Salim A. Fillah adalah seorang penulis buku Islami dari Yogyakarta, Indonesia. Hingga 2014, ia telah menulis beberapa buku, 'Agar Bidadari Cemburu Padamu' (2004), 'Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan' (2004), 'Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim' (2007), 'Jalan Cinta Para Pejuang' (2008), 'Gue Never Die' (2006), 'Barakallahu Laka: Bahagianya Merayakan Cinta' (2005) dan 'Dalam Dekapan Ukhuwah' (2010), Menyimak Kicau Merajut Makna (2012), dan Lapis-Lapis Keberkahan (2014). Buku-buku ini diterbitkan oleh Pro U Media, dan telah menjadi best-seller. Karya terbarunya, Lapis-Lapis Keberkahan, harus masuk cetak ulang hanya 3 hari sesudah diluncurkan, 13 Juli 2014.
Dua ustadz sekaligus penulis favorite saya ini sangat mengesankan. Di bagian awal saya membaca tulisan dari ust. Salim A. Fillah. Seperti biasa, cara sang ustadz menyampaikan sesuatu selalu dengan bahasa yang santun dan mendayu-dayu. Dengan banyak kiasan dan kisah penuh hikmah. Sedangkan di bagian ke dua, saya membaca tulisan ust. Felix Siauw, yang logikanya sangat mantap. To the point dan langsung sampai kepada saraf otak untuk mencerna dan memproses kata-katanya.
Dua ustadz yang fenomenal memang. Meski berbeda harakah, tapi mereka mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan harakah itu bukanlah sesuatu yang harus dipermasalhkan, dipertentangkan, sampai akhirnya membuat Islam menjadi terkotak-kotakkan. Malah, perbedaan harakah itu sejatinya haruslah menjadi sesuatu yang mendamaikan, merapikan, menyuarakan lebih dalam, meragamkan, serta memudahkan jalan dakwah yang penuh halangan dan lika-liku.
Saya sangat tertarik dengan penyampaian ust. Salim mengenai perbedaan yang digambarkan dalam kisah di jaman Nabi dan sahabat tentang peristiwa Sholat Ashar dan tentang Tayamum. Begitu pun tentang kebijakan untuk bentuk Ka’bah yang baru kali ini saya ketahui.
Saya juga sangat tertarik dengan pernyataan ust. Felix mengenai tujuan dalam berdakwah. Bahwasanya tujuan kita mengikuti harakah yang satu atau yang lainnya adalah sama, yaitu Allah s.w.t. Lantas, untuk apa perbedaan dalam harakah dijadikan semacam perlombaan yang saling sikut seolah surga dan kebenaran hanya milik satu kelompok harakah saja? Dengan membaca buku ini, semoga kita mulai belajar untuk menerima, ikhlas, dan perpandangan luas terhadap tujuan melalui proses yang membahagiakan. Mulai belajar untuk tidak selalu menggaris bawahi “aku” yang paling benar, atau menebalkan “kami” yang paling pantas. Sebab syaithan punya banyak sekali muslihat, banyak sekali tenaga untuk tidak lelah-lelahnya menyesatkan. Sebab syaithan ingin dakwah ini berujung pada kesia-siaan karena kesombongan kita, karena keriya’an kita, karena kebohongan kita terhadap diri sendiri dalam menyandang kebenaran Ilahi. Tapi mulai dari sekarang mari kita berbenah, menebalkan kata “kita” untuk terus berjuang bersama dalam jalan dakwah. Agar istiqomah dan berkah dalam berdakwah, agar surgaNya dapat dinikmati bersama sebagai naungan terindah.
NB: Terimakasih kepada yang terkasih atas bukunya. Semoga ilmu yang disampaikan buku ini menjadi amal jariyah bagi sang pemberi. Semoga tetap istiqomah, bersamaku di jalan dakwah meski berliku.
Judul: Bersamamu, di jalan dakwah berliku (Berbaris dalam dakwah, berpeluk dalam ukhuwah) Penulis: Salim A. Fillah & Felix Y. Siauw Penerbit: Pro-U Media Dimensi: 256 hlm, cetakan pertama 2016 ISBN: 978 602 7820 59 3
Duet ustad yang berbeda harakah. Satunya tarbiyah, satunya HTI. Di saat isu pergesekan antar harakah Islam memuncak, dua ustad ini bersatu membuka cakrawala. Bahwa kita jauh lebih banyak persamaannya dibanding perbedaan.
Bahwa dalam masalah furu', qiyash, ijtihad adalah wajar kita tak sependapat. Tapi dasar utama dan yang kita imani adalah sama. Ada banyak harakah yang sebenarnya bertujuan satu dan itu semua baik. Sayangnya, perbedaan terjadi dari sisi mana harakah tersebut melihat. Ada yang melihat dari ekonomi, politik, sistem, dll.
