Selain menghadapi ibu yang tidak setuju dirinya menjadi penari, Gwen juga harus menerima fakta yang lebih menyakitkan: Hugo, cowok yang selama ini dekat dengannya, ternyata memilih gadis lain. Gwen sadar ia mesti mempertahankan impiannya menjadi penari profesional, meski masih patah hati.
Di tengah situasi itu, Gwen harus mengikuti audisi tari yang sangat penting. Dan di sana, ia bertemu Jared mengabadikan tariannya dalam selembar foto. Sejak itu, nyaris tiap kali, Jared menemaninya latihan tari. Cowok itu memasuki hidup Gwen, dan hidup Gwen tenang kembali.
Namun, bagaimana kalau jauh di dalam hati Gwen, Jared hanyalah pengganti Hugo? Bahwa Hugo-lah yang sebenarnya ia inginkan?
Setelah membaca Pay It Forward dan Re-Write aku jatuh cinta dengan tulisan Emma Grace. Tulisan yang ringan tetapi "berisi", begitu tenang tetapi menghanyutkan.
Kali ini, Emma hadir kembali dengan kisah terbarunya, Sing Me Home. Jika kamu sudah membaca Re-Write, kamu akan antusias karena kali ini kamu akan diajak masuk dalam kehidupan Jared, sahabat Beth yang dulunya membuat dia jatuh cinta sekaligus patah hati. Jared yang terasa menyebalkan sekali karena memanfaatkan rasa suka Beth dan malah sibuk dengan kekasih barunya, Gwen.
Dalam Sing Me Home, Emma Grace mengubah pandanganku mengenai Gwen dan Jared. Aku diajak berkenalan dengan sosok Gwen Catherine Tirta, sosok remaja yang sangat menyukai dunia tari dan Hugo Tandiono.
Perkenalan Gwen dan Hugo di sebuah kafetaria, membuat mereka perlahan-lahan semakin dekat. Jalan hidup Gwen tak lagi sama sejak mengenal Hugo, mereka jatuh cinta satu sama lain. Hingga takdir kemudian mempermainkan mereka, Corrine sahabat Hugo sedang menderita sakit keras dan dia jatuh cinta terhadap Hugo. Hugo pun memutuskan untuk mendampingi Corrine di hari-hari pengobatannya dan memutuskan untuk menjauh dari Gwen.
"Terkadang hidup terasa tidak adil. Kalau saja manusia bisa protes atas keadilan yang seharusnya mereka terima, maka meja front office di surga pasti sudah penuh oleh surat." (Halaman 56)
Gwen patah hati melihat hubungan Corrine dan Hugo. Di satu sisi dia prihatin dengan kondisi Corrine, tapi di sisi lainnya hatinya juga sakit menahan perasaannya terhadap Hugo. Hingga kemudian Gwen bertemu dengan Jared. Jared yang begitu mengagumi Gwen yang sedang menari, kemudian mereka sering bertemu dan tak lama kemudian mereka pun menjalin hubungan. Tetapi walau sudah bersama Jared, Gwen masih tetap mengingat Hugo bahkan Hugo tak pernah pergi dari hatinya.
"Meski hati Gwen setengah mati menolaknya, ia mengerti budaya begitu kental mengikat. Tak pernah ada sejarah dalam garis keturunan Ma yang berani menolak apa yang orangtua mereka perintah. Bagi budaya Cina, perintah orang tua itu sakral; titah yang tak pernah mereka langgar, apa pun alasannya." (Halaman 48)
Di lain sisi, kesukaan Gwen terhadap dunia tari tidak direstui oleh keluarganya, khususnya Ma. Ma benar-benar terlihat sedih bahkan menentang keras Gwen untuk menari. Padahal Ma tahu Gwen sungguh berbakat dalam bidang seni, tapi Ma malah meminta Gwen masuk ke Fakultas Seni dan Desain, bukan menggeluti dunia tari.
"Bermain biola maupun menari takkan pernah bisa membuatmu hidup. Jadi, tinggalkan saja kesukaan itu." (Halaman 122)
Hal ini membuat Gwen sering berbohong hanya untuk latihan menari bahkan saat mengikuti audisi menari. Sayangnya, sepandai-pandainya Gwen menyimpan rahasia, akhirnya terbongkar juga. Pertengkaran pun tidak bisa dihindarkan. Ma masih menentang keras Gwen terjun dalam dunia tari, hal ini membuat Gwen dilema. Di satu sisi dia sangat mencintai Ma, tetapi dia juga tidak ingin mengubur impiannya untuk menjadi penari profesional. Ternyata ada alasan di balik sikap Ma yang begitu keras menentang keinginan Gwen. Ada rahasia masa lalu yang begitu pahit untuk dikenang oleh Ma.
