Penulis-penulis Terpilih: Seno Gumira Ajidarma Bre Redana Radhar Panca Dahana Hamsad Rangkuti Julius Siyaranamual Beni Setia Putu Wijaya Satyagraha Hoerip Slamet Nurzaini Ratna Indraswari Ibrahim Bondan Winarno Bakdi Sumanto Gde Aryantha Soethama Harris Effendi Thahar
Mereka semua berharap banyak, terlalu banyak, pada ruang cerpen di surat kabar, sebab peran majalah sastra sudah lama menyusut. Harus kita akui, bahwa cerpen-cerpen terbaik di Indonesia selama lima tahun terakhir muncul di Kompas dan di Matra, bukan di Horison. Sungguh mengagetkan, begitu kita menyadari tiba-tiba, bahwa ”kesehatan” sastra kita amat tergantung kepada para redaktur cerpen itu. Tapi juga menggembirakan, kalau dengan itu para penulis cerpen dibebaskan dari (sebagian) tradisi sastra yang membelenggu. (Nirwan Dewanto)
Demikianlah, semua cerpen dalam Pelajaran Mengarang ini sangat menyenangkan. Masing-masing pengarang mempunyai kelebihan sendiri-sendiri. (Budi Darma)
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.
He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.
Keren cerpennya punya pelajaran yg berkaitan dengan kehidupan. Cerita yang akrab di sekitar kita.
Favoritku yaitu Pelajaran Mengarang (Seni Gumira Ajidarma), Katuranggan (Slamet Nurzaini), Pencuri (Julius R. Siyaranamual), Dunia Transparan (Beni Setia) dan Dasar (Putu Wijaya). ⭐⭐⭐⭐
Jika mau ingin menyaksikan sebuah kesenjangan yang sesungguhnya, memahami betapa tidak bijaknya kita menunjuk-nunjukkan jari telunjuk kepada siapa pun selain kita dan menyatakan "ini benar, itu salah" atau sebaliknya, bacalah ini. Akan ada titik tempat yang biasa sebenarnya luar biasa "kurang biasa" -kalau tidak bisa dibilang kurang ajar; sedangkan yang dianggap tak-tahu-diri sebenarnya sah dan wajar saya menjadi dirinya yang seperti itu. Singkat dan jelas pada akhirnya, bahwa ... "Bisa jadi terlalu banyak dari kita yang gemar mengukur-ukur orang lain dan diri sendiri dari standar-standar "yang umumnya baik" dalam menentukan makna yang baik. Hukum positif, benar! Namun, barangkali kita juga harus ingat bahwa tak banyak - kalau tidak bisa dibilang tak ada - dari kita yang bisa benar-benar memilih apa yang terjai kepada kita, kan? Marilah menjadi bijak, marilah tak enggan untuk selalu meninjau segalanya dari banyak sisi, marilah ...apabila kita sampai pada simpulan kita, kita tak lantas memaksakan kepada orang lain dan mendorong-dorong mereka untuk memiliki jalan pikiran yang serupa.
Bagi orang seperti saya, yang selalu tidak betah duduk diam berlama-lama untuk menghabiskan sebuah cerita yang panjang (novel, dsb), membaca cerpen adalah pilihan terbaik. Cerpen, walaupun pendek (ya iyalah namanya juga cerita pendek), tapi sering kali mampu mengacak-acak perasaan saya selepas membacanya. Kalau sudah begitu, saya biasanya akan membacanya lagi untuk merasakan kembali perasaan itu. Hanya saja kadarnya akan lebih kurang tentunya. Pelajaran Mengarang adalah salah satu contohnya. Ini kali kedua (atau ketiga) saya membacanya. Saya masih ingat beberapa tahun yang lalu, ketika pertama kali selesai membaca Pelajaran Mengarang (cerpen pertama yang ditampilkan dalam buku ini), saat itu saya langsung mendeklarasikan Seno Gumira Ajidarma (SGA) sebagai jawara penulis cerpen Indonesia, haha! Ya, melalui cerpen inilah saya pertama kali berkenalan dengan nama SGA (rada telat ya) dan mulai mencari karya-karyanya yang lain. Hasilnya? Memuaskan! :-) Dalam buku ini, cerpen yang juga menarik perhatian saya adalah Pencuri, karya Julius R. Siyaranamual. Selain berani, cerpen ini juga membuat saya berpikir sambil menertawakan diri sendiri. Satu lagi (supaya cukup tiga) judulnya Dunia Transparan, karya Beni Setia. Jebakannya halus dan cukup susah untuk mengelak mencintainya (hallah hallah..). Satu yang mungkin menjadi yang terlemah di antara semuanya adalah Jerat, karya Ratna Indraswari Ibrahim. Idenya sih menarik dan menantang. Sayang, eksekusinya rada kurang. Bahasanya pun sesekali membuat kening saya berkerut. Plotnya jika dihubungkan dengan judulnya, berhasil membuat saya bertanya: ini sebenarnya tokoh utamanya yang berusaha menjerat, atau dia sendiri yang tanpa sadar sudah terjerat? Entah..
Kumpulan cerpen pilihan yang menurutku punya kemiripan yang sama-sama menggambarkan sifat dan kondisi kehidupan manusia di sekitar.
