Sebagai anak lelaki suku Minangkabau, Harris Effendi Thahar - pengarang buku kumpulan cerpen ini - tahu betul watak dan tabiat orang Minang, termasuk para perantaunya. Katanya, "Betapapun kere-nya seorang lelaki Minang dirantau, ia senantiasa berusaha tampil keren. kalau perlu arlojinya disepuh emas, meski ia hanya seorang pelayan rumah makan atau pedagang kaki lima. Gaya "Si Padang" adalah cerminan perantau Minang yang berusaha mencari "nama" dirantau dengan cara apapun untuk "dijual" dikampung halamannya.
Buku yang membuat saya mengenal lebih jauh tentang karakter orang Padang. Tentu aja nggak hanya orang Padang yg memiliki karakter seperti itu. Orang yang berasal dari negeri manapun ada juga yang karakternya 'unik' seperti orang Padang yang digambarkan di buku ini.
Penulisnya jelas memiliki keluasan wawasan *ya eyalaahh jurnalis gt loh* dan cerita-ceritanya beragam dan enak untuk dibaca. Dan serunya, tidak semua harus ada happy ending ataupun ending jenis apapun. Kalo emang udah waktunya cerita berenti, ya berenti aja, meskipun endingnya gantung. Tapi justru ending gantung itu yang membuat pembaca berpikir. Disitulah serunyaaa :D
Yo wes, buat yang ingin mengenal kek apa sih orang Padang itu, baca aja kata pengantarnya, hehehe.. dijamin senyam-senyum sendiri, apalagi dibacain ke orang Padang spt yg saya lakukan. Langsung tu orang Padang ngakak abis dan mengakui kebenarannya seraya menunjuk satu orang yang memenuhi kriteria yang disebutkan di kata pengantar tersebut.
Bingung baca review ini? Gak perlu laah. Baca aja bukunya :D *jadi inget tulisan Aldo ttg orang Padang* :)
Setiap melihat kumpulan cerpen terbitan Kompas, hatiku selalu berdesir. Selalu nggak tega kalau dijual diobralan dan murah. Beberapa sudah kubaca cerpen Haris Effendi Thahar. Gaya menulisnya sangat sederhana, tetapi tidak lantas mengurangi keterusikan usai membacanya. HET menulis apa yang dirasakan diramu lalu dibuat ending yang tidak pernah terduga. Unsur minangkabau sangat kuat sekali, meski bukan penuh istilah local wisdom yang sangat diitalic.
Si Padang, berkisah tentang seorang datuk yang dihormati di kampung halamannya ternyata punya kelakukan buruk di Jakarta. Suka main perempuan. Lebih parah lagi, anaknya si gadis yang diam-diam terpapar kebudayaan Jakarta tertangkap basah oleh ayahnya memasukkan kekasihnya di kamar. Kumpul kebo. Ayahnya marah-marah tanpa pernah sempat mengaca pada dirinya sendiri. Di sini juga sangat kentara jiwa mernatau orang Padang dan jiwa menitip-nitipkan kepada keluarga kaya. Kalau di Jawa akan sangat kerasa dalam novel Para Priyayi, yang priyayi harus mau dititipi kemenakan jauh untuk dididik menjadi priyayi. Kalau di Si Padang dididik untuk menjadi pengusaha.
Dilema yang dirasakan oleh Pak Kasim di cerpen Dari Paris bisa terjadi dimanapun. Tidak hanya di Padang saja. Orang tua selalu akan menjadi prioritas nomor 2. Alwi anaknya lebih memberi solusi dengan memberi kiriman uang banyak kepada Pak Kasim, padahal tidak. Keinginan Pak Kasim hanya memenuhi rindunya pada Alwi dan cucunya. Ternyata sampai meninggal Pak Kasim belum sempat bertemu Alwi. Hanya mendapatkan telepon.
bagaimana kalau kita mendapatkan warisan uang koin lawas? Begitulah nasib anak-anak dalam cerpen Seperti Koin Seratusan. Setelah ayahnya meninggal, kotak itu dibongkar dan dibagi-bagikan ke semua anaknya. Yang tinggal di Jakarta rata-rata menolak memabwa uang itu. Dan memilih menitipkan kepada Lidia yang tinggal di Padang. Lalu bagaimana kalau koin seratusan itu dihargai oleh penjual barang antik senilai seribu per koin? Mereka pikir ulang.
