Jump to ratings and reviews
Rate this book

Some Kind of Wonderful

Rate this book
Liam Kendrick dan Rory Handitama memahami arti kehilangan. Liam pergi ke Sydney dengan dalih menggapai impian sebagai koki, walau alasan sebenarnya untuk menghindari cinta pertama yang bertepuk sebelah tangan. Di lain pihak, Rory sedang berusaha menata kehidupannya setelah suatu insiden membuatnya kehilangan orang-orang yang disayanginya, dan melepaskan impiannya sendiri sebagai pemusik.

Keduanya paham arti berduka, meski belum mengerti caranya. Kesedihan dan kesepian mendekatkan Liam dan Rory, sampai akhirnya ada rasa lain yang menyusup. Saat perasaan sudah tak terelakkan, Liam dan Rory terjebak keraguan, dan rasa lama masih terlalu kuat untuk dilupakan. Dapatkah dua orang yang pernah mencintai orang lain dengan segenap hati menyisakan ruang bagi satu sama lain?

360 pages, Paperback

First published January 23, 2017

40 people are currently reading
436 people want to read

About the author

Winna Efendi

18 books1,966 followers
A woman with passion in both reading and writing and has written a few books in both English and Indonesian. Used to work as a freelance reporter for an in-house magazine and a fashion journalist/contributor in http://www.fasity.com, an Indonesian fashion community.

Some fictions have been published online and in a number of magazines. Her published novels are: Kenangan Abu-Abu (February 2008), Ai (February 2009), Refrain (September 2009), Glam Girls Unbelievable (December 2009), Remember When (March 2011), Unforgettable (January 2012), Truth or Dare (Gagas Duet May 2012), Melbourne: Rewind (2013), SCHOOL Tomodachi (2014), Happily Ever After (2014), Girl Meets Boy (2015). Winna's non-fiction book is Draf 1: Taktik Menulis Fiksi Pertamamu (September 2012). She has also participated in an anthology book about traveling - The Journeys (March 2011).

Currently writing numerous short stories collection and novels.

She enjoys curling up with a good book, with the radio turned on and a cup of tea :)

Winna can be reached via email at winna.efendi@gmail.com or her official blog http://winna-efendi.blogspot.com and Twitter/FB: @WinnaEfendi or fanbase @Winnadict

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
122 (20%)
4 stars
291 (49%)
3 stars
160 (26%)
2 stars
17 (2%)
1 star
3 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 145 reviews
Profile Image for Utha.
824 reviews399 followers
May 11, 2023
Liam pikir waktu akan menyembuhkan lukanya. Namun, ternyata keputusannya melihat wanita itu membuat ruam makin menganga.

Rory pikir dengan menjaga kenangan akan dua sosok yang paling dicintainya adalah cara terampuh untuk tetap melanjutkan hidup. Namun, hal itu justru membuat luka di hatinya makin perih.

Resensi lengkap di http://www.tsaputrasakti.com/2017/01/...
Profile Image for ABO.
419 reviews47 followers
February 7, 2017
Buku ini semakin membuktikan bahwa Winna Efendi adalah penulis yang piawai dalam menciptakan kisah serta tokoh-tokoh manusiawi dengan segala macam persoalan dalam hidup mereka.
Begini, saya tidak bisa bilang saya suka buku ini (walau pada akhirnya saya memutuskan untuk memberikan 3 bintang), tapi juga amat salah kalau itu berarti saya tidak suka bukunya. Buku ini ditulis dengan sangat baik, pokoknya Winna banget deh. Namun sepertinya memang saya sedang mengalami yang namanya pergeseran selera. Cukup banyak judul metropop yang pernah saya coba baca tetapi belum berhasil saya selesaikan. Jadi, merupakan sebuah pencapaian (menurut saya) kalau buku ini berhasil saya selesaikan (walaupun beberapa bagiannya saya skimming. Alurnya lambat bangeeet x)). *mungkin untuk membuktikan teori saya tentang pergeseran selera ini saya harus kembali mencoba metropop lain*
Satu yang paling saya kagumi dari penulisnya, dia menyampaikan? mengirimkan? ah iya, mengantarkan apa yang dirasakan tokohnya (terutama Rory) dengan sangat apik, dengan narasi berdiksi sederhana tapi indah. Contohnya:
"Namun aku terperangkap. Berada dalam lautan manusia, dikelilingi orang-orang asing. Bahkan dalam keramaian yang tak pernah surut, aku merasa jauh lebih kesepian daripada saat aku sendirian.
And when you're lonely, you especially miss the people you no longer have."


