Di pojok selatan Jakarta, kau akan menemukannya. Tempat itu tak sepanas bagian Jakarta lainnya. Langit di sana sering berubah seolah mengikuti suasana hati penghuninya. Kau akan bisa menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah di sana. Orang menyebut tempat itu Blue Valley.
Dari gerbang, ambillah jalan ke kanan, dan temukan satu-satunya rumah yang berpagar. Kau tidak akan salah. Pemiliknya adalah sepasang suami istri. Sang suami pandai merupa kayu-kayu menjadi perabot yang indah, sedangkan sang istri menata rumah dengan nuansa vintage yang meneduhkan. Bersama-sama, keduanya menghidupkan ruang impian mereka: sebuah kamar bayi yang dipenuhi warna.
Namun, duka menghampiri. Sang istri kehilangan rahimnya sebelum sempat mengandung impian mereka. Menyisakan luka yang mewujud sebuah melankolia. Gamal dan Ninna, menatap pupus harapan, seperti hidup yang hanya menyisakan warna kelabu saja.
suratnya Ninna bikin nangis :") dan harus kubilang ide cara Gamal melamar Ninna adalah yg paling keren dan unik dari yg pernah kubaca haha novelnya manis dan haru dan yg pasti enggak menye2 memanglah benar kalau sudah cocok sama gaya bercerita penulis, mau buku seri tema apa saja, mau dari penerbit mana saja udah enak aja bacanya
Tentang Ninna & Gamal yang nggak bakalan bisa punya anak. Dan ini udah jelas banget ceritanya dari sinopsis maupun kover. Aku suka penuturan penulis di sini. Bagian favoritku itu ketika Ninna nulis surat ke Gamal. Whoa, itu nyes banget. Sedih, Bund.
Aku memang baru baca beberapa novel Robin Wijaya, tapi kayaknya yang ini yang paling membekas.
3,2 bintang
PS: membaca dalam rangka babat timbunan dan bikin giveaway
Karena novel ini terbitnya berbarengan dengan A Moment to Love You, jadi agak susah untuk gak membandingkan kedua-duanya. Tapi gak adil juga sih sebetulnya, karena Melankolia Ninna punya mood cerita yang berbeda banget dibanding A Moment to Love You.
Simply, ceritanya tenatng pasangan suami-istri. Sudah menikah bertahun-tahun, punya impian untuk punya anak, nggak taunya istrinya kena tumor rahim dan harus menjalani histerektomi. Otomatis impian mereka hilang untuk selamanya. Sederhana banget ya? Iya. Beruntungnya, Robin menulis cerita ini dari POV orang pertama, dari masing-masing tokoh utamanya. Sehingga pembaca bisa memahami dalamnya perasaan Gamal dan Ninna menghadapi masalah rumah tangga mereka. Kita juga bisa melihat sisi emosional suami istri ini, ide-ide konyolnya Gamal, perasaan insecure Ninna, sampai usaha Gamal untuk terlihat 'baik-baik aja' di depan Ninna, juga sakitnya Ninna waktu melihat Gamal berusaha mewujudkan impiannya tanpa melibatkan Ninna.
Mungkin dari segi konsep cerita nggak se-wah A Moment to Love You (yes, i love that story so much). Tapi Melankolia Ninna tetap menyenangkan untuk dibaca. Aku malah bisa bilang ini salah satu novel Robin yang paling enjoy banget untuk dinikmati. Sangat page turner. Dan Mas Gamalnya itu nggemesin banget deh. Woles tapi lovable.
Semoga Robin bikin karakter cowok kayak Gamal lagi. Maunyaaaa........
Melankolia Ninna karya Robin Wijaya #BlueValleySeries . Sesuai dengan maksud melankolia iaitu kesedihan atau depresi dan dalam kisah ini, berkaitan soal Ninna dan Gamal. Saya tertarik dengan jalan cerita yang ringkas tetapi padat dengan emosi dan perasaan yang dizahirkan nyata. Saya sedikit marah dengan Ninna kerana dia terbawa-bawa dengan depresinya sehingga dia lupa persekitarannya juga berhasil menjadi sakit. Robin Wijaya memainkan watak Gamal dengan baik sebagai lelaki yang sabar, bertanggungjawab dan penyayang. Saya bisa tergambar Reza Rahadian menjadi Gamal dan Raline Shah menjadi Ninna
4.5 lah ya kira2. well, kayaknya isi reviewnya bakalan panjang banget sekalian kasih sedikit curhatan utk semua series-nya. sebenarnya pengen buat di blog gitu tapi review banyak buku sekaligus tuh bikin bingung. lagipula saya bukan blogger buku juga jadi ya, hhe disini saja
***
saya mendapatkan set blue valley series ini dari kuis yang diadakan mbak Jia, editor dari projek ini. waktu itu yang ada di pikiran saya hanya pengen menumpahkan apa yang ada di pikiran saya selama setahun terakhir ini perihal kehilangan yang saya alami (karena kebetulan sesuai dengan tema kuisnya) tanpa bermaksud untuk menang. saya sendiri pun awalnya kurang tertarik dengan buku2nya karena ada beberapa penulis yang tidak saya kenal. ini tulisan saya https://mailaulia.wordpress.com/2016/...
