Kebijakan Negara terhadap agama selama masa kepemimpinan Pak Harto menunjukkan bahwa ada dua trend besar yang berlawanan secara diametral yakni deideologisasi dan ideologisasi Islam. Pada dua dasawarsa pertama kekuasaan Orde Baru, warna dasar dari kebijakan itu adalah upaya "deideologisasi" yang jeas berangkat dari asumsi dan persepsi Islam sebagai potensi ancaman terhadap stabilitas sosial-politik yang dibutuhkan Orde Baru untuk pembangunan.
Akan tetapi sejak 1980-an, terjadi perubahan 180 derajat kebijakan pemerintah, yakni dengan ditandai era baru "ideologisasi" Islam dalam birokrasi. Setidaknya ada empat akomodasi yang ditempuk Orde Baru pada waktu itu. Pertama, akomodasi struktural berupa terekrutnya orang-orang yang dianggap wakil atau tokoh Islam dalam jajaran kabinet maupun anggota DPR/MPR. Kedua, akomodasi legeslasi yang berwujud disahkan undang-undang yang memihak umat Islam. Ketiga, akomodasi infrastruktural berupa pemberian izin bahkan sokongan terhadap Bank Muamalat Indonesia (BMI), pendirian masjid-masjid oleh Amal bhakti Muslim Pancasila dsb. Keempat, akomodasi kultural yakni dengan penyelenggaraan Festival Istiqlal tahun 1991 dan yang dianggap paling fenomenal adalah keberangkatan Pak Harto beserta keluarga ke Tanah Suci Mekkah untuk menunaikan haji.
Pada masa kepemimpinan Pak Harto itu, kelompok Islam radikal tidak bisa leluasa bergerak. Islam yang tampil di Indonesia adalah umat Islam yang penuh toleran dan menghargai keberagaman sehingga Islam Indonesia dikenal di seluruh dunia sebagai agama yang ramah. Islam yang jauh dari kekerasan. Hanya saja, setelah kran demokrasi dibuka lebar dengan mengedepankan demokrasi liberal gaya amerika kelompok Islam radikal berkecambah yang pada ujungnya melahirkan teroris.
Maka tidak berlebihan jika ada yang menyebut Pak Harto telah membawa umat Islam Indonesia selama Orde Baru sebagai umat Islam yang rahmatan lil alamin, memberi rahmat bagi seluruh alam. Lebih jauh lagi, di bawah kepemimpinan Pak Harto, Indonesia dinilai kalangan Barat sebagai peradaban umat Islam yang patut disegani.
Buku ini membukakan mata saya tentang apa yang terjadi pada Islam terutama pada masa Orde Baru. Meskipun tujuan utama buku ini adalah memberikan pandangan kepada pembaca mengenai peran baik Pak Harto dalam perkembangan Islam, buku ini tidak lupa juga mengulas latar belakang pergerakan Islam dan politisasi Islam di berbagai negara. Saya yang awam dengan berbagai ormas Islam dan pola pergerakannya lumayan tercerahkan oleh buku ini. Sangat relevan terutama untuk teman-teman yang tertarik isu-isu agama baru-baru ini. Buku ini menguatkan pandangan saya bahwa politisasi Islam tiada bedanya dengan politisasi hal lain, dilingkupi kepentingan pribadi dan hasrat akan kekuasaan.