Jump to ratings and reviews
Rate this book

Blue Valley

Elegi Rinaldo

Rate this book
Di pojok selatan Jakarta, kau akan menemukannya. Tempat itu tak sepanas bagian Jakarta lainnya. Langit di sana sering berubah seolah mengikuti suasana hati penghuninya. Kau akan bisa menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah di sana. Orang menyebut tempat itu Blue Valley.

Jika kau berjalan ke salah satu blok, kau akan menemukan rumah yang setiap pagi dipenuhi nyanyian Rihanna. Seorang pemuda kribo yang selalu menenteng kamera tinggal di sana bersama tantenya. Dia sering kali bersikap dingin. Dia menyimpan duka. Sisa penyesalan terdalam dua tahun lalu.

Ada gadis yang menantinya, dan ingin menamai hubungan mereka yang kian dekat. Namun, pemuda itu selalu ragu. Dia menyukai gadis itu, tetapi... selalu merasa bersalah jika memberikan tempat yang sengaja dia kosongkan di hatinya. Namanya Rinaldo. Panggil dia Aldo, tapi jangan tanya kapan dia akan melepas lajang.

204 pages, Paperback

First published December 12, 2016

7 people are currently reading
137 people want to read

About the author

Bernard Batubara

26 books817 followers
I am a best selling writer of 19 books.

They are "Angsa-Angsa Ketapang" (2010), "Radio Galau FM" (2011), "Kata Hati" (2012), "Milana" (2013), "Cinta." (2013), "Surat untuk Ruth" (2014), "Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri" (2014), "Jika Aku Milikmu" (2016), "Metafora Padma" (2016), "Elegi Rinaldo" (2017), "Mobil Bekas dan Kisah-kisah dalam Putaran" (2017), "Luka Dalam Bara" (2017), "Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan" (2017), "Asal Kau Bahagia" (2017), "Espresso" (2019), "Tentang Menulis" (2019), "Residu" (2019), "Batu Manikam" (2020), and "Banse Firius" (2020).

My short story “Goa Maria” appeared in the bilingual anthology of Indonesian writing Through Darkness to Light (Ubud Writers and Readers Festival 2013 & Hivos).

I provide editorial and copywriting services, for commercial and literary purposes. I accept prose, poetry, and nonfiction story.

Contact me through the information below.

Whatsapp: +6287839894689
Twitter & Instagram: @benzbara_

benzbara89@gmail.com
www.bisikanbusuk.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
25 (15%)
4 stars
49 (31%)
3 stars
63 (40%)
2 stars
18 (11%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 30 of 45 reviews
Profile Image for raafi.
929 reviews451 followers
December 26, 2016
Apa yang kamu pikirkan saat mendengar kata ‘menikah’? Sebagian besar orang pasti akan berkeringat dingin saat membicarakannya. Pernikahan memang bukan hal main-main. Bukan hanya merasa bahagia lalu mengucap janji suci, namun juga soal ketulusan yang besar untuk hidup bersama sampai ajal. Siapkah dengan semua itu? Saking rumitnya, sebagian orang memilih untuk tidak dekat-dekat dengan kata 'menikah'. Membicarakannya saja tidak mau, apalagi mencari pasangan untuk diajak hidup bersama.

Ulasan bertajuk "Alasan Memilih untuk Tidak Menikah dalam Elegi Rinaldo": http://bibliough.blogspot.co.id/2016/...
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
December 22, 2016
Setelah membaca buku ini, saya langsung kepengin nulis novel? Mengapa? Kayae itu gampang banget nulis novel, menempatkan hint-hint, membuat degan manis, romantis, dan mengulik perasaan orang bisa banget Bara dalam novel ini. Adegan berciuman di teras menurutku itu manis banget, terus tarik ulur hubungan Aldo dan Jenny bener-bener anget dan apik.

Dan paling seneng sama karakter Tante Fitri, lucu dan 'ibu-ibu' banget. Heeeheee lucu.
Tapi persoalan Aldo dan Jenny meski terlihat roman, tetapi itu mewakili persoalan generasi mileneal. Kalau sudah bahagia sendiri, mengapa harus berdua-menikah? Itu aku banget :)
Profile Image for Bintang Ach.
94 reviews
February 7, 2017
Ok, 3.5 bintang!

REVIEW LENGKAP >> http://ach-bookforum.blogspot.co.id/2...

Dari kelima buku Blue Valley, menurutku Elegei Rinaldo ini yang paling ga kerasa nuansa 'blue valley' nya. Ya, memang. Sikap Aldo yang cenderung introvert thd lingkungan kompleks, membuatnya jarang (atau bahkan ga pernah) melakukan sosialisasi yang sewajarnya. Hidupnya hanya sebatas rumah dan pekerjaan sebagai fotografer makanan. Tidak ada satu pun tokoh dari 4 novel lain yang terlibat satu-dua dialog dengan Aldo atau bahkan sekedar lewat gitu aja. Jadi, yaa... cukup disayangkan sebenarnya. But, tenang aja, Pak Agus--satpam kompleks Blue Valley--yang lebih eksis di sini, hehe.

Pas aku baca buku ini, sampai pertengahan buku memang sempet aku pending dulu. Gatau kenapa ya, menurutku ceritanya cenderung biasa. Meski pada kenyataannya banyak orang yang bilang kalau buku ini disajikan dengan hasil yang luar biasa meski caranya ringan dan sederhana.

Awal ke pertengahan, aku merasa rada bosen. Gatau kenapa, rasanya bukan seperti buku-buku Bara yang lain yang identik dengan kalimat-kalimat puitis? Tapi kalau memang disuruh ngebandingin dengan novel yang lain, seperti Jika Aku Milikmu, aku lebih menyukai buku dari seri Love Cycle tsb. Tapi, overall, bukan berarti kalau buku ini biasa aja dari awal sampai akhir.

Cerita yang diangkat memang ringan, sederhana, begitu pula dengan jalan ceritanya yang cenderung flat pada beberapa halaman awal. Namun aku mulai bisa merasakan keistimewaan dari buku ini pada saat pertengahan menuju ending. Hubungan dari kedua tokoh utama mulai bisa dipermainkan, chemistry secara perlahan (dan tanpa paksaan) mulai terbentuk, juga dengan beberapa konflik-konflik kecil (yang anehnya menarik dan bikin antusias) mulai ikut memainkan emosi pembaca. Kegelisahan dan keresahan dari tokoh utamanya tentang arti hubungan dan pernikahan berhasil disampaikan dengan baik dan logis pula saat menjelang ending. Perubahan pola pikir terkait prinsip hidup Aldo yang mengatakan bahwa pernikahan adalah hal terkonyol juga dijelaskan secara logis. Tidak membuat pembaca (termasuk aku) merasa aneh dengan perubahan tersebut.

Intinya, penilaianku banyak berubah pada saat menuju ending cerita. Yang biasa (bener kata orang-orang) seolah terasa luar biasa. Adegan-adegan kecil yang sederhana, entah kenapa bisa begitu manis. Dan selamat... aku berhasil tersenyum setelah menutup lembar terakhirnya.
Profile Image for P.P. Rahayu.
Author 1 book37 followers
February 7, 2017
Menikah. Suatu hal yang katanya akan memberikan kebahagiaan dan juga pahala bagi yang melakukannya. Akan tetapi, nyatanya banyak juga kok orang yang enggan menikah. Mengapa demikian? Mungkin akan lebih baik kalau pertanyaan ini diajukan ke Aldo dan Jenny. Dalam Elegi Rinaldo, Aldo dan Jenny akan menjabarkan mengapa seseorang enggan menikah. Pasti ada alasan-alasan khusus yang mendasari keengganan tersebut.