jadi ketika akhirnya saya menang kuis karena katanya tulisan saya menggambarkan ''kehilangan dan bangkit'' dengan baik sesuai tema blue valley, saya senang tapi juga jadi agak bingung gitu. trus ketika akhirnya paket bukunya sampai, saya langsung mencari tau dari awal apa itu projek blue valley baru mulai membaca. inti dari semua cerita series blue valley ini adalah tentang kehilangan dan bagaimana mereka bangkit dari kehilangan itu untuk kemudian tetap melanjutkan hidup.
kehilangan yang disajikan tiap buku berbeda. ada yang kehilangan kekasih, orangtua, anak dan lain sebagainya. dan karena ditulis oleh 5 penulis berbeda pun ceritanya juga memiliki 5 rasa yang berbeda
***
menurut saya, kalau kamu penasaran dengan series blue valley ini maka kamu harus membeli set lengkapnya. rasanya tidak akan memuaskan dan tentu saja kamu akan merasakan seperti kepingan yang hilang kalau kamu hanya membeli 1-2 buku saja yang sekiranya berasal dari penulis kesukaanmu.
tokoh-tokohnya tidak muncul terus menerus di buku selanjutnya sih. kayak misal di buku ke dua muncul tokoh A yang akan menjadi tokoh sentral di buku ke tiga gitu. enggak. tujuan saya meminta untuk membeli set lengkapnya adalah untuk membandingkan(?) atau semacam kayak mengikuti jejak-jejak kehilangan di setiap bukunya.
dari semua buku, buku ini adalah satu-satunya seri yang paling saya suka. ceritanya manis, kehilangan dan bangkitnya terasa dan eksekusi ceritanya juga ok. cerita di dalamnya tidak terlalu mellow ataupun to good to be true. realistis. kalau kamu membaca bukunya berurutan dan kebetulan tidak memiliki rasa ''suka'' terhadap semua penulisnya, mungkin kamu bisa memberi penilaian yang cukup subjektif(?) seperti saya.
di buku elegi rinaldo, kehilangan yang dibahas soal kehilangan kekasih dan orangtua. waktu melihat sedikit sinopsis dan premis yg ditawarkan soal ''tidak mau menikah'' itu saya sempat kepancing sih. tapi udah, tok. eksekusi masalahnya kurang dan saya kurang suka dengan tokoh2nya walaupun sempat naksir Jenny.
di buku lara miya, ini ceritanya lumayan saya sukai. kehilangan orangtua. ini saya beberapa kali nangis juga ya. adegan kehilangannya beneran terasa di buku ini. dan saya suka dengan cara Miya bangkit dari kehilangannya.
masuk ke buku asa ayuni, ini menurut saya ceritanya terlalu khas ftv banget sama kayak buku pertama hhh. apa ya, mungkin menurut saya ini terlalu wah aja gitu kalau dibayangkan menjadi nyata. dan karena hal ini, saya jadi kurang bisa menikmati kehilangan-bangkitnya dengan baik
di buku senandika prisma ini grafiknya makin turun. saya ngerasa zonk abis baca buku ini T_T. menurut saya terlalu banyak elemen2 gak sama sekali tidak ada hubungannya dengan kehilangan tokohnya. trus terlalu banyak tokoh yang masuk juga jadi pusing sendiri T_T
dan dari semua buku itu, melankolia Ninna ini seperti hadir untuk memberi penutup yang sempurna. gak sempurna banget sih. tapi ya minimal cukup ok sebagai buku penutup. ibarat belajar menulis, buku pertama tuh kayak ditulis orang yang baru belajar, buku kedua langsung lumayan ok dan sukses, pas nulis buku ketiga dan keempat malah jadi buruk lagi karena penulisnya sudah merasa ''we gue udah pernah sukses nih'' nah di buku terakhir ini penulis mencoba berekspresi pelan2 dan menghasilkan tulisan ini.
surem sotoy banget ya, tapi saya merasanya begitu :'(
***
melankolia ninna ini sendiri diceritakan dari 2 sudut pandang. Dari Gamal sang suami dan Ninna sang istri. cukup menarik dan membuat pembaca jadi tau bagaimana dan apa yang dirasakan kedua tokoh ini.
seperti yang sudah saya bilang di buku2 awal dan beberapa review saya yang lain. buku bagus menurut saya itu karena 3 hal. nama tokohnya pas. nama tokohnya pas dengan latar belakang pekerjaan dan tempat tinggal. eksekusi ceritanya ok.
nah 3 hal itu saya temukan di buku ini. Nama gamal, ninna, luna dll terdengar begitu cocok dengan kehidupan mereka. yang menarik, saat membaca buku ini, gamal dalam bayangan saya adalah gamal-nya dorippu salah seorang selebask yang tinggal di jepang itu dan ninna dalam bayangan saya adalah mbak Nina ardianti xD. tidak mengenal keduanya di dunia nyata sih, tapi entah mengapa keduanya sepertinya cocok.
eksekusi ceritanya mantap. saya suka bagaimana penulis mencoba menjabarkan bagaimana caranya si ninna bangkit. dan melalui 2 sudut pandang yang berbeda ini membuat saya sadar bahwa ketika kita kehilangan, bukan hanya kita saja yang merasakan kesedihan. orang di sekitar kita pun juga demikian.