Is it a good book? YES. But (sadly) not a memorable one :(
Profile Image for Cindy Claudia.
99 reviews16 followers
February 6, 2017
Because sometimes goodbye means a promise to return to the people you love.

Pada momen saya membalik halaman terakhir buku ini, saya merasa speechless dengan kisah yang baru saya selesaikan. This book is freaking amazing in its own way.

Meski sekarang saya jauh lebih banyak membaca buku-buku dari penulis asing ketimbang penulis dalam negeri, saya tetap dan selalu akan menjadi pembaca setia Winna Efendi. Karya-karyanya selalu memiliki tempat spesial di hati, khususnya karya yang satu ini.

Saya tidak bisa mendeskripsikan perasaan saya membaca buku ini secara definit. Saya merasakan kesedihan, kekecewaan, ketakutan, dan kebahagiaan di saat yang bersamaan. Meskipun gaya penulisan Winna selalu mengalir lembut nan indah, saya merasakan adanya perbedaan kali ini. Saya merasa segalanya nyata dan hidup layaknya magis saat membaca.

I love that this book did not play the triangle love part. I feel like the author could easily turn this story into something like Rory being insecure of herself because of Wendy so therefore she chose to let Liam go and end up regretted later to seek for him once again.

Seperti yang saya bilang, segalanya terasa begitu nyata dan jujur dalam kisah mereka. Realistis. And have I mentioned how much I love the small little details in their story? My favorite ones are: Saat Liam memasak untuk Wendy sehari sebelum pernikahannya karena Bunda Ida adalah satu-satunya figur ibu untuknya, interaksi singkat antara Liam dan Willem (I'm glad there was no family drama here), sepotong kisah mengenai Daphne dan Wyatt yang mengandung makna dalam, dan kunci pemberian Julie kepada Liam.

Saya menitikkan air mata saat membaca bagian di mana Liam memutuskan untuk mengejar kembali mimpi yang telah lama dikubur, untuk keliling dunia. I feel so touched by this part because I also share the same dream as him. I could feel his passion burning just like mine.

Poin terakhir, keindahan kalimat-kalimat yang ditulis oleh Winna. Saya menemukan begitu banyak kalimat yang menyentuh hati saya dan saya kebingungan memilih satu di antaranya untuk mengawali review ini.

But that one makes me feel the most. Saya tidak pernah berpikir demikian sebelumnya dan kalimat itu sukses memberikan saya perspektif baru.

I love everyone in this book, but especially Liam. Fell in love with his character as I watched him grew from the beginning to the way he was now. Also Rory who was going through a little bit harder process in her life.

Buku ini tidaklah sempurna. Beberapa kali saya menjumpai kata-kata yang kurang pas dan adanya 1-2 typo di dalamnya. Ada hal-hal yang bisa dikembangkan lebih. Namun, buku ini telah sukses menempati sebuah tempat dalam relung hati saya.

Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
March 6, 2017
29 - 2017

Ada 1 eks gratis Some Kind Of Wonderful DL 9 Maret 2017 cek http://www.rizkymirgawati.com/2017/03...