Seri Blue Valley pertama yang aku baca dan aku terhibur saat membacanya. o:) Aku jadi penasaran dengan karya Bernard Batubara yang lainnya karena Elegi Rinaldo adalah novel Bernard pertama yang aku baca.

Ulasan lengkap dapat dibaca di http://prayrahayusbook.blogspot.co.id...
Profile Image for Shuhada Ramli.
353 reviews17 followers
March 21, 2017
Elegi Rinaldo written by my favourite author @benzbara_
Bersesuaian dengan maksud Elegi, watak Aldo benar-benar membuat saya ingin menangis, tertawa dan sedikit marah. Ciri-ciri lelaki seperti Algo memang wujud. Mahu tapi sombong! Sombong untuk menyadari bahawa dia sebenarnya butuhkan seorang teman hidup. Mujur Aldo sedar sebelum terlewat. Peranan Jenny dan Tante Fit sangat kuat bagi menyokong watak Aldo. Benz Bara memang bijak mengatur plot. Sedikit dilemparkan perasaan kita hanyut dan kemudian ditariknya kita semula. Sedikit kita terbuai dengan kebahagiaan, tiba-tiba dijerut kita dengan kesedihan. Selayaknya buku ini saya berikan 5 bintang di #Goodreads .
Bagian yang paling sedih buat saya ialah apabila seseorang gagal membedakan yang mana kebutuhan dan yang mana kesunyian. Itu paling menjerut rasa. Kita sudah semestinya tidak mahu dijadikan pengisi kesunyian dan bukan opsyen untuk kehidupan orang lain
Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
February 9, 2017
"Kalau ada hal yang paling aku takutin, itu adalah kehilangan kamu, tapi aku lebih takut kalau aku melewatkan kamu."

Selengkapnya >> http://resensibukunisa.blogspot.co.id...

Kesan pertama saya saat membaca buku ini..., ini adalah sebuah buku yang ringan. Mengejutkan bahwa sebuah buku yang ringan, banyak mengambil setting dan unsur keseharian yang biasa banget, menjadi sebuah karya yang unik, menarik, dan manis. Ceritanya biasa saja, tidak ada konflik yang begitu bombastis. Namun, di tangan yang tepat, cerita biasa tentang kehidupan sehari-hari bisa menjadi sesuatu yang manis. Kisah-kisah seperti obrolan di trotoar (scene yang paling saya suka), di teras indekos, di tempat-tempat makan yang biasa (bukan restoran mewah serba wah), bahkan di rumah dengan karakternya berbalut daster kuning (kayak Pikachu *heh*), berhasil disajikan dengan memikat. Membuktikan bahwa tidak butuh yang "luar biasa" untuk menciptakan sesuatu agar menjadi "luar biasa".

Untuk karakter Aldo sendiri, saya mendapatkan sosok yang apa adanya (meskipun penampilan fisiknya si Aldo ini berambut keribo, entah mengapa saya selalu terngiang-ngiang penulisnya yang menjelma menjadi Aldo, ya? #eh). Biasa namun istimewa. Keistimewaan karakter ini adalah dari kesederhanaan dan tampilan biasanya itu. Pun begitu juga dengan Jenny, yang tampil seperti karakter-karakter manusia pada umumnya. Jenny punya pemikiran yang pada suatu saat, membenturkan dia untuk mengubah pandangannya tersebut, dan bagaimana cara dia meyakinkan orang lain untuk keluar dari pemikiran mereka pula. Dalam hal ini, Aldo dan pandangannya tentang pernikahan. Karakter dia begitu dinamis, dan mengalami perubahan dengan disertai alasan logis mengapa dia seperti itu.

Untuk tema sendiri, tentang alasan mengapa seseorang memutuskan untuk tidak menikah, rasanya cukup masuk akal. Apalagi, tentang ketakutan menjalani hubungan karena takut hal-hal di masa lalu yang pernah dialami kembali datang. Ketakutan-ketakutan seperti itu kerap terjadi dalam kehidupan manusia. Dan memang, butuh proses yang tidak mudah untuk bisa keluar dari itu.
Profile Image for Nabila Budayana.
Author 7 books80 followers
March 23, 2017
Melihatnya beberapa kali hilir mudik di media sosial beberapa bulan sebelum Elegi Rinaldo di tangan, saya belum punya ide ke mana kisah akan dibawa ketika melihat sampulnya. Ada berbagai dugaan. Apa ini kisah sedih seekor panda bernama Rinaldo? Dari nuansa lembut sampulnya, mungkin buku ini menyajikan kisah manis. Pertanyaan saya tak terjawab hingga beberapa hari lalu. Karena sesuatu hal, saya beruntung mendapat kiriman dari Bara berisi buku ini (terimakasih, Bara!).

Ternyata ini bukan tentang panda. Namun tentang laki-laki dan perempuan yang saling mencintai, namun mengalami berbagai hambatan untuk memulai. Keraguan, prinsip, gengsi, hingga orang ketiga yang membuat cinta mereka tak kunjung bertemu. Saya bisa menangkap kerapian Bara dan flow yang enak. Namun hingga pertengahan, saya semakin merasa jika buku ini kisah yang, setidaknya, bukan untuk saya. Bara menaburkan banyak pernik-pernik masa kini yang ada di mana-mana. Seakan Bara sengaja menambahkannya sebagai "syarat" ciri dari kisah yang akan ditampilkan. Dalam kepala saya yang sok tahu, mungkin Bara sejatinya bisa menggunakan pernik lain yang lebih klasik dan tak terduga, namun karena keharusan, Bara justru memilih sebaliknya. Masa kini dan sederhana.

Di menuju akhir, dinamika kisah baru terasa. Konflik mulai ditarik ke puncak. Namun, karena itu pula bagian akhirnya terasa agak terlalu terburu. Pemilihan ide cerita dan bagaimana cerita disampaikan tidak terlalu sukar ditebak. Meski begitu, Bara tetap hadir dengan kelihaiannya menyampaikan cerita agar nyaman diikuti sebagai sebuah kisah yang bisa dibilang utuh.