"Mungkin tak mudah, tapi aku yakin akhirnya ibumu akan mengerti. Paling tidak ibumu sadar bahwa kamu memang sungguh mencintai dunia tari. Kalian memiliki darah seni yang sama. Kamu mewarisi bakatnya." (Halaman 122)
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah Gwen bisa mewujudkan impiannya untuk menjadi penari profesional? Bagaimana juga kisah asmara Gwen, siapa yang akan dipilihnya Hugo atau Jared?
"Tahukah kamu kenapa aku suka menari? Karena setiap kali menari, aku menjelma menjadi bagian terbaik dalam diriku. Begitu pun saat aku bersama denganmu." (Halaman 157)
Membaca Sing Me Home ini sungguh menghanyutkan, aku begitu terhipnotis membaca sejak halaman awal. Semua pandanganku terhadap Gwen dan Jared berubah dalam novel ini. Emma membuat aku melihat sisi lain dari Gwen dan Jared, bagaimana mereka bertemu dan terjebak dalam hubungan yang sulit.
"Hati mengerti siapa yang mereka izinkan tinggal di sana. Seperti hati juga mengerti siapa yang tak dapat menetap, walaupun orang itu sudah berusaha keras." (Halaman 239-240)
Gwen yang masih mencintai Hugo dan Jared yang kemudian hadir di sisinya. Awalnya aku berpikir kehadiran Jared bisa menjadi alasan buat Gwen untuk bisa move-on, tetapi melihat interaksi keduanya semua orang pun bisa melihatnya. Sulit juga untuk menyalahkan Gwen, yang membuat dia dan Jared harus terjebak dalam hubungan yang rumit, tetapi itulah kehidupan kadang-kadang kita butuh seseorang untuk mengalihkan perhatian, walau kadang-kadang itu tidak membantu banyak. Jika aku berada di posisi Gwen, aku juga akan bingung memilih, antara Hugo atau Jared, tetapi hati selalu tahu kemana dia akan bermuara.
"Melarikan perasaanmu pada orang yang tidak tepat bukanlah jalan keluar. Cepat atau lambat kamu sendiri akan merasa terpenjara. Pada akhirnya kamu harus mencintai orang itu untuk bisa berbahagia." (Halaman 131)
Tidak hanya kisah romansa Gwen-Jared-Hugo-Corrine saja, kita juga akan diajak untuk mengenal Gwen yang begitu mencintai dunia tari. Sayangnya, impiannya itu harus terhalang oleh keinginan orang tua. Hal yang terasa manusiawi sekali dan terlihat dekat dengan kehidupan kita. Masalah yang menimpa Gwen ini mungkin juga pernah dialami oleh siapa saja ketika impian berbenturan dengan harapan orang tua, ketika harus memilih untuk memperjuangkan impian atau mengikuti kehendak orang tua.
Aku mengerti perasaan Gwen bagaimana pun tidak mudah untuk memilih. Aku pun dibuat penasaran dengan alasan kenapa Ma begitu menentang keras keinginan Gwen, dan ketika mengetahuinya aku bisa merasakan perasaan Ma. Tentunya tidak mudah bagi Ma. Aku suka bagaimana kakek Gwen, Pop memberikan saran bagi Gwen untuk berbicara secara baik-baik dengan Ma. Nasihat yang begitu bijak sekali.
"Paling tidak, cobalah. Tahukah kamu, ketika dua orang harus berteriak untuk menyelesaikan persoalan, itu bukan karena mereka tak saling mendengarkan, tapi karena hati mereka terlalu jauh sehingga teriakan diperlukan untuk menjembatani jaraknya." (Halaman 201)
Membaca novel ini akan mengingatkanmu untuk memperjuangkan impianmu. Jika ada halangan dan hambatan, anggap sebagai warna dalam perjalanan meraih impianmu. Jika kamu yakin, perjuangkanlah apa yang kamu yakini itu.
"Cita-cita bukanlah sekedar cita-cita. Mereka mendefinisikan siapa dirimu yang sesungguhnya." (Halaman 191)
Menjelang ending, aku suka bagaimana Emma mengakhiri kisah ini. Ending yang realistis sekali, menutup novel ini dengan manis.
"Berjuang untuk mendapatkan apa yang membuat kita bahagia adalah hal yang tak bernilai di dunia." (Halaman 77)
Overall, kamu mencari sebuah kisah tentang impian, cinta dan keluarga, aku rekomendasikan Sing Me Home untuk kamu baca. Semoga kamu bisa mengambil hikmah dari kisah Gwen. Terus semangat meraih impianmu ya.....
Sing Me Home jelas lebih seru ketimbang Pay it Forward! Heheheh. Kesukaan tokohnya--Gwen yang nari dan Hugo yang main piano--agak ngingetin ke Sunshine Becomes You-nya Ilana Tan. Yang beda adalah, mereka masih SMA dan kuliah. Plus, Gwen semacam ditinggal Hugo .
