57 sajak Linus Suryadi ini terkumpul dalam kumpulan karyanya Langit Kelabu yang diciptakan pada periode 1971-1974 dan mengungkapkan nasib manusia, pengembaraan, Tuhan dan lain-lain yang dapat memberi kepuasan dan nikmat pada para pecinta sajak.
Linus Suryadi Agustinus a.k.a Linus Suryadi AG was one of Indonesian contemporary poets. He learned his writing in the Malioboro Street School, a guerilla art school founded by Umbu Landu Paranggi in Yogyakarta. His famous work was "Pengakuan Pariyem" in 1981 which written as lyric prosa. His best contribution to Indonesian literary were collecting and compiling contemporary Indonesian poetries into "Tonggak"
Bibliography: Langit Kelabu (1976) Pengakuan Pariyem (1981) Perkutut Manggung (1986) Tugu (1986) Kembang Tunjung (1989) Rumah Panggung (1989) Di Balik Sejumlah Nama (1989)
You can also find his works in Biru Langit Biru (1977: Ajip Rosidi [ed.]) Walking Westward in the Morning: Seven Contemporary Indonesia Poets (1990; John H. MacGlynn [ed.]) This Same Sky: A Collection of Poems from Around the World (1992; Naomi Shihab Nye [ed.])
*Ngacir bikin review yang ini maksudnyah*...hehehehehe.
Baca buku ini gara-gara gak bisa tidur ampe jam 3 Pagi...habis ketemuan ma Mbak Pulung n Mas Nanto...sempat diusir di Restoran 2 kali gara-gara ngobrol ngalor-ngidul gak selesai-selesai...endingnya dilanjutin dipelataran belakang PIM 1 ampe jam 11 malam...halah....( mau ngeronda ya Mbak-Mas? hehehehe )
Eh tapi beneran...langsung suka cita lho meski begadang bacanya...puisinya bagus-bagus ampe bingung saking semua senang...salah satunya ajah yah ini nih:
Meninggalkan Kota, Aku diambang Senja
meninggalkan kota, aku di ambang senja segra malam pun tiba, hutan berganti warna jika auto tiba pun jika kabut terjaga aku tangguk rindu, engkau begitu rupa
mengombak awan disana, kelabumemanjang jua wajahmu dikeheningan, membayang dalam angan jika bukit selatan pun jika turun hujan aku terus bertahan, menyongsong segala beban.
Bagus kan...orang Yogya yang satu ini keren abis...kepekaan rasa puisiku kena disemua puisi Linus suryadi ini.
Terima kasih buat yang minjamin buku ini: Amang, Thanks Bro!
Saya mengenal Linus lebih pada kerjanya yang tekun mengumpulkan banyak puisi penyair Indonesia dalam sebuah buku. Saya membaca di Perpustakaan SMA Muthohari di Kiara Condong Bandung.
Buku Linus itu yang salah satunya mengingatkan pada puisi Asrul Sani tentang anak nelayan. Mungkin itu kisah sama dari anak-anak yang berlompatan terjun di laut sekitaran Onroost kemarin. Seorang di antaranya membuat saya ingin berteman, karena ombak begitu kejam buat saya yang tidak bisa berenang. Anak nelayan yang pergi melaut dengan lambaian tangan ibu tetap menanti di bibir pantai.
Sedangkan, buku ini jejak awal Linus di perpuisian. Saya pinjam dari Amang. Membaca baris dan bait puisi Linus di buku ini mengingatkan saya pada pemahaman awal saya akan puisi. Puisi adalah kalimat ringkas sarat makna. Saya ringkaskan mana yang berkesan nanti.