Jika kata komponis kontemporer kebanggaan Indonesia, Slamet Abdul Sjukur terhadap musik, "Ada yang suka, ada yang nggak suka, nggak masalah." begitu juga dengan karya ini.
Bagi saya Elegi Rinaldo seperti beberapa genre musik. Saya kurang cocok dengannya, namun masih bisa mengingatnya.
Profile Image for Ayik Aryoni.
34 reviews5 followers
May 27, 2019
Okay pertama saya baca buku ini karena penulisnya adalah Bernard Batubara, bukan karena Blue Valley Series, saya bahkan tidak tertarik dengan buku lainnya dari Blue Valley series. Saya membaca buku ini dari jam 3 sore sampai jam 10 malam. Itu pun masih ada jeda pergi makan ke food truck & buat Q&A untuk tugas presentasi. Saya sangat suka kesederhanaan cerita dari buku ini. Bagi saya yang pecinta romance ringan ini adalah salah satu buku yang sangat menyentuh. Namun agak kecewa dengan cara meninggalnya Tante Fitri, terlalu klise, coba bayangin dia meninggal ketabrak kendaraan juga? bukankah itu akan memberikan pukulan yang tebih keras ke Aldo? Yeah tentu saja wejangan-wejangan dari Tante Fitri pasti akan banyak yang hilang. Sebenarnya tidak peduli bagaimana ceritanya yang mudah ditebak tapi bagaimana cara Sang Penulis masih bisa membuat kita membaca cerita ini walau kita sudah tahu akhirnya dan bagaimana Sang Penulis meramu setiap kata dalam ceritanya, disanalah letak keindahaannya. Last but not least I like this book.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Utha.
824 reviews401 followers
June 14, 2021
Kisah Aldo yang selalu "ditinggal" ini menjanjikan. Dari seri BV yang aku baca, menurutku yang ini yang deskripsinya terasa. Bagaimana Aldo ketemu Jenny; tarik ulur mereka, enak banget dibaca. Beberapa hint yang tersebar juga bikin novel ini page turner. Di sisi lain, terasa banget formula novelnya. Plus karakter yang sebenarnya bisa ngegerakin plot jadi sekadar tempelan (dalam kasus ini karakter Dipa). Jadi, 2,5 bintang.

PS: Yeay, ada lagi buku yang bakal aku taruh sembarangan di mal~
PS2: Bagaimana(nggakpakespasi)pun :))
Profile Image for Siraa.
260 reviews3 followers
September 13, 2021
Buku pertama dari series Blue Valley yang saya baca. Bercerita tentang Aldo, seorang Food Photographer yang jatuh cinta dengan seorang chef dari cafe pembuat Pastry, Jenny. Secara keseluruhan, aspek Romantisme di buku ini biasa saja, sederhana dan tidak banyak liku-likunya. Miriplah kayak kisah FTV jam 1 siang yang alurnya benci terus terakhir saling suka. Satu hal, Bernard Batubara membuat buku ini susah dilepaskan karena ringannya cerita yang diberikan. Saya sampai kaget saat Novel ini selesai padahal masih hype-hypenya. Kecewa sih tapi yah... udahlah.
Profile Image for Indriani.
67 reviews1 follower
February 26, 2017
Elegi Rinaldo berkisah tentang pemuda kribo yang tak lagi menyukai roti. Dialah Aldo, food fotografer yang hampir memasuki usia kepala tiga – 28 lebih tepatnya – namun tak jua berniat untuk menikah. Baginya menikah itu adalah sesuatu yang konyol dan terikat dalam sebuah pernikahan adalah perbuatan bodoh. Toh, kalau sendirian saja sudah bebas dan bahagia ngapain juga harus menikah. Meskipun begitu, orang-orang terdekat Aldo – Tante Fitri, yang cerewetnya minta ampun dan penyuka Rihanna. Begitupun dengan Mbak Ratih (klien pertama Aldo yang membuatnya merasakan rindu akan kelengkapan sebuah keluarga) – malah mendoakan agar dirinya segera membina rumah tangga.

Ternyata bukan hanya Aldo yang menganggap menikah itu konyol, Jenny pun sama. Chef andalan UNO ini punya alasan mengapa dia berpikiran begitu. Alasan yang berasal dari masa lalunya.
Dua orang yang berpikiran sama. Bekerja dalam satu lingkungan dan sering menghabiskan waktu bersama, mungkinkah ada yang terjadi di antara mereka?

Lengkapnya : https://wordsofbook.wordpress.com/201...
Profile Image for MAILA.
481 reviews120 followers
January 3, 2017
pernah mengira gak sih kalau patah hati yang kamu rasakan itu bisa membawa berkah?

(ps, catatan dan review ini bakalan panjang xD)

***

awal tahun lalu saya sempat putus-nyambung dengan seseorang. kami putus-nyambung terus sampai akhirnya bulan Maret kami benar2 berhenti dan entah bagaimana ceritanya tiba2 dia sudah punya perempuan baru: yang membuat kami tidak bisa nyambung lagi setelah putus.

saya sempat merasa marah, tidak percaya. sejak dulu kalau kita putus tuh ya nyambung lagi, gitu pikir saya. dan seharusnya yang sekarang pun juga demikian. tapi ternyata tidak. dan bahkan beberapa minggu setelah saya tau dia sudah punya perempuan baru, dia sudah mulai ''hunting'' seputar EO pernikahan yang sesuai dengan keinginannya.

ketika itu saya nggak nangis, gak galau sampai nge-bomb status di sosial media. setiap hari saya juga masih bisa beraktivitas seperti biasa. tapi ''patah hati'' itu menyerang raga saya. saya ingat saya pernah makan nasi 4 hari sekali karena nggak pernah merasa lapar. efek patah hatinya lari ke berkurangnya nafsu makan. untung saya gak sampai pingsan atau di rumah sakit sih. tapi saya ingat. rasanya tuh gak enak banget dan capek banget.

tapi akhirnya saya bisa bangkit; dengan cara berkenalan dengan banyak tokoh fiksi melalui buku ataupun berekenalan dengan banyak orang baru. dan saat akhir tahun kemarin pas mbak Jia membuat kuis untuk menuliskan tentang kehilangan- saya dengan cukup berani menuliskan kisah saya itu.

saya ingat, waktu saya membuat tulisan itu, tidak ada satupun perasaan marah, benci ataupun rasa sakit yang masih terasa. saya bahkan membuat cerita itu sambil mengingat dan tertawa. kayak apa ya, lucu aja gitu kalau ingat pernah gak makan sampai 4 hari. soalnya sekarang telat makan dikit aja bisa uring2an dan pas udah makan bisa nambah sampai 2x wqwq.

patah hati dan rasa sakit itu tidak ''membunuh'' saya. ia justru membawa berkah yang membuat saya menjadi produktif dan optimis menang dalam mengikuti banyak lomba dan kuis. termasuk kuis menulis ini hingga saya bisa berkenalan dengan warga Blue Valley

***

Mari kita mulai tentang buku ini. Jujur saja ya, saya kurang menyukai mas Benzbara dan mas Aan Mansyur. Sebenarnya tidak hanya mereka berdua sih. sejak dulu saya kurang bisa menyukai penulis laki-laki. apalagi kalau ia novelis.

cerita dalam novel biasanya panjang. dan biasanya kalau penulisnya laki-laki, saya akan membayangkan tokoh yang ditulis itu ya sebagai penulisnya. nah kalau saya ''sedikit'' tau bagaimana kisah penulis ini di dunia nyata/dunia mayanya, imajinasi saat saya membaca karyanya itu bisa rusak karena tercampur-campur. dan hal itu membuat saya kurang bisa menikmati karyanya dengan baik.

