususnya ketika melawan Aetnaus. Iya sih, Zward Eldrich perlu ditempa, tetapi pertarungannya jangan dikorbankan untuk itu dong. Pertarungan yang potensial maha dahsyat melawan Jagadnauth jadi terasa anti klimaks.
Sisi baiknya adalah Vrey yang saya sukai kembali. Setelah sedikit memudar di buku 2, Vrey akhirnya kembali dengan lebih kuat dan perasaan yang lebih dalam pada Leighton. Kelihatannya Leighton lebih potensial untuk memperoleh Vrey. Kesempatan Valadin untuk memperoleh Vrey relatif kecil. Selain karena Vrey terlanjut membencinya, dia juga pastinya mendapat hukuman berat kalau sampai tertangkap. Kira-kira bagaimana akhir petualangannya yah? Jadi penasaran sama buku ke-4.
WARNING: Review ini mungkin mengandung spoiler; terutama bagi yang belum membaca buku kedua. Tapi aku mengusahakan spoiler sesedikit mungkin :) ----------------------------------------------------------------------------------------------------
"Kebencian hanya akan menimbulkan kehancuran. Kita tidak akan pernah mencapai kedamaian kalau kita menghabiskan hidup kita dengan terus-menerus membenci mereka. Kita harus membuang kebencian dan berusaha hidup damai dengan mereka. Hanya dengan cara itu kita bisa mencapai masa depan yang lebih baik."
Itulah pesan yang disampaikan oleh Reuven, Ayah Vrey, kepada Valadin bertahun-tahun yang lalu. Saat itu Valadin mengungkapkan kebenciannya kepada Manusia, dan amat kecewa saat Reuven, sahabat baiknya, memutuskan untuk pergi dari Falthemnar demi seorang Manusia perempuan. Tak pernah Reuven duga sebelumnya, bahwa Valadin akan bertindak jauh demi memenuhi ambisinya untuk membangkitkan kembali Bangsa Elvar dan mengalahkan Manusia. Kisah peperangan yang terjadi pun terus berlanjut. Valadin telah berhasil memiliki 4 Relik Elemental dan tersisa 3 Aether lagi yang perlu ia taklukkan. Setelah kehancuran yang telah dibuat oleh kelompok Valadin di Kota Kuil, Vrey dan kawan-kawan terjebak di tempat itu sementara Valadin melanjutkan perjalanannya mengumpulkan Relik Elemental. Melihat semua kejahatan yang telah dilakukan oleh Valadin - bahkan sampai melukai orang-orang yang disayanginya - Vrey semakin teguh kepada tujuannya untuk menghentikan Valadin, bagaimanapun caranya....
Sekali lagi, saya puas setelah menutup buku ketiga ini. Beberapa kematian cukup mengejutkan, walaupun yang di awal tidak demikian. Dan entah kenapa saya jadi merasa Valadin ini ada untuk jadi semacam sex object untuk member timnya sendiri, kecuali bagi Karth dan Izhara. Leighton, sebenarnya saya suka dia, tapi entah kenapa, begitu susah memasuki babak roman, saya jadi jengah sendiri membacanya. Tapi ini murni masalah selera karena kalau dia dan Vrey tidak bersatu, saya rasa cerita ini malah akan jadi jelek. Pertempuran adalah salah satu menu utama jilid tiga ini. Beberapa bagian butuh dibaca ulang untuk pemahaman mendalam karena kalau tidak orang bisa salah paham dan menganggap para peserta tawuran ini bodoh, padahal semua miss dan keberhasilan mereka sebenarnya dijabarkan dengan baik. Endingnya menggantung dan memberikan hasil yang seolah buruk bagi kubu Vrey, tapi saya yakin ini pasti BURUK SEKALI bagi kubu Valadin.