waktu saya mengikuti kuis dari mbak Jia, saya menceritakan tentang kehilangan yang dialami bude saya (yang berpengaruh ke keluarga besar saya) dan kehilangan yang saya alami (putus cinta dan berakibat berat badan turun drastis tak karuan). ada sedikit cerita perihal putus cinta ini.
alasan putus cinta saya kala itu adalah perbedaan tujuan kami. dia mencari pacar untuk dijadikan istri sementara saya mencari pacar ya untuk pacaran. dia sudah memasuki usia 26 tahun sementara saya kala itu belum genap berusia 20 tahun. alasan lain adalah dia terlalu baik. dia pernah berjanji tidak keberatan menunda pernikahan bahkan menunggu saya hingga 5 tahun kalau saya mau kuliah. disitu saya merasa tidak enak, saya merasa tidak enak karena ''ditunggui'' seseorang.
dan sialnya, di buku ini, ninna mengatakan hal yang sama perihal sikap gamal. meminjam kata2 ninna,
kamu telah melakukan banyak hal besar bagiku. kamu mengorbankan dirimu demi kebahagiaanku. namun apa yang bisa kuberikan padamu selain luka dan hilangnya harapan kita. aku benci mengatakan ini Gamal. Benci mengakui kalau kamu sudah begitu baik kepadaku. dan kebaikanmu itu justru menjadi bumerang buatku, yang tiba-tiba menyerangku karena aku tidak bisa menjadi sosok sebaik dirimu.
OEEEEEE MBREBES MILIIIIIIII. BAHKAN PAS NULIS INI, KEADAAN DISINI PADAHAL SEDANG TIDAK HUJAN TAPI KOK LHO LHO LHO PIPIKU KOK BASAH????!!! T___________T
saya juga merasakan itu saat bersamanya dulu. lucu sendiri memang bagaimana kebaikan yang dilakukan seseorang justru malah membuatmu merasa ''terbebani'' dan membuatmu seolah harus membalas kebaikannya. serba salah juga ya jadi manusia. ini kayaknya yang membuat saya mengerti kenapa banyak orang minta putus dengan alasan kamu terlalu baik :'(
asli, pas baca kalimatnya ninna yang itu saya nangis. kejerrrrrrrrrrrrr banget sampai bukunya tak lempar jauuuuh. saking kayak kesel ''heh kamu ngapain sih ngungkit2 dia lagi'' gitu hh. inget dia. trus saya langsung iseng ngambil hp, ngecek whatsapp dan line gitu karena saya masih simpen kontaknya. dan woee, avatar WA dan LINE-nya pakai pas foto gitu....foto resmi...saya langsung berpikiran,,apakah sudah mau menikah...??...foto untuk buku nikah????? trus saya iseng cek instagram mereka berdua (mantan dan calonnya) dan saya langsung asdfghjkl sendiri hhhhhhhhhh
trus yaudah saya jadi gak konsen bacanya dan malah jadi galau lagi T_T
***
pada akhirnya karena penasaran dan saya mau ''bangkit'' bersama ninna dan bukannya malah galauin dia lagi, saya akhirnya melanjutkan membaca. endingnya sama sekali gak terduga ya. saya kira penulis bakalan menawarkan apa gitu atau suatu ending yang kira2 ada di pikiran saya. dan ternyata bukan. endingnya manis, gak terlalu mellow ala ala gitu tapi cukup bikin hati menghangat.
''kita dan semua pasangan suami-istri di luar sana. mereka semua pengen punya anak. namun apakah itu jaminan kebahagiaan buat hidup kita? jangan sampai, hal itu malah jadi sebaliknya, Nin. jadi biang keladi atas kemurungan di rumah kita. kamu sadar enggak sih, kita sudah menjadikannya seperti itu?''
aku memikirkan kata-kata Gamal barusan. sejujurnya, aku pun diingatkan kembali tentang tujuan pernikahanku dulu dengannya. agar aku jadi penyempurna hidupnya. bukan sekedar menjadi ibu bagi anak-anaknya.
(((agar aku jadi penyempurna hidupnya. bukan sekedar menjadi ibu bagi anak-anaknya.))) ITU ADALAH KOEEENNNTJIIIII!!!
nangis euy dibagian itu. seseorang disana dulu juga pernah bilang gitu. saya mau sama kamu bukan karena pengen jadikan kamu sebagai ibu dari anak-anakku kok. kita gak punya anak juga gapapa. saya cuma mau kita tumbuh bareng sama-sama sampai tua. belajar bersama.
hhhhhh
di bagian Gamal yang buka-buka galeri hp dan cuma ada Ninna aja disana tanpa ada foto orang lain (kecuali foto dirinya sama ninna ya) itu juga bikin saya nangis. seseorang disana dulu seorang pencinta idol. hobinya save as foto2 yang di share oleh idolnya. saya ingat, waktu saya bilang cemburu, dia sampai unfollow semua akun idol dan hapus semua koleksi foto idol kesukaannya. semua. demi saya.
