Jump to ratings and reviews
Rate this book

Horeluya

Rate this book
"Tuhan Yesus... sakit... sakit sekali..."

Suara Lin, gadis kecil, seperti menggigil. Pengambilan cairan disumsum tulang belakang, memang tak tertahankan. Itu yang harus dijalani, dan bukan hanya satu kali. Eca, Ibunya yang membawanya dalam doa di gereja tua, dimana ada Patung Bunda Maria, malah diberitakan memuja berhala. Doa rutin tak mempunya getar dalam batin. "Kita sudah berdoa beberapa kali, Tuhan Yesus pastilah sudah mendengar." Dan belum juga ada jalan keluar, belum ada pemberi donor darah rhesus negatif. Kokro, ayah Lin, masih ingin mempunyai kepercayaan seperti istrinya, namun merasa kering dan gelap. Ia dan adiknya pernah mengalami kepedihan yang mematikan, tapi kini merasa gamang.

Segala upaya kemanusiaan, juga segala doa, berlomba dengan usia Lin yang diramalkan secara medis hanya bertahan beberapa bulan. Keinginan Lin terakhir adalah bisa merayakan natal-sebelum waktunya, karena usianya tak mencapai bulan Desember-dengan turunnya salju. Sesuatu yang sama mustahilnya, karena di desa itu yang turun adalah hujan, dan tak ada gua atau pesta.

Apakah salah Lin menghendaki ada salju, karena itu kisah yang didengar selama ini? Apakah lebih menyakitkan ketika ada pendonor yang disaat menentukan juga memerlukan donor? Apakah jawaban mauuu Lin berarti ketulusan, juga kepasrahan, bentuk lain doa?

Berbagai pertanyaan, tak perlu jawaban pasti, ketika hati masih bisa bernyanyi bersama rumput, bersama bunga, karena Tuhan sumber "gembiraku". Ketika itulah teriakan hore menjadi pujian, juga kegembiraan.

236 pages, Paperback

First published January 1, 2008

5 people are currently reading
62 people want to read

About the author

Arswendo Atmowiloto

127 books156 followers
Seorang yang sangat terkenal di bidang jurnalistik, penulisan dan sinetron. Lahir di Solo 26 November 1948. Sempat kuliah di IKIP Solo selama beberapa bulan, lalu mengikuti program penulisan kreatif di Iowa University, Iowa City, Amerika Serikat (1979). Prestasinya sungguh luar biasa. Banyak karyanya yang telah disinetronkan dan mendapat penghargaan, di antaranya Keluarga Cemara dan Becak Emak, yang terpilih sebagai Pemenang Kedua Buku Remaja Yayasan Adikarya IKAPI 2002. Bahkan karena prestasinya pula, dia sempat masuk penjara selama lima tahun!

Kini ia mengelola penerbitan sendiri yang diberi nama Atmo Group. Ia tinggal di Jakarta dengan seorang istri yang itu-itu saja, tiga orang anak yang sudah dewasa, seorang cucu yang lucu, seekor anjing setia, ratusan lukisan buatan sendiri selama di penjara, serta sejumlah pengalaman indah yang masih akan dituliskan.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
22 (14%)
4 stars
69 (44%)
3 stars
50 (32%)
2 stars
14 (8%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 38 reviews
Profile Image for Lila Cyclist.
856 reviews71 followers
September 21, 2011
Melihat judul novel tulisan Arswendo Atmowiloto ini, pasti banyak yang langsung melihat dua silabel terakhir, Luya, pasti ada hubungannya dengan Halleluya. Demikian juga yang terbersit dalam benak saya pertama kali melihat judul novel ini. Dan itu memang benar. Novel ini sarat dengan segala ketaatan dari sebuah keluarga Nasrani, Johannes Kokrosono (Kokro), Maria Ludwina Ecawati (Eca), yang tak tentu arah dalam menjalani hidup semenjak putri semata wayang mereka, Lilin atau Lin dinyatakan sakit sumsum tulang belakang dan menunggu donor. Meski sarat dengan muatan agama Nasrani, sebagai seorang Muslim, saya sangat menikmati isi cerita novel ini. Hanya, terus terang, entah mengapa, saya masih tidak nyaman, jika seorang teman kantor saya, yang Muslim—yang enggan memberi ucapan Selamat Natal pada rekan Nasrani—melihat sampul novel ini. Mungkin saya belum siap saja, jika mereka bertanya ini itu, mengapa saya tertarik buku ini hingga membeli lewat online pula.

