Jump to ratings and reviews
Rate this book

Penyihir-Penyihir di Manik Mataku

Rate this book
Kau tahu, sebenarnya penyihir-penyihir itu hanya ingin membantuku. Aku juga tak pernah meminta mereka datang. Mereka sendiri yang ingin tinggal.

Mereka hendak melindungi aku. Persis seperti penyihir-penyihir Putri Aurora yang menolongnya dari kutuk penyihir jahat. Meski tetap saja Putri Aurora harus tidur seratus tahun lamanya.

Tapi setidaknya, ia tak jadi mati, kan?

234 pages, Paperback

Published December 1, 2016

1 person is currently reading
4 people want to read

About the author

Carolina Ratri

26 books40 followers
Content & Copywriter. Editor. Illustrator. Visual Communicator. Graphic Designer.Intense Reader.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (28%)
4 stars
5 (71%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 5 of 5 reviews
Profile Image for A.A. Muizz.
224 reviews21 followers
March 24, 2017
Ini buku yang wajib dibaca penggemar FF. Temanya bermacam-macam. Kegilaannya membuat kepala berdentam-dentam.
Profile Image for Vanda Kemala.
233 reviews69 followers
December 31, 2016
Rasanya udah kayak diajak jalan-jalan ke ruang imajinasi tanpa batas.

Pernah baca beberapa tulisannya di suatu waktu, trus jatuh cinta. Baca buku ini, jatuh cintanya makin bertambah.

Ending ceritanya dari A-Z dan semuanya khas FF. Nggak terduga. Gambar sketsanya juga rapiiii... halus nan mulus banget kayak kulit bayi. Walaupun kadang bikin bergidik juga, soalnya banyak gambar (bola) mata, hehe.

Tulisan favorit? Please, jangan ditanya. Soalnya banyak. Banyak banget, malah.

Suka!
Profile Image for Aulia.
4 reviews2 followers
July 13, 2017
Buku Penyihir-Penyihir di Manik Mataku ini bagiku merupakan karya yang intim. Kenapa? Karena beberapa karya di dalamnya, sudah kubaca sejak awal penayangannya, dan aku mengerti jelas situasinya. Jenis tantangan apa yang mendasari beberapa cerita tertulis, aku paham dengan baik. Aku bahkan punya flashfiction milikku sendiri yang punya tema persis sama dengan yang di buku ini. Meski tak semuanya, tapi aku bisa merasakan apa yang penulis rasakan, yakni berusaha menerjemahkan tantangan mingguan untuk jadi satu ide yang berbeda, ide yang berdiri sendiri, menjadi karya baru.

Dengan sendirinya, karya ini juga menurutku karya yang sangat intim bagi si penulis. Itu hanya dugaan. Meski harusnya tebakanku benar, hehe. Di buku ini, kita bisa melihat seorang Carolina Ratri berkembang. Meski tak disusun secara urut, menurutku jelas, ada kisah-kisah yang ditulisnya saat baru belajar menulis flashfiction, dan beberapa lainnya saat dia sudah terhitung sebagai seseorang yang mahir. Beberapa karya ditulis dengan pesan yang ‘nyelekit’, semisal ‘H For Hari Raya’, atau coba tengok ‘Menu Buka Puasa’ yang bikin ‘jleb’ karena kebetulan aku membaca buku ini saat mendekati Ramadhan kemarin. Lainnya dibikin dengan mendayu-dayu seperti kisah tragis dalam ‘Tak Ada Lagi Titah Langit’, atau ‘Minuman Pembebas Untuk Ibu’. Beberapa flashfiction ditulis dengan bahasa yang lugas. Sisanya penuh rima. Ingin kisah yang menyayat hati? Coba buka ‘Malam Pertama Aku Pulang’, atau ‘Air Mata Ibu’ yang menyelipkan pesan tentang duka korban kekerasan rumah tangga. Jika ingin kisah dengan pesan yang tengil menggelitik, bisa buka ‘Gadis Kecil Ibu’.

Hal ini bikin buku ini sedikit naik turun tentunya, karena riak cerita yang tak sama dalam tiap-tiap lembarnya. Beberapa kisah selesai dalam dua potong paragraf saja. Lainnya butuh beberapa lembar. Setiap kisah menawarkan daya pikat yang berbeda. Positifnya, hal ini bikin aku terus membalik halaman berikutnya karena ingin tahu kisah apa lagi yang ada selanjutnya. Negatifnya, beberapa kisah akan terbanting oleh yang lain, terutama jika mereka menggunakan gaya yang kontras. Salah satu favoritku di buku ini: Purnama Ketiga Belas, misalnya, menurutku ditulis dengan jauh lebih serius, ada world-building yang kuat, bahkan nama tokohnya pun tak main-main. Mungkin idenya tak baru, namun kemasannya jitu. Sebaliknya, Menarilah Seperti Tak Seorang Pun Melihatmu Menari, bagiku terasa hambar karena tak berhasil keluar dari bayang-bayang tekanan lagu dan video yang jadi ide cerita ini (dan mungkin karena aku telah membaca karya terpilih waktu itu, yang jauh lebih menghentak, menurutku). Namun sekiranya tak membanding-bandingkan, seperti yang kubilang sebelumnya, setiap kisah, memikat dengan gayanya sendiri.

Ada satu lagi daya tarik dari buku ini: ilustrasinya, dibuat sendiri oleh si penulis. Makanya, menurutku buku ini sangat intim dan dekat. Lewat guratan pensilnya, kita bisa lihat bagaimana seorang Carra menafsirkan flashfiction miliknya sendiri, lewat kata-kata yang tak beraksara: lukisan. Bagiku yang ahli dalam membuat petakan sawah dan gunung kembar dengan matahari terjepit di antaranya, jelas, itu bukan hal yang gampang. Salut untuk dedikasinya.

Singkatnya, buku ini adalah teman duduk yang baik. Melenakan. Ringan tapi tak terabaikan. Meski beberapa kisah sedikit terlalu kejam idenya untuk dicampur dengan kisah-kisah yang lain (aku tak akan memaparkan bagian mana yang kuanggap kejam, silakan cari sendiri), namun buku ini jelas bacaan yang baik untuk seorang yang ingin membaca karya yang ditulis sepenuh hati, dan dikumpulkan dengan hati-hati.
Profile Image for Erin  F.
135 reviews1 follower
February 13, 2017
Kumpulan flash fiction yang memberikan banyak pencerahan untuk belajar. Kalau gak salah ngitung ada 68 cerita. Semuanya pada oke. Beberapa FF pernah baca di blog Mba Carra langsung, tapi tetep gak bosen. ending twist-nya pada nendang. Beberapa ada yang aku baca ulang untuk benar-benar memahaminya, maklumlah masih banyak belajar soal surealis.

Rekomen nih yang suka maupun yang pengen kenal banyak soal FF.
Profile Image for Dhani.
257 reviews17 followers
January 21, 2018
Akhirnya selesai juga baca buku ini.Secara keseluruhan, suka pada tulisan tulisannya.Walau beberapa di antaranya susah dipahami( kelemotan ada di pihak saya), tapi yang lainnya menarik.Baik karena idenya yang nggak kepikir, kisahnya yang muram, cerita fantasinya yang indah atau juga karena twistnya yang keren.
Displaying 1 - 5 of 5 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.