WOEEEEEE T_T
asli ya, baca buku terakhir ini itu asdfghjkl banget huhu.
tapi bagus, pas halamannya sudah selesai dan saya bengong sendiri sambil mencoba mengatur perasaan saya untuk tetap tenang, saya memang jadi keinget dia sih. kayak..kangen atau apalah gitu..kayak pengen ngehubungin dan nanyain kabarnya dll...tapi untung saya bisa menahannya hhe. sudah bukan siapa-siapa lagi. dan yah, untung juga saya bisa menjauhkan hp dari tangan saya yang mencegah saya untuk kepo dan stalking mereka.
dengan selesainya semua cerita blue valley ini, maka selesai juga kehilangan saya. seperti halnya semua tokoh di buku ini, saya juga harus ikut bangkit dan memulai hal baru lagi seperti mereka. bukannya malah kepo dan balik terpuruk lagi. memang sih, apa yang dialami tokoh2nya gak mungkin bakal saya alami juga, tapi setidaknya saya tahu bahwa suatu hari nanti saya pasti juga akan bahagia dan baik-baik saja. tanpa dia.
I will love you, so would you be beside me? If I miss you, then would you come to find me? I'm in love with you, I was born to be loved by you. I think it's true, it's like this.
I will believe you, like the way you trust me. I will sing you, those many things I wanna tell you. I will love you, I'm truly in love with you. I do.
kebetulan saat ini saya juga sedang dekat dengan seseorang. saya gak ada niat buat serius sih, sedang tidak berminat juga. tapi kadang hati dan otak tuh gak bisa kerjasama. tiap bengong bawaannya pengen hubungin dia terus. dan semalam (juga pagi tadi saat berangkat kerja), entah mengapa saya mau mencoba untuk serius gerilya dan meyakinkan perasaan saya apakah yang saya rasakan ini beneran suka atau hanya rasa penasaran saja.
saya mau mencoba bicara dan memastikan hhe.
ya gitulah wqwq. #DIREKOMENDASIKAN!!!
terima kasih mbak Jia untuk kesempatan buat saya hingga bisa membaca serial ini. juga kepada semua penulis yang telah memperkenalkan saya pada banyak tokoh baru. Terima kasih!
Ya Allah..... sisain 1 aja yang kayak Gamal buat aku. Serius, gemes banget sama yg namanya Gamal ini. Fufufufu~
Jadi, Melankolia Ninna ini menceritakan kehidupan pernikahan Gamal dan Ninna. Setelah beberapa tahun nikah, dan belum sempat punya anak, kandungan Ninna harus diangkat karena sebuah penyakit. Secara nggak langsung, Ninna dan Gamal harus kehilangan impian mereka untuk punya anak (selama-lamanya)
Dari sana kemudian konflik berlanjut. Mulai dari Ninna yang masih suka sedih tiap kali denger cerita tentang anak, sampai Gamal yang berusaha menghibur Ninna tapi dia sendiri malah sembunyi-sembunyi pergi ke panti untuk nengokin bayi di sana karena nggak bisa menghilangkan perasaan kangennya untuk punya anak. Konflik semakin meruncing waktu Ninna tahu kalau Gamal suka pergi ke panti bareng perempuan bernama Terra, yang akhirnya membuat Ninna kecewa karena sikap Gamal tersebut.
Sebetulnya novel ini nggak sesedih seperti yg aku bayangin waktu baca teasernya di facebook. Juga nggak nyeritain tentang galaunya Ninna dan Gamal mulu. Tapi lebih ke kehidupan mereka setelah Ninna nggak bisa punya anak lagi. Diceritakan dari POV Ninna dan Gamal bergantian membuat kita jadi lebih mudah memahami perasaan masing-masing tokohnya. Cara Ninna dan Gamal mengekspresikan rasa sedihnya juga beda, Ninna lebih ke miris-miris gimana gitu, kalo Gamal kelihatannya kuat padahal sebetulnya rapuh.
Tokoh favoritku adalah Gamal. Ya iyalah, secara tokoh utamanya gitu. Tapi menelusuri isi kepala laki-laki dan cara pikir mereka yang simple dan to the point itu memang bikin seru ya. Ditambah secara personality Gamal ini tipe orang yang nyenengin. Sayang istri, baik hati, nggak puitis tapi perlakuannya ke Ninna sweet banget. Jadi bikin pengin dilamar sama Bung Karno juga deh... *digeplak*
Oh ya, beda dari buku-buku sebelumnya. Nggak banyak kalimat-kalimat puitis bertebaran di buku ini. Tapi, rasa manisnya justru ditemukan dari hubungan Gamal dan Ninna sendiri. Kalau ada satu yg patut disayangkan adalah peran tokoh-tokoh pendukung yang kemudian hilang di akhir cerita. Tapi mengingat sudut pandangnya memang cuma di seputaran Gamal dan Ninna, hal tersebut masih bisa aku maklumi, kecuali kak Robin mau buatin cerita untuk mereka sendiri-sendiri.
Alur ceritanya juga cepat dan nggak berbelit-belit. Dialog-dialognya ringan dan mudah dipahami. Ada kebingungan sedikit dengan pembagian waktu kejadian. Tapi secara keseluruhan masalah Gamal dan Ninna yang complicated ini bisa disampaikan dengan jelas dan tidak berlebihan. Ditunggu kisah selanjutnya ya kak. Cheers.