Cerpennya pendek-pendek dan tetep bikin enjoy pas dibaca. Nggak menyisakan plot hole mengganggu, jadi cocok buat dibaca sama yang lagi slump kayak aku.
Ada beberapa cerpen yang nggak cocok di aku tapi tetep bisa ngasi impresi yang lumayan positif karena ngasi aku informasi baru.
Untuk cerpen² yang aku suka, personally sih pilihanku: Pelajaran Mengarang, Katuranggan, Pencuri, sama Arloji Sumiani.
Keempat cerpen favoritku ini tipe yang singkat tapi udah menjelaskan secara menyeluruh. Pesannya tersampaikan dengan baik. Meski gak semua hooknya bikin aku tertarik, tapi keempat cerpen ini punya ending yang bikin 'deg'.
Keberagaman yang ditawarkan kompas dalam cerpen-cerpen pilihannya setiap tahun memang sungguh berwarna. Pada buku ini, cukup banyak cerpen yang ditulis oleh Seno (ada 3 atau 2 kalau tidak salah) sisanya, adalah bentuk representasi kesederhanaan dalam kekayaan makna. Tema yang beragam, cerita yang ringan namun menyentil, juga pengantar dan penutup dari Nirwanto dan Budi Darma.. kumpulan cerpen kompas kedua yang saya baca setelah ‘SMOKOL’, saya sangat menikmatinya
paling suka pelajaran mengarang ini adalah cerpen sastra pertsma yang aku baca waktu SMP dari ibuku. waktu itu beliau hanya memberi satu cerpen dan aku disuruh menanggapi. Tetap tercengang, tetap bikin mind blowing...
3,5 🌟 Cerpen yang berkesan: 1. Burung-burung pulang ke sarang; 2. Karturanggan; 3. Dunia Transparan; 4. Telinga; 5. Dasar; 6. Titin Pulang dari Saudi; 7. Jerat; 8. Pelajaran Mengarang.
Seperti judulnya, merupakan buku yang berisi sekumpulan cerpen pilihan Kompas 1993. Pelajaran Mengarang merupakan cerpen yang dinobatkan sebagai cerpen terbaik pada tahun tsb. Merupakan karya dari Seno Gumira Ajidarma yang mengisahkan seorang anak perempuan yang pada suatu ketika diminta oleh gurunya selepas mereka libur panjang sekolah untuk menuliskan cerita pengalaman liburannya. Ia yang notabene adalah anak dari seorang pelacur dan pastinya tidak memiliki pengalaman liburan yang menyenangkan hanya menuliskan singkat pada lembar tugasnya "Ibu saya seorang pelacur". Pada tahun 2022, Cerpen Pelajaran Mengarang ditulis dan dikembangkan menjadi sebuah novela oleh sang penulis dengan judul Marti dan Sandra.
Tidak seperti KumCer tahun 1992 yang didominasi oleh tema politik. Pada buku ini tema yang diangkat jauh lebih beragam namun memiliki benang merah yang serupa.Meskipun cerpen karya Seno Gumira Ajidarma mendominasi dari sejumlah cerpen yang ada.
Aku suka buku ini, sekilas aku pikir ini adalah buku seperti: "Cara Teknis Mengarang", atau "Bagaima Membuat Karangan dalam 30 Menit", atau "Buku Pengantar Mengarang yang Baik", e...lha dhalah ternyata buku ini adalah kumpulan cerpen, dimana judul buku ini diambil dari salah satu judul cerpen.
Membaca buku ini membuatku tahu bahwa Pak Bondan Winarno selain jago kuliner-meskipun aku tahu beliau adalah jurnalis-juga jago nulis cerpen, hehe.
Dulu baca buku ini pas lagi K2N di Badau. Awalnya ngira ini buku tentang pelajaran teknik penulisan, eh ternyata kumpulan cerpen.. Gue suka banget sama cerpen-cerpen di buku ini. Sederhana tapi cerdas.
So, ummm. Beberapa cerpen bikin alis berkerut. Mungkin karena 'beda zaman' sih. Jadi agak aneh gitu bacanya. Tapi teteplah, ada yang menohok. Pelajaran Mengarang, Sepoting Senja untuk Pacarku, Tumpeng, Telinga, dan Titin Pulang dari Saudi, are my favs. Review lengkap di blog ntar yah.
Ide tentang hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dikemas dengan bahasa yang ringan namun mengandung gagasan satir tentang makna hidup. Tokoh Alina dan tokoh pencerita sangat menarik. Seno seperti ingin melebur dalam hidup seorang gadis kecil dan lelaki tua.
Satu-satunya buku yang berhasil aku tamatkan di bulan April tahun ini. "Pelajaran Mengarang" adalah sebuah buku kumpulan cerpen yang komplit. Ketujuhbelas cerpen dalam buku kumpulan cerpen ini merupakan cerpen-cerpen pilihan yang dipilih dari berbagai cerpen yang pernah diterbitkan di koran Kompas pada tahun 1992. Cerpen "Pelajaran Mengarang" dan "Seorang Wanita dan Pangeran dari Utara" merupakan cerpen favoritku dari buku ini. Aku sendiri sempat terkejut ketika mengetahui bahwa Bondan Winarno menulis cerpen bertajuk "Santa" yang menjadi cerita penutup dalam buku kumpulan cerpen ini. Sungguh, ini adalah kejutan yang menyenangkan.