makanya saya sangat menyukai raditya dika. karya tulisan dan imej yang dia bangun di dunia mayanya sangat mirip. jadi tiap membaca karyanya saya bisa membayangkan dengan baik. sementara imej mas Aan dan benzbara di dunia maya yang saya lihat itu mereka seperti apa ya... agak puitis2 gitu. karya mereka ya hampir2 mirip sih dengan imej mereka. tapi pas saya baca dan mbayangin itu saya merasa kayak ''hiih apaan sih'' gitu sendiri wqwq. ngerti gak? xD

waktu berkenalan dengan Aldo, saya membayangkan beliau itu bang benzbara-nya. apalagi kalau gak salah ya (uhuk) tahun lalu bang bara juga habis putus(?) atau entahlah yang membuat timeline-nya banyak berisi tentang kehilangan. jadi selama membaca sampai selesai, saya sama sekali tidak bisa membayangkan sosok wajah lain untuk aldo. bahkan saat saya mencoba membayangkan kalau dibuat film yang cocok meranin siapa itu ya cuma benzbara yang terbayangkan.

cerita yang ditawarkan buku ini sebenarnya terlalu biasa ya. khas ftv banget dan menurut saya terlalu ringan untuk kategori kehilangan. saya selesai membaca ini sekitar 60-70 menit dan pas sudah selesai saya sempat mengulang beberapa bab untuk mencari sesuatu yang menurut saya kurang.

entah perasaan saya saja atau bagaimana, ada beberapa masalah yang sepertinya tidak dikulik mas bara dengan baik. seperti misal aldo dan jenny yang takut menikah itu. pembahasannya kayaknya cuma ada di awal saja. pas bagian akhir sempat dibahas juga tapi menurut saya kurang dapet.

pembahasan soal panda juga. dari awal saat buku ini terbit saya sudah nebak sih, ah paling salah satu tokohnya ada yang suka panda. nggak mungkin kan ini kisah tentang 2 orang penjaga kebun binatang spesialis panda??

pembahasan panda di buku ininya sedikit. padahal pandanya itu menjadi ciri khas sampulnya. saya kira pandanya ini juga bakal kayak jadi panggilan sayang gitu. kayak panggilan sayangnya si aldo ke jenny karena gaya berpakaian jenny yang sering hitam-putih atau sejenis itu. tapi ternyata hanya dibahas sambil lalu dan tidak menimbulkan kesan yang istimewa untuk saya.

saya memberikan rate 3 bintang pas.

hal lain yang membuat saya kurang menyukai buku ini adalah perihal nama tokohnya. untuk yang belum tahun, kriteria saya memberikan bintang pada sebuah buku biasanya karena hal-hal ini (nama tokohnya menarik, nama tokohnya pas dengan pekerjaan dan lokasi tinggalnya, eksekusi ceritanya bagus tidak peduli apapun temanya).

nah untuk Elegi Rinaldo ini, nama-nama semua tokohnya gak ada yang saya suka. saya tau di dunia ini ada yang namanya wicak. tapi untuk kategori cowok metropolitan dan punya pacar yang bernama dinda..kayaknya kurang pas aja gitu. dia kayak lebih cocok bernama dimas(?).

saya juga kurang suka dengan nama fitri (tante fitri). di bab awal dia digambarkan sebagai tante yang cerewet dan bergunjing dengan orang lain. dia juga digambarkan sudah mulai tua dan keriput trus sering batuk2. bayangan saya beliau berjilbab gitu, lemah lembut kayak desi ratnasari lah. tapi pas di akhir2 saat dia ke salon dan mewarnai rambutnya, trus pakai dress warna terang dan terlihat muda (walaupun masih sering batuk2 juga), saya langsung merasa ''zonk''. kayak ''lha bayangan w salah'' dan akhirnya sampai halamannya selesai, bayangan saya tentang tante fitri jadi kacau.

trus kisahnya Aldo-Jenny juga kayaknya terlalu cepat. apaan sih tau2 dah main ciam cium aja. apaan sih kok main baper2annya gitu banget.

percaya deh, kalau kamu ngeliat saya pas baca ini pasti ikutan ketawa. soalnya pas saya baca dan ada bagian yang udah mulai baper2 gitu saya suka langsung nutup buku dan teriak ''apaan sih'' trus abis itu baca lagi bukunya. pas ada bagian yang agak lucu dan bikin saya ketawa juga langsung saya banting bukunya dan teriak ''apaan sih'' trus baca lagi. gitu terus sampai akhirnya sampul buku ini lecek wqwq.

saya mbayanginnya bang bara.
dan kayak ngerasa aneh sendiri aja gitu ngebayangin bang bara melakukan hal2 yang dilakukan aldo wqwq

dan yah, meskipun tidak terlalu membekas dengan baik di benak saya, tapi saya senang perkenalan awal saya dengan warga blue valley berjalan cukup menyenangkan. dan oh, saya pikir di buku ini bakal ada trivianya gitu muncul salah satu tokoh yang nanti bakal ada di buku ke-2. ternyata gak ada hhe.

beberapa kutipan kesukaan

i want to marry you.

udah siap ketemu papa-mama aku?

aku enggak bakal ngomong kayak barusan kalau belum siap.

i still can't believe it.

apa? aku ngajak kamu nikah?

iya.

karena kita bahkan belum sempat pacaran? atau kayaknya kecepetan?

dua-duanya.

seperti tadi yang aku bilang tadi, dan kamu juga bilang, kita udah capek buat pacaran.

kamu yakin mau ngabisin sisa hidup sama aku?

Jenny, selama ini aku jalanin hidupku begitu aja, tanpa bener-bener ngerasa udah ngambil keputusan penting. tapi ini, yang aku bilang barusan ke kamu, salah satu keputusan terpenting dalam hidup aku yang aku ambil dengan sadar. dan kalau aku sudah memutuskan ini, artinya enggak ada lagi yang bikin aku ragu.

meski malu mengakuinya, tapi saya nangis baca percakapan itu.

***

buku ini belum mengubah pandangan saya terhadap bang bara sih. saya masih belum bisa ''sreg'' dengan karya bang bara dalam bentuk novel. dan dengan berat hati, saya masih menjuluki bang bara dengan penulis yang karyanya ''cengeng''. bukan jenis buku yang akan saya pilih saat ke toko buku. satu2nya karya bang bara yang sudah saya baca dan cocok dengan saya hanya Milana. sisa lainnya kurang bisa saya nikmati dengan baik.

ada yang pernah bilang, penulis yang baik harus bisa menciptakan karya dimana saat pembaca membaca tulisan tersebut, bukan si penulisnya yang dibayangkan. tapi orang lain. nah saya masih gak bisa selama baca karya bang bara.

mungkin bang bara minat membuat jenis tulisan lain? yang agak ceria sedikit(?)

dan oh, terakhir.

pada saat saya patah hati dan tahun lalu, kebetulan salah satu om saya meninggal. dan istrinya (bude) sempat saya rawat sampai beberapa bulan sampai ia sudah bisa bangkit dan bekerja lagi. pada waktu itu saya memiliki ketakutan untuk menikah (sama seperti yang dialami jenny dan aldo. ibu saya ditinggal karena ayah saya memilih wanita lain, bude saya ditinggal meninggal suaminya). saya sedikit berharap banyak saat membaca buku ini bahwa setidaknya mungkin setelah selesai, ketakutan saya akan pernikahan akan sedikit berkurang.

tapi pas selesai masih tidak berkurang. saya sampai niat sih membuat corat coret 5w+1h kenapa saya takut menikah berdasarkan fakta dan ketakutan2 saya dan juga alasan yang digunakan aldo dan jenny. tapi saya tidak lantas tercerahkan. saya masih memiliki pendapat sendiri saja itu baik.