"Bukan peristiwa besar yang mengingatkan kita akan kepergian seseorang. Bukan tanggal kepergian mereka, atau hari ulang tahun yang sudah tak lagi dirayakan. Aku bisa berpura-pura melewati hari seperti biasa, mengantisipasi rasa sakit yang akan datang dan mengebalkan hati semaksimal mungkin. Tapi tidak pernah ada yang mempersiapkanku untuk hal-hal kecil yang datang secara tiba-tiba." (Hal. 34)

Setiap orang pasti pernah kehilangan. Entah itu kehilangan hal-hal kecil, hingga kehilangan yang teramat besar hingga sulit untuk merelakan. Setiap orang juga pasti punya caranya sendiri untuk menyikapi kehilangan itu sendiri. Ada yang mampu merelakan dan mengikhlaskan, ada yang masih diam di tempat dan sulit untuk menerima.

Itulah sekelumit kisah Liam dan Rory, dua tokoh utama dalam novel terbaru Kak Winna Efendi, Some Kind of Wonderful.

Jujur aku sangat antusias sekali saat mengetahui bahwa Kak Winna akan menerbitkan novel baru lagi, karena Kak Winna adalah salah satu penulis favoritku yang selalu kutunggu tulisannya. Tulisannya selalu sederhana tapi menyentuh hatiku sedemikian rupa.

Seperti novel Some Kind of Wonderful ini. Novel tentang kehilangan dan merelakan, cinta dan keluarga yang sederhana tapi begitu menyayat hatiku sedemikian dalam.

Novel ini mengisahkan mengenai kehidupan Liam Kendrick dan Aurora Haditama (Rory), dua orang yang sama-sama sedang merasakan kehilangan dengan kadar yang berbeda.

Rory harus kehilangan dua orang yang paling disayanginya dalam suatu peristiwa yang sungguh memilukan. Waktu berlalu, tapi Rory masih belum bisa menerima takdir. Rory masih belum bisa membuka diri bahkan sering menyalahkan dirinya sendiri. Rory masih berkutat dengan kenangannya tentang Jay dan Ruben, bahkan kadang-kadang Rory menganggap keduanya masih ada di sampingnya dan tak pernah pergi jauh dalam hidupnya.

"Tidak semua kenangan bersama dua orang favoritku di dunia menyenangkan. Tetapi, aku mampu menukar apa pun untuk memiliki momen-momen itu kembali." (Hal.136)

Hal yang berbeda dengan Liam. Liam harus merelakan sahabat sekaligus cinta pertamanya, Wendy. Liam dan Wendy tumbuh besar bersama, dan Liam jatuh cinta padanya. Sayangnya, Liam harus merelakan cintanya tak berbalas. Wendy ternyata mencintai orang lain dan itu adalah Willem, adik tiri Liam sendiri.

Liam tak sanggup mengatasi hatinya sendiri. Liam belum mampu menerima kenyataan, sekali ini dia pun memilih pergi jauh dari Wendy dengan harapan dia bisa melupakan semuanya. Bahkan untuk sekedar berkomunikasi dia pun enggan. Hingga undangan pertunangan Wendy dan Willem datang, Liam pun tak bisa menghindar lagi.

"Orang-orang selalu bilang, waktu akan menyembuhkan segalanya. Mereka yang berkata begitu jelas-jelas belum pernah merasakan kehilangan." (Hal.139)

Hingga di suatu titik, Liam dan Rory bertemu. Keduanya bekerja di sebuah stasiun TV yang sama. Sejak melihat penampilan Rory, entah kenapa ada suatu perasaan ingin dekat dengannya. Rory yang selalu tampak berbeda di depan tv maupun dunia nyata. Hal yang sungguh mengusik Liam, karena dia seakan melihat duka yang begitu dalam tersimpan.

"Pemikiranmu yang sempit membuat apa yang kamu lihat jadi terbatas. Nggak semua yang kita rasakan harus diwujudkan dalam kata-kata dan tindakan. Terkadang, hal itu cukup dirasakan dalam hati." (Hal. 271)

Singkat kata, mereka jadi sering bersama. Liam menawarkan sebuah pertemanan bagi Rory. Tapi siapa menyangka urusan hati? Bagaimana jika perasaan mereka berkembang sedemikian rupa? Perasaan yang sungguh membingungkan dan keraguan pun datang menghampiri. Akankah dua orang yang pernah begitu mencintai sangat dalam membuka hati untuk cinta yang baru? Atau malah memilih untuk melepaskan kesempatan yang datang?

