Jump to ratings and reviews
Rate this book

Begitu Ya Begitu, Tapi Mbok Jangan Begitu

Rate this book
Kita hidup pada zaman yang di dalamnya penguasaan uang atau materi lewat kerja keras dan ketekunan diterima sebagai suatu yang baik dan seharusnya. Sebaliknya, duduk merenung, merefleksikan sesuatu dapat dianggap sebagai perilaku yang melecehkan waktu dan efisiensi.

Begitu ya Begitu tapi Mbok Jangan Begitu merupakan karya Danarto dalam bentuk esai yang, tampaknya, dimaksudkan untuk menyentil kebiasaan yang cenderung tergesa-gesa untuk berlari mencari nafkah. Dan dalam ketergesaan itu kadang manusia lupa untuk sedikit mencoba memahami fenomena kehidupan. Bahkan cenderung lupa bahwa fenomena itu tidak lepas dari “skenario” yang ditulis oleh Allah Swt.

Dari delapan puluh judul lebih tulisan yang terhimpun dalam buku ini, Danarto yang santri itu, mencoba mencegah kita untuk menjadi kurang peka atau tumpul dalam memahami fenomena kehidupan dalam konteks membaca “skenario” Ilahi.

“Dalam esai-esai ini, Danarto tidak lepas dari kebiasaannya sebagai penulis cerpen yang telah mengembangkan cap yang khas, yaitu ,fantastik-surealistik'. Yakni melihat kehidupan tidak sebagai realitas biasa tetapi sebagai realitas yang berlapis-lapis dengan kemungkinan cerita. Namun demikian, buku ini tidak mengandung—apalagi mengajarkan—pesimisme, tetapi memberikan semangat optimisme dalam ketawakkalan kepada takdir Tuhan.”—Umar Kayam

416 pages, Paperback

First published November 1, 1996

6 people are currently reading
35 people want to read

About the author

Danarto

30 books42 followers
Danarto dilahirkan pada tanggal 27 Juni 1941 di Sragen, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Jakio Harjodinomo, seorang mandor pabrik gula. Ibunya bernama Siti Aminah, pedagang batik kecil-kecilan di pasar.

Setelah menamatkan pendidikannya di sekolah dasar (SD), ia melanjutkan pelajarannya ke sekolah menengah pertama (SMP). Kemudian, ia meneruskan sekolahnya di sekolah menengah atas (SMA) bagian Sastra di Solo. Pada tahun 1958–1961 ia belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta jurusan Seni Lukis.
Ia memang berbakat dalam bidang seni. Pada tahun 1958—1962 ia membantu majalah anak-anak Si Kuncung yang menampilkan cerita anak sekolah dasar. Ia menghiasi cerita itu dengan berbagai variasi gambar. Selain itu, ia juga membuat karya seni rupa, seperi relief, mozaik, patung, dan mural (lukisan dinding). Rumah pribadi, kantor, gedung, dan sebagainya banyak yang telah ditanganinya dengan karya seninya.


Pada tahun 1969—1974 ia bekerja sebagai tukang poster di Pusat kesenian jakarta, Tam Ismail Marzuki. Pada tahun 1973 ia menjadi pengajar di Akademi Seni Rupa LPKJ (sekarang IKJ) Jakarta.

Dalam bidang seni sastra, Danarto lebih gemar berkecimpung dalam dunia drama. Hal itu terbukti sejak tahun 1959—1964 ia masuk menjadi anggota Sanggar Bambu Yogyakarta, sebuah perhimpunan pelukis yang biasa mengadakan pameran seni lukis keliling, teater, pergelaran musik, dan tari. Dalam pementasan drama yang dilakukan Rendra dan Arifin C. Noor, Danarto ikut berperan, terutama dalam rias dekorasi.
Pad tahun 1970 ia bergabung dengan misi Kesenian Indonesia dan pergi ke Expo ’70 di Osaka, Jepang. Pada tahun 1971 ia membantu penyelenggaraan Festival Fantastikue di Paris. Pada tahun 1976 ia mengikuti lokakarya Internasional Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat, bersama pengarang dari 22 negara lainnya. Pada tahun 1979—1985 bekerja pada majalah Zaman.
Kegiatan sastra di luar negeri pun ia lakukan. Hal itu dibuktikan dengan kehadirannya tahun 1983 pada Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda.
Tulisnanya yang berupa cerpen banyak dimuat dalam majalah Horison, seperti “Nostalgia”, “Adam Makrifat”, dan “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaekat”. Di antara cerpennya, yang berjudul “Rintrik”, mendapat hadiah dari majalah Horison tahun 1968. Pada tahun 1974 kumpulan cerpennya dihimpun dalam satu buku yang berjudul Godlob yang diterbitkan oleh Rombongan Dongeng dari Dirah. Karyanya bersama-sama dengan pengarang lain, yaitu Idrus, Pramudya Ananta Toer, A.A. Navis, Umar Kayam, Sitor Situmorang, dan Noegroho Soetanto, dimuat dalam sebuah antologi cerpen yang berjudul From Surabaya to Armageddon (1975) oleh Herry Aveling. Karya sastra Danarto yang lain pernah dimuat dalam majalah Budaya dan Westerlu (majalah yang terbit di Australia).
Dalam bidang film ia pun banyak memberikan sumbangannya yang besar, yaitu sebagai penata dekorasi. Film yang pernah digarapnya ialah Lahirnya Gatotkaca (1962), San Rego (1971), Mutiara dalam Lumpur (1972), dan Bandot (1978).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (15%)
4 stars
8 (20%)
3 stars
18 (45%)
2 stars
7 (17%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Laily.
29 reviews
September 3, 2025
Sebagai seseorang yang baru mulai "membaca" politik setahunan lalu, kumpulan esai ini bagi saya terlalu advanced secara substansi meski sudah pakai istilah yang sangat merakyat lagi njawa (misal: slompret = dammit (eng)—maaf ini yang paling teringat di kepala). Tidak heran mengingat esai-esai tersebut ditulis dalam konteks persospolan tahun 92-94. Sebagian besar esai mau tidak mau membuat saya membatin, "YTTA banget," alias yang-tau-tau-aja yang paham.

Hal yang makin menyulitkan saya untuk menebak "tulisan ini mengambil situasi politik yang mana" adalah nihilnya keterangan tanggal terbit di bawah judul tiap esai. Saya baru ketemu kalau tanggal per esai dirinci di halaman akhir setelah sampai di 3/4 buku 😅

Tapi yah, jujur saja misal sudah tau tanggalnya pun saya tidak serajin itu menelusuri latar situasi satu persatu. Saya bisa bertahan hingga akhir juga karena gaya penulisan Danarto yang lawak nan pura-puranya ringan meski membawakan topik seekstrem itu pada masanya (menyenggol pemerintah langsung, kawan!).

Saya rekomendasikan buku ini untuk teman-teman yang ingin tau cara penyajian problem serius dalam format semi sontoloyo hehe ✊️😄
Profile Image for Ulin Nuha.
18 reviews1 follower
March 2, 2019
Mengkritik keadaan negara pada masa itu yang ternyata masih dan tetap sama terjadi di masa ini
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.