tapi gatau deh ya kalau besok atau saat selesai nulis review ini saya bakal ketemu ''aldo'' atau ''jenny'' lain yang bisa mematahkan pendapat saya itu wqwq.

ah, mari kita lanjut berkenalan dengan warga blue valley yang lain~
Profile Image for Satrio Budiman.
1 review
February 9, 2017
Hal yang pengen gue bilang sebelom review ini adalah "Boleh gak sih reques perempuan 1 aja kayak Jenny". Hahaha

Rinaldo? cowok yang bener2 bikin siapapun kesel pas tau nih karakter. dengan cara pola pikir dia yang gak peduli sama keadaan sekitar gak peka lah istilahnya. tapi di balik itu semua Aldo punya respect yang tinggi sama tante Fitri orang satu satunya yang dia punya. selelah 3 orang yang dia sayangi pergi ninggalin Aldo. Aldo sendiri orangnya gak terlalu mikirin tentang pasangan hidup, dia ngejalanin hidupnya hari demi hari gak pernah mikir punya pacar apa lagi istri, selagi dia bahagia sama yang dia jalanin yaudah itu bakal Aldo lakuin. kalo dibilang nih orang "Jomblo yang elegan".

tante Fitri? tokoh yang satu ini mah emang paling bisa bikin siapa pun yang kenal dia ketawa, karena sering banget nyerang Aldo denger pertanyaan kapan punya istri dan ngedesak Aldo buat cepet2 punya pacar. secara umur Aldo yang udah 28 tahun. tante Fitri takut Aldo jadi perjaka tua hahaha...
tapi dibalik itu semua niat tante Fitri sebenernya baik kok, dia cuma pengen liat ponakannya bahagia dengan cara Aldo punya seseorang di sampingnya. dan tokoh ini juga yang bikin susana lebih hidup. tapi sayangnya tante Fitri cuma bisa liat Aldo bahagia dari atas sana :"(

Jenny?? perempuan yang satu ini dari deskripsi sih penulis orangnya cantik, rada mungil2 gitu deh postur tubuhnya, buat gue sendiri karakter jenny ini paling gue suka (yaiyalah masa gue naksir Aldo). jenny ini bisa dibilang perempuan yang 1 pola pikir sama Aldo, gimana gak sama jenny mikir kalo pacaran tuh cuma buang2 waktu dan tenaga. jenny pernah bilang ke aldo.


"Konyol enggak, sih? kata jenny. "Orang-orang ngorbanin mimpi mereka cuma buat nikah, " Jenny melanjutkan. "Yang belom tentu juga bikin lo happy."


dari situlah Aldo dan jenny punya kesamaan, yaps! mereka mikir kalo pernikahan itu bukannya buat mereka bahagia tapi malah buat mimpi2 yang mereka mau sia-sia gitu aja.

dari segi cerita gue suka semuanya, ngalir apa adanya, konflik antara aldo sama jenny juga bisa dibilang ringan, dibilang berat juga gak, mereka sama-sama punya pola pikir dewasa buat nyelesain masalah yang ada. gue sendiri juga sempet dibuat geregetan sama mereka berdua, gemes karena aldo sebenernya suka sama jenny tapi belom berani buat bilang sedangkan jenny sendiri kode abis-abisan supaya aldo tuh peka. bawaanya tuh pengen bisikin Aldo...

"Woy do!! jenny tuh suka sama lo!."

tapi gue seneng akhirnya Aldo bisa peka juga, yaa setelah sih jenny nolak aldo. gak nolak juga sih tapi kaya sinyal buat aldo gak ngejar jenny lagi. namanya juga perempuan sok-sok jual mahal dikit wajar. buat Aldo, dijaga Jenny nya baik-baik.

yaudalah sekian dari gue buat review novel #EligiRinaldo karya bang bernard batubara. dan gue tunggu next novelnya.
Profile Image for Athaya Irfan.
187 reviews72 followers
January 10, 2017
Elegi Rinaldo, tentang kesendirian pria 28 tahun bernama Aldo yang ditinggal mati kekasih dan orang tuanya. Bekerja sebagai food fotografer hidupnya aman-aman saja. Hanya mimpi mimpi buruk kerap merasuki tidurnya dan tak ada usaha darinya untuk menyembuhkan dirinya sendiri dari bayang masa lalu.

Jenny, dulu ia pernah menjalin kasih dengan seniornya di sekolah kejuruan. Itu seperti mimpi ketika Dipa menyatakan cinta padanya. Dia tampan, famous dan jadi pujaan gadis-gadis tapi entah kenapa Jenny lah yang dipilihnya.

Waktu berlalu, perasaan sama halnya dengan waktu. Dipa telah jadi masa lalu. Namun kenapa masa lalunya masih terus mengengejar Jenny di saat dirinya telah nyaman bersama Aldo?

***

Ini karya Bernard Batubara lho, tapi untuk kesan pertama membaca bukunya saya hanya bisa bilang "Nanggung, Bar."

Saya nggak bermaksud bilang kalau gaya menulisnya membosankan atau apa, tapi buku ini santai sekali. Goes with the flow. Standar. Datar. Dimana serunya?

Apakah ini ada kaitannya dengan jumlah halaman yang dibatasi tidak lebih dari 200 halaman makanya cerita tidak berkembang lalu penulis menuliskan kisah Aldo-Jenny hanya segitu saja? Seadanya?

Ini Bara lho, penulis Metamora Padma. Memang sih saya belum baca buku itu tapi review dan kesan pembaca terhadap karya sebelumnya kan bisa jadi gambaran karya dia berikutnya akan seperti apa.

Kalau dibilang eksekusi ceritanya manis, ia manis tapi standar saja. Manis yang sederhana. Manis yang sudah pernah ada namun dikemas seringan awan. Tidak tertahan lalu menguap begitu saja.
Profile Image for Vie.
3 reviews
February 11, 2017
Baca buku ini rasanya seperti di tampar pada setiap lembarnya. Bukan bermaksud sok baper atau apalah yaa, tapi ceritanya sangat pas dengan yg saya rasakan saat ini. Menikah. Komitmen. Bahkan mantan pacar yang sekarang datang kembali. Thanks so much Bang Bara udah nulis ini.
Profile Image for Syahrina Nurul.
2 reviews
December 17, 2016
No, you don't need me. You're just lonely!
good story tapi ceritanya gampang banget ketebak!
Profile Image for ifan.
47 reviews15 followers
December 21, 2016
Setidaknya novel ini mengubah persepsiku terhadap novel-novelnya Bara. Menyenangkan!
Profile Image for Putra Marenda.
Author 1 book1 follower
December 24, 2016
Penulisannya sangat rapih, mengalir dan ringan. Seharusnya saya beri bintang 5, tpi saya rasa konfliknya terlalu ringan ya? but overall menghibur, saya suka diksinya, simpel dan saling terkait.
Profile Image for Ayah & ibu.
52 reviews1 follower
January 19, 2017
Elegi Rinaldo, ringan, agak menyedihkan, tapi tetap bisa dinikmati tanpa menye-menye...