Sentral cerita ada pada keluarga Kokrosono, yang mempunyai putri yang mengidap penyakit sumsum tulang belakang. Dalam keputusasaan, Kokro beserta istrinya, Eca, dibantu dua adik mereka, Ade dan Nayarana, bersama sama mendoakan, menunggui, mendoakan, menunggui dan kembali berdoa. Ritual harian yang kemudian membuat mereka ‘lupa’ apa saja yang mereka sudah, sedang , atau ragu apa yang akan dilakukan. Kokro, sejak masih muda, sudah menerima apa saja yang terjadi padanya. Pun ketika ayahnya ditembak mati karena dituduh sebagai anggota partai komunis tahun ’65, dia menerima apa yang sudah digariskan. Tapi tidak bagi Naya, sang adik, yang beringas, yang sembarangan, semaunya, namun dicintai banyak orang karena jasanya sebagai pelindung daerah sekitar dari gangguan preman atau orang2 pemerintah kota. Meski. demikian, cintanya tak terperikan pada sang ponakan yang terbaring tak berdaya. Segala pertanyaan yang menghujat Tuhan, mengapa kakaknya yang begitu baik, iparnya yang berdoa tak henti, ponakan yang tak berdosa, harus menanggung semua beban itu? Mengapa bukan mereka yang hidup tak lurus tidak dihukum Tuhan dengan beban semacam ini? Mengapa penyakit mematikan yang biasa menyerang mereka yang berkulit putih harus menyerang Lin mereka, yang bukan keturunan kulit putih?

Berderet kalimat2 pertanyaan yang dijawab atau dibiarkan tak terjawab oleh penulisnya, membuat dada saya sesak. Tanpa disadari, pertanyaan yang sama biasanya juga terlintas dalam pikiran saya atau orang banyak pada umumnya. Hujatan dengan kata ‘mengapa’ sering ditujukan pada Tuhan. Apakah Tuhan menjawab? Ada banyak dimensi dimana pertanyaan itu terjawab atau tidak. Yang bisa dilakukan adalah berdoa. Karena memang itu satu2nya yang bisa dilakukan dan menenangkan, kata Eca.
Membaca buku ini sebaiknya dalam kondisi sepi, sendiri, sehingga jika dada anda sesak, anda bisa bebas mengusap airmata yang tiba2 menggenang. Atau ketika potongan adegan yang sebenarnya lucu, tapi terasa pahit, anda bisa juga bebas tertawa. Seperti ketika Naya makan nasi goreng, yang tidak jelas siapa yang memasak, dan ternyata tidak bergaram. Eca dan Ade hanya saling berpandangan. Siapa yang memasak. Mata tiba2 mengabur ketika potongan adegan Naya yang kasar membuatkan perayaan Natal yang dia buat meriah, tanpa menunggu tanggal 25 Desember, karena takut Lin tak lagi bisa mencapai tanggal 25 Desember. Pesta meriah, dengan kereta, Bunda Maria yang hamil tua dan salju—sesuatu yang sangat diidamkan Lin.

Well, ini baru pertma kali buat saya menulis book review tanpa menyelesaikan bukunya terlebih dahulu. Karena terus terang, ketika membaca buku ini, pikiran saya pun terimbas kekosongan pikiran para tokoh dalam novel, yang melakukan pekerjaan, tanpa sadar apa yang kereka lakukan. Sementara saya membaca juga dengan debar yang sama, akankah derita Lin akan berakhir? Novel ini ringan, akan tetapi, bukan Arswendo namanya jika ia tak bermain kata2 efektif yang mampu membuat dada saya sesak, serta tak lupa rima yang indah.
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
February 27, 2013
Bagaimana kita menghadapi cobaan disaat kita merasa telah cukup berlaku baik dan menuruti semua perintah Tuhan ? Apakah penyakit dan kesusahan yang ditimpakan kepada manusia adalah pembalasan dan hukuman dari perbuatan manusia itu sendiri? Banyak pertanyaan-pertanyaan menggugat yang sulit untuk dijawab saat Tuhan memberikan jalan hidup yang harus dijalani.

Lilin, gadis kecil penderita semacam penyakit akibat kondisi darahnya yang tidak biasa. Satu anggota keluarga yang sakit parah adalah kesakitan yang harus ditanggung seluruh anggota keluarga. Bagaimana menyikapi,menghadapi situasi seperti ini. Sulit dan menyedihkan...
Profile Image for Mia Prasetya.
403 reviews267 followers
February 22, 2010
Buku Arswendo Atmowiloto pertama yang saya baca. Buku yang indah, penggunaan kalimat berima membuat saya jadi pengen buat puisi :D

Cerita sederhana, berkisar dari anak kecil bernama Lilin yang menderita kelainan darah.

Doa? masih manjurkah doa itu?

Kalau orang benar seperti ibu si Lilin terkena musibah berat, apakah Tuhan marah padanya?

Masih sanggupkah kita bersyukur di kala kesesakan itu datang?

Semuanya terjawab dengan indah di bab terakhir buku ini.
"Ketika kita menjalani dengan iklas, dengan tulus, dengan apa adanya itulah arti bersyukur."

"Bersyukur itu lega, tidak cemas, tidak lagi dibalut rasa takut, tidak berputar-putar dengan mencari alasan"

"Keajaiban bisa berarti ketika kita makin mendekat pada Tuhan, dengan segala doa, dengan segala upaya kepatuhan dan kesetiaan. Tapi juga berarti kita menyatu dengan Tuhan dan tetap bisa memaknai tanda-tanda yang diberikan, dan tetap hidup dalam kenyataansehari-hari."
Profile Image for Endah.
285 reviews157 followers
November 9, 2008
Rasanya sudah lama sekali saya tak membaca karya-karya Arswendo, penulis yang saya kenal sejak dekade 80-an ini. Boleh dibilang saya adalah penggemar mantan pemimpin redaksi tabloid Monitor ini. Saya mengikuti karya-karyanya, terutama fiksi, sejak cerita serial Imung dan Keluarga Cemara yang rutin terbit di majalah remaja Hai, cerita-cerita bersambungnya di Kompas yang kemudian dinovelkan (Opera Jakarta dan Opera Bulutangkis dengan memakai nama samaran Titi Nginung) sampai novel-novelnya yang lain (terakhir yang saya baca berjudul Canting).