Gaya bahasanya khas Emma Grace banget. Kadan pelan, tapi tau-tau udah dapet banyak halaman. Latar yang dipake sama kayak Re-Write (belum baca sih), dan salah satu tokoh dari sana muncul. Tradisi China yang jadi salah satu elemen pun berguna sampe akhir.
Aku paling suka sama Gwen. Dia tipe tokoh yang bikin bersyukur karena--as cruel as it sounds--dia nggak diizinin menggeluti bakat sama mamanya. Meski begitu, dia tetep berusaha dan berjuang, sesuai kata Hugo kalo Gwen bakal ngelakuin apa pun buat ngedapetin yang dia mau. Apalagi, perkara bakat dan hobi ini jadi konflik-klimaks greget menuju akhir.
Kemunculan Jared juga enak diikuti. Dari awal, aku udah nggak ngerasain chemistry antara dia sama Gwen. Jadi, kalo ending-nya sesuai harapanku, ya aku terima aja. Wong emang kepingin gitu. Wkwkwk. Cuman, karena Beth dari Re-Write muncul, aku mikir kenapa Jared/Hanna nggak dilanjutin aja ceritanya. Kasihan, nanggung. Aku sendiri penasaran sama lika-liku kehidupan Hanna, apalagi kalo setelah cewek itu berhasil diet, malah dapet masalah lain. (Apa mungkin ini khasnya Emma Grace juga, ya? Soalnya di Pay it Forward, Kartika cuma jadi temen, terus si Ezra juga muncul secara nanggung.)
Ada beberapa hal yang bikin nggak sreg kayak koma yang ilang atau kalimat yang rada nggak enak. Contoh:
Kamu tahu Gwen, ... --hlm. 77 Harusnya sebelum nama, ada koma. Dan kayaknya nggak di situ doang. (Btw kok samaan kayak A untuk Amanda ya?)
Semua itu tak mungkin tak ada artinya untukmu, kan? Karena jika ya... --hlm. 88 Sebenernya ini nggak salah, cuman karena Gwen hidup di Sydney, kupikir kata "ya" setelah jika itu nggak relevan. Di bahasa Inggris, jawaban selalu satu warna(?) kayak "No, it is not" atau "Yes, it is". Nah, di situ, Gwen maunya mengacu ke "tak mungkin", jadi harusnya dia pake "Karena jika tidak" as in tak mungkin. Biar nggak Sydney rasa Indonesia gitu lho, Gwen.
...sehingga aku tak harus pergi ke luar dengan topi dan ditatap dengan aneh semua orang memandangiku seperti mereka menatap alien? --hlm. 91 Mungkin harusnya "oleh semua orang".
Sepertinya baru kemarin putrinya itu lahir dan rawat... --hlm. 180
Sama nyebutin interior desainer terus-terusan. Kenapa nggak desainer interior, pake diterangkan-menerangkan aja kalo istilahnya berbahasa Indonesia?
Sebenernya masih banyak, tapi segitu aja deh. Males ngetik. Wkwkwk.
Overall, terlepas dari beberapa kata dan koma yang aneh, novel ini bagus banget. Layak dibaca. Layak dibeli. Layak dilanjutin. Jadi nggak sabar pengin Emma Grace rilis novel lagi.
Saat membaca Re-Write, gue berasumsi bahwa Gwen itu egois. Namun, ketika baca novel ini, persepsi gue langsung berubah.
Sing Me Home menceritakan tentang Gwen yang tergila-gila dengan dunia tari dan Hugo. Sayangnya, Ma nggak setuju dengan impian gadis itu. Sementara Hugo, cowok asing yang Gwen cintai, ternyata punya alasan untuk berpaling dan menemani gadis lain.
Secara keseluruhan, gue memang suka gaya penulisan Emma Grace. Tenang, lembut, tapi kadang menikam. Menanti karya keempat Emma. Semoga lebih baik... :)
Kalau boleh komentar, sungguh aku kesal dengan karakter Hugo di sini. PHP sekali! I mean, dekat sama seorang cewek yang lagi sakit karena salah satu keinginan si cewek tuh adalah "bersama Hugo" tu buat apa sih, masnya? Monmaap ni yang baca emosi!
Ya tapi tidak bisa dipungkiri memang ada laki-laki yang seperti itu, ya. Yang terlalu baik sama cewek sampai menyakiti cewek yang dia cintai dan mencintai dia, which is sebenarnya buang-buang waktu karena pada akhirnya ya balik lagi balik lagi juga meski plin plan setengah mati. *loh kok malah curhat*
Selebihnya, aku masih suka cara berceritanya Kak Emma Grace dan ada beberapa bagian yang membuatku berkaca-kaca terutama adegan yang melibatkan Ma. Like it!