"Kamu nggak bisa berhati-hati dalam urusan hati. You either trust the other person and yourself enough to take the leap, or you don't." (Hal.289)

Membaca novel ini jujur begitu menghanyutkan hatiku. Aku seakan terhubung dengan perasaan Rory dan Liam, terutama Rory. Aku merasakan simpati dan empati yang begitu dalam. Aku bisa memahami tidak mudah mengikhlaskan orang yang dicintai pergi dalam kehidupan kita, apalagi kalau tidak ada persiapan apa-apa.

Aku pernah berada di dalam posisi Rory, kehilangan kedua orang yang sangat berarti dalam hidupku dalam waktu yang relatif amat sangat dekat. Aku sampai tidak bisa berkata-kata, menangis pun aku tak sanggup karena terlalu kaget dengan semua kenyataan yang hadir. Tiba-tiba saja terasa kebahagiaan dicabut paksa dalam kehidupanku. Aku berada di dalam titik terendah dalam hidupku.

Hingga aku sempat menyalahkan semuanya, bahkan diriku sendiri karena tidak punya cukup banyak untuk menghabiskan waktu bersama orang yang kucintai. Waktu pun berlalu, aku tahu aku harus bisa mengikhlaskan dan aku tahu itu sungguh tidak mudah.

Walau dalam konteks yang berbeda, namanya kehilangan itu pasti menyakitkan. Rory yang sedang merasakan kebahagiaan, tiba-tiba saja kehilangan dan 2 orang sekaligus. Tentunya tidak mudah.

Aku bisa memahami jika ada keraguan dalam hati baik Rory maupun Liam. Keraguan akankah mereka bisa membuka diri untuk cinta yang baru? Benarkah perasaan itu sungguh nyata atau hanya sekedar pelarian saja? Itu hal yang sangat manusiawi sekali.

"Bisa ketemu belahan jiwa dan menyadarinya itu sebuah berkah. Tapi untuk mendapatkan kesempatan kedua setelah kehilangan semuanya adalah keajaiban. Nggak semua orang seberuntung itu." (Hal.290)

Walaupun alurnya terasa lambat sekali, kamu harus sedikit bersabar karena sepertiga halaman novel ini Kak Winna mencoba membangun karakter Rory dan Liam agar pembaca bisa memahami masalah yang mereka hadapi.

Membaca halaman demi halaman novel ini memukauku, aku seakan tak sabar ingin mengetahui akhir kisah Rory dan Liam sekaligus tak ingin berpisah dari kisah mereka.

"Perasaan adalah sesuatu yang rumit. Begitu rumitnya, hingga terkadang aku kesulitan menguraikan benang-benang rasa yang kusut masai dan saling menjaring dalam hatiku." (Hal.302)

Kamu mencari sebuah kisah romansa tentang cinta, keluarga, kehilangan dan merelakan aku rekomendasikan novel ini untuk kamu baca.

Novel ini akan membuatmu memahami bahwa seberapa berat dan dalam kehilangan yang kita hadapi, jangan sampai kita menutup diri untuk kebahagiaan kita.

"Tapi, satu hal yang kuminta - suatu hari nanti, beranilah sama dirimu sendiri, Rory. Beranilah dan tatap dirimu sendiri baik-baik, jujur sama apa yang kamu rasakan. Hadapi ketakutanmu, apa pun bentuknya, dan mungkin kamu akan melihat bahwa apa yang kamu takuti bukan mengingat, tapi melupakan. Karena itulah kamu terus menghukum diri sendiri untuk setiap hal yang membuatmu bahagia." (Hal.271)

"Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyum mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan." (Hal. 303)

"Ah, bukankah hidup memang seperti itu? Kesalahan, penyesalan, pembenaran - sebuah siklus yang tak pernah berakhir. It's all the ugly and wonderful things colliding at once, dan kita semua terperangkap di dalamnya. Justru karena itulah kita terus hidup, untuk menunggu ke mana ia akan membawa kita selanjutnya." (Hal.298)
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
July 21, 2017
Some Kind of Wonderful bercerita tentang Rory, seorang wanita yang kehilangan suami dan anaknya dalam sebuah aksi pembunuhan acak di jalan, serta Liam, seorang koki selebritas yang kini perasaannya kacau balau karena adiknya akan menikah dengan wanita yang dia cintai. Pertemuan di kafe tempat Rory bekerja membawa keduanya untuk mengenal satu sama lain.