Bacaan bagus untuk mengisi waktu senggang atau selagi duduk cantik di sudut startbuks
Profile Image for Oktafiyani.
9 reviews6 followers
January 31, 2017
Ketika saya mulai membaca novel ini, rasanya seperti minum es teh manis, minuman favorit saya. Menyegarkan, sederhana dan tentu saja, manis.
Profile Image for Awanama.
85 reviews6 followers
September 24, 2018
Saya Jadi Ingin Membaca Karya Bernard Batubara Lainnya Karena Tiga Hal dalam Elegi Rinaldo

ulasan ini bisa dibaca juga di https://al-ulas.blogspot.com/2018/09/...

Apa yang asyik dari mencicipi sembarang penulis yang karyanya belum pernah dibaca? Salah satu jawabannya adalah kadang kita jadi menyadari suatu aspek dalam pengalaman membaca yang biasanya diluputkan. Itulah yang saya alami ketika membaca Elegi Rinaldo. Tikaian dan penyelesaiannya sejak awal cerita sudah amat jelas. Ada lelaki lajang yang punya masalah dengan menikah dan ada perempuan yang amat gamblang difungsikan sebagai sosok yang akan mengubah pandangan lelaki itu. Jadi kita tinggal menikmati saja laju ceritanya sampai akhir. Barangkali itulah sebabnya saya jadi memerhatikan hal-hal lain selama membaca. Berikut adalah tiga hal yang saya amati ketika membaca kontribusi Bernard Batubara dalam seri Blue Valley ini.

Pertama, latar kota Jakarta. Kebanyakan novel yang saya baca selama tahun ini tidak berlatar di Indonesia. Novel terakhir berlatar Indonesia, tepatnya Jakarta, yang saya baca adalah Interlude Windry Ramadhina. Dan satu-satunya latar yang meyakinkan di situ pun hanya ada ketika para tokohnya berlibur ke salah satu gugusan Pulau Seribu. Jadi saat mendapati Jakarta dalam Elegi Rinaldo, saya merasa latar itu digambarkan dengan segar. Tentu saja nama perumahan Blue Valley tempat tinggal Rinaldo bukan yang saya bahas di sini. Yang saya maksud adalah tempat-tempat lain, seperti lokasi kafe UNO, co-working space, kawasan Kemang, dan Grand Indonesia. Lalu, kosan Jenny yang ada di suatu gang yang mulutnya dekat dengan minimarket di kawasan Cilandak. Latar itu makin hidup dengan komentar-komentar para tokohnya akan keadaan kota Jakarta yang diletakkan pada adegan yang relevan. Mulai dari trotoar yang tidak bisa dipakai jalan kaki karena digunakan tukang sate, pembangunan jalan layang yang entah kapan beresnya, dan tentu saja kemacetan. Saya tidak ingat kapan terakhir kali menikmati latar cerita sebagai sesuatu yang bisa berdiri sendiri. Jadi saya menganggap sensasi ini sebagai suatu nilai tambah.

Kedua, adegan ciye-ciye alias adegan goda-goda romantis. Adegan semacam ini bertaburan dalam Elegi Rinaldo. Lihat saja ledekan antara Rinaldo dan Jenny di kafe UNO setelah malam sebelumnya mereka berciuman karena terbawa suasana. Ada yang jadi ceria ‘gitu. Lihat juga obrolan mereka setelah Jenny mengunggah foto Rinaldo di Instagram dan memberi keterangan berisi ledekan atas keseriusan ekspresinya. Adegan-adegan semacam itu membuat tokoh-tokoh itu lebih terasa seperti orang sungguhan yang tidak melulu memikirkan traumanya atau terlilit gairah cinta yang sengit. Selain itu, tentu saja adegan semacam itu menjadi penyegar bagi alur. Saya jadi penasaran dengan adegan-adegan serupa dalam karya-karya lain. Mungkin saya bisa membuat artikel “7 novel dengan adegan goda-goda romantis terciye” atau semacamnya.

Ketiga, benda sebagai unsur penguat identitas tokoh. Dalam kasus Elegi Rinaldo, kebanyakan benda tersebut adalah makanan. Roti adalah benda yang amat mengingatkan Rinaldo pada kejengkelannya terhadap ibunya. Gara-gara roti Rinaldo dan Jenny berseteru. Sate pinggir jalan menunjukkan sisi Rinaldo sebagai fotografer makanan yang suka berburu makanan kaki lima. Lalu, rawon hangat di tengah cuaca dingin yang turut andil menghangatkan hubungan Rinaldo dan Jenny. Lalu banyak lagi makanan lain yang dibahas dalam buku ini. Cukup menyegarkan membaca bagaimana cerita difokuskan pada suatu makanan lalu makanan itu dijadikan titik pijak untuk mengembangkan cerita atau menggali tokoh lebih dalam.

Tiga hal ini memberi saya pengalaman membaca yang dalam beberapa buku terakhir tidak saya temui. Dan bukankah menyadari suatu aspek dalam kegiatan membaca yang jarang diperhatikan adalah hal yang membahagiakan bagi para pembaca? Atas dasar itulah saya berterima kasih pada Elegi Rinaldo. Saya akan berterima kasih dengan cara membaca karya-karya Bernard Batubara yang lain.
Profile Image for Watin Sofiyah.
32 reviews2 followers
March 15, 2017
Tanpa basa-basi lagi.

Elegi Rinaldo adalah novel ketiga yang saya baca hanya dalam tujuh jam dipotong waktu untuk makan, sholat dan membalas chat. Saya adalah tipe orang yang tidak mudah menamatkan bacaan hanya dalam satu malam. Bahkan novel yang tipisnya hanya 100 lembar pun butuh waktu berbulan-bulan untuk saya menamatkannya. Kecuali jika cerita itu memang menarik untuk saya dan mampu menenggelamkan saya di dalam kisahnya. Ya, menurut saya ini bersifat subjektif dan sesuai dengan selera masing-masing.

Elegi Rinaldo.

Awalnya saya tidak mengerti kenapa ada gambar panda di covernya dan apa sih yang sebenarnya terjadi dengan Rinaldo. Bayangan saya, Rinaldo adalah seseorang yang sangat-sangat tertutup (ini efek membaca blurbnya). Tapi, setelah saya membaca lembar demi lembar hingga menamatkan novel ini saya menemukan jawaban atas pertanyaan saya.

Aldo atau Rinaldo jauh dari bayangan saya. Dia bukan orang yang sangat tertutup hingga tidak mau berbicara dengan orang lain, bukan seperti itu. Dia memang cuek tapi menurut saya tidak terlalu cuek juga sih. Entah kenapa setiap membaca adegan Aldo apapun itu, saya tidak bisa membayangkan Aldo dengan rambut kribonnya haha. Yang mampu saya bayangkan adalah saat dia akan memotret. Saya membayangkan kafe UNO, membayangkan pencahayaan menggunakan sinar matahari alami, membayangkan bagaimana Aldo mengatur lensanya saat akan memotret, membayangkan makanan-makanan yang dia atur sedemikian rupa, hingga membayangkan hasil dari potretannya.

Lalu Jenny. Cewek ini sudah membuat saya tertawa saat pertama muncul. Apalagi saat Dinda memanggilnya untuk bertemu Aldo lalu dia berteriak dari dapur. Ya ampun, ada ya cewek kayak gitu hahaha. Tapi semakin ke akhir cerita, sosok Jenny yang galak mulai tergantikan oleh sosoknya yang menarik. Ya, saya menarik kesimpulan yang sama dengan Aldo bahwa Jenny itu menarik. Oya, satu lagi, dialog “Yuk, pikachu.” Itu bikin saya ngakak. Astaga… wkwkwk.