Hati mengerti siapa yang mereka izinkan tinggal di sana. Seperti hati juga mengerti siapa yang tidak dapat menetap, walaupun orang itu sudah berusaha keras.
oleh Emma Grace
2.5 dari 5 bintang
Sing Me Home merupakan salah satu novel yang saya baca karena saya tertarik dengan sampul bukunya. Baiklah. Tidak seharusnya saya menilai sebuah novel dari sampulnya saja. Saya masih ingat kok, kalau pada dasarnya kita tidak bisa judge a book from its cover. But, I couldn't help. Sing Me Home's cover is really attractive. I like the concept and the illustration.
Okay, then. Let's move to my review. Sing Me Home merupakan novel young adult yang ditulis oleh Emma Grace. Jujur, saya belum pernah membaca karangan Emma sebelumnya. Pun, saya juga tidak memiliki ekspektasi apa-apa terhadap novel ini.
Gwen adalah seorang penari. Ia mencintai tari dengan sepenuh hidupnya. Permasalahannya, orang tua Gwen, terutama mamanya, tidak menyetujui keinginan Gwen untuk menjadikan tari sebagai tujuan hidupnya. Hal ini membuat Gwen yang tidak terima dengan keputusan mamanya, melakukan berbagai cara untuk bisa menari dan mengikuti audisi untuk performing arts school, termasuk diam-diam mengikuti audisi yang sudah diusahakan oleh pelatihnya, Savannah.
Selain permasalahan dengan orang tuanya, kehidupan Gwen juga dibayangi oleh sosok laki-laki yang sulit untuk Gwen lupakan, Hugo. Laki-laki itu pernah menjadi bagian dari hidup Gwen dan membuat Gwen merasa sangat berarti. Sayangnya, kedatangan Corrine membuat semua hal itu berubah.
Di tengah kebimbangan dan rasa sesak yang Gwen rasakan, munculah Jared, seorang fotografer yang suka memotret Gwen ketika menari. Lalu, bagaimana akhir kisah Gwen? Apakah dia akan tetap menari? Ataukah ia menyerah atas keinginan orang tuanya? Lalu, pada hati siapakah hati Gwen akan berlabuh?
Tidak ada yang lebih menyedihkan dari dilarangnya berkarya di bidang yang kita sukai. Itulah yang terjadi di Gwen. Berbohong untuk tetap menjalani kesukaannya dalam dunia tari. Namun dimana kebohongan pasti akan terungkap, Gwen pun begitu. Gwen dilarang menari oleh orangtuanya. Dibalik itu ternyata ada kisah pedih yang dialami oleh orangtua Gwen dulu. Belum lagi Hugo, sahabatnya sejak dulu, memilih menyenangkan wanita lain dan menyuruhnya menjauh. Telampau sulit untuk Gwen.
Emma Grace seperti biasa, mempunyai cerita yang menarik di setiap karyanya. Termasuk dalam buku ini. Dunia tari dibahas dengan cukup rapi. Unsur kekeluargaannya juga dapat. Membaca buku ini membuat pembaca memikir ulang akan passion dan realita yang sedang dijalani. Menjauhi passion karena keluarga atau tetap menekuninya?
It was oke bukan berarti kualitas novel ini bad. Secara personal, aku tidak suka karakter Gwen yang egois dan keras kepala, oke lah dengan upaya keras kepalanya menggapai mimpi, tapi Yang aku salut adalah cara Emma menulis dunia tari di buku ini, dan printilan-printilan lain seputar lingkungan Gwen baik keluarga maupun luar. Yah, pada akhirnya aku masih belum bisa move on dari Re-Write.
Bercerita tentang Gwen. Seorang gadis yang sangat cinta menari, tapi ditentang ibunya. Seorang gadis yang menjadikan cowok lain pelarian setelah ditinggalkan cowok yang disukainya.
Ceritanya sendiri lumayan asik. Kecintaan Gwen terhadap menari ditunjukkan, meski unsur baletnya kurang terasa. Membuat menari yang dicintai Gwen nggak harus balet gitu.
Karakter Gwen sendiri menyebalkan. Apalagi ketika dia bersama Jared. Kasian Jared (meski Jared juga terasa menyebalkan haha). Namun, penulis berhasil mengemas perubahan karakter dengan baik. Termasuk perubahan Hugo (eh tapi Hugo itu sok kesatria, saya sulit buat naksir sama dia jadinya :/).
A good read. Cocok dibaca mereka yang sedang berjuang menggapai mimpi.
ini menyedihkan, aku baru ketemu dan baca buku ini. HARI INI.
Buku ini keren, covernya judulnya penulisannya karakter-karakternya. Jadi sedih aku ga bisa dapat buku ini. *lho?. Jadi sebenarnya aku baca buku ini dari Ipusnas jadi bentuknya buku digital ya. Selama ini kurang suka baca sesuatu dalam bentuk digital, karena melelahkan mataku. Tapi ini pengecualian.