Seperti yang saya tulis di artikel "7 Buku Keren Januari 2017", ini adalah buku pertamanya Winna Efendi bersama Gramedia Pustaka Utama, setelah 13 buku sebelumnya selalu diterbitkan oleh penerbit lain. Saya tidak melihat ada perbedaan di antara bukunya Mbak Winna yang ini dengan novel-novel sebelumnya. Masih tentang dua orang yang saling menguatkan satu sama lain.

Ceritanya sendiri tetap terasa hangat dan menyentuh, khas Mbak Winna. Kisah tentang kehilangan, merelakan, dan cinta menghiasi novel ini. Saya suka dengan interaksi para tokohnya di sini. Kedekatan dan pergulatan setiap tokohnya tersampaikan dengan baik.

Kekurangan novel ini ada di alurnya yang sedikit lambat. Pembaca memang rasanya diajak berputar-putar dulu untuk melihat kilas balik para tokohnya, sebelum mereka bisa maju ke masa depan.

Secara keseluruhan, kalau kamu suka dengan kisah cinta antara dua orang yang pernah mengalami kehilangan hebat dalam hidupnya, maka ini adalah novel buatmu.

Peter Pan pernah bilang, to die would be an awfully big adventure. Tapi menurutku, to live is an even bigger adventure. In fact, it's the biggest adventure there is. (hal. 319)


Let's meet on social media:
Instagram | Twitter | Youtube
Profile Image for Alvina.
732 reviews118 followers
February 6, 2017
Ceritanya sederhana, tentang kehilangan dan melepaskan. Tentang cinta, sahabat dan keluarga. Khas Winna, tulisannya apik dan banyak banget bagian yang bisa dikutipin satu satu. Ceritanya sederhana, tentang Rory dan Liam yang sama sama kehilangan lalu bertemu di satu titik yang menempatkan mereka berdua berjalan beriringan.

Tapi cinta tak mudah melepaskan. Sama seperti rasa takut yang tak mudah diungkapkan. Ada bagian bagian cerita yang membuat saya jadi sentimentil waktu membacanya. Ada banyak malahan. Mungkin buku ini cocok dibaca bagi mereka yang pernah merasakan kehilangan dan ketakutan pada saat yang bersamaan.

Kisahnya romantis namun cukup datar. Banyak konflik yang diselesaikan dengan effort yang mungkin menurut saya kurang. Detail yang agak berlebihan. Tapi merupakan bacaan asyik untuk dinikmati sekali duduk. Di sore hari saat hujan turun sambil menikmati secangkir teh, misalnya.

Sebab kadang kita butuh kadar romantis dalam diri. Karena dunia penuh dengan kepahitan, Bung.


Demikianlah adanya mimpi - seberapa jauh pun kau mengesampingkannya dan berpikir sudah melupakannya, mimpi itu akan selalu ada, menunggu sampai kau kembali menemukannya




*baca bareng ABO sebagai pemanis sebelum membaca buku sakit
Profile Image for Irma Agsari.
119 reviews17 followers
February 6, 2017
Ada dua buku Kak Winna yang paling berkesan buat saya : Refrain, karena buku itu adalah karyanya yang pertama saya baca dan membuat saya terus mengikuti buku-buku Kak Winna selanjutnya, dan Melbourne : Rewind, because it hits a little too close to home. And I have to agree that this one has a similiar vibe with Melbourne. Walaupun menurut saya, Some Kind of Wonderful lebih kompleks dan emosional. Karena bukan hanya tentang Liam dan Rory, buku ini juga menceritakan tentang mereka yang hidupnya pernah bersinggungan dengan kedua tokoh ini.