Senangnyaaa ahirnya selesai juga ama discord. Jujur bangetbanget saya udah ga tahan ama novel ini karna percintaan yang ngejelimetnya banyak mulai dari cemburu ama teman, teman jadi cinta, sampe si A yang rela aja jadi pelampiasan untuk si B. Saya stuck cukup lama di bab 4 dan 12 ngembaliin mood baca yang tiba-tiba ngedrop, bukannya saya benci percintaan tapi saya udah cukup enek dicekokin semua itu ama sinetron di tv yang ga pernah ada abisnya, apalagi kalo pasangan yang saya baca ga sesuai ama yang saya harapkan. Somehow saya lebih suka vrey ama valadin ketimbang ama leighton, menurut saya valadin lebih macho ketimbang leighton *you know lah kenapa* Diluar semua itu discord sebenernya as awesome as it other series tapi mungkin karna saya aja yang terlalu picky, lebih suka romantic comedy daripada percintaan ngejelimet gini dan ditambah lagi saya team V squared!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Terpaksa hrs kasih cuma 3 bintang utk buku ini, soalnya setelah buku 2 yg penuh suspense dan surprise, juga tempo yang bagaikan berlari, di buku ke 3 ini temponya justru melambat, jd terkesan sepeti antiklimaks. Ditambah lagi unsur kejutannya jg agak berkurang. Yg paling ditunggu-tunggu adalah kemunculan Leighton yg semakin keren (gambar di covernya ganteng bangeeeettttt, bikin aku hampir jatuh cinta ^_^). Tp entah kenapa aku agak jengah jg krn porsi cerita groupya Valadin banyak bgt, mungkin krn kegiatan yg mrk lakukan itu2 terus dan gak ada yg baru yach,,,tp masih diselamatkan dengan kejutan terungkapnya fakta ttg pedang baru Valadin yg bikin penasaran. Tp ak ttp menunggu buku ke-4 nya kok, semoga aja bisa kembali ke tempo yang berlari-lari dan twist-twist yang mencengangkan, coz I think everyone expects the best from the final :)
baru sempet nulis reviewnya.. jadi agak2 lupa deh.. yang pasti buku ke-3 ini tidak se"kinclong" buku ke-2 dari segi plot cerita maupun naskah dialog.. ada banyak bagian yang terlalu melow abis, sehingga kurang dapat diterima otak #eh plot juga tidak bergulir secepat pendahulunya, malah agak terlalu bertele-tele sehingga menimbulkan godaan untuk "skip" langsung ke halaman2 berikutnya, karena toh tidak ada yang penting #sorry.
namun di buku ke-3 ini mulai tampak bahwa ide ceritanya tidak "sesederhana" pada penampakannya, ada seseuatu yang besar terjadi, dan itu tetap membuat kita menunggu untuk membaca buku selanjutnya!
Jujur saya benci buku ketiga. Soalnya semuanya tampak begitu jelas. Mulai dari romance Very. Lauren kecuali Eizen yang masih samar-samar untuk saya. Dan tentang apa sebenernya Thermelian ini latar belakangnya. Cluenya jelas banget >_< .b tapi buku ketika termasuk yang saya baca cukup lama. Selama dua hari. Saya jadi ikut-ikutan capek karena pertempuran-pertempuran yang ada. Dan semuanya tenang saja. Bukan Thermelian kalau tidak ada twist di bagian akhirnya. Overall buku ketiga the best(eh tadi saya bilang benci ya.. Sebenernya itu benar-benar cinta. :P)
Saya cukup menikmati buku Ther Melian yang ketiga ini :) Sayangnya ada spoiler yang saya baca sebelum membaca ini sedikit membuat buku ini kurang seru.. Terjadi banyak sekali pertumpahan manusia disini (no spoiler), kemajuan hubungan, dan kegalauan.. Covernya ciamik *fangirl mode:on*.. Walau ada yang bilang covernya kurang cocok dengan judul, tapi saya gak terlalu mempermasalahkan hal itu.. Leighton~!