Jadi buku ini fokus pada kehidupan dan perjuangan Gwen si Highchool girl dimana menari adalah nafas hidupnya. Karakter Gwen disini walaupun sebagai cewek dia sangatlah kuat dan she really know what she wants. Gwen cewek yang percaya diri, smart (bukan dari sisi akademik) dan berbakat, oh dan Gwen is determined. Gwen memiliki kemampuan menari yang benar-benar tidak bisa diremehkan walopun dia bersikeras bahwa dia menari bukan untuk menjadi yang terbaik sedangkan level kemampuan dia itu diatas rata-rata. Tapi ini bukan sesuatu keajaiban, karena ga da seorang penari sukses yang terlahir menjadi penari kalau tidak ada perjuangan walaupun dia berbakat. Lalu apa yang menjadi halangan untuk Gwen? Dalam perjuangannya untuk menjadi penari profesional, Gwen harus menghadapi kenyataan bahwa tidak ada dukungan dari keluarga Gwen, terutama Mamanya. Tidak hanya itu orang yang dicintai Gwen (Hugo) tiba-tiba meninggalkan Gwen, hanya sahabatnya Hanna yang mendukung cita-cita Gwen dan bersedia menjaga rahasia Gwen dimana dia diam-diam mengikuti latihan yang padat dan audisi tari. Tentu saja hal ini tidak membuat semangat Gwen turun, Gwen terus maju.
Quote yang paling aku suka dan menohok dari buku ini adalah; "Kamu tahu, cita-cita bukanlah sekedar cita-cita. Mereka mendefinisikan siapa dirimu sebenarnya."
Dalam buku ini kita juga akan bertemu Hanna sahabat Gwen yang dulunya mempunyai gangguan soal makan. Kalau menurutku dia dulu penderita bulimia dimana penderita ini akan makan banyak dan memuntahkannya lagi, tapi entahlah tidak ada penjelasan lebih. Hanna adalah sahabat yang paling dipercaya Gwen dan mau menjadi tameng Gwen. Ada juga Hugo orang yang dicintai Gwen. Dia adalah cowok berhati lembut dimana dia lebih mengutamakan kebahagiaan orang lain daripada diri sendiri. Inilah alasan kenapa Hugo mau melepaskan Gwen
Ending buku ini juga bagus dan resolution cerita ini apik sekali, jadi pengen baca buku emma grace yang lain.
Oke, mari skip sinopsis. Karena baru aja kelar baca I Wanna be Where You Are, inti tujuan karakternya sama, menjadikan tari sebagai masa depannya kelak. Halangannya lumayan miriplah, ditentang orang tua. Bedanya, Gwen disakiti cowok yang idk statusnya apa karena nggak ada penjelasan jelas soal ini. Semacam kesepahaman kalau Gwen dan Hugo sama-sama suka. Tapi Gwen sakit hati banget karena Hugo mendadak perhatian ke cewek lain. Cewek yang punya penyakit kronis dan salah satu keinginannya adalah dekat dengan Hugo.
Well, kisah cinta remaja (atau orang dewasa juga, sih) yang klasik. Dia menjauh karena si cewek sakit-sakitan dan aku harus mendampingi dia. Kurang lebih begitulah. Yang mau aku kritisi bukan alurnya yang bisa ditebak, tapi soal emosi karakternya ketutup semua sama Gwen.
Dalam waktu ini aku baca beberapa karakter cewek yang jadi pov utama dan mereka mendominasi segala keputusan yang diambil. Semacam "all eyes on me" gitulah. Nah, Gwen punya banget energi kayak gitu. Hal-hal yang nggak sesuai dengan keinginannya bikin dia marah, kecewa, dan yah begitulah. Agak kasihan dengan beberapa karakter pendamping maupun Hugo atau Jared sendiri.
Paham banget Gwen pasti marah Hugo kayak nggak tahu diri gitu mendadak hilang dan lebih sering sama orang lain, tapi bukan berarti bisa diusik terus, dong. I mean, fokus aja nggak sih, sama apa yang ada di depan. Masalah kucing-kucingan sama mamanya kan urgen juga, tuh.
Tapiii, barangkali memang selera aja. Karakter Gwen ini nggak akan masuk mangkukku karena yah terlalu ini dan itu. Seolah semua harus berpusat di dia aja kesannya.
Anyway, yang suka sama cerita meraih impian meski ditentang orang tua, bisa coba baca ini. Novel lokal, tapi rasa terjemahan. Tulisannya juga oke dan rapi.
Beruntungnya menjadi Gwen, memiliki keluarga; Ma dan Pa yang menyayanginya, memiliki Hanna, sahabat terbaik yang mungkin bisa dimiliki seorang remaja seusianya, memiliki bakat menari hebat dan yang terpenting adalah memiliki Hugo, seorang cowok yang dekat dengannya dan yang menunjukkan bahwa cowok itu memiliki perasaan sayang padanya.