Novel ini pun bisa dengan lancar kuhabiskan dalam sehari karena gaya penceritaannya enak dinikmati.
Tidak seperti Asa Ayuni yang konfliknya sudah berderap mantap sejak awal cerita, Melankolia Ninna memilih pendekatan yang lebih tenang. Konflik antara Gamal dengan istrinya, Ninna, yang baru saja menjalani operasi pengangkatan rahim atau histerektomi atau operasi pengangkatan rahim akibat kanker rahim, digambarkan seolah mengendap-endap dalam sunyi. Tidak ada tokoh julid yang mempermasalahkan ketidakmampuan Ninna untuk memiliki anak. Hanya Mama Gamal yang secara tidak sengaja keceplosan soal andai Gamal bisa memberinya cucu juga. Tapi ngomongnya tidak di depan Ninna.
Cerita ini jadinya fokus dengan bagaimana Gamal dan Ninna berusaha menghadapi kemelut perasaannya masing-masing. Diam-diam Gamal merangkai baby crib yang dia buat sendiri dari kayu dan menggantungkannya di gudang lalu sering melihatnya lama-lama. Sementara Ninna menyimpan beberapa baju bayi yang sudah dia siapkan di balik baju-baju di lemarinya.
Konflik terjadi ketika Gamal jadi sering bertemu Terra, seorang model teman adiknya yang sering mengadakan kegiatan sosial di panti asuhan. Di panti asuhan itulah Gamal merasa mendapatkan obat atas kerinduannya pada kehadiran anak. Dan meski tak terjadi apa-apa antara dirinya dengan Terra, dia tak menceritakan kegiatan barunya kepada Ninna. Sampai akhirnya Ninna menemukan struk pembelian susu formula dari baju Gamal dan mendapati suaminya sering berkirim pesan dengan Terra. Kesalahpahaman pun terjadi. Namun, semua konflik itu pun digambarkan tidak meletup-letup dan dengan penyelesaian yang setenang air danau di hari cerah.
Meskipun minim gejolak drama, aku rasa penulis dengan sangat terperinci memfokuskan pada perasaan Gamal dan Ninna yang lambat laun saling menjauh karena menyimpan rahasianya masing-masing. Gamal dan Ninna dibuat merenungi lagi andil mereka dalam konflik dan tujuan mereka berumah tangga. Perubahan pikiran ketika mereka baru mengalami konflik dengan setelah waktu sudah berselang dan mereka telah merenunginya cukup lama digambarkan dengan halus.
Satu-satunya lonjakan emosi yang kurasakan dari novel ini adalah ketika aku ngakak membaca flashback cara Gamal melamar Ninna dengan berperan sebagai Soekarno dan menyuruh Ninna berperan sebagai Fatmawati. Pakai bawa ajudan dan mobil tua pula. Hahahaha. Out of the box. Genius idenya xD
Ada juga kutipan yang lumayan menggelitik ini:
Happy anniversary, Ninna.
Semoga kamu masih tetap jatuh cinta sama aku hari ini.
Ini novel Robin Wijaya pertama yang saya baca (sepertinya setelah ini, saya akan mencoba mencari novel lain dari Robin) Sebenarnya, sudah lama saya punya novel ini, tapi karena isu mood untuk membaca, akhirnya novel ini tertinggal di daftar bacaan. Semoga penulis tidak tersinggung, karena saya sungguh menyukai buku ini. Sedari awal membaca Melankolia Ninna, saya sudah hanyut pada cerita. Sangat mudah menyelami isi hati Ninna, dan membuat saya berulang kali membatin, betapa sulit menjadi Ninna. Maka dalam penilaian saya, Ninna teramat kuat menghadapi ujian kehidupannya. Secara cerita, bagi saya kisahnya tidak begitu mendayu-dayu. Malah, saya sangat menyukai plot hingga akhir kisah. Saya sempat keliru mengira penulis akan melibatkan konflik batin Ninna dan Gamal yang membuat mereka sering berseteru, lalu akhirnya memutuskan untuk berpisah. Memang dark sekali gambaran di benak saya. Maka, saat saya mendapati betapa pasangan suami-istri itu begitu dewasa menyikapi ujian di hidup dan pernikahan mereka, saya segera acungkan sepuluh jempol (kucing saya ikutan) Saat Terra muncul, saya kira akan ada perselingkuhan yang dilakukan Gamal, rupanya tidak. Tapi, saya merasa Gamal tidak sepenuhnya