Saya menyukainya sebab kisah-kisah yang digarapnya hampir selalu bertema realis, ihwal kehidupan “orang-orang kecil” yang berjuang keras menyiasati hidup. Dituturkan dengan bahasa sehari-hari yang sederhana; humor-humor yang miris, serta akhir yang kerap menyentuh. Tokoh-tokoh ceritanya dipungut dari orang-orang biasa dengan persoalan-persoalan yang biasa yang dapat dengan mudah kita jumpai sehari-hari di sekitar kita. Tokoh-tokohnya tak pernah berpretensi sebagai pahlawan tangguh atau manusia sempurna yang tak pernah berbuat salah. Mereka adalah manusia biasa yang sering putus asa dan tak luput dari dosa. Itulah yang membuat karya-karya Arswendo terasa begitu akrab dan membumi.

Demikian pula halnya Horeluya, novel terbaru karya penulis kelahiran Solo, 26 November 1948 ini. Dalam buku setebal hanya 200-an halaman ini, Arswendo sekali lagi kembali menyuguhkan sebuah realita masyarakat bawah yang kudu bertarung mengatasi musibah.

Adalah Lilin, bocah perempuan berumur 5 tahun yang menjadi sentral novel Horeluya. Pasalnya Lilin mengidap penyakit langka berupa kelainan darah yang hanya bisa disembuhkan melalui transfusi dari donor dengan golongan darah yang sejenis. Dari hasil tes laboratorium diduga ada kelainan pada sel darah merahnya. Lilin memiliki golongan darah rhesus negative dan tak mampu memproduksi sel-sel darah putih. Gangguan kesehatan yang paling remehpun akan sangat memperburuk kondisi Lilin, sebab ia tak memiliki kekebalan tubuh. Satu-satunya upaya penyembuhan medis adalah dengan cara transfui dari golongan darah yang sama. Malangnya, jenis darah Lilin tergolong jenis yang langka.

Dokter telah memvonis hidup Lilin tak akan lebih dari 3 bulan jika tidak segera mendapatkan donor. Segala upaya telah dilakukan oleh Eca dan Kokro, orang tua Lilin, demi kesembuhan anak mereka semata wayang.

Saat semua usaha medis menemui kebuntuan, sebagai keluarga Katholik yang taat, Eca dan Kokro, memanjatkan doa-doa, berharap terjadi sebuah keajaiban yang akan mengembalikan Lilin sehat seperti sedia kala. Setiap hari Eca berdoa di sebuah gereja tua di kampung mereka, di depan goa Maria, memohon kesembuhan bagi putrinya tercinta.

Diam-diam ternyata ada wartawan koran daerah yang iseng mengamati kebiasaan Eca berdoa di gereja itu. Adam, demikian nama wartawan tersebut, kemudian memasang foto Eca yang sedang berdoa disertai komentar : “Apakah di zaman yang sudah sangat modern ini masih perlu menyembah patung atau berhala? Apakah patung akan memberikan jawaban, ataukah ikut menangis darah tanda prihatin?”

Penderitaan Eca dan Kokro semakin berat sebab kemudian Kokro diberhentikan dari pekerjaannya di pabrik biskuit karena ulah sentimen pribadi seseorang yang dengki kepadanya. Untungnya usaha bikin spanduk yang pernah dirintisnya bersama Nayarana, adik lelakinya, masih bertahan. Naya yang urakan itu menjadi semacam penyeimbang sekaligus penghibur dalam kisah yang sedih ini. Gaya cuek Naya serta gurauan-gurauannya membuat Horeluya menjadi lebih berjiwa, wajar, dan manusiawi.

Meskipun akhirnya saya harus bilang, bahwa Horeluya bukan cerita yang terlalu istimewa, namun dengan segala “kesederhanaan” yang ditampilkannya, buku ini telah berhasil menyentuh saya, beberapa kali bahkan sempat membuat mata saya berkaca-kaca.

Seperti yang hampir selalu kita temukan dalam karya-karya Arswendo, Horeluya juga berangkat dari kehidupan sebuah keluarga Indonesia, Jawa khususnya, yang guyub, akrab, dan saling mencintai dengan caranya tersendiri. Satu keluarga bukan hanya terdiri dari keluarga batih (ayah, ibu, anak) tetapi juga kadang-kadang ada anggota tambahan seperti adik, kakak, atau paman dan bibi yang mesti kita tampung karena alasan-alasan kekeluargaan. Sistem kekerabatan kita tidak membenarkan kita mengusir atau menutup mata menyaksikan keluarga kita sengsara.