Hanya saja, kesempurnaan kadang tak menjadikan sebuah kisah menarik dan di sinilah ‘bumbu’ dramanya. Ma, tak mendukung bakat menari Gwen, tak peduli seberapapun berbakatnya putrinya itu. Dan, ada Corrine, sahabat masa kecil Hugo yang menyayanginya Hugo lebih dari rasa sahabat. Hugo memilih untuk bersama Corrine yang tengah sekarat.
Ceritanya ringan saja, gaya bertuturnya manis namun mengena.
Namun, bagi pembaca yang tengah berusaha meraih mimpi seperti Gwen, novel ini bisa memberi inspirasi. Seperti kalimat di halaman 191 yang mengatakan. “Cita-cita bukanlah sekadar cita-cita.Mereka mendefinisikan siapa dirimu yang sesungguhnya.”
Dan, dalam hubungan yang menyangkut perasaan, saya sependapat dengan penulis yang mengatakan,” Hati mengerti siapa yang mereka izinkan tinggal di sana. Seperti hati juga mengerti siapa yang tak dapat menetap, walaupun orang itu sudah berusaha keras.”
Aku pernah bilang kalo membaca pun soal selera kan? Dan selera juga bisa berubah. Cerita anak SMA semacam ini nyatanya sudah bukan lagi genre yang bisa kubaca dengan antusias. Padahal teenlit/young adult sejenis ini adalah genre favoritku bertahun-tahun lalu.
Novel ini tentang Gwen, yang cinta menari namun dilarang ibunya, yang cinta Hugo tapi terhalang Caroline. Rumit memang hidup Gwen karena gak bisa melakukan hal yang dicintai dengan leluasa pun gak bisa bersama orang yang dia cintai. Tapi entah kenapa aku gak merasa terhubung dengan Gwen.
Buat aku yang lebih ke character-based dibanding plot-based, cukup kecewa karena gak ada satu tokoh pun yang berhasil menarik perhatianku.
Walau begitu, gak bisa dipungkiri kalo gaya bahasa dan alur cerita novel ini sangat halus, mengalir, dan enak dibaca.
Tidak jelek, cukup berisi dan jelas konflik2nya baik di keluarga maupun percintaan tapi kurang mendalam, mungkin karena jumlah halaman yang tidak terlalu tebal atau mungkin karena ini dalam kategori Young Adult. Apapun itu, terlalu ringan untuk saya. Gwen jelas-jelas egois, terlihat dari cara dia memperlakukan Jared, tapi Hugo juga bukan karakter yang baik. Dia dengan gampangnya membuang Gwen jauh2 dari ingatan saat bersama Corrine, dia bahkan tidak datang menjenguk kakek Gwen yang sakit, dan dengan mudah kembali ke kehidupan Gwen saat Corrine tidak lagi membutuhkannya, seolah tidak pernah pergi. Jadi, keduanya bukan favorit saya. Ceritanya sendiri mudah dicerna, mudah ditebak dan mudah untuk dilupakan.
Dibanding 2 buku Emma Grace yang lain, buku ini termasuk yang kurang aku sukai. Aku sulit memahami pikiran Gwen, aku kurang suka dengan sikapnya Hugo yang plin plan, dan aku lebih tidak suka lagi dengan sosok Corinne maupun Jared di buku ini.
Di luar hal tersebut, aku cukup suka dengan dinamika keluarganya Gwen serta cerita tentang Hannah, sahabatnya Gwen yang menderita eating disorder. Meskipun aku tidak cukup tahu seberapa akurat bagian itu, tapi menarik untuk melihat bagaimana Hannah 'diceritakan' menghadapi penyakitnya dan kemudian kembali sehat
Dari segi kebahasaan jujur Jacko nyaman banget, dialognya enak banget diikutin, POV 3 juga lumayan efektif buat menceritakan kejadian diluar kehidupan si tokoh utama, Gwen. Plotnya juga sama sekali nggak kebaca polanya. Hanya saja, bagian resolusi yang melibatkan "beban masa lalu" tampak agak memaksa sehingga saya sendiri kurang puas dengan eksekusi resolusi masalah 1. Walaupun begitu, pemilihan dan eksekusi bagian ending itu dikerjakan dengan totalitas sekali. Suka, buku ini layak dapet 4 🌟.
Bacanya sekali duduk aja, dan baru sempat ngereview setelah sibuk dan cuaca buruk belakangan. Review lengkap ada di sini http://ceritacintaciptaancitra.blogsp...
Quote favorite saya adalah .... “Cita-cita bukanlah sekadar cita-cita.Mereka mendefinisikan siapa dirimu yang sesungguhnya."
