An Eternal Vow dibuka dengan sepenggal kisah yang langsung menyita perhatian pembaca, dituliskan dengan sedemikian indah namun juga rapuh. Wanita itu masih memakai kebaya putih dengan riasan lengkap serta sanggul yang tertata rapi. Riasan di atas kepalanya belum tersentuh, Tidak ada yang berani mendekat. Siapa yang akan berani mengingatkan, bahwa beberapa jam lalu, seharusnya dia menikah?
Almira dan Bima dijadwalkan menikah pagi itu. Undangan telah disebar, pesta dipersiapkan. Bahkan mempelai wanita sudah berdandan sangat elok. Tapi, Sang mempelai pria tidak kunjung datang. Hanya sebaris pesan singkat mengabarkan:
"Maafin aku. Aku nggak bisa nikahin kamu. Maaf ....
Betapa hancur perasaan Almira. Bayangkan betapa besar luka sekaligus rasa malu yang harus dia tanggung. Dikhianati tepat di hari bahagianya. "Kamu nggak salah. Si kurang ajar Bima itu aja yang nggak punya hati," hibur sang kakak. Tetapi, Almira adalah gadis yang kuat. Dia akan membuktikan bahwa dirinya tak akan hancur hanya karena pengkhianatan seorang pria. Selalu diingatnya petuah dari sang ibu agar selalu mengambil sisi positif dari setiap masalah yang dihadapi. "Hadapilah dengan senyuman."
Dan, Tuhan tidak akan pernah menelantarkan hamba-Nya yang mau berjuang. Kisah cinta Almira tak akan berhenti sampai di sini. Tuhan bekerja dengan cara misterius, begitu juga jodoh. Sering kali, dialah yang mendatangi kita tanpa kita perlu repot mengejarnya. Agar putrinya tidak larut dalam kesedihan, sang Ibu memperkenalkan Almira pada putra salah satu temannya. Seorang duda dengan satu anak. Awalnya, Almira ragu dengan keputusan ibunya. "Sehancur itukah hidupnya sampai sang ibu menjodohkannya dengan duda satu anak?"
Satu hal menuntun ke hal lainnya. Sering kali, jerat takdir cinta memang tak bisa dihindarkan. Cinta selalu tiba pada waktunya. Takdir akhirnya mempertemukan Almira dengan Edgar, lelaki yang bakal jadi calon suaminya. Edgar sama sekali berbeda dengan bayangannya. Ada sesuatu dalam diri Edgar, yang menimbulkan debar-debar halus dalam hati Almira. Mungkin juga, dalam hati para pembaca eaa #TimEdgar. "Wajahnya yg tampan dan memesona memang sulit untuk diabaikan. Harus ia akui, laki-laki itu sangat tampan, lebih tampan dari Jamie Dorman."
Mungkin, perjodohan juga nggak buruk-buruk amat. Apalagi, kalau calon yg dijodohkan sebaik dan seganteng Edgar. Ini #TimEdgar mana suaranya?
"Mungkin jodoh itu memang ada, sudah digariskan sejak manusia belum dilahirkan. Hanya saja, kapan bertemunya dan dengan siapa, belum diketahui." (hlm. 45)