Kemudian tentang Tante Fitri. Karakter ini itu hidup banget. Saya bisa membayangkan lagu Rihanna yang diputar keras-keras, dia yang bergosip dengan tetangga, dia yang menasehati Aldo, bahkan saat ia harus pergi untuk selama-lamanya. Bagi saya, tokoh ini itu ibaratnya bikin orang ketawa di awal tapi nyesek di akhir.

Well, novel ini itu ringan. Cocok menjadi bacaan saat kamu sedang bersantai. Saya bahkan sering tidak sadar. Ini beneran bang Bara yang nulis? Kok enggak ada kalimat-kalimat puitis seperti biasanya. Saya suka karena Bang Bara memadukan dua profesi, koki dan food fotographer (semoga benar yaa namanya ini) hahaha. Jadi kesannya mereka itu pas. Di novel ini pula, yaa… seperti kehidupan pada umumnya. Jadi bukan muluk-muluk tentang eksekutif muda atau apalah itu. Saya bisa membayangkan indekos Jenny, gang masuk ke indekosnya, Jenny dan Aldo saat naik sepeda motor, Aldo yang menyalip mobil agak tidak terjebak macet. Yaaa… ibaratnya keseharian Aldo dan Jenny yang ada di dalam novel ini merupakan kegiatan sehari-hari yang memang terjadi di masyarakat. (btw, ngerti engga sih maksud saya?)

Saking asiknya membaca novel ini, saya sampai lupa menandai quotes yang ada di dalam novel. Entah ada quotes atau tidak saya juga tidak tahu karena saking asiknya membaca hehehehe.

Baiklah, sekian review abal-abal dari saya hehehehe. Jangan lupa membeli bukunya, ya!

Sstt… saya sudah membaca Elegi Rinaldo padahal Metafora Padma belum keluar dari plastiknya. Hihihihi.
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,442 reviews73 followers
April 22, 2023
Seri Blue Valley yang satu ini ceritanya lebih terkesan ABG dengan pola tarik-ulur antara Aldo dan Jenny yang menyebalkan. Sudah jelas sampai ciuman tapi tetep nggak menegaskan hubungan? Argh! Mbulet ae!

Ini buku kedua Bernard Batubara yang kubaca. Buku pertama adalah Jatuh Cinta adalah Cara yang Paling Tepat untuk Bunuh Diri. Aku merasakan gaya menulis Bernard Batubara di Elegi Rinaldo ini berubah. Kalimat-kalimatnya lebih terasa ringkas dan to the point. Karena itulah buku ini bisa dengan cepat kutuntaskan. Mulai dari malam sebelum lebaran sampai siang ini. Nggak sampai satu hari.

Aku suka bagaimana Bernard Batubara memasukkan unsur food photography di sini. Sayangnya tidak diceritakan bagaimana Aldo mencari ide untuk ikut lomba A Slice of Food. Kukira bagian itu bakal jadi elemen pembangun cerita yang penting. Ternyata tahu-tahu udah pengumuman aja.

Aldo dan Jenny tadinya tidak menyukai satu sama lain. Baru ketemu aja Jenny udah judes, padahal Aldo datang ke kafe untuk memotret roti-roti buatannya. Emang ada ya orang nyolot kayak Jenny yang nyolotnya ke orang yang baru dia kenal? Edan. Tapi nggak dijelaskan juga kenapa sifat Jenny begitu.

Perubahan sikap Jenny karena sikap gentle Aldo yang menemaninya menunggu uber sungguh smooth. Itu juga karena kesamaan sudut pandang mereka yang sinis soal pernikahan. Tapi momen itu langsung rusak karena Aldo memuntahkan roti buatan Jenny. Dia punya kisah yang sangat personal terkait ketidaksukaannya pada roti. Aku aja sampai shock waktu baca adegan ini. Tapi setelah Aldo dekat dengan Jenny dia diceritakan dengan lempengnya memakan sebuah sandwich. Memang nggak dihabisin sih, tapi sensasi mengganggu yang dirasakan Aldo jadi kurang terasa. Secepat itu selera berubah cuma karena lagi dekat sama seseorang? Hmm....

Aldo punya trauma yang cukup mendalam terkait keengganannya menjalin hubungan serius dengan orang lain. Ibu dan tunangannya meninggal dalam kecelakaan mobil yang disetiri Aldo sambil mengebut. Kejadian itu terus menghantuinya sampai terbawa mimpi. Ini juga alasan kenapa dia ngegantungin Jenny terus di sepanjang cerita. Arggghhhhh!

Ironisnya, justru kehilanganlah yang akhirnya membuat Aldo menyadari betapa ia membutuhkan Jenny. Kehilangan karena kanker paru-paru. Tapi aku jadi bertanya-tanya, kok bisa orang yang nggak merokok dan nggak dekat dengan perokok kena kanker paru-paru? Itu nggak cukup dijelaskan di sini.

Overall, dengan segala lebih-kurangnya buatku buku ini lumayanlah. Enak dinikmati sebagai cemilan alias bacaan ringan.
Profile Image for Kurnia Dwi Aprilia.
216 reviews4 followers
February 16, 2019
Aldo mengalami trauma kehilangan semenjak mama dan kekasihnya, Rahayu, meninggal dalam sebuah kecelakaan yang disopiri dirinya. Sejak saat itu Aldo tinggal bersama tantenya yg juga hidup seorang diri karena ditinggal bercerai oleh suaminya dengan alasan karena tidak bisa memberikan keturunan.
Sejak kepergian Rahayu dalam hidupnya, Aldo tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan manapun. Dia trauma, takut sewaktu-waktu akan ditinggalkan lagi oleh orang yg dicintainya, sekaligus merasa bersalah. Meski usia Aldo sudah hampir memasuki kepala 3, dia tidak tertarik mencari pendamping hidup. Dia menganggap orang yg menikah itu konyol. Padahal tantenya, tante Fitri, sudah berkali-kali meminta Aldo mencari pasangan.
Hingga suatu hari, pekerjaan Aldo yg merupakan seorang food photografer membawanya ke sebuah toko roti bernama UNO. Owner UNO ini adalah Dinda, pacar Wicak, yg merupakan teman dekat Aldo. Pemegang saham lain di UNO ini ternyata adalah seorang perempuan aneh dan jutek bernama Jenny yg sekaligus menempati posisi sebagai chef di UNO. Awal pertemuan Jenny dan Aldo sebenarnya tidak terlalu baik. Sebuah insiden yg disebabkan oleh roti membuat mereka awalnya menjadi sepasang musuh. Hingga akhirnya sebuah percakapan membawa mereka pada persamaan pendapat bahwa orang2 yg memutuskan menikah dan mengutamakan pernikahan dibandingkan karir yg cemerlang adalah orang2 yg konyol. Keunikan dan prinsip hidup yg digaungkan oleh Jenny ini secara tidak disadari membuat Aldo tertarik kepadanya. Namun Aldo selalu menutupi perasaannya. Dia tidak menyadari bahwa dia mencintai dan membutuhkan Jenny di sisinya. Hingga datanglah beberapa konflik orang ketiga yaitu mantan Jenny, Dipa, yg membuat Aldo cemburu. Dipa kembali mendekati Jenny dan berusaha melamarnya, namun Aldo tetap menutupi kecemburuannya. Di satu sisi, tante Fitri sudah percaya dan menaruh harapan besar kepada Jenny untuk suatu hari nanti menggantikan posisinya, menjadi teman hidup Aldo.
.
.
Di dalam hidup ini, ada banyak cinta yg akhirnya tidak bisa bersama karena ego. Seseorang tidak bisa menjadi bagian hidup seseorang yg lain terkadang disebabkan bukan karena cinta yg bertepuk sebelah tangan. Melainnya karena kesombongannya, egonya, rasa cintanya yg berlebihan terhadap dirinya sendiri.
Maka, cinta yg bisa bersatu dan bersma pada akhirnya selain memang karena takdir dari Tuhan, adalah karena salah satu pihak bisa mengalah dan berdamai dengan dirinya sendiri.
Profile Image for Mas Alif.
178 reviews3 followers
July 21, 2024
Baca romance itu, kayak dijebak oleh lingkaran-lingkaran alur yang gitu-gitu aja.

