Jump to ratings and reviews
Rate this book

Daerah Perbatasan

Rate this book

70 pages, Paperback

First published January 1, 1970

Loading...
Loading...

About the author

Subagio Sastrowardoyo

19 books38 followers
Subagio Sastrowardoyo dilahirkan di Madiun (Jawa Timur) tanggal 1 Februari 1924. Dalam sastra Indonesia Subagio Sastrowardoyo lebih dikenal sebagai penyair meskipun tulisannya tidak terbatas pada puisi.

Nama Subagio Sastrowardoyo dicatat pertama kali dalam peta perpuisian
Indonesia ketika kumpulan puisinya Simphoni terbit tahun 1957 di Yogyakarta.Ia ditulis oleh seorang yang tidak memberi aksentuasi pada gerak, pada suara keras, atau kesibukan di luar dirinya.

Ia justru suatu perlawanan terhadap gerak, suara keras, serta kesibukan
di luar sebab Subagio Sastrowardoyo memilih diam dan memenangkan diam.

Subagio tidak saja dikenal sebagai penyair, tetapi sekaligus sebagai esais, kritikus sastra, dan cerpenis.
Ajip Rosidi yang menggolongkannya ke dalam pengarang periode 1953—1961
menyatakan bahwa selain sebagai penyair, Subagio juga penting dengan
prosa dan esai-esainya. Ia meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 18 Juli 1996 dalam usia 72 tahun.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
24 (38%)
4 stars
25 (40%)
3 stars
12 (19%)
2 stars
1 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Nandiito.
46 reviews22 followers
September 28, 2026
Ahaa.... Akhirnya bisa baca salah puisi legend yang tuturan setara dengan Eyang Sapardi. Jarang sekali saya menemukan puisi liris seperti ini dan jarang pula penyair yang merayakan kematian lewat puisi. Suka sama Puisinya yang berjudul "Dan Kematian Makin Akrab"

Memandang kematian yang ditakuti dalam medium puisi ini adalah caranya memberitahukan kepada pembacanya bahwa kematian merupakan takdir kehidupan yang tak bisa manusia hindari dan tidak ada satupun manusia yang punya kuasa dalam menghindari kematian.

Dan begitulah Subagio, ia menjadikan kematian sebagai kawan yang mengajak tertawa.
Profile Image for Septyawan Akbar.
125 reviews14 followers
January 24, 2020
Terdapat buku yang membuat pembaca menjadi jatuh cinta sedalam - dalamnya akan sastra atau dalam hal ini puisi. Subagio Sastrowardoyo dan kumpulan puisinya, menjadi yang pertama dan akan terus terkenang di benak saya. Penyair yang menerima kematian lewat nada rendah, penyair yang abadi dalam gumam
Profile Image for gieb.
222 reviews78 followers
Want to Read
April 1, 2011
Dapat yang tjetakan pertama April 1970. diterbitkan chusus Budaja Djaja Dewan Kesenian Djakarta.
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
May 4, 2017
Ini adalah buku kumpulan puisi Subagio Sastrowardoyo (SS) yang paling saya ingat dan berkesan, sebab didalam kumpulan puisi ini terdapat puisi SS yang paling saya suka, ini dia:
(puisi ini pernah dimusikalisasi oleh Frau, band indie Jogja, dan Ugoran Prasad)