Buku ini juga pas dengan kontekstual saat saya membaca sekarang, terkait PILKADA DKI, #muslimvotemuslim.
Ah, berkali saya menangis membaca ikrar ustad salim dari Q. S. Yusuf: 108 yang dikupas per bab (dan menghabiskan 2/3 porsi buku) "Katakanlah, ini jalanku. Aku berdakwah menyeru manusia kepada Allah di atas bukti-bukti yang nyata, aku dan orang-orang yang mengikutiku, Maha suci Allah, dan tidaklah aku termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya."
Ah, berkali saya malu membaca pengakuan ustad felix tentang "Dakwahku (yang masih berbangga atas harakahnya); bersamamu (yang mencoba memahami harakah lain dan ternyata tujuan kita sama, hanya kurang silahturrahim); di jalan berliku (sementara banyak di luar Islam ingin memecah belah kita)."
Gaya buku ini dibuat dual cover bolak-balik. Seperti buku dwilogi padang bulan andrea hirata.
Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.
"Seorang da'i agung ditanya, 'Apa rahasianya hingga banyak orang Allah karuniai hidayah melalui dirimu?' Beliau menjawab, 'Kudakwahi mereka di siang hari, dan kudoakan mereka di malam hari." (SAF, h.49)
"Di dalam himpunan pendapat yang benar, masih ada mana-mana yang lebih tepat dan mana juga yang ternyata luput." (SAF, h.98)
"Nak, dakwah Nusantara sudah menjadi jatah Ayahanda. Di luar itu, tugasmu membentang sejauh kepulauan Jepang hingga Eropa, daratan Cina hingga benua Amerika. Sebab, sungguh Nabi SAW dijadikan Allah rahmat bagi semesta alam. Tapi dalam tapak jejaknya di atas bumi, beliau baru sejauh-jauh menyusuri Makkah-Madinah-Tabuk-Al quds. Maka kitalah yang bertugas menjadi dutanya pada alam semesta, menjadi sarana Allah untuk menghadirkan rahmatNya bagi umat manusia di mana pun berada." (SAF, h.183)
"Tidak semua perbedaan itu harus ada yang benat dan lainnya salah. Dalam ilmu agama, dua hal berbeda bisa jadi satu benar dan lainnya lebih benar, selama ia berlandaskan dalil islami. Karena itulah kita menerima perbedaan dalam fiqih." (FS, h.32)
"Dakwah itu banyak ragamnya dan pilihan itu harus dipertanggungjawabkan." (FS, h.45)
"Sungguh berdakwah tidaklah mudah. Lebih tidak mudah lagi berdakwah bersama jamaah. Dan akan tambah kesulitannya bila berdakwah dengan orang yang berlainan harakah. Namun, inilah jalan yang kita pilih, yaitu jihad di jalan Allah. Dan kita amat tahu bahwa akhir dari perjalanan ini adalah tempat yang paling indah!" (FS, h.61)
Saya pembaca setia buku ust Salim A Fillah, tapi baru pertama saya membaca tulisan ust Felix Siaw. Membaca tulisan beliau, terasa sekali seperti menyaksikan ceramah atau tablighnya tapi dengan kesempatan merewind dan memperlambatnya, seperti menariknya mendengar pengalaman pribadi beliau, begitu juga dengan membacanya :) Satu yang saya suka dan lega ketahui dari buku ini, adalah prasangka antar harokah hanyalah kesalahan, bukan jiwa tiap harakahnya. Ternyata prasangka itu tidak menguntungkan siapapun. Jalan kita mungkin akan selalu berbeda, tapi satu saja tujuannya. Tulisan yang sebenarnya diperlukan sejak 20 tahun yg lalu, ketika pergerakan masih sangat bergesekan.
Buku yang insya Allah menyatukan hati kita karena Allah... karena iman. Karena hanya itulah sebab Muslim bersatu di mana pun ia berada.
Semangat ukhuwah islamiyyah dalam perbedaan pendapat yang coba dibedah di buku ini. Sangat bagus untuk membuka wawasan dan mengikis ke-jumud-an berpikir.
belajar menghargai perbedaan, bahwa dengan berbeda kita menjadi bermakna. Bukan perbedaan yang membuat terpisah, tetapi dengan jalan yang berbeda kita semakin kuat.