Kecuali itu, Wendo juga memotret realita masyarakat kota kecil yang masih tebal relijiusitasnya; yang ketika berhadap-hadapan dengan musibah senantiasa berpaling kepada Tuhan, pemilik segala kekuatan. Kita masih sangat yakin, bahwa segala bencana dan penderitaan adalah ujian bagi keimanan kita sehingga sudah selayaknya kita menerimanya dengan sabar dan ikhlas. Kita masih percaya doa-doa akan menyelamatkan kita dari marabahaya. Kita mengimani, bahwa saat kita tak sanggup mengatasi persoalan–apa saja, mulai dari rezeki, penyakit, sampai urusan jodoh–sebaiknya kita serahkan saja kepadaTuhan. Sebab, semua berasal dari dan akan kembali kepada Tuhan. Duh, sungguh tidak enak jadi Tuhan kalau begitu karena harus mengurusi banyak masalah manusia.

Begitulah. Dalam buku ini Wendo menunjukkan bagaimana keajaiban bekerja. Bukan dengan sim salabim atau tongkat ajaib peri, tetapi oleh sebuah upaya nyata dan beberapa kebetulan yang logis yang barangkali memang sudah diatur Tuhan (Lah..kok Tuhan lagi akhirnya?).

Saya jadi ingat “teori” mestakung (semesta mendukung) yang pernah dinyatakan oleh Yohannes Surya, ketua Tim Olimpiade Fisika yang telah mengantarkan tim Indonesia menjadi juara dunia oliampiade fisika internasional di Singapura (2006). Mestakung diambil dari konsep sederhana fisika, bahwa ketika sesuatu berada dalam kondisi kritis maka setiap partikel di sekelilingnya akan bekerja serentak dan mencapai titik ideal. Mestakung menempatkan masalah dan rintangan menjadi kondisi kritis yang mendorong kekuatan-kekuatan alam mendukung upaya mewujudkan mimpi. Dalam setiap keadaan kritis, Yohannes yakin, mestakung pasti terjadi, di mana pun dan dalam bidang apapun. Bakan dalam kehidupan pribadi kita.

Dalam kasus Lilin di buku ini, kiranya demikianlah yang terjadi. Masalah percaya atau tidak, terserah Anda.***

Profile Image for N.  Jay.
242 reviews9 followers
January 6, 2020
Kisahnya ditulis dengan sederhana saja, nggak begitu rumit. Mengenai apakah kita tetap teguh pada harapan dan keyakinan kita pada keajaiban yg mungkin ditunjukkan oleh Tuhan dalam kesusahan yg melanda hingga melungsurkan setiap warna dari hidup.

Kisahnya tentang Sekar, biasa dipanggil Lilin yg menderita kelainan pada darahnya sehingga perlu mencari donor yg sayangnya sulit karena golongan darahnya yaitu rhesus negatif.

Cara cerita yg mengalir begitu saja nyaris saya katai lempeng saking tak ada gejolak berarti karena saya suka pergolakan yg mencengkeram emosi, tapi novel punya daya tohoknya sendiri yg diwakili dialog antar karakternya. Terutama dari karakter mas Naya, yg sempat saya duga agak sinting karena cara mengutarakan omongannya sekalipun ia berandalan dan bajingan atas tindakannya pada pemberitaan terhadap kakak iparnya (yg nyatanya malah mempertemukan kabar baik bagi Lilin), tapi omongan masuk akal juga setelah dicerna intinya.

Tiga bintang dari saya untuk cerita yg menghangatkan ini.
Profile Image for Tika.
9 reviews
July 21, 2021
Ceritanya tentang Kokro, Eca yang punya anak namanya Lilin. Mereka bertiga serumah sama Ade, adeknya Eca dan Narayana adeknya Kokro. Mereka berlima hidup lurus dan taat tapi cobaan hidup datang ketika Lilin punya kelainan darah, Kokro dipecat dan Ade mandek kuliah.

Saya selalu suka baca buku Arswendo Atmowiloto. Bukunya tidak pernah membosankan, bisa saya habiskan dalam sekali duduk. Padahal untuk karya fiksi, menurut saya akhir-akhir ini membosankan dan ga ada gregetnya.

Cara penulis menyampaikan konflik batin dari oara tokoh. Menggambarkan kepercayaan mereka yang begitu tinggi terhadap Tuhannya dan cara-cara logis dalam menanggapi semua drama kehidupan. Saya sangat suka. Terutama tokoh Narayana yang paling rasional diantara tokoh lainnya.

Semua dikemas apik. Tidak membosankan. Ringan. Tapi membuat kita cukup yakin bahwa semua yang terlalu itu tidak baik.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Nisiiwidi.
10 reviews
June 29, 2021
Tokoh Kokrosono, Eca dan Lilin tidak terlalu menarik karakternya bagiku.

Yang cukup menarik perhatian adalah karakter Narayana paklik dari Lilin dan Siti yang merupakan teman dari Kokrosono. Karakter Ade sebagai bibi nya Lilin tidak terlalu kuat.

Tokoh Narayana adalah tokoh paling 'bisa jadi dirinya sendiri' dalam cerita. Pentingnya punya banyak relasi juga bisa tergambarkan dari tokoh Narayana ini.

Karakter Siti menarik khas-khas dewasa muda yang mencari jati diri.
Profile Image for Ancilla Irwan.
56 reviews10 followers
August 27, 2008
At first, I thought that this is a religious novel. I feel amazed because there are only a few novel which have Christianity background in Indonesia. Anyway, I always believe that art is something that we can share with others, no matter who they are, what their religions, and so on.