Rasanya pernah baca nama Jared di novel Emma Grace yg lain, dan ternyata benar. Sing Me Home menceritakan tentang Gwen dan Jared yang sempat muncul di Re-write. Bagi yang penasaran dengan kisah Gwen, sila baca.
Nggak ada masalah dengan plot, karakter, seting, dsb. Penilaian ini murni karena selera saya nggak sesuai dengan gaya menulis di novel ini. So, yeah. 2,5 aja, ya.
Novel ini juga memakan waktu lama buat melahapnya. Aku sering nunda untuk baca novel ini, bukan karna ide novel ini buruk. Malah ide novel ini bagus dan banyak nilai yang bisa dimaknai. Mungkin aku hanya kurang cocok sama gaya penulisannya.
bukan genre yg gue suka tapi untuk bacaan ringan masih oke. diawal cerita Ma ini tipikal orang tua asia yang ingin anaknya sukses secara akademik sehingga melarang Gwen untuk menari tapi dibalik itu ada kecelakan tragis yg cukup membuat hati Ma terluka, cukup menyentuh saat membaca bagian ini.
Suka banget sama ceritanya. Karakternya nggak ada yang gagal menurutku, dari si tokoh utamanya Gwen, Hugo, Hanna, bahkan ibunya Gwen pun aku suka sama karakternya. Alurnya juga pas, nggak yang kelambatan atau kecepetan, puncak konfliknya juga memuaskan.
Dulu, waktu pertama novel ini rilis, saya sempat hampir membelinya, tapi akhirnya yang saya bawa pulang kala itu adalah Galette karya Fenny Wong. Sekarang saya berjodoh dengan buku bersampul cantik ini di iPusnas. Trims, iPusnas!
Sebelum ke resensi, saya mau mengeluarkan unek-unek dulu. Sempat di awal-awal kemunculan lini Young Adult GPU ini beberapa mempertanyakan apa bedanya dengan Teenlit. Setelah saya baca Sing Me Home, yaaa sebetulnya bisa sama saja (di samping usia tokohnya yang lebih dewasa YA). YA terjemahan luar pun begitu. Ada memang yang mengangkat isu berpotensi trigger warning, tapi ada juga yang fluff, dan semuanya sama, Young Adult keneh. Jadi kalau SMH dimasukkan ke YA, ya sah-sah saja.
Namun kayaknya sekarang pada enggak begitu mempermasalahkan selain umur tokohnya, ya. Baguslah, haha.
Narasinya mirip dengan tulisan Winna Effendi, menurut saya. Tenang menghanyutkan, tahu-tahu saja habis. Efektif sekali cara berceritanya, tapi tetap ada bumbu dramanya. Buat saya yang paling mengena memang soal Gwen dan passion-nya yang bertentangan dengan kemauan Ma-nya. Alasan yang tersibak ternyata cukup mengejutkan (kenapa saya enggak bisa memperkirakannya? Haha) dan ya, bisa saja sih yang seperti itu terjadi.
Akhirnya bahagia. Saya juga suka penanganan cerita cintanya Gwen yang... bagaimana saya menyebutnya ya, realistis? Namun ternyata ada yang 'bolong' karena SMH ini merupakan sekuel dari Re-Write (saya belum baca karena enggak suka kovernya huhu). Saya pun menikmati tiap detail perjalanan cintanya Gwen-Hugo, mulai dari selimut bersulam naga, secangkir cokelat dan marshmallow, piano dan tarian. Hangat saja rasanya, dan personal.
(SPOILER AHEAD)
Ini sih selera pribadi saja, tapi semua tokohnya keturunan Tionghoa-Indonesia, ya? Dengan nama belakang Jawa dan nama depan western kayak Crazy Rich Surabayan wkwk. Saya merasa tokoh-tokohnya jadi monoton, padahal kan banyak etnis lain di Australia. Saya jadi teringat Kana Di Negeri Kiwi yang berteman dengan anak-anak dari suku dan negara lain di Selandia Baru. Namun adegan pernikahan adatnya seru sih, saya baru tahu.
Dari sisi entertaining-nya, buku ini dapet banget. Tulisannya mengalir, gaya bahasanya enak diikuti, ada konflik yang bikin penasaran, dan porsi romance-nya cukup oke. Saya belajar dari detail-detail yang disematkan penulis dan semoga saja bisa juga mengaplikasikannya haha. Selebihnya hanya selera, terutama alasan Hugo. Dari buku ini, saya bisa lihat mengapa banyak pembaca yang menantikan karya Emma Grace berikutnya.
Ini adalah kali pertama saya berkenalan dengan karya Emma Grace. Membaca Sing Me Home adalah merasakan kehangatan yang disajikan dalam deskripsinya. Penulis membuat kisah romansa berbalur kehidupan keluarga yang masih kental dengan nuansa chinnese-nya. Ber-setting di Sydney Australia, membuat rasa di novel ini seperti novel-novel terjemahan.