jujur menyuarakan isi hatinya di kisah ini. Ada yang dia sembunyikan dari saya, sebagai pendengar. Fakta bahwa Gamal dan Terra bertukar WA saat subuh, juga saat Gamal memilih Terra dibanding Ninna untuk pergi ke panti, maka sampai detik ini saya menyimpulkan bahwa sesungguhnya, Gamal punya hati (atau baru sebatas ketertarikan) pada Terra. Apa saya berlebihan? Pokoknya, saya merasa Gamal menyembunyikan hal itu dari saya dan pendengar lain, karena pada akhirnya dia tetap memilih NInna, yang perlu saya apresiasi karena Gamal tak hanyut dalam perasaannya yang sementara. Selebihnya, Terra pun tampaknya menyimpan rasa yang sama. Seorang perempuan tidak akan sengaja mengirim WA subuh-subuh, membiarkan suami orang lain menjemputnya, menemaninya, dan mengantarnya ke rumah, jika ia pun tidak sama-sama tertarik. That's too fishy. Dan terima kasih Terra, karena kamu tidak melangkah lebih jauh untuk mengusik rumah tangga Gamal-Ninna (Ah, biarlah saya dan isi benak saya yang kacrut ini) Narasi yang disampaikan simple tapi maknanya dapat. Meski saya merasa novel ini terlalu tipis. Saya membutuhkan penutupan yang lebih panjang, yang mengisahkan perjalanan lanjutan Gamal-Ninna (Entahlah, mungkin seratus halaman lagi?) :D
Lima tahun menikah, Ninna dan Gamal belum juga dikaruniai anak. Setelah berusaha dan tak berhenti berharap, musibah lainnya menimpa keluarga mereka. Nina terserang penyakit kangker rahim yg mengakibatkan ia harus menjalani pengangkatan rahim untuk mencegah kangker menyebar. Alhasil, pupuslah harapan mereka untuk memiliki anak. Ninna merasa sangat sedih dan merasa hidupnya tidak berarti karena tidak bisa memberikan Gamal keturunan. Gamal, di tengah kesedihannya juga yg tak mampu ditampakkannya, tetap begitu mencintai Ninna. Namun Ninna tak memahami Gamal, pun Gamal tak mampu memahami jalan pemikiran Ninna. Mereka terhalang perasaan yg masing2 terpendam dan tak mampu untuk diungkapkan. Ninna mengubur kesedihannya dengan memutuskan kembali bekerja. Sebenarnya Gamal kurang setuju, namun Gamal tak mampu melihat Ninna semakin sedih jika hanya berada di rumah dan menyaksikan kesepian dalam kehidupannya saat Gamal tak ada di rumah. Gamal mengalihkan kesedihannya dengan mengunjungi panti asuhan tanpa sepengetahuan Ninna, yang akhirnya hal tsb menjadi bomerang dalam kehidupan rumah tangga mereka. Tapi percayalah, sekuat apapun badai menerjang dalam kehidupan rumah tangga, selama sesama suami-istri masih saling mencintai dan menurunkan keegoannya demi kepentingan bersama, maka rumah tangga tersebut akan kembali selamat dan bahagia.
Sempet ngira Terra bakal dijadikan orang ketiga, untungnya nggak. Karena gue udah bosen sama cerita rumah tangga yg ada orang ketiganya. Overall, gue suka. Suka bgt malah. Konfliknya nggak melebar kemana-mana. Dengan 2 sudut pandang, pembaca disuguhin konflik batin yang berbeda dari masalah yang sama. Kadang maksudnya Ninna apa, Gamal nanggapinnya beda. Begitu juga sebaliknya. Mengingatkan fakta kalo isi kepala tiap orang nggak sama. Jadi jangan suka ribut-ribut gara-gara pilihan gubernurnya beda ya. (Abaikan) Chemistry dan interaksi Gamal-Ninna juga natural. Obrolan mereka ngalir, kadang bikin senyum-senyum. Terutama dari sudut pandang Gamal, waktu dia mendeksirpsikan cinta dan campuran otak mesumnya di beberapa part itu menurut gue khas lelaki banget! Setelah Versus dan Jika Hujan Pernah Bertanya, gue belum menemukan lagi kenikmatan membaca tulisan Robin Wijaya seperti 2 buku tersebut. Dan gue merasakannya lagi di buku ini. Ini salah satu gaya bertutur Robin yang paling gue suka. Subjektif sih. Tapi namanya pembaca, maunya disuguhin yang asik-asik kan? 4 of 5, kita lihat cerita apa lagi yang ada di buku barunya Robin nanti.
