Jump to ratings and reviews
Rate this book

Cerpen Pilihan KOMPAS #5

Lampor: Cerpen Pilihan KOMPAS 1994

Rate this book
Penulis-penulis Terpilih:

Adek Alwi
Agus Noor
Bre Redana
Gde Aryantha Soethama
Harris Effendi Thahar
Joni Ariadinata
Jujur Prananto
Palti R. Tamba
Ratna Indraswari Ibrahim
Satyagraha Hoerip
Seno Gumira Ajidarma
Yanusa Nugroho

Kewajiban mempertimbangkan selera orang banyak, seperti kita lihat dalam kumpulan cerpen ini, memang memperbesar kecenderungan untuk bertutur secara realis dan memakai pola penceritaan yang konvensional. Akan tetapi, kecenderungan ini sama sekali tak berarti harus menjebak pada selera pop dalam arti berkompromi mengencerkan sebuah karya sastra agar dapat lebih mudah dipahami orang banyak. (Budiarto Danujaya)

Sewaktu saya membaca kumpulan cerpen ini, saya merasa senang. Dalam waktu singkat, keenam belas cerpen ini habis saya baca. Bagaikan seorang yang sedang merokok (kendati saya bukan perokok), saya belum mau berhenti sebelum satu batang rokok habis. (Budi Darma)

172 pages, Paperback

First published January 1, 1994

25 people are currently reading
355 people want to read

About the author

Joni Ariadinata

15 books17 followers
Mulai menulis cerita pendek pada pertengahan tahun 1993. Karya-karyanya disiarkan di beberapa media massa; di antaranya majalah Horison, Matra, Basis, Jurnal Kebudayaan Kalam, Bahana (Brunei Darussalam), serta harian Kompas, Republika, Media Indonesia, Suara Pembaruan, The Jakarta Post, Pikiran Rakyat, Jawa Pos, Bernas, dan lain sebagainya.

Karyanya dalam bentuk antologi adalah: Lampor (Kompas, 1994), Guru Tarno (Bigraf, 1995), Negeri Bayang Bayang (DKS, 1996), Candramawa (Pustaka Nusatama, 1996), Pistol Perdamaian (Kompas, 1996), Gerbong (Pustaka Pelajar, 1998), Aceh Mendesah dalam Nafasku (KaSUHA, Banda Aceh, 1999), dan Embun Tajjali (AksaraIndonesia, 2000); sedangkan esainya dalam antologi Begini Begini Begitu (Pustaka Pelajar, 1997).

Kumpulan Cerita Pendek tunggalnya, Kali Mati (1999), Kastil Angin Menderu (2000), Air Kaldera (2000), dan Malaikat Tak Datang Malam Hari (2004). Kini menetap di Jogjakarta, menulis dan melukis.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
46 (27%)
4 stars
53 (31%)
3 stars
53 (31%)
2 stars
11 (6%)
1 star
3 (1%)
Displaying 1 - 22 of 22 reviews
Profile Image for Arbain Dhuhri.
37 reviews
May 3, 2023
Akhir-akhir ini lagi suka baca cerita pendek, apalagi antologi pilihan KOMPAS. Semua cerita dipilih dengan sangat baik. Kumpulan cerpen tahun 1994 bisa jadi alternatif apabila kita ingin referensi lain dari cerpen modern/kontemporer saat ini. Kita bisa melihat bagaimana gaya cerpen berubah dari masa ke masa.

"Cerpen memang tak harus berarti harfiah cerita yang pendek; akan tetapi pada umumnya lebih menunjuk pada periode penceritaan yang singkat, mengenai sosok yag biasanya tunggal di dalam babakan yang biasanya tunggal pula."

"Sewaktu saya membaca kumpulan cerpen ini, saya merasa senang. Dalam waktu singkat, keenam belas cerpen ini habis saya baca. Bagaikan seorang yang sedang merokok (kendati saya bukan perokok), saya belum mau berhenti sebelum satu batang rokok habis." - Budi Darma

"Kehidupan manusia begitu fana - tapi bukankah kita harus selalu percaya, ada sesuatu yang bernilai abadi dalam hidup ini?" - Seno Gumira Ajidarma, dalam Misteri Kota Ningi

Profile Image for Farah.
212 reviews35 followers
January 17, 2018
Masih berkutat pada tema yang tidak jauh-jauh dari persoalan ideologi, politik, ketidak adilan, serta lunturnya nilai-nilai tradisional di era modern, Lampor adalah buku bacaan keduaku di tahun 2018. Dibandingkan dengan cerpen dalam beberapa buku kumpulan cerpen Kompas yang sudah aku baca sebelum ini, sebagian besar cerpen dalam Lampor lebih terkesan absurd(?) dan butuh lebih banyak waktu untuk dipahami dan ditafsirkan oleh pembacanya.
Dari 16 cerpen yang ada, cerpen favoritku dari buku kumcer ini adalah cerpen Dari Paris karya Harris Effendi Thahar, Jaksa Agung Artogo karya Satyagraha Hoerip, Klandestin karya Seno Gumira Ajidarma, dan Mati "Salah Pati" karya Gede Aryantha Soethama.
Temukan ulasan lengkapku terkait buku ini (di sini)
Profile Image for Wahyudha.
444 reviews1 follower
January 2, 2023
Dalam kumpulan cerpen ini akan dibuka dengan jendela insight oleh empunya Eyang Budi Dharma, lalu dimulai dengan cerpen jawara Punyanya Joni Aradinata yang melukiskan kegembelan uwong yang destruktif. Tapi kumcer kompas ini didominasi oleh Pakde Seno Gumira Ajidarma dg tiga cerpen, semuanya sudah dibukukan dalam Saksi Mata. Gile bener produktifnya itu pendekar.