Kisah pilu Ning anak simpanan Nyonya Surtini dan Pak No, yang harus mengetahui siapa ayah dan keluarga ayahnya yang asli. Ning yang lugu sama sekali tidak pernah mengetahui, bahwa Gunawan yg berbaik hati menganatr pulang punya ayah sama dengannya. Bedanya Ning bukan anak yang diresmikan di kartu keluarga.
Membaca cerpen Beras Pirang mengingatkanku pada kebiasaan di daerahku juga. Banyak orang tua menitipkan kepada orang-orang yang dirasa berhasil mendidik anak. Seperti yang kusinggung di atas, kebiasaan ini disinggung oleh Umar Kayam dalam novel "Sang Priyayi". Tetapi kejadian ini sangat manusiawi. Yang dititipi merasa tidak ada masalah meski kadang mengegrutu di belakang. Lain lagi kalau seorang keluarga dititipi paman seperti dalam cerpen Lukisan Ompi, yang tidak diterima oleh si suami yang ipar.
Lebih baik hujan emas di negeri sendiri, daripada hujan batu di negeri orang. (heehehee) Demikianlah peribahasa yang cocok untuk kecintaan Umar Jotos akan Indonesia dalam cerpen Isi Hati Umar Jotos. Lain dengan kisah 'aku' di cerpen Jalan Sepanjang Cinta, yang terlalu dibuai impian manis akan kehidupan masa depan. Dan takut menghadapi kehidupan sebenarnya. Hingga ia menjadi pelamun andal. Kalau sudah berhubungan dengan ibu, terlebih kematian ibu, semuanya menjadi sangat sentimental. Cerpen Kacamata Emak setidaknya mengingatkan kita pada cinta tulus seorang ibu. Permintaan ibu kadang hanya sepele, dan karena sepele itulah tidak jarang kita melenakan dan melupakannya. Perihal ayah yang tua, pensiunan, ditinggal istrinya meninggal, anak-anaknya di kota, lalu mengadakan perjalanan mengambil uang pensiun diceritakan manis dalam Layang-layang Putus di Kala Senja.
Kehidupan desa dan aneka problemnya sangat tampak di cerpen-cerpen di buku ini. Terlebih dalam cerpen Kades Mungkarudin. Si kades yang ternyata lebih bersifat sebagai lintah darat ketimbang menganyomi dan menjamin kesejahteraan masyarakat. Banyak tanah di lahap sendiri, dan aneka proyek dicatut.
Cerpen Si Malanca menurut saya sangat menarik dan menghibur sekaligus lucu. Kisah ini sangat mirip dengan kisah-kisah hikmah yang sering kita dengar. Bagaimana seorang raja ingin mengekspor keripik jengkol dan mewajibkan pajak satu kaleng susu minyak setiap kepala. Tetapi satu keluarga yaitu keluarga si Malanca, justru berpikir kalau satu dari mereka menyerahkan satu kaleng air tidak akan kentara di natra satu drum minyak. Apa yang terjadi? Ya. Semua orang berpikiran sama dengan Si Malanca, jadilah satu drum itu berisi air semua.
Gaya HEF dalam menulis memang sangat sederhana, teknik yang dipergunakan pun sangat mirip dengan misalnya, sekadar menyebutkan contoh Hamsad Rangkuti, AA Navis, Agus VRrisaba, cerpenis kompas tahun-tahun lawas. Tetapi apakah gaya sederhana itu mengurangi makna yang hendak disampaikan penulis? Jelas tidak. Banyak perenungan akan kisah-kisah dalam cerpen ini.
Sebagian besar tema-tema permasalahan yang diangkat adalah benturan kebudayaan, keluarga dan kehidupan desa. Dan aku suka.