Ninna red flag, problematik, playing victim, gk bersyukur. Gamal bucin akut, gk punya harga diri, berasa dirinya keren padahal cowok gini di dunia nyata cm jadi korban cewek2 drama. Dan emang sesuai sih sama cerita di sini juga. Lo kebanyakan nonton drakor, Mal. Wake up, dude, this is real life! Hueeekk… cuih… sampah, gue benci bgt sama orang2 tol*l kyk gini. Cewek manja problematik ketemu cowok over nice guy. Anj*nglah. Terlalu baik sama cewek itu gak bikin lo keren bray, malahan lo cm bakal diinjek2 sama mereka. Cowok tuh imam, harus tegas, bukan lembek kyk gini, dikit2 minta maaf. Jijik sumpah. Apalagi pas di sini Ninna bilang kalau Gamal meniru Bung Karno. Pengin gue bakar ni buku. Coy, Pak Karno itu alpha male, playboy, karismatik, bukan pengemis cinta macam ni orang. Suami lo tuh lebib mirip Will Smith, yg tetap ngebela istrinya meski diselingkuhin. Tapi gue gak akan tetap mencoba objektif. Jujur dari gaya penceritaan novel ini ngalir banget. Diceritakan dari dua sudut pandang jadi bikin lebib variatif dan gak ngebosenin. Banyak detil yg membuat tokohnya lebih hidup, seakan mereka benar2 ada di dunia nyata. Konflik2nya jg sangat realistis.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Seruuu banget, bukunya habis sehari aja karna emang tipis, nilai nya dari aku 4.5 >< jujur untuk aku yang beginners dan baru baca beberapa buku, inii buku cukup menyayat hati dan syeedii, di tambah aku yang baca nya selalu sambil denger lagu ost drakor makin makin deh sedihnya wkwkwk, konflik yang ga heboh dan ga dibikin mikir cocok banget buat beginners kaya akuu, jadi masih bisa enjoy buku nya dengan tulisan yang sehari harii juga, ditambah denga POV dari 2 orang yang emang faktanya manusia otak nya gasama dan kesalahpahaman akan selalu ada di setiap hubungan(?) Sukaaa banget sama karakter Gamal!!!! Walaupun beberapa konflik karna mulutnya Gamal yang kalo ngomong blak blak an dan bikin orang ovt tapi gatau kenapa Gamal tetep dibikin jadi tokoh yang sempurna dan patokan buat cari cowo karna dia sebucin ituu! So faaar suka buku ini, gatau kalo aku udah baca banyak buku lainnya hehe but i enjoyed this boook so muchh!!💗
This entire review has been hidden because of spoilers.
Cerita yang dituturkan runtut sehingga memudahkan pembaca memahami alurnya. Namun, ketika penulis menggunakan flash back dan kembali ke masa kini, batasnya tidak terlalu jelas. Jika pembaca kurang teliti, mereka bisa sedikit dibingungkan.
Penggambaran karakter menggunakan sudut pandang orang pertama juga efektif. Pikiran tokoh ditelusuri, dan drama tidak terlalu mengganggu alur. Sayangnya resolusi konflik sedikit terlalu cepat meski solusi yg ditawarkan masuk akal.
Secara umum, saya menikmati cerita ini dan merekomendasikannya untuk mereka yg sudah, hendak, maupun berencana untuk menikah karena konflik yang digali dan cara tokoh menghadapinya realistis. Tokoh utama memberikan contoh yg cukup baik tentang bagaimana sepasang suami istri menyelesaikan masalah rumah tangganya, terutama melalui komunikasi, dan membuat kita berpikir lagi tentang tujuan dari sebuah pernikahan.
Ini tuh ceritanya sedih, tentang Ninna dan Gamal yang kehilangan harapan mereka untuk memiliki anak setelah lima tahun menikah. mungkin karena sedang 'menanti' juga, kisah Ninna dan Gamal terasa sangat relate dengan kehidupan saya dan cerita ini dapet banget feel-nya begitu.
walaupun ada sedikit kekurangan. di beberapa bagian flashback, nggak ada tanda atau pembeda yang memberi tahu kalau cerita itu adalah flashback, jadi sempet bingung sebentar dengan alurnya. tetapi setelah dibaca sampai selesai, bisa nangkep, kok.
jadi, penasaran dengan karya robin wijaya yang lain.
Keseluruhan cerita dalam buku Melankolia Ninna ini membawa pesan untuk berhati-hati dalam membuat keputusan ketika sudah berumah tangga. Apalagi jika sedang ada masalah. Sebab jika keliru melihat masalah, bukan tidak mungkin akan melahirkan keputusan salah dan terburu-buru yang justru merugikan keluarga. Keputusan dalam berumah tangga bukan keputusan yang sederhana. Sekalinya salah, akan sulit diperbaiki.
Gamal is the perfect man for my imagination. Mungkin karena penulisnya cowok kali yah jadi penggambaran sosok gamal yang sempurna menurutku. Walaupun beberapa konflik dipicu oleh Gamal tapi penulis seolah menyempurnakan karakter Gamal.
Buku pertama di 2021. Awalnya tidak berekspektasi apapun, bacanya juga sangat santai. Tapi ternyata penggambaran kegelisahan akan perasaan masing2 di dunia pernikahan kedua karakter cukup jelas terasa, sesuai judulnya, Melankolia.
Ringan, dlm sekali duduk bisa selesai novel ini. Tapi sukaaa! Dengan beda pandangannya Ninna maupun Gamal kyk ngebuka pandangan kita tentang perasaan satu sama lain. Dan juga banyak pesan moralnya.
Mengutip arti kata Melankolia yang ada pada cover bagian belakang, buku ini memang meyuguhkan kisah sedih dari pasangan Ninna-Gamal. Kesedihan berbalut usaha untuk menguatkan pasangan masing-masing. Kesedihan Ninna akibat ia tidak lagi sempurna menjadi “wanita”, kesedihan Gamal melihat istrinya yang terus-menerus sedih. Dan kesedihan mereka berdua karena tidak saling jujur satu sama lain dengan alasan “menjaga perasaan” pasangan.
Saya sebagai seorang perempuan, ikut trenyuh dengan kisah pasangan ini. Bagaimana Ninna berusaha untuk bangkit dari impiannya tentang anak dengan kembali ke dunia kerja membuat saya sedikit belajar, bahwa salah satu cara ampuh untuk ngga terus-terusan meratapi kehilangan adalah dengan beraktivitas di luar. Saya ikut terbawa hanyut juga ketika Gamal, sebagai seorang suami, yang kehilangan harapannya tentang anak, mencoba menguatkan istrinya. Meskipun dirinya juga sakit.