Jalan ini memang masih panjang dan terjal. Namun, puncaknya terlihat jelas dan pahalanya sudahlah tetap. Jalan ini adalah jalan dakwah; berliku jalannya, banyak halangannya, tetapi Allah memuji orang-orang yang berada di atasnya. Jalan ini tak memerlukan orang yg hebat, tetapi ia perlu orang yang taat. Jalan ini menerima orang yang salah asal mau terus berbenah. Jalan ini memuliakan dan mensucikan siapapun yang istiqomah di atasnya
Jalan ini mempersaudarakan yang berbeda suku, ras, golongan, juga beda negara. Senyuman, keramahan, akhlak, dan adab jadi bahasa universalnya, hingga mampu mengutamakan yang lain karena ingin diutamakan Allah 'Azza wa Jalla. Jalan ini penuh dengan ketawadhuan; sikap rendah hati, bukan rendah diri -berusaha menyenangkan saudara seiman sebab tahu bahwa Allah akan menyenangkannya dengan cara itu, jalan kasih sayang dan cinta sesama.
Jalan ini penuh ujian dan kadang ada pujian, tetapi kesemuanya menjadi samar dan tak begitu penting bila sudah Allah yang menjadi tujuan. Jalan ini memang penuh pengorbanan, tetapi akan terasa nikmat dan manis karena ia menjadi ibadah. Mengapa engkau tak mengiringiku di jalan ini? Agar karunia di jalan ini bisa kita bagi dua?
"Jalan yang lurus itu" adalah "jalan orang-orang yang telah Kau beri nikmat. Bukan jalan orang-orang yang Kau murkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat." maka membentanglah Al Qur'anul Karim sepanjang 113 surah bakda Al fatihah untuk memaparkan bagi kita jalan orang yang telah diberi nikmat itu.
membaca tulisan Salim A. Fillah selalu menambah ilmu pengetahuan saya. ketika membaca Al fatihah, pikiran saya selalu menjelaskan jalan yang lurus adalah jalan yang benar-benar lurus tidak ada rintangan. ternyata pemahaman saya selama ini salah. begitu dangkalnya pemikiran saya dalam membaca terjemahan Al quran. sehingga ketika susah, saya selalu berdo'a kepada Allah dengan "ihdinash shirathal mustaqim" maka saya berpikir kesusahan saya hilang seperti saya sedang berada di jalan berliku-liku, tiba-tiba jalan saya lurus kembali. Astagfirullah.
Jalan Allah ini sangat panjang. Untunglah kita tidak diwajibkan untuj sampau ke ujungnya. Hanyasaja kita diperintahkan untuj mati di atasnya. (Syaikh M. Nashuruddin Al Albani)
Begitu pembukaan Bagian pertama. Aku seketika merasa tertampar.
Buku ini ditulis oleh dua penulis dengan dua gaya bahasa yang sangat berbeda. Bahkan, pembawaan bahasannya pun sangat berbeda. Ust. Salim A Fillah dengan tulisan yang sangat santun, menukil sejarah dengan apik, dan mengangkat keagungan syiar menjadi poin utama dalam pemaknaan fiqh dakwah dan jamaah. Sedangkan Ust Felix Siaw banyak membahas tentang perbedaan harokah di Indonesia, khususnya perbedaan HT yang dipilih beliau. Buku ini sangat bagus untuk membuka wawasan dan mengembalikan segala kefanatikan kepada Allah, ada hal-hal yang harus dikesampingkan, berbeda bukan berarti lebih baik. Semua baik, dengan dalil masing-masing.
MasyaaAllah ketika 2 ustadz berkolaborasi dalam dakwah memang seindah ini jadinya.. fokus dari buku ini adalah untuk menghargai perbedaan harakah di jalan dakwah dengan 2 versi penyampaian. Yang satu lembut dalam menyadarkan, yang satu lagi tegas dalam menyampaikan. 2 Ustadz favorit saya, highly recommended untuk yang biasanya anti dengan harakah lain, padahal sama-sama menuju Allah. Barakallah fii kum..
Kedua penulis menyajikan mengenai nikmat dan berkahnya sebuah perbedaan dalam pandangan, hingga fikih ibadah. Selalu seru melihat bagaiman sebagai orang yang dipanggil 'Ustad' mampu menyajikan tulisan berfaedah untuk menanggapi pertentangan dengan tulisan yang teduh...
kembali lagi ke tujuan awal, apa sebenarnya yg kita agung-agungkan? perbedaan mazhab, harakah, dll yg mengkotak-kotakkan ini sebenarnya potensi. potensi yg diabaikan krn masing-masing sibuk mengagungkan apa yg mereka usung. maka kembali lg ke awal, untuk apa dakwah ini? apa sebenarnya tujuan akhir kita? masihkah muncul perasaan merasa paling benar itu? Allahurabbuna, faghfirlana...