I mean, Benci - Tiba2 Suka- Cinta - Muncul Orang Ketiga - Sadar - Terlambat ambil keputusan - Orang ketiganya ternyata toxic - Kembali Bersama - Happy Ending.

Yup, alur cerita "Elegi Rinaldo" kurang lebih sama kayak diatas.

Tapi, Kenapa aku kasih Rate hampir sempurna ? karena aku gak pernah bilang gak suka dengan jebakan lingkaran alur semacam itu. Aku percaya bahwa alur template seperti ini bisa bagus jika dikemas dengan baik. Dan “Elegi Rinaldo” ini adalah salah satu novel yang berhasil membawa alur semacam ini jadi menarik, menurut aku.

Untuk sinopsisnya baca aja di blurb google yah!

Aku cuma mau kasih pandangan aku kenapa novel ini menurutku bagus.

Pertama, aku suka karena tokoh utamanya pria. Sudut pandang pria menurutku paling relate dengan apa yang kurasakan.

Kedua, si Aldo ini, honestly make me cry. Dia adalah orang yang senang dengan kesendiriannya, gak mau terjebak oleh relationship, dan apalagi terjebak oleh tali pernikahan. Namun, dibalik itu semua. Alasannya, sedih banget anjir.

Intinya, dia bahagia dengan kesepiannya namun semua orang tahu bahagia terhadap kesepian itu tidak serta merta muncul begitu saja. Ada satu fase menyakitkan yang harus dilaluinya.

Yakni, Kehilangan. Kehilangan yang bertubi-tubi.

Ketiga, si Jenny, aku suka bagaimana kak Bara buat karakter Jenny ini sukses menjadi obat. Alias berhasil buat Aldo sadar

"kebahagiaan yang lo rasakan akibat dari kesepian lo sekarang, itu murni adalah kesombongan semata. lo butuh orang lain, bego!"

Intinya gitu. Eh btw, aku ikuti karya Bernard batubara di sekitaran tahun 2014-2015. Terakhir, baca cerpen beliau tahun 2015 judulnya "Seribu Matahari untuk Ariyani", sudah 9 tahun kurang lebih. Dan, di tahun 2024 baru baca buku dia lagi.
Profile Image for Monika.
44 reviews5 followers
March 13, 2018
Elegi Rinaldo, salah satu series dari Blue Valley proyek dari Falcon Publishing. Tapi ini jadi novel pertama Bang Bara yang aku baca. Sebelumnya aku rajin baca cerpen di blog Bang Bara saja. Tapi aku tahu sekali kalau Bernard Batubara ini memang paling bisa membuat cerita yang romantis.
Untuk bahasa yang dipakai enak dibaca dan simpel.
Alur cerita oke, karena juga pas sama selera aku yang suka love and hate relationship, atau istilahnya benci jadi cinta. Hehe. Ditambah proses talik ulur yang bikin gemes.
Perkenalan tiap tokohnya natural dan jelas. Untuk konflik dan penyelesaiannya pun pas sekali. Tidak berlebihan dan bertele-tele.

Dan sebenernya dari baca karya Bang Bara ini aku belajar yang namanya menempatkan cara bercerita di genre yang tepat. Dari beberapa cerpen Bang Bara bisa dilihat penggunaan kata-katanya yang puitis, tetapi jika sudah menulis untuk novel seperti ini tanpa kata puitis yang berlebihan pun masih bisa membuat kita senyum-senyum sendiri, terutama di novel ini tingkah Aldo dan Jenny bikin gemes ditambah tokoh-tokoh lain yang bisa mendukung dan benar-benar mendukung jalan ceritanya.
Profile Image for Olivia.
375 reviews25 followers
January 22, 2019
Edisi Blue Valley ini memang soal kehilangan. Di buku kali ini, kita akan bertemu dengan Aldo, yang kehilangan dengan Ibu dan Pacarnya akibat musibah kecelakaan yang hanya menyelamatkan dirinya.
Tapi ada muncul satu sosok baru dalam hidupnya, tepat ditengah" Aldo ingin menghindari perasaan kehilangan, dan dia adalah Jenny.
.
Ini buku saya pertama di 2019 hahaha. Kebetulan lagi ada promo di bukabuku, jadi aku pun coba beli deh. (Sedang mencoba mengeluarkan diri dari stuck baca buku).
Buku ini sendiri menurut saya ditulis dengan cukup baik. Kecuali, saya rasanya kurang bisa bersimpati dengan Aldo (dan juga kurang bisa bersimpati dengan Jenny soal konsepnya yg tidak menganggap pernikahan kurang baik di awal novel).

Menurut saya, alih-alih menceritakan soal kehilangan, novel ini menceritakan pergolakan batin seseorang sehabis mengalami kehilangan. Dan saya rada berharap, latar belakang dari kedua tokoh ini bakal lebih diulas.

Tapi membaca novel ini, cukup bisa bikin saya senyum-senyum sesekali kok. hehehehe

Saya kasih 3/5 bintang
Profile Image for Rin.
Author 1 book17 followers
December 1, 2020
Elegi Rinaldo adalah buku seri Blue Valley kedua dan karya Bernard Batubara pertama yang kubaca. Secara keseluruhan, cerita di buku ini bagus. Karakter Rinaldo atau Aldo begitu menarik sebagai tokoh utama (dengan profesinya yang jarang digeluti, pandangan hidupnya, serta sifatnya yang agak menyebalkan tapi tetap saja menarik). Terus, gaya penulisannya juga santai dan mudah dinikmati. Aku juga suka momen-momen sederhana yang dialami oleh Aldo dan Jenny, memberi kesan nyata dan apa adanya.

Kendati demikian, alur cerita buku ini juga cenderung sederhana ... tidak ada yang luar biasa dan cenderung mudah ditebak. Aku cukup menyukai buku ini, meskipun bukan jenis buku/selera yang biasa kubaca.

Menurutku, Elegi Rinaldo cocok untuk dibaca saat memiliki waktu luang, di tengah kesibukkan yang padat. Nice story.
Displaying 1 - 30 of 45 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.