Buku ini merupakan buku pertama karya Robin Wijaya yang saya baca. Melankolia Ninna menjadi buku yang saya masukkan ke dalam 2017 BookWishlist dan merupakan kado dari event BBI Share The Love 2017. Thankyou partner for gimme this beauty! Saya tertarik untuk membaca Melankolia Ninna karena covernya yang sederhana namun berhasil membuat saya kepincut. Sampul bukunya yang didominasi warna biru, dengan judul “Melankolia Ninna” yang ditulis besar-besar dengan jenis lettering font, semakin membuat covernya cantik. Satu lagi yang membuat saya jatuh hati, karena ada gambar baby crib pada cover depan. Iya, saya suka banget dengan baby thingy semacam itu. Makanya kalo lagi jalan-jalan ke mall, pasti mapir sejenak sekedar untuk melihat-melihat. *saya mah orangnya gini*
Kembali ke buku Melankolia Ninna, yang menjadi karya pembuka Robin Wijaya yang saya baca, ada satu ciri khas penulis yang bisa saya tangkap melalui buku ini. Penulis sering banget mengawali kalimat dengan menggunakan kata “dan”. Baik untuk tokoh Gamal maupun Ninna. Mungkin ada lebih dari sepuluh kalimat yang diawali dengan kata hubung tersebut.
Bertahun-tahun menanti bayi, Ninna dan G dihadapi kenyataan kalau Ninna tidak akan punya bayi. Pada akhirnya, konflik mereka bukanlah soal punya atau tidak punya bayi, tapi komunikasi. Manusia memang kadang bermasalah dengan orang lain, dan sebagian besar komunikasi adalah penyebabnya. Cukup senang karena kehadiran Terra tidak membuat ada drama perselingkuhan di sini, tolonglah banyak sekali masalah manusia dan relasinya selain selingkuh dan penulis kurasa bisa menggambarkan itu dengan baik. Kusuka dan sukses untuk penulisnya!
Lalu, apa rasanya kamu kehilangan hal yang bahkan belum pernah kamu miliki? Berat. Kehilangan kesempatan untuk memiliki anak bukanlah hal yang cukup mudah untuk dihadapi. Begitu pulalah yang dialami oleh Ninna dan Gamal. Mungkin mereka memang terlihat bahagia, akan tetapi, kebahagiaan tersebut harus tercerabut karena kenyataan yang ada.
Pada dasarnya, aku merasa kalau novel ini premisnya mirip dengan Critical Eleven. Sangat mirip bahkan. Tapi setidaknya, cara Ninna dan Gamal menghadapi kenyataan sangatlah jauh berbeda. http://prayrahayusbook.blogspot.co.id...
nggak tahu harus me-review darimana dulu...hihihi Melankolia Ninna adalah buku pertama yg aku baca di tahun 2017 walaupun sbnrnya belinya desember 2016 sih #ganti-topik
Sebelum baca buku ini,aku ngintip review2 di goodreads ini...#kebiasaan ku ada yg bilang,hampir gimana gitu sama novelnya ika natassa yg Critical Eleven. setelah baca semuanya mgkn iya...cmn cerita disni bkn kehilangan anak tapi kehilangan harapan buat punya anak...Klo disuruh bandingin antara Melankolia Ninna dan Critical Eleven...jujur ya,aku lebih suka sama Melankolia Ninna,gaya bahasanya terutama,santun dan bisa dibaca semua kalangan.
untuk jalan cerita sendiri,menurutku biasa aja ya #pisss bang robin tapi aku bisa merasakan gimana seandainya aku yg jadi Ninna...nggak gampang loh,merelakan rahim kita diangkat apalagi mereka blm dikarunia anak. ...sayang ending nya emang terburu-buru #kurang tebal bang robin bukunya
Tidak ada konflik yang begitu meledak-ledak. Semua berjalan sederhana dan apa adanya tapi bisa menghadirkan nuansa yang begitu perih. Pasangan suami istri yang sama-sama tak ingin saling menyakiti tapi juga berusaha untuk berdamai dengan diri sendiri menghadapi kenyataan yang ada.
Banyak pelajaran soal pernikahan dan keluarga di novel ini. Memang segalanya tak bisa sempurna tapi selalu ada cara untuk bisa mengatasi semua persoalan yang ada. Ujian yang hadir ternyata bisa jadi sumber kekuatan yang baru.
Entah mengapa, kesedihan yang dialami Ninna nggak bikin saya tergugah atau gimana. Mungkin karena saya belum pernah mengalami konflik batin seperti yang dihadapi Ninna. But overall, saya bisa mengikuti dengan baik bab demi bab yang dikupas oleh Robin Wijaya dengan dukungan deskripsi yang jelas. Saya juga suka sama karakter Gamal, tipikal suami idaman seluruh wanita kayaknya.
Novel domestic drama terbaik yang aku baca setelah Critical Eleven dan Test Pack! Suka sama penggunaan POV 1 dari 2 tokoh utamanya di sini. Kalian harus baca!