I feel satisfied with this book. It advised that we have to live without regret. We have to fight as hard as we can, but we also have to learn how to let it flow.

On the other hand, this book captured many social issues only in 236 pages. Here are things that I remember...

1. Currently, life is being a product of capitalism. We don't care anything else, except how to fulfill what we need. Money and power are the most important thing. We forgot the essences of living. In that case, we have tendencies to help others as long as we can see the benefits. Everything has to be measured and tangible!!! What a pity!

2. The office environment, where there are people who compete in a deceitful way. Justify whatever it needs to reassure their positions.

3. The inter-culture and inter-religion relationships. There is no boundaries to have a good and strong relationship. That we have to focus on the similarities instead of differences. To remind us that the most important thing is willingness to share, instead of demographical characteristics. To remind that there are undercover-unfair-competitions based on religion, ethnic or other characteristics. For example, community put their trust on Koh Abun who has Chinese ancestry, to lead their neighborhood district. Or the habit to see that even in the office, there are preferences based on demographic characteristics instead of professionalism.

4. How people have tendencies to underestimate what others' belief. They only see what they want to see in a way they get used to, as a justification.

5. How justice without trial happens in Indonesia, which actually happens in this world. Again, a reminder to have an open-minded point-of-view, to see the reality behind anything. That life is not simply as we understand.

5. Inspire us to believe that The Almighty speaks to us through many ways.


Arswendo succeed to take the reader to get in through the story. It seems like the readers were there and observe the characters. He gave religious perspective, without any intention to be a preacher which is good. I am sick with those people who always speak this and that in the name of religion. I hate this kind of people. They want to be seemed as religious persons (and even leaders), but they forgot to practice the goodness. Even worse, some of them put their religious knowledge as a tool to get power!!!

Last, I do love the character of Naya (Nayarana) in this book. He is a fighter! He doesn't care with what people may say about him. He always be a bad boy in the family, a violent one. But He fought for what he believe and those who He cared about. And his life in this book, gives a proof, that people may change!
He changed because he wanted it, not because people told him to do so!!!
Profile Image for Rita.
9 reviews
November 5, 2012
I like the title "Horeluya" it makes me cheer up. I assumed that this word is taken from "Hore" and " Haleluya". “Hore” is Indonesian expression of gratitude same as “Haleluya” it also a word use to express gratitude but more popular among Christian people.

Well this book tells the story of a family which the only child and daughter of the family unfortunately have to struggle to fight a rare disease.

I really love the way the author wrote the story, I can really feel the stress and sadness each of family member, knowing that this child, Lilin, can die if she did not get the Rhesus negative blood donor within 3 months

I extremely felt sad when the time is reaching 3 months and the donor didn’t appear yet. The child, Lilin is asking for Christmas party with snow. And everyone get so nervous knowing that this could be her last will. Her uncle really make his every extra effort for this Christmas party to be held plus the snow. The Christmas party was successful. Lilin felt very happy and satisfied. And the family starting to try accepting the worst that can happen. I like to quote some phrases form this part : “…instead of asking God to heal our Lilin, why don’t we try to pray like Jesus at Getsemani, by saying: “O my Father, if it be possible, let this cup pass from me, nevertheless not as I will, but as thou wilt”…”

But at last when the family were at the end of their despair, and they began to surrender and sincere, the donor came to rescue. But still even though the donor finally appear there's a doubt and anxiety.

And it turned out the donor is being robbed and shot. Although the donor is still alive but she was too weak to perform blood transfusion. Situation is very unfortunate for Lilin which her weakened body have to wait more longer for blood transfusion.

When everybody was so worry about lilin, whether she can make it any longer to wait her donor to recover, Lilin, instead was concerned about the donor condition. She hope she can help the donor by giving the donor her blood so that the donor can be cured. Everybody are touched by how unselfish and mature of Lilin.

hearing this story of Lilin who wants to donor her blood instead, the donor was touched. She didn’t care about her condition, she was eager to donate blood to Lilin as soon as possible.

Finnaly at the end Lilin get her blood transfusion and can be heal. A Happy ending and very touching story form Arswendo Atmowiloto. i love this book.
Profile Image for Jimmy.
155 reviews
July 17, 2008
Keajaiban bisa datang dalam berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk masalah atau hal yang menyakitkan, bisa juga dalam bentuk hal yang menyenangkan, tergantung dari sisi mana kita memandangnya. Ketika kita ditekan oleh masalah yang terasa sangat berat untuk ditanggung, Sang Pencipta adalah jalan yang terakhir untuk dimintai pertolongan. (Untungnya)itu terjadi karena kita masih percaya dengan Sang Pecipta. Namun, percaya saja tidak cukup kalau tidak didukung oleh rasa berserah diri yang seutuhnya. Karena ketika kita tidak berserah, kita akan selalu dilanda oleh kecemasan walaupun kita sudah berdoa (setiap saat) kepada Tuhan yang kita percayai.