MANUSIA PERTAMA DI ANGKASA LUAR

Beritakan kepada dunia
Bahwa aku telah sampai pada tepi
Darimana aku tak mungkin lagi kembali
Aku kini melayang di tengah ruang
Di mana tak berpisah malam dan siang
Hanya lautan yang hampa di lingkung cemerlang bintang
Bumi telah tenggelam dan langit makin jauh mengawang
Jagat begitu tenang. Tidak lapar
Hanya rindu kepada istri, kepada anak, kepada ibuku di rumah
Makin jauh, makin kasih hati kepada mereka yang berpisah
Apa yang kukenang? Masa kanak waktu tidur dekat ibu
Dengan membawa dongeng dalam mimpi tentang bota
Dan raksasa, peri dan bidari. Aku teringat
Kepada buku cerita yang terlipat dalam lemari
Aku teringat kepada bunga mawar dari Elisa
Yang terselip dalam surat yang membisikkan cintanya kepadaku
Yang mesra. Dia kini tentu berada di jendela
Dengan Alex dan Leo, - itu anak-anak berandal yang kucinta -
Memandangi langit dengan sia. Hendak menangkap
Sekelumit dari pesawatku, seleret dari
Perlawatanku di langit tak berberita
Masihkah langit mendung di bumi seperti waktu
Kutinggalkan kemarin dulu?
Apa yang kucita-cita? Tak ada lagi cita-cita
Sebab semua telah terbang bersama kereta
ruang ke jagat tak berhuni. Tetapi
ada barangkali. Berilah aku satu kata puisi
daripada seribu rumus ilmu yang penuh janji
yang menyebabkan aku terlontar kini jauh dari bumi
yang kukasih. Angkasa ini bisu. Angkasa ini sepi
Tetapi aku telah sampai pada tepi
Darimana aku tak mungkin lagi kembali
Ciumku kepada istriku, kepada anak dan ibuku
Dan salam kepada mereka yang kepadaku mengenang.
Jagat begitu dalam, jagat begitu diam.
Aku makin jauh, makin jauh
Dari bumi yang kukasih. Hati makin sepi
Makin gemuruh.

Bunda,
Jangan membiarkan aku sendiri.
Profile Image for Cep Subhan KM.
344 reviews27 followers
June 4, 2020
I always like Subagio's poetic style. It is absurd that we couldn't find his small collection of poems in a "collected poetry of Subagio Sastrowardoyo". I don't think that nowadays people still read his poems but I think they should. At the same time how it is possible for us today to read his poems if the new edition of his work(s) is impossible to be found in a bookstore? The old editions are also hard to be found even in the bookstore which used to sell the used books.

The poems collected in this thin book is placed under two heads, Daerah Perbatasan (Border Region, 16 poems) and Salju (Snow, 12 poems). We can find a lot of memorable lines from Subagio's poems. I remember for example his lines taken from "Nada Awal" (The First Tone) which are used by Aveling as an epigraph for his impressive book Rahasia Membutuhkan Kata (Secrets Need Words). The most impressive lines in this book I think are the most popular ones commonly quoted by other writers even with the different syntactic form:

-- kita telah banyak melihat dan mengalami,
Lewat dosa hanya kita bisa dewasa--

(We have seen and experienced a lot,
It is only through sin we could grow up)

I like this lines and I even use it with an improvisation in my poetry book "Hari Tanpa Nama" (An Unnamed Day). The lines are taken from a long poem entitled "Pembicaraan" (Conversation). From similar poem we also have this impressive lines:

Hari mekar dan bercahaya:
Yang ada hanya sorga. Neraka
Adalah rasa pahit di mulut
Waktu bangun pagi

(The day is blossoming and bright:
There is only paradise here. Hell is
A bitter taste in our mouth
When we wake up in the morning).
Profile Image for Launa.
255 reviews50 followers
January 26, 2023
Kata

Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi

Kita takut kepada momok karena kata
Kita cinta kepada bumi karena kata
Kita percaya kepada Tuhan karena kata
Nasib terperangkap dalam kata

Karena itu aku
bersembunyi di belakang kata
Dan menenggelamkan
diri tanpa sisa

Puisi yang paling saya suka: Pembersihan, Pidato di Kubur Orang, dan Kata
Profile Image for Chaty.
39 reviews2 followers
September 28, 2017
Saya membaca buku ini ketika duduk di bangku SMP. Ini adalah salah satu dari beberapa buku kumpulan puisi yang saya baca.
Profile Image for Leonart Maruli.
292 reviews7 followers
May 12, 2018
Gak menyangka ternyata sebagus ini, banyak sajak-sajak dalam buku ini memiliki tema kematian...

Suka dengan caranya Subagio menutur... jossss mantapppp...
Profile Image for Ahmad Aam.
15 reviews
May 12, 2026
di buku puisi inilah, puisi dan kematian semakin akrab berada.
Displaying 1 - 10 of 10 reviews