Masih menunggu kesempatan buat beli yang Genesis.. Semoga sebelum libur berakhir #curcol :)
Terlalu lama dalam membaca karena berbagai kesibukan mahasiswa tingkat akhir, karena itu setiap hari selalu penasaran akut. Ceritanya selalu menegangkan dan juga selalu sesuai dengan covernya. Ya, awal review sudah saya katakan bahwa novel ini berlaku "judge the book by its cover". Konflik yang hadir selalu mengingatkan akan cerita awal, serta menarik kita untuk penasaran dan bertanya-tanya tentang endingnya.
Akhirnya baca yang ketiga..berharap sama serunya dengan yang kedua dimana alurnya tegang terus, tetapi ternyata tidak sesuai harapan, terlalu banyak cerita di penyembuhan vrey dan leighton jadi klimaks terasa menurun,well semoga ce Shieny bisa angkat lagi klimaksnya di seri 4.
Wuih, semakin kelihatan hitam-putihnya. Tapi penasaran mau jadi apa Vrey, Leighton, Valadin dan Laruen di TM Genesis. *huaaaaa, ngantuk, abis ngabisin ni buku, lagi dikejar suruh cepet nyelesain (nglirik seseorang-evil grin)* Selamat hari ibu ya :)
Aku bertanya-tanya apa yg membuat Valadin sedemikian membenci manusia. Memang diceritakan kalau manusia itu sering merusak alam, tapi dia benar benar terbawa perasaan sampai dia tidak mau berpikir positif terhadap manusia. Aku lega akhirnya bisa menemukan elvar seperti Reuven. Dia berkepala dingin dan tak selalu beropini negatif pada manusia.
Tapi alasan Reuven meninggalkan Vrey dan Laruen terlalu sederhana menurutku. Memang ditinggalkan orang yang dicintai itu menyedihkan, tapi kalau sampai sebegitunya..... aku nggak bisa paham.
Memang saat kematian Reuven, terasa cukup klise. Tapi penulis berhasil menggambarkan suasana sedihnya dengan baik, jadi nggak masalah buatku.
Tapi baik pada novel pertama, kedua, maupun ketiga, polanya acap kali sama. Valadin dkk pergi ke Templia, menjalani ujian, bertarung, dan mendapatkan Reliknya. Jadi terasa monoton dan membosankan gitu. Kupikir ada baiknya kalau ujian dari para Aether nya dibuat berbeda beda. Selain ujian dari Hamadryat, ujian dari semua Aether yang lain cuma sekadar bertarung aja. Jadi kurang menegangkan gitu.
Aku penasaran kenapa para Aether pada kelihatannya mendukung Valadin. Padahal tokoh yang sudah hidup lama itu biasanya lebih bijak.
Di buku ini, terdapat secercah petunjuk soal peradaban kuno. Mungkin peradaban Ther Melian yang disebut sebut sangat luar biasa itu. Sedikit demi sedikit selimut misteri yg membungkus sejarah awal mula Ther Melian mulai terungkap. Lucunya, bahkan peradaban zaman dulu lebih 'modern' dari pada peradaban zaman sekarang. That's kinda weird.
Tapi kelompok Valadin rasanya terlalu kuat ya. Bahkan mereka berhasil mengalahkan sebagian besar tetua yang notabene hidup lebih lama dan punya pengalaman lebih banyak. Walaupun mereka punya kekuatan relik, tetep aja pertarungannya terlalu berat sebelah.
Oh iya, aku penasaran kenapa Ellanese dan Eizen sering bertengkar. Ellanese dan Eizen memang sama sama menyebalkan, tapi rasanya itu bukan alasan mereka se-nggak akur itu.
