Alicia Maddison merupakan putri seorang miliarder. Namun, kehidupan kedua orang tuanya tidak membuatnya menjadi seorang anak yang manja.
Karena kemenangannya di kejuaraan badminton putri tingkat nasional, Maddy dan ketiga temannya, Maverick Jackels, Freya Jackels, dan Edmund Hanks diizinkan untuk berlibur ke sebuah pulau pribadi di tengah laut milik keluarga Maddison.
Pulau itu kosong tak berpenghuni dan penghuninya kini hanya mereka berempat. Namun, tanpa sengaja, keempat sahabat itu menemukan sebuah kapal selam tua bernama Hurricane Hero dan lorong - lorong bawah tanah. Kapal selam itu sudah tua dan mesinnya kemungkinan sudah tidak bisa dijalankan. Namun, mereka menemukan keanehan - keanehan yang terjadi, seperti kapal selam itu berpindah sendiri.
Akankah Maddy dan kawan - kawan berhasil mengungkap rahasia yang ada di baliknya?
"Lelah" dengan buku" dari penerbit besar alias mapan, aku tertantang untuk membaca buku indie yg kadang lebih idealis. Buku indie ini aku dapat dari penulisnya langsung. Salut tuk idealisme penulisnya yang walau masih remaja, tapi sudah menelorkan karyanya yg 200 hal ini.
Inti ceritanya terpusat pada empat remaja di satu kota fantasi. Sudut pandang yg dipakai adalah POV 3 dgn alur maju terus. Jadi, ceritanya dijamin bisa dinikmati dgn sekali baca. Sebagai masukan, misterinya tdk punya momen yg bikin pembaca berdebar" atau tegang ke tokoh. Deskripsi fisik kurang dibahas, plus gaya or cara bicara Maddy, Freya yg rata" mirip n seragam, padahal mrk dua karakter berbeda. Berlaku pula ke gaya bicara dua teman lainnya. Well, buat aku, tak ada tokoh yg memorable n berkesan di sini hehe..
EYD bertebaran banyak (sekali) ^_^, tp bisa ditolerir karena novel ini karya perdana n TANPA arahan editor pro. Kelebihannya, penulis di usia belianya berani mengusung tema misteri yg jarang dilirik. Cool! Dgn belajar teori menulis, plus sering" baca novel, penulis pasti kian berkembang serta mampu menghasilkan karya" lebih berbobot lagi. Semangat.. Ganbatte!
Lima Sekawan Karang Pencoleng/Five Go To Demon’s Rock, tp kw2. Kemiripannya bahkan sampai ke karakter Kakek Jeremiah dan si monyet usil.
Sayangnya sering terasa alur dan cara berpikirnya masih childish wishful thinking, plus logikanya sulit masuk. Ada juga kesalahan seperti: membeli seperempat kilo telur, tapi besoknya bisa sarapan dengan 8 biji telur rebus. Hmm, boljug ni timbangan seperti ini (emak2 sekali aku ini) 😁
Nb: tresspasing/masuk ke rumah orang dan mengambil dokumen2 di ruang kerja (rumah penjahat sekalipun) seperti yg dilakukan Edmun dan Rick itu TINDAKAN KRIMINAL lho!!
oke, menurutku buku ini cukup bagus. namun, banyak hal yang bisa dibicarakan atau dijelaskan lagi dalam buku. contohnya bagaimana mereka bisa membawa kapal dayung sendiri, berapa luas herret, jarak antarpulau apakah cukup jauh, dan lain-lain yang masih aku lupa. bab paling aku suka adalah terjebak karena terasa nyata bagiku
This entire review has been hidden because of spoilers.