What do you think?
Rate this book


474 pages, Paperback
Published December 1, 2016
“Cinta dan takut sampe kapan pun nggak akan pernah beriringan. Kalo kata Machiavelli: lebih baik jadi sosok yang ditakuti ketimbang dicintai. It’s way easier.”
Malika mengerutkan dahi, memikirkan jawaban cowok itu barusan, lalu menaikkan sebelah alis. Jujur aja, dia tak menyangka seorang Juancar akan menjawab seperti itu. “So, treating the crews like shit is okay for you?”
“Yang terjadi di belakang kamera sebelas-dua belas dengan di restoran,” kata Juancar sedikit defensif. “Nggak ada yang peduli seperti apa para chef bekerja keras dan keringatan demi makanan pesanan mereka. Orang-orang hanya peduli makanan enak muncul di hadapan mereka. Orang-orang hanya peduli sama hasil akhir, Gaga.”
“Uhm, by the way, gue boleh nanya nggak?”
Pandangan para kru senior—plus Tree—tertuju padanya dalam waktu yang hampir bersamaan.
“Chef Juancar manggil gue Gaga gara-gara warna rambut gue ya?”
Suasana mendadak hening. Tapi selang dua detik kemudian, semua orang di meja itu tertawa terbahak-bahak.
“Chef akan manggil kru dengan sebutan Gaga kalo kerja kita lagi nggak becus,” jelas Imel sambil mengelap air mata gelinya dengan punggung tangan.
“Atau Gago kalo lo cowok,” imbuh Presley.
“It’s not a cute nickname at all.” Yatik ikutan nimbrung.
“Gaga itu artinya sama dengan bego kalo dalam bahasa Tagalog.”
“Whaaaat?!” Malika sampai ternganga mendengarnya. “Dan kalian nggak komplain dibego-begoin gitu sama Chef?”
Mereka bertukar pandang untuk beberapa saat, kemudian mengangguk kompak. “Udah terbiasa,” Presley menjawab dengan nada kalem.