Cuma aku heran. Kenapa tim Vrey selalu kalah melawan tim Valadin? Dan rasanya alasan kenapa tim Vrey masih hidup itu karena Valadin mengasihaninya. Nggak ada orang yg setara dengan tim Valadin di timnya Vrey. Jadi ketika pertarungan pecah, seringnya tim Vrey lah yang kalah. Akan lebih baik kalau ada tokoh kuat yang punya kekuatan setara dengan tim Valadin. Jadi pertarungannya nggak berat sebelah.
Dan endingnya gantung lagi. Untung di ipusnas, semua bukunya lengkap. Jadi nggak bakal penasaran lama lama. Aku penasaran bagaimana penulis akan mengakhiri seri ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ketiga menjadi buku terfavorit aku! Dibuka dengan tensi tinggi pertempuran epik di Discord ini menjadi mengagumkan. Tak hanya opening yang cetar, dinamika konfliknya lebih terasa. Ketegangan dan keseruan Valadin dalam berburu relik elemental tidak hanya ditunjukkan melainkan pembaca diseret masuk ke dunia Ther Melian. Menyaksikan secara langsung bagaimana Valadin dan timnya mengobarkan pertempuran di kota Kuil.
Buku ini dinamis banget, hidup, dan aku bersimpati banget sama Vrey di kisah ini ibarat kata, ini ada masa semua musnah. Vrey mengetahui fakta pahit yang melegakan, mengalami banyak kehilangan. Namun, gempuran masalah itu menjadi pemicu yang sangat kuat bagi Vrey untuk mengambil keputusan. Di sisi lain, juga merasa prihatin dengan keadaan Valadin, tetapi seakan ikut berdebar kira-kira bakal berhasil apa tidak ya setelah mereka mendapat bantuan dari arah yang tak terduga.
Setelah membaca buku ketiga ini, pastikan membaca buku penutup tetralogi Ther Melian Genesis ✨
Kekurangan buku ini masih terkait tipo selain itu aku enjoy baca sampai akhir. Di buku ini paling banyak momen menegangkan tetapi seru sekaligus, pembahasan action yang nggak monoton. Suka banget! Belum lagi momen mengharukan, mengenaskan, titik tergelap seakan gak ada jalan, seakan semua keputusan yang diambil salah. Momen-momen itu bikin aku kayak mau nangis~
Kunobatkan discord jadi buku terbaik di tetralogi Ther Melian.
Sebenarnya sudah dari kemarin aku selese baca buku ini, cuma aku lupa updatenya. Heheh "Aku sudah memilih jalan hidupku. Aku mengerti kalau kau tidak sepaham denganku. Kau boleh membenciku karena ini, dan aku rela menerimanya." (hlm. 12) ☁ Aku suka banget sama covernya😍😍 Yup, itu adalah sosok Leighton. Cakep kan? 😋 Matanya itu loh, biru 😍 whoaaa.. *mendadak jd fangirl* Oke. Sebelum baca buku ini, aku semangat pengen cepet2 tau nasib Leighton, karna di buku sebelumnya endingnya bikin sedih banget. Tapi, aku juga sedikit was-was, takut kalo aku bakalan broken heart mengetahui nasib Leighton. Syukurnya, hal itu gak terjadi. Bahkan Leighton sempat menyampaikan perasaannya ke Frey. Kira-kira diterima atau bertepuk sebelah tangan ya? 😌 ☁ Di buku ini juga diceritakan flasback tentang hubungan Valadin dengan sahabatnya, Reuven (yg ternyata Ayahnya Frey & Lauren). Selain itu, petualangan Valadin dkk mengumpulkan semua relik berlanjut, tinggal 3 relik yg belum berhasil mereka dapatkan. Berhasilkah mereka mengumpulkan ketujuh relik? ☁ Banyak emosi yang diberikan di buku ini. Hubungan antara tokoh-tokohnya, rasa memiliki dan kehilangan. Dan aku sebel endingnya. Kenapa sih Leighton rela menyerahkan relik yg dia dapatkan ke Valadin hanya demi Frey? 😣