Hal ini dialami oleh Kokro, Eca, Ade, Naya, dan Siti dalam buku "Horeluya". Penyakit yang diidap oleh Lilin, anak perempuan mereka, ternyata bisa mendekatkan hubungan diantara mereka, dan terlebih hubungan mereka dengan Tuhannya. Walaupun dalam proses penyembuhan penyakit aneh Lilin, iman percaya mereka tidak disertai dengan penyerahan diri yang utuh, tapi pada akhirnya keajaiban itu muncul dengan cara yang tidak pernah mereka duga, yang membuat mereka sadar dan berserah kepada Yang Maha Kuasa.

Bagaimana seorang anak kecil berumur lima tahun, Lilin, bisa memberi pelajaran yang sangat berharga bagi seorang ibu yang merasa sudah melakukan banyak hal dalam kebaikan, serta mempunyai segalanya. Tapi, satu keinginan polos dan tulus dari Lilin, mampu membuatnya berpikir lagi akan makna hidupnya.

Hore....hore...horeluya....!!! (dinyanyikan dalam nada nyanyian para suporter sepakbola)

*Kalau takut berbuat salah, mending jangan hidup sekalian - Naya
Profile Image for Adek.
195 reviews4 followers
March 31, 2013
Meski hanya sebatas Cameo, gw paling suka sama tokoh Si Tukang Cukur, pasti orangnya seru, ramah, dan rendah hati.

Di novel Arswendo kali ini ada Lilin, sebagai penerang hidup banyak orang: Kokro, Eca, Naya, Ade, Siti, Bu Devi, si wartawan Adam, dan Musa.

Novel ini dimulai dengan perjalanan yang sepi ke tempat sunyi untuk meminta. Berangkat ke gereja, Eca diboncengi oleh suaminya Kokro. Perjalanan dalam diam, penuh kelebat di hati masing-masing karena penyakit yang diderita Lilin.

Konfliknya merata dari awal hingga selesai cerita. Tapi seperti tidak memiliki puncak konflik yang sebenarnya. Pengobatan Lilin yang sampai Belanda dilalui dengan "enteng" dan tanpa beban. Derita yang bisa saja melahirkan gelombang besar seperti disapu bersih oleh tokoh Naya yang positive thingking-nya terlalu positif. Lucu banget ketika Naya menyadarkan makanan tanpa garam yang dibuat oleh entah Eca entah Ade. Pokoknya suka banget sama Naya dibanding ayah Lilin sendiri, Kokro.

Cerita ini cukup religius dan dekat dengan keseharian kita. Di saat penyakit mampir atau kehilangan pekerjaan, itu adalah kerjaan Tuhan untuk menguji kesabaran kita dan melihat seberapa besar rasa syukur kita.

Pesan Naya banyak, yang paling gw suka: jangan bertanya pada orang lain apa yang terbaik untuk kita. Simple sih, tapi baruuuu aja ngena sama pengalaman gw sendiri.
Profile Image for an.
764 reviews22 followers
December 16, 2013
semua hal mungkin bbia dibawa dalam doa dan pengharapan tapi bukan bearti semua na bisa dikabulkan

sisi manusiawi inilah yang tampak na ingin diangkat arswendo dalam novel dengan lilin sebagai tengah na. lilin bukan lah tokoh utama melainkan yang menjadikan benang merah bagi kisah-kisah yang dialami para pelaku di sekitar na. horeluya merupakan tulisan arswendo pertama yang rhe baca dan membuat rhe penasaran untuk membaca tulisan na yang lain.

pemilihan nama tokohsentral na, lilin seakan juga telah dipikirkan masak-masak. lilin yang menyinari kehidupan di seitar na saat dia ada dan bukan bearti memadamkan kehidupan di sekitar na kala dia tak ada. karena seperti fungsi na lilin sebenar na, dia hanyalah pengganti bukan pemilik cahaya yang sebenar na. kita menggunakan na kala sudah malam, gelap, tak ada terang atau sumber penerangan yang lain

jadi, seperti kisah lilin ini, jika saat na nanti memang dia harus kembali kepada pencipta na, haruslah ikhlas yang ada. karena dia hanyalah sementara, dia hanyalah pengganti. bukan berdoa dan mengharap keajaiban karena jika semua doa dikabulkan maka manusia akan arogan, tak perlu lah usaha karena dengan berdoa aja bisa terkabul. yang ada adalah... ilkhas. ya sudah. maka semua na akan lebih ringan dan tidak saling menyalahkan. mungkin saat itulah hal baik lain yang akan muncul kemudian

-22 '13-
Profile Image for .:FLOE:. Floe.
28 reviews7 followers
October 26, 2009
Bercerita ttg arti pengharapan dilihat dari dilihat dr sudut pandang secara umum dan nalar. Diluar konteks keagamaan.
Memandang arti pengharapan dr keikhlasan.

Bercerita tentang seorang bocah yg harus menanggung sakit kelangkaan golongan darah, rhesus negatif.
Disaat kluarganya butuh biaya,sang ayah mesti masuk dlm daftar pengurangan pegawai tanpa alasan yg jelas.
Dan disaat semuanya berada di ambang batas mulai muncul keajaiban yg diharapkan. Tiba2 ada pendonor yg bersedia mendonorkan darahnya buat Lin. Tp tyata mereka msh harus menjalani satu ujian lg. Krn beberapa hari sebelum waktu yg ditentukan sang pendonor harus mengalami perampokan dan saat justru dia yg membutuhkan darah.
Dsini konflik mulai muncul, keimanan mereka mulai dipertanyakan. Mereka merasa slama ini slalu berada di jalur yg benar, tp knp harus mereka yg menjalani cobaan ini.
Muncul nayarana adik sang ayah, yg brutal, yg hidup semaunya dan tdk mengenal arti keimanan, Yg memandang semuanya secara logis.
Tp justru dgn jalan pemikirannya itu justru bs menyelamatkan kluarga tersebut.