Cuaca di dalam kumpulan cerpen kompas ini bila boleh dirumuskan menjadi "sengsara membawa Khidmat".
Profile Image for Yarra Fauzi.
15 reviews
September 13, 2022
Era Bre Redana dan Efix Mulyadi ketuka jadi Redaktur Budaya di Kompas sungguh luar biasa. Gugusan cerpen di kumpulan ini buktinya. Estetis. Luar biasa.
Profile Image for Millenysm .
68 reviews3 followers
February 28, 2023
3,9 🌟
Cerpen paling berkesan:
1. Rambutnya Juminten,
2. Ibu Bonar,
3. Telinga Rustam,
4. Mati "Salah Pati",
5. Misteri Kota Ningi.
Profile Image for Dee.
28 reviews1 follower
June 16, 2023
Favoritku:
Misteri Kota Ningi
Dari Paris
Peang
Rambutnya Juminten
Mati "Salah Pati"
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books63 followers
March 16, 2024
Sekali pernah kutanya Rustam bagaimana ia bisa punya telinga sehebat itu. Namun dia hanya memandangku dengan wajahnya yang ke-bloon-bloon-an. "Yah namanya orang kecil, Man," katanya waktu aku desak. "Orang kecil kan cuma punya kuping. Kan cuma bisa dengar." Hal.121.

Cuplikan dialog di cerpen "Telinga Rustam" itu tadi menjadi salah satu bagian menarik dari kumcer Lampor yang merupakan Cerpen Pilihan Kompas 1994. Sudah beberapa kali baca kumcer pilihan Kompas, tadinya saya kira akan memfavoritkan cerpen terbaik sekaligus yang terpilih sebagai judul kumcer sebagaimana Lampor ini.

Nyatanya, cerpen Lampor yang ditulis oleh Joni Ariadinata masih kalah nikmat ketika dibaca ketimbang cerpen "Telinga Rustam" itu misalnya. Cerita sederhana tentang Rustam, yang tiba-tiba memiliki telinga super sensitif yang dapat menguping semua obrolan orang mulanya seru, namun ketika ia dapat mendengar obrolan-obrolan yang seharusnya tidak dia dengar, maka nyawa ia pun jadi taruhan.

Kisah lain yang menarik yakni cerpen berjudul Mati "Salah Pati" yang berkisah tentang Pekak Landuh, seorang warga Bali yang bingung membiayai upacara ngaben-nya sendiri kelak ketika ia meninggal. Makanya, ia memilih cara mati tersendiri yang sekiranya dapat mengumpulkan uang dan tidak memberatkan anak-anaknya kalau benar ia kemudian mati.

Lalu, sepertu Kumcer Pilihan Kompas lainnya, saya jadi ngefans sama Jujur Prananto yang di buku ini menyumbang 2 cerpen. Yakni "Tamu dari Jakarta" dan "Reuni". Dua-duanya bagus. Namun, kalau harus memilih, saya lebih suka cerita "Tamu dari Jakarta" yang mengisahkan keluarga muda yang gengsi ketika kedatangan teman lama dari Jakarta. Plot twistnya menarik.

Dari beberapa kumcer pilihan Kompas yang pernah saya baca, Lampor ini yang paling asyik sih untuk dibaca. Well, bisa bergeser mengingat masih ada beberapa kumcer pilihan Kompas lain yang belom saya baca di rumah :)

Skor 8,5/10
Profile Image for Barbara Hahijary.
46 reviews18 followers
December 14, 2016
An amazing short stories to tell what had happened in pre-reformation era.

I strongly recommend Seno Gumira's "Klandestin" and "Misteri Kota Ningi", which are surreal. In this year/book, Seno also exhibited his productivity in making short stories at that period.

All good and salut!
Profile Image for Aauli.
71 reviews5 followers
December 5, 2021
Buku yang mengawali petualangan saya dalam membaca karya-karya sastra. Dan bikin saya jatuh cinta pertama kalinya sama tulisannya Seno Gumira Ajidarma. Oh iya, cerpen Lampor sendiri punya kesan yang luar biasa buat saya. Kisah tentang kesenjangan sosial dan prahara kaum kelas bawah, ditulis dengan apik dan tanpa bertele-tele.
Profile Image for Dhini.
96 reviews15 followers
November 20, 2008
another kumpulan cerpen...

yang masih teringat sedikit, adalah cerpen Lampor-nya.. dalam cerpen itu, sang penulis, Joni A, mendetail tentang kondisi lingkungan kumuh dengan mengeksplore semua kata yang bener2 identik dgn kondisi spt itu...
Profile Image for Sakinah Mariz.
115 reviews1 follower
December 27, 2014
Dalam kumpulan cerpen ini banyak persoalan yang ungkap. Sayangnya, persoalan tersebut habis dibaca dalam sebuah cerpen. Keterbatasan ruang cerita dalam cerpen membuat pembaca tetap saja penasaran meski cerita telah diakhiri.
Profile Image for kinu triatmojo.
288 reviews3 followers
August 7, 2008
Dari semua edisi cerpen pilihan Kompas, kisah-kisah di Lampor ini yang paling memorable.
Profile Image for Herdi Naufal.
30 reviews2 followers
July 28, 2012
mbaca ini udah lama banget, tapi keren cerpen cerpennya... Paling suka yang judulnya Lampor
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
June 21, 2013
meski kubeli dari toko buku loak, dengan harga 5000. Tetapi ini buku keren dan merinding kalau baca
Displaying 1 - 22 of 22 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.