Seperti apa marahnya nenekku ketika tahu aku sedang berlatih menjadi sejenis pembohong, sangat menikmati menjadi jenis pembohong, dan begitu bangga ketika kebohonganku diterima banyak orang bahkan dijadikan berhala oleh banyak orang?
The book is composed by short stories happened around urban society. Describing various things through different points of view, the stories catched reader's attention by a story of a banner in a cafe. You may imagine how the drawing was painted so that looked so alive. The appearance put a man into a blind feeling and raises curiosity of people in the place. How does the drawing explained then? Experience the feeling of curiosity by reading these awesome stories!
Beberapa kali saya membaca sebuah buku kumpulan cerita pendek, rasanya tidak ada yang sekuat buku Berto Tukan ini. Semua kisahnya memadukan fakta dan fiksi, secara tersirat dan tersurat. Uniknya, kekuatan tidak datang dari karakter--seperti yang selama ini dilakukan para pembuat cerita--justru kekuatan cerita lahir dari latar peristiwa. Jika semua karakter di buku ini dihilangkan, pembaca masih bisa mendengar latar peristiwa tersebut bercerita. . Tujuh belas cerita pendek yang mengaduk-aduk dongeng, mitos, sejarah, maupun kritik sospol hadir di setiap kisahnya. Beberapa bahkan sulit saya telaah dari mana kisah ini diambil, siapakah tokoh-tokoh fiksi sejarah yang disebut oleh Berto. Salah satu kisah yang manis, yang saya sukai berjudul Sebuah Perempatan Pukul Lima Petang, berkisah tentang orang-orang yang sibuk terburu-buru. Diceritakan dari sudut pandang sepasang sepatu, mengingatkan saya akan cerpen Sapardi Djoko Damono yang juga menggunakan benda mati sebagai penutur cerita. . Setelah habis membaca seluruh cerpen, wajib adanya membaca Epilog yang ditulis oleh David Tobing di bagian akhir. Dari situ, banyak sekali penjabaran dasar-dasar filsafat yang digunakan Berto sebagai metode bercerita.
Kumpulan cerpen Berto Tukan membawa pembaca ke alam absurditi, antara fiksyen dan realiti, antara sedar, separuh sedar dan seakan mimpi dan juga merasa sepercik pengalaman antara watak-wataknya, malahan juga merasa jadi objek bukan hidup yang diberi nyawa. Seperti wakil suara tak terungkap manusia. Aku suka gambar hitam putih yang diselit pada awal setiap bab. Melengkapi dengan indah. Ada juga perasaan hendak singgah menghirup secawan kopi di kedai Kopi Oriental sambil tengok-tengok orang kat sana. Ada peluang mungkin berkesempatan melihat poster yang memukau.
Ada epilog di akhir halaman yang mendalami cerpen-cerpen ini dengan kaitan sudut pandang filsafat. Jujurnya belum tercapai lagi pemahaman. Perlu lebih ruang masa dan bacaan. Memahami Plato, Aristotle, terus ke Zizek. Seperti perjalanan yang jauh perlu ditempuh sebelum dapat dinikmati keasyikannya. Ya bunyinya asyik. Aku petik kata temannya, "tugas sastra itu, menjadi dinamit!!! "
Cerpen Berto Tukan ini akhirnya tandas saya baca setelah membaca saudara kembarnya (buku Dwi Wibowo yang sama-sama diterbitkan Alpha Centauri).
Kesan saya saat membaca dari awal adalah kesempatan menjumput gaya bercerita yang berbeda dari yang biasa saya baca di sastra koran misalnya. Setelah mendapati pelintiran di cerpen pertama, saya melanjuti perjalanan membaca, disertai beberapa kali jeda, sebab cerita-ceritanya cukup intens buatku, hingga akhirnya sampai di 2-3 cerita terakhir. Penutup yang keren, kecoak-kecoak bertanduk besi itu menusuk tubuh si tokoh.
Kali lain saya akan membaca kumpulan cerpennya, kalau diterbitkan lagi.
Dari 16 cerpen yang saya baca lebih banyak kisah yang tidak saya mengerti, tapi tetap saya selesaikan karena saya penasaran bagaimana Berto Tukan bercerita melalui banyak sudut pandang.
Seperti dalam “Kedai Kopi Oriental” di mana poster seorang gadis yang di tempel di kedai tersebut mampu membuat seorang laki-laki rutin berkunjung; kemudian “Sebuah Perempatan Pukul Lima Petang” yang menceritakan kehidupan kota yang serba terburu-buru dari sudut pandang sepatu, dan “Kelapa Lima” soal penghukuman bagi mereka yang memberontak kepada pemerintah namun dikemas melalui sudut pandang seorang anak dari tempat masa kecilnya.
"Sedikit pengetahuan adalah masa depan menyedihkan yang secara paksa dibocorkan kepadamu." . . sebuah buku yang membuatku terlampau lama berhenti pada satu-dua kalimat karena sulit dipahami meski dibaca berkali-kali. terima kasih untuk epilog yang membantu menjelaskan setitik dari rangkaian kisah yang penuh dan utuh. . beginilah kalau fiksi dan fakta, sastra dan filsafat menjadi pembungkus sebuah cerita yang nekat dibaca oleh pembaca semacam aku 🥲 Seikat Kisah Tentang Yang Bohong, -paling tidak- memenuhi kewajiban literasiku di awal tahun ✨ - hai, selamat tahun baru! 🤍
Sungguh sulit untuk memahami beberapa cerita pendek ini, selain penyampaiannya yang terlalu mubazir karena tidak to the point, Berto juga mengambil sedikit fiksi, saking imajinatifnya cerita seolah-olah tidak selesai, dan saya tidak cukup mengerti untuk beberapa cerita. Walaupun begitu epilog di akhir buku ini menjelaskan itu semua, cukup menarik, selain itu juga foto foto di tiap cerita bagus, estetik.
Kumpulan cerpen yang ringan. Mengulas tentang kehidupan sehari-hari dengan beberapa kasus yang tidak terlalu serius, dapat di temui di kehidupan sehari-hari. Dan nilai dari setiap kisah yang ada sangat membantu dalam, berkehidupan hari demi hari