Arswendo bercerita dgn bahasa yg simple,sederhana dan mengalir.
Sepertinya saya mulai tertarik dgn karya2 beliau....
Profile Image for Hendra.
19 reviews2 followers
June 28, 2011
Sebuah cerita tentang keluarga biasa yg terdiri dari ayah (Kokro), ibu (Eca), anak perempuan satu2nya (Lilin), paklik (Naya), Buklik (Ade). Keluarga biasa ini menjadi tidak biasa setelah Lilin (biasa dipanggil Lin) divonis penyakit kelainan darah plus mendapat bonus Kokro diberhentikan dari perusahaannya karena efisiensi.

Cerita dibangun dengan bagus, di awal cerita mengalir maju mundur, waktu skrg bergantian dg flashback. Penggunaan kata-kata yg tepat berhasil menggambarkan suasana bingung, kacau & rasa takut kehilangan Lin dari seluruh anggota keluarga lainnya. Bagaimana keluarga menyikapi permintaan2 aneh Lin (misalnya Lin ingin merayakan Natal di rumahnya dg salju spt di cerita2) dg panik karena beranggapan permintaan itu bisa jadi akan menjadi permintaan terakhir Lin.

Buku ini juga banyak diselipi dialog keagamaan (dalam hal ini dari sudut pandang Katolik) yg menggugah pertanyaan kepada diri kita sendiri. Sayangnya cerita yg dibangun dengan demikian bagus diakhiri dg (terlalu) ringan [imho], semua problem dapat diselesaikan dg baik tanpa adanya kejutan. Tapi secara keseluruhan novel ini sangat layak dibaca.
Profile Image for Nines.
25 reviews
August 31, 2008
bercerita tentang keluarga yang memiliki Lilin, seorang anak berusia lima tahun yang mengidap penyakit kelainan darah. Di saat kritis sang anak, menunggu kepastian ada tidaknya donor darah rhesus negatif yang langka, sang ayah dipecat oleh perusahaan tempat dia mengabdikan hidup selama tiga tahun terakhir.
Sang istri tekun berdoa kepada bunda Maria di depan gua maria sebuah gereja lama. Kebiasaan itu dianggap seorang wartawan adalah kegilaan dan berujung pada munculnya foto sang ibu sedang berdoa di sebuah harian kota. sebuah komentar sinis menjadi keterangan di bawah foto tsb.

ceritanya lumayan... sederhana... cerita tentang kasih, tentang perjuangan sebuah keluarga mempertahankan kasih itu sendiri.. mempertahankan Lilin.

Daku selesai membacanya.. sekitar 3 jam semedi lah... :D mengurung diri di kamar.. sembari sesekali membalas chatingan dari teman..

but well.. setelah sekian lama tidak baca fiksi genre seperti ini... aku sedikit terhibur.. :) jadi kepingin baca n beli lagi... *uhffhh.. boros.. :((

Profile Image for Arni.
3 reviews
August 14, 2009
"Kapan ya, gue bisa seperti Lilin?" Itu pertanyaan seorang teman yang memiliki penyakit yang belum juga sembuh. Lilin diceritakan sebagai anak yang ceria dan tetap kuat melawan sakitnya. Sayangnya, keluarganya yang miskin tak mampu membiayai operasi yang harus dilakukan untuk menyelamatkannya. Tapi, keajaiban akan selalu datang!

Pak Arswendo ringan bercerita soal-soal kemanusiaan, terutama kaum lemah biaya. Miris memang membacanya. Tapi itu realitas. Ada banyak orang sakit tapi tidak mampu, dan akhirnya mati karena tidak diobati.

Di sini juga diperlihatkan: kalau doa memang mujarab.
Profile Image for Mandewi.
574 reviews10 followers
October 21, 2014
Meskipun agak datar, tetapi pembicaraan mengenai ketuhanan di novel ini menarik. Ada yang percaya bahwa kesulitan hidup adalah bencana, ada yang percaya bahwa itu justru adalah keajaiban. Ada yang percaya bahwa kita harus merasa cemas dan terus berdoa demi kehidupan yang baik-baik saja, ada yang menjalani saja hidup dengan pasrah.

Meskipun tokoh dan keluarganya adalah penganut Kristen, tetapi beberapa pemikiran yang diperdebatkan beberapa tokoh sesuai juga untuk semua orang. Karena, ya, pembahasan mengenai iman dan kepercayaan kan mendasari semua agama.
Profile Image for ana.
244 reviews42 followers
December 7, 2015
Saat memebaca ini, sekilas saya jadi ingat novel Harimau-harimau karya Mochtar Lubis.

