Reality brings together philosophical and literary works representing the many ways—metaphysical, scientific, analytic, phenomenological, literary—in which philosophers and others have reflected on questions about reality.
Review: Kosong adalah Isi, Isi adalah kosong - Absensia
Tuhan tidak pernah masuk ke mall, apalagi naik busway atau menumpang kereta, secara fisik. Tuhan hanya kita "temukan" dalam kitab-kitab atau buku, macam buku Reality ini.
Namun saya tidak bermaksud menimbang atau mengulas buku ini secara ketat karena saya tak pernah menuntaskan satu pun buku berbahasa asing. Pula sebagai pemuda yang berbakti kepada nusa dan bangsa, saya sudah bersumpah setia pada "sumpah pemuda": berbahasa satu, bahasa indonesia.
Saya mengunduh (download) buku bunga-rampai ini lebih karena membaca ulasannya di sebuah jurnal filsafat-teologi. Dan sebagai mahluk spritualis-universalis, saya ingin menyelami satu pemikiran menarik didalam buku ini, yakni percakapan Upanishad pada bahasan "Thou Art That", yang diedit oleh Carl Levenson dan Jonathan Westpal. Begini kutipannya:
His father said to him: "Svetaketu, have you asked for that knowledge by which we hear the unhearable, by which we perceived the unperceivable, by which we know the unknowable." … "Bring a fruit of that Nyarogdha tree." "Here it is, sir." "Break it!" "It is broken, sir." "What do you see?" "Some seeds, extremely small, sir." "Break one of them." "It is broken, sir." "What do you see?" "Nothing, sir." "The subtle essence you do not see, and is the whole of Nyagrodha tree. Believe, my son, that that which is the subtle essence - in that have all things their existence. That is the truth. That is the Self. And that, Svetaketu, THAT ART THOU."
Sepotong percakapan Upanishad ini menyiratkan makna yang sangat mendalam, menurutku. Menggambarkan perjalanan kesadaran pengetahuan manusia yang bercakap-cakap dengan realitas: bagaimana menuju kebenaran atau pengetahuan absolut. Namun percakapan diatas juga bisa dilihat sebagai sebuah perjalanan bahasa (teologis) dalam usahanya ‘mencandra’ realitas Ilahi, bahasa yang mengosongkan diri.
Buah dari pohon Nyagrodha bisa kita gambarkan sebagai konsep atau bahasa: representasi realitas kemanusiaan kita. Yang pertama terlihat adalah mengambil sang buah, memegang bahasa –"Here it is, sir". Bisa kita asumsikan sebagai bahasa katapatis (teologi positif): bahasa dianggap mampu menangkap dan merepresentasikan realitas yang sesungguhnya. Bagi kita yang 'normal', itu pengakuan yang absurd. Sebab usaha itu tentu tidak memadai untuk sampai pada intensi yang sesungguhnya.
Maka perlu dilakukan dekonstruksi bahasa katapatis yang ada itu - "Break it!". Proses dekonstruksi (penghancuran) itu pun ternyata bukan jawaban final absosolut bagi kita. Dekonstruksi harus berlangsung dengan terus-menerus menegasi kenyataan positif dengan bahasa apopatis (teologi negatif), melahirkan ketiadaan – "Nothing, sir". Sebentuk nihilisme. Bila kita berhenti disini, berarti kita pasrah pada teologi negatif: bahwa untuk sampai pada realitas Ilahi adalah usaha yang sia-sia.
Namun kisah diatas tidak berhenti sampai disitu. Kisah itu hendak membicarakan ihwal sebuah elegansa dalam berbahasa karena disertai kesadaran akan 'ada' yang 'tak hadir', - "you do not see". Dibahasakan dengan setia melihat ketidakhadiran itu. Sebuah absensia: bahwa 'tak melihat pun juga sebuah penglihatan'. Dengan ungkapan lain, bahwa manusia sesungguhnya memiliki kempuan 'mendengar yang tak terlihat', atau 'melihat yang tak terdengar'.
***
Hal senada ditulis Franz Magnis Suseno dalam bukunya Menalar Tuhan: tentang cara manusia menghayati ketuhanan. Ada nada diam disana seperti yang sering kita dengar tentang ajaran Buddha Gautama ("sang tercerahkan"). Dalam sikap diam itu, Budhisme sebenarnya tidak sendirian. Dalam spekulasi Hindu maupun mistik agama abrahamistik -yahudi, kristen, muslim- juga memahami betul bahwa akhirnya manusia berhadapan Tuhan hanya bisa diam saja. Karena itu filosofi Islam dan filosofi Kristiani biasanya melakukan pembicaraan dengan Tuhan harus dengan via negativa ("jalan negatif"). Bahwa bahasa kita hanya dapat mengatakan apa yang tak terucap tentang-Nya. Yang Ilahi harus dihayati sebagai misteri. Rahasia yang dibiarkan saja dengan sikap terhormat, tulis Franz Magnis (lih. Suseno, 2006 hal.33).
Itulah makna hidup dan spritualitas yang dapat kita pelajari dari umat Buddhis, yang lebih etis. Dalam kacamata filsafat India, kisah diatas ditafsirkan mengenai Brahman (realitas Absolut). Bahwa pada akhirnya apa yang disebut sebagai realitas yang sejati adalah Brahman, atau berdasarkan teks itu sendiri: kekosongan (nothingness).
Memang demikianlah seharusnya. Berbicara tentang Logos, yang Ilahi hanya bisa kita jumpai dalam jalan semadi kesunyian. Seperti Schillebeecks yang menawarkan sebuah jalan keheningan. Jalan keheningan yang membiarkan dia-Ada menemukan ekspresi dalam karya nyata manusia. Hening yang berarti semata-mata membiarkan Ada menghadirkan diri. Pula Misteri Ilahi itu hanya dapat tercandra dengan mengasuh paradoks absensia- yang kerap kita dengar: kosong adalah isi, isi adalah kosong. Atau dalam ungkapan lain: ada adalah tiada, tiada adalah ada. Amitaba. ***
Demikianlah "kotbah" singkat dari mantan pastor-pendeta-ulama-buddha john.
Borneo, 7 agustus 2010
PS: Bila Anda belum pernah bertemu Tuhan, "temukanlah" Dia didalam buku ini. Ya. Dalam ketiadaan.