Saya ingin ingatkan Saudara-saudara, bahwa kita, sebagai bangsa yang taat kepada Allah-tidak seperti Smissaert kafir yang hanya bisa berpesta-pora dan mabuk-mabukan di Bedoyo-haruslah kita berdiri di tanahair yang dikaruniakan Allah kepada kita dengan sikap sejati manusia beriman, dengan mengingat teladan yang diiktibarkan nabi besar kita Muhammad, yaitu empat dasar kepemimpinan menuju jihad, yang insya Allah akan sanggup saya Satu, shidiq, bertindak benar berdasarkan kaidah hukum dan peraturan. Dua, amanah, berlaku jujur dalam menasrulkan kekayaan begara dan tanahair. Tiga, tabligh, tegar dan berani membasmi angkara. Empat, fathonah, cerdas dalam melepas diri dari segala rintangan kesulitan.
Remy Sylado lahir di Makassar 12 Juli 1945. Dia salah satu sastrawan Indonesia. Nama sebenarnya adalah Yapi Panda Abdiel Tambayong (Jampi Tambajong). Ia menghabiskan masa kecil dan remaja di Solo dan Semarang. Sejak usia 18 tahun dia sudah menulis kritik, puisi, cerpen, novel, drama, kolom, esai, sajak, roman popular, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Ia memiliki sejumlah nama samaran seperti Dova Zila, Alif Dana Munsyi, Juliana C. Panda, Jubal Anak Perang Imanuel. Dibalik kegiatannya di bidang musik, seni rupa, teater, dan film, dia juga menguasai sejumlah bahasa.
Remy Sylado memulai karir sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Remy terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya.
Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, dan tahu banyak akan dunia perfilman. Saat ini ia bermukim di Bandung. Remy pernah dianugerahi hadiah Sastra Khatulistiwa 2002 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi.
Dalam karya fisiknya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang sudah tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua. Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya di luar budayanya. Di luar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi.
Karya yang pernah dihasilkan olehnya antara lain : Orexas, Gali Lobang Gila Lobang, Siau Ling, Kerudung Merah Kirmizi (2002). Kembang Jepun (2003), Matahari Melbourne, Sam Po Kong (2004), Rumahku di Atas Bukit, 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Bahasa Asing, dan Drama Musikalisasi Tarragon “ Born To Win “, dan lain-lain.
Remy Sylado pernah dan masih mengajar di beberapa perguruan di Bandung dan Jakarta seperti Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, dan Sekolah Tinggi Teologi.
Sekiranya sudah sejak 2 tahun lalu suka sama tulisan Remy Sylado. membaca tulisan-tulisan dia yang lain bikin ketagihan. Novel Pangeran Diponegoro ini pun begitu adanya. Eman-eman para muda lamun tanpa sastra kagunan sepi Nadyan darbe rupa bagus tur sugih busanarta nanging lamun tanpa sastra Rai Damun Sekar tepus saupama amrengangah nora wangi
*disayangkan jika orang muda sampai buta sastra dan tidak mengenal seni. Walaupun penampilan sosoknya rupawan dan kaya raya, maka auranya muram karena malu, bagai bunga yang warnanya indah. Molek namun baunya tiada harum. (terdapat pada hal. 229) Latihan bisa menemukan cara baru (hal. 231) Akhirnya saya paham mengapa penyair besar C.A mengagumi sosok Pangeran Diponegoro menjadi salah satu judul puisi C.A yg diterbitkan 8 Agustus 1954. P.D berkarakter tegas, berpendirian teguh sehingga disegani. Kendati tidak ganteng/tampan. Namun, pembawaan dirinya membuatnya menjadi sosok yang gagah berani.
Novel tentang Pangeran Diponegoro, berkisah tentang kehidupan Pangeran Diponegoro dari menikah, peralihan penjajah dari Inggris kembali ke Belanda, hingga Pangeran Diponegoro berumur 40 tahun dan dimulailah Perang yang dikenal dengan Perang Jawa.
Hikmah: Bagaimanapun Sikap penjajah, Belanda (penindasan), Inggris (pembuaian), Kemerdekaan atas penjajahan bangsa asing memang pasti lebih manis walau dimungkinkan atau mesti ada Perlawanan dan Peperangan .
"Dengan dukungan Saudara-saudara saya siap maju, terus maju, pantang mundur, tidak mengenal kamus mundur. Tidak boleh ada sejengkal pun tanah air kita yang boleh diambil dan dikuasai Belanda. Mari Kita Perang di jalan Allah." -Pangeran Diponegoro-
Di saat nilai-nilai kepahlawanan yang mulai memudar, novel karya Remi Sylado ini kembali menggugah kesadaran kita. Mulai dari kesadaran akan pentingnya perjuangan mempertahankan harga diri bangsa, sosok Diponegoro yang notabene seorang pangeran dan hidup berkecukupan, rela untuk turun gunung membela rakyatnya dan meninggalkan gemerlapnya status kebangsawanan. Nama Diponegoro yang sebenarnya terambil dari dua kata Difa' (arab) berarti pertahanan, dan negara, yang bila disatukan mempunyai makna pertahanan negara memberikan pelajaran yang berharga bagi sifat kenegarawan kita yang harus rendah hati dan memihak pada rakyat kecil.
Seperti menonton wayang orang dalam bahasa Jawa yang indah. Semua diceritakan dan mengalir seperti greget bahasa Jawa kromo inggil. Bahkan sekelumit kisah cinta Pangeran dan Ratnaningsih tergambar dengan indah seakan seperti mendengar tembang.
Membaca novel ini membuat saya makin tergerak untuk mencari tahu lebih banyak tentang beliau. Salah satunya adalah kunjungan ke Fort Rotterdam tempat saat-saat terakhir beliau disekap.
Bacaannya sarat namun masih boleh dicerna . Dan seperti tajuknya .menuju sosok khalifah - buku ini mengisahkan permulaan perkahwinan pangeran diponegoro dan Ratnaningsih - pergolakan kuasa diantara takhta Sultan , talibarut talibarut serta hegemoni belanda dan inggeris . Selain itu juga mengetengahkan latar masyarakat keraton dan sosio ekonomi masyarakat tersebut dengan seringkali juga perbahasan didalam bahasa belanda membuatkan buku ini sebuah buku sejarah yang hidup .
Meskipun Remy Sylado bukanlah orang yang menganut islam, akan tetapi detail ritual keagamaan yang dideskripsikan dalam buku ini begitu nyata sehingga saya menyangka ia memiliki mesin waktu dan bergabung dalam cerita seolah ia menjalankan sendiri ritual-ritual keagamaan Islam Diponegoro.
btw. kenapa di Gramedia terdekat dari rumah saya belum kunjung ada Buku Keduanya ya?
ceritanya bagus,, seperti mengajak kita untuk kembali ke jamannya pangeran diponegoro. hanya saja,, sepertinya ceritanya belum selesai... atau ada jilid 2nya yah?