Diawali dengan kisah yang menyenangkan, lalu pembaca dibawa naik ke konflik yang semakin menanjak yang perlahan mengungkap sifat asli tokoh-tokohnya. Dalam sebuah keadaaan genting dan penuh tekanan, agaknya arswendo dan mochtar lubis sepakat, bahwa saat itulah manusia akan menunjukkan wajahnya yang sebenarnya.

Ada yang berjuang, panik, sedih, dan pasrah meski selalu berharap.

Bacaan yang menarik tentang psikologi manusia.
Profile Image for Juinita Senduk.
120 reviews3 followers
September 22, 2009
Pasrah kepada Tuhan ketika penderitaan datang adalah sesuatu yang abstrak, tahu tetapi tidak dapat dimengerti dengan akal sehat. Bahkan ketika penderitaan tersebut datang, kita cenderung menyimpan sosok yang bernama "Kenyataan" dalam kotak besi dan dikunci rapat sebelum di buang jauh-jauh. Kepasrahan dan Percaya bahwa Tuhan ada di saat penderitaan datang, memerlukan proses dan ketika proses itu berhasil dilewati, di saat itulah akhir dari segala penderitaan yang sesungguhnya.
Profile Image for Rowland Pasaribu.
376 reviews92 followers
July 20, 2010
Segala sesuatu ada batasnya...

Tak kala manusia mencapai batas akhir dari segala upaya dan daya menyikapi kehidupan, kita disadarkan bahwa there's a limit for anything,... passion, patience, even our humble....

Satu hal yang seringkali tidak kita sadari penggunaannya dalam aktivitas sehari-hari... Iman yang hidup.

Buku ini lebih dari 1000 tahun khotbah di gereja (for me), akan pemaknaan jujur hubungan kita dengan pencipta kita....


Salam bung Arswendo
Profile Image for Nathalia .
19 reviews
September 2, 2010
Bagus. Bikin saya merinding, menangis dan ketawa. Gaya bertutur yg lugas ala Arswendo sangat menarik. Kisah kekuatan cinta orang tua (Kokro & Eca) terhadap anaknya, Lilin, yang menderita penyakit langka, serta pertanyaan dan pernyataan2 menggugat akan keimanan manusia kepada Tuhan yang sering dilontarkan tokoh Narayana bisa membawa saya turut berpikir akan keimanan saya selama ini. Menurut saya tokoh utama dari cerita ini adalah Narayana (paman si Lilin) dan Lilin sendiri.
Profile Image for Ignatia Anna.
10 reviews1 follower
November 7, 2012
Cerita yang bagus banget... mengajarkan kita bagaimana orang2 bisa tetap beriman dalam cobaan yang bertubi2, bagaimana mereka melihat dan memahami cobaan tersebut sebagai bagian dari rencana Tuhan dan menerimanya dengan lapang dada.

Walaupun awalnya agak sulit karena si pengarang (Arswendo Atmowiloto) menggunakan alur cerita dan bahasa yang sedikit 'berbeda' tapi maknanya buat aku dalam banget. Novel yang 'tidak biasa' namun dengan cerita yang 'luar biasa'.
Profile Image for Rediningrum.
53 reviews1 follower
August 10, 2008
Borrowed from my Boss.I love this title: Horeluya, short but means many things. Even u'll find sadness until the end of the story, a lot of questions will describe why we should thankful and praise to the Lord.. Yes, even in sadness. Catholic faith and Javanese culture become the plot of this novel. I assume it will be compared to other religious novel there.
Profile Image for Memy Jedo.
43 reviews22 followers
Read
June 27, 2012
Horeluyaaaaaaaaaaaaa!

Ungkapan spontanitas yang menggema di pekarangan rumah Lilin dengan hujan kapas serupa salju.
Hikmah di balik kejadian-kejadian yang tidak mengenal kata "kebetulan".
Hanya itu yang mampu dipercayai.
Kepolosan Lilin, Keteguhan Kokro dan istrinya, sikap acuh tak acuh Naya hanya mengarah pada satu tujuan:
"cinta".
Lilin, dan hanya Lilin.
Profile Image for Rachel Yuska.
Author 9 books245 followers
August 18, 2013
Such a heartwrenching turned heartwarming read. Kisah sederhana yang dikemas dengan balutan kata-kata yang indah. Pengalaman pertama membaca karya Arswendo. Tak sabar ingin segera melahap Dewi Kawi dan Canting.
Profile Image for Chendani Budhi.
40 reviews2 followers
January 5, 2016
I like the idea. Arswendo juga menuturkan dengan gaya tidak terlalu pop, tapi tidak terlalu sastra. Persis seperti cara dia ngomong kalau kita lihat di TV :).
Sayangnya bukunya sedikit anti klimaks.
Profile Image for Maria.
40 reviews6 followers
May 13, 2008
Bagus banget walaupun juga sedih banget...

"Rancangan-Ku bukan rancanganmu, jalan-Ku bukan jalanmu"
Profile Image for kinu triatmojo.
288 reviews3 followers
September 6, 2008
ceritanya jauh dari sangkaan saya menyangkut judulnya. tak ada penyelesaian lewat tokoh super (rohaniawan dsb) melainkan dialog, narasi dan peristiwa yang menunjukkan kemanusiaan tokoh-tokohnya.
Displaying 1 - 30 of 38 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.