Deskripsinya mengalir dengan indah, membuat pembaca dibuai dengan kesan hangat dan lembut. Emosi yang diberikan disajikan dengan tenang, namun ada momen-momen tertentu yang nendang. Membuat haru, gelisah, dan berhasil mengikat pembaca hingga tidak ingin melepaskannya sampai selesai membaca.
Karakter dalam cerita ini disampaikan dengan pas dan tidak berlebihan. Menurut saya, Gwen adalah sosok yang egois. Namun, sisi keegoisannya itu berada pada proporsinya, yang memang benar-benar manusiawi. Sehingga, meskipun di balik kekeraskepalaannya dan keegoisannya, Gwen tampil sebagai sosok tokoh utama yang mengesankan. Terlebih lagi, bagaimana ia memperjuangkan mimpinya, benar-benar menginspirasi.
Lalu ada sosok Hugo, seorang pemuda yang memiliki cara tersendiri untuk menggapai impiannya. Ia juga memiliki pemikiran dewasa yang mana apa yang ia pikirkan dan putuskan terkadang melampaui apa yang dipikirkan pemuda di usianya. Sementara Jared, adalah sosok yang menyenangkan. Saya tidak bisa mendeskripsikan yang lebih pas lagi dengannya selain itu. Pokoknya, saya senang dengan Jared bahkan jauh lebih senang Gwen dengan Jared ketimbang Hugo.
Untuk Ma sendiri, saya jadi teringat dengan sebuah kutipan dari novel yang saya baca bahwa orangtua memiliki peran untuk "merusak" anak-anak mereka dengan berupaya memasukkan keinginan mereka dan memaksakan kehendak atas kehidupan anak-anak mereka. Bisa dibilang, saya cenderung setuju. Sosok Ma mengingatkan saya betapa terkadang, ia mengambil peran demikian dalam hal yang menurut mereka "terbaik" bagi anak-anaknya. Padahal, mungkin itu hanya untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan atau trauma yang mungkin pernah orangtua alami. Saya jadi teringat dialog Gwen dan Pop, kakeknya.
"Itu bagian dari menjadi orangtua. Mereka akan menjadi pusing tanpa kecuali. Jadi tak usah merasa bingung, Gwen."
"Yah, mungkin Pop benar. Tapi yang pasti, aku tak ingin jadi orangtua yang membuat anak-anakku harus mengorbankan impian mereka demi ambisiku semata."
"Tidak begitu, Gwen." ---halaman 198
Dari sisi plot, penulis membuat sebuah kisah yang benar-benar dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun, di tangan seorang Emma Grace, kisah yang "biasa" itu mendapatkan sentuhan yang menjadikannya "luar biasa". Cerita seputar impian yang dihalangi orangtua, pengorbanan dalam hubungan percintaan, susah move on, merupakan hal yang familier dalam kehidupan kita. Di sini kita akan menemukan plot cerita seputar itu. Justru, dengan semakin dekatnya kisah ini dalam cerita sehari-hari, membuat kita juga dapat dengan mudah memahami bagaimana peristiwa itu terjadi dan bagaimana menyikapinya.
Saya juga senang dengan alur maju-mundur yang disampaikan dalam novel ini. Penulis menjalinnya dengan lembut sekali. Terkadang satu bagian memang dibuat mundur dengan jelas. Namun, ada juga di bagian lain yang alurnya mundur dengan sendirinya tanpa pembaca sadari. Ini jelas membuat pembaca merasakan betapa apiknya jalinan alur yang dibuatnya. Benar-benar memikat.
Satu hal lagi, saya senang penulis memasukkan unsur budaya tradisional Cina di dalam novel ini. Entah dalam kulinernya, juga waktu momen pernikahan. Membuat saya yang hanya tahu di permukaan saja, menjadi cukup memahami. Ini menjadi nilai lebih lainnya dari novel ini.
Hanya saja, saya masih menemukan beberapa kesalahan penulisan. Tidak banyak sebenarnya, bahkan kalau tidak salah kurang dari lima. Semoga jika novel ini cetak ulang bisa diperbaiki. Namun bagi saya, ini sama sekali tidak mengurangi rasa nikmat dan menyenangkannya membaca novel ini. Saya jadi tertarik untuk menikmati karya Emma Grace yang lainnya.
sejauh ini fine-fine saja sama gaya penulisan Emma Grace. mengalir bagai sungai. akan tetapi, saya masih sebel sama Gwen. sometimes she came as a sweet girl, but the other time she transformed into a rebel one. dan, bayangan tentang dunia tari yang digeluti Gwen masih buyar di kepala saya: apakah balet atau tari kontemporer.
* review ini masih belum selesai dan bisa berubah sewaktu-waktu. for further acknowledgment, please check my update progression.