Enam hari menjelang akhir masa SMA mereka, Alisa memutuskan untuk menyatakan perasaannya kepada Stevan. Stevan yang hanya menganggap Alisa sebagai sahabat setuju untuk menjadi pacar gadis itu selama enam hari. Dalam sisa waktu yang ada, keduanya menelusuri kembali masa lalu mereka, serta masa depan yang menanti.
Enam hari menjelang akhir masa SMA mereka, Alisa memutuskan untuk menyatakan perasaannya kepada Stevan. Stevan yang hanya menganggap Alisa sebagai sahabat setuju untuk menjadi pacar gadis itu selama enam hari. Dalam sisa waktu yang ada, keduanya menelusuri kembali masa lalu mereka, serta masa depan yang menanti.
Novela ini adalah hasil lomba yang diadakan oleh Bentang Pustaka di tahun 2016. Awalnya saya dibilangin kalau bakal terbit di bulan Desember tahun itu.
Tapi saya tunggu-tunggu, kok gak ada kabarnya? Padahal beberapa buku dari lomba yang sama sudah pada terbit.
Saya coba tanya, katanya masih diedit, masih dalam barisan untuk diunggah. Yah, sudah. Saya sabar saja. Toh, hal seperti ini kadang terjadi.
Tapi, yah ...
Akhirnya, setelah menunggu hampir setahun, novela saya yang berjudul "Enam" ini sudah bisa kamu dapatkan di Play Store. Ayo dibeli. Cuma 5000 rupiah saja XD. Klik di sini untuk mengunjungi Play Store.
Mungkin udah jadi rahasia umum bahwa saya nggak suka romance, jadi kalau ada romance yang sampai saya kasih lima bintang, itu pasti ada apa-apanya.
Welp, novela Enam ini meninggalkan kesan "aaaa, so sweeeeett" di tiap babnya, tanpa perasaan bahwa ceritanya terlalu cheesy ato bahkan lebay alay. I like it that way: simple, karakter cewek maupun cowoknya gak tebar deskripsi tentang pasangannya terlalu lebay, gak galau berkepanjangan juga.
Yang mana wajar, karena buku ini cuma terdiri dari sekitar 55an halaman! Cocok buat yang merasa nggak punya banyak waktu baca belakangan ini. Harganya pun murah, cuma 5000 rupiah aja.
Tapi, ya, buku ini cuma ada edisi ebook di Google Playbooks. :/ Jadi buat yang lebih suka pegang buku fisik dan jarang banget pegang ebook, mungkin bakalan pikir2 meskipun harganya murah, ceritanya oke, dan jumlah halamannya pun nggak banyak.
Saya tetap ngasih bintang lima dan akan nyuruh2 orang buat beli dan baca. :D
Tulisannya Biondy semakin enak! Nggak heran juga, buku debutnya aja jadi juara ketiga YARN. Tipikal Novella, agak kentang tapi dengan terbatasnya karakter, apa yang ingin disampaikan penulis disajikan dengan baik.
Pace ceritanya tentu cepat, dengan adanya surat disela hari jadian, selain menimbulkan kesan flashback (yang penting banget untuk mendukung latar belakang kejadian utama), cerita menjadi padat tanpa menimbulkan lubang.
Misal saat mereka bertemu, saat adegan memorable yang membuat Alisa menyukai Stevan, saat-saat emosional bagi keduanya. Intinya, apa yang penting tidak terlewatkan oleh penulis.
Tipikal Novella, lagi, cerita bisa dikembangkan menjadi Novel, tapi cukup puas mengikuti kisah seminggu Alisa dan Stevan.
"Lebih baik kalah setelah bertanding, daripada tidak pernah menapakkan kaki di arena."
Pas buka Google Play Book, ada buku ini yang muncul di sana. Karena harganya hanya lima ribu rupiah, saya memutuskan untuk membacanya.
Namanya juga novela, tentunya ceritanya singkat saja. Tidak sampai 50 halaman, tapi ceritanya padat dan jelas. Saya suka dengan cara Alisa dan Stevan berinteraksi selama enam hari berpacaran. Tidak ada kemesraan yang diumbar, tapi rasa deg-degan membacanya tetap ada.
Seperti istilah penerbitnya, novela ini ibarat snack. Tidak mengenyangkan, tapi memperkaya rasa.
Bagaimana jika kamu diminta untuk jadi pacar sahabatmu selama enam hari? Stevan sih, setuju, dan selama menjadi pacar Alisa, dia juga menerima surat-surat darinya yang menjabarkan hubungan mereka. Tapi, kenapa Alisa tiba-tiba begitu?
Ini Novela dengan pengaruh gaya bahasa terjemahan pertama di antara beberapa yang sudah saya baca. Paling kentara dari dialognya yang seolah dialihbahasakan dari bahasa Inggris, sampai kadang saya tukar dengan bahasa Inggrisnya dalam hati (misalnya 'Boleh aku tanya sesuatu?' terbaca 'Can I ask you something?'). Formatnya selang-seling antara alur utama dan surat, dan di akhir surat terungkaplah bagaimana sebenarnya status mereka. Pembaca lain juga sepertinya bisa langsung tahu alasan Alisa sejak awal atau pertengahan, yang syukurnya jauh dari klise.
Awalnya sih belum begitu kelihatan kalau mereka sahabatan, udah gitu Stevan cepat banget mengiyakan permintaan Alisa. Tapi seiring interaksi mereka digambarkan lebih sering, ditambah akhirnya yang seperti itu, jadi lebih mengerti. Tapi kalau Stevan baru suka jemput Alisa pas mereka jadian, berarti sebelumnya nggak pernah? Terus apa lagi tugasnya? Soalnya kalau cuma jemput dan nonton bareng sama teman biasa juga bisa. Batas antara jadi pacar dan masih temenan sangat tipis, dan perubahannya nggak begitu terasa. Masih masuk tema friendzone tapi bagian yearning yang ditunggu-tunggu jadi tertutup.
Buku ini cocok buat kamu yang percaya persahabatan platonis yang manis.
Tone ceritanya mengalir, tenang, dan seakan-akan gak ada konflik berarti di ceritanya. Namanya juga novela sih, so it's ok. Jadi ceritanya tentang Alisa yang ngajak jadian Stevan cuma dalam waktu enam hari dari Senin sampe Sabtu. Gitu doang sih, saya kira Biondy bakal ngasih twist gitu di cerita model gini, tetapi yah akhir ceritanya emang 'segitu aja'. Yang paling penting saya nangkep sih apa yang Biondy ingin sampaikan, jadi kalo kalian suka sama seseorang, nyatain aja sebelum nyesel karena waktu gak bakal keulang kan. Kesempatan ketemu sama seseorang yang memberimu kesan mendalam mungkin gak akan lama, so it's kind of wonderful thing tentang tindakan Alisa di novel ini. Biondy kayaknya potensial kalo nulis teenlit atau YA tema sport.