One of my favorites!

Ulasan lengkap : http://agsariirma.blogspot.co.id/2017...
Profile Image for Stella_bee.
496 reviews15 followers
February 7, 2017
My second five-stars reading in 2017 :)
Another favorite from Winna Efendi after Melbourne ^^
Profile Image for Fikriah Azhari.
362 reviews144 followers
February 20, 2017
“Aku tahu kamu nggak pernah mau jawab pertanyaanku ini, Liam, tapi…” Dia menggigit bibir sebelum melanjutkan, “Kenapa kamu pergi.” – halaman 19.


Semua orang pernah merasakan kehilangan. Entah itu kehilangan pensil saat sedang kelas menggambar, kehilangan busur derajat saat akan mengukur sudut, kehilangan uang di jalan, kehilangan seseorang yang begitu berharga, hingga kehilangan jati diri yang nyatanya tertinggal di suatu waktu, beku di sana, bersama peristiwa yang terjadi detik itu, yang tak kunjung bisa lepas, sebab, waktu seakan menggenggamnya erat, dan rasanya sulit untuk merampasnya kembali. Sehingga mau tidak mau, membuat diri kita yang dulu, kian berubah, dan berganti menjadi sosok yang terasa baru.

“And when you’re lonely, you especially miss the people you no longer have.” – halaman 70.


Rory pernah merasa kehilangan, dan dirinya masih dihantui oleh perasaan tersebut walau sudah dua tahun berlalu. Di mana ia tiba-tiba harus melepaskan dua orang yang berharga dalam hidupnya. Mereka, yang mewarnai hidupnya hingga lebih berwarna. Mereka, yang menjadi penyemangat hidupnya. Sehingga, melepaskan terasa dua kali lebih berat. Dan yang bisa Rory lakukan hanyalah menyalahkan dirinya sendiri terhadap peristiwa yang membuatnya berpisah dengan suami dan anaknya dalam waktu yang sama.

Beberapa tahun lalu, Liam Kendrick memutuskan untuk pergi, dan lagi-lagi sekarang, pergi adalah pilihan yang tepat untuk dirinya, dan untuk cinta pertamanya yang bertepuk sebelah tangan, gadis yang sebentar lagi akan terikat dalam ikatan yang sakral dengan Willem, adik Liam satu-satunya.

Dua orang yang pernah kehilangan. Dua orang yang pernah berada di titik berat untuk melepaskan. Dua orang yang menjalani kehidupan dengan selalu membawa kenangan. Rory yang masih menutup diri dan belum bisa menemukan orang yang tepat untuk kembali membangun komitmen, dan Liam, Sang Peterpan yang masih berusaha merelakan Wendy, yang memutuskan untuk pergi dari Neverland.

***

Karya terakhir Winna Efendi yang saya baca adalah Happly Ever After, dan itu betul-betul membekas sampai detik ini. Dan saya memilih Some Kind of Wonderful untuk karya-nya selanjutnya yang akan saya nikmati. Dan Winna Efendi melakukannya lagi, ia seakan punya bubuk pixie yang bisa menerbangkan pembaca hingga ke titik di mana pembaca merasakan penceritaan yang cukup dalam, mungkin setara dengan apa yang dirasakan Rory juga Liam di buku ini.

Alur ceritanya memang terkesan lambat, tapi worth it lah untuk bersabar dan mengikuti kedua tokoh utama ini, yang masing-masing, masih tenggelam dalam samudera kehilangan mereka. Sempat mikir "Wah, ini udah halaman 100 awal tapi belum ada scene bareng?" tapi ya, rasanya nggak mungkin ngerasa sedalam ini kalau aja Winna Efendi nggak menyajikan seluk beluk kisah masing-masing tokoh dengan rinci, menyampaikan seberapa dalam mereka terluka dan dampak dari luka tersebut.

Saya suka gimana Jay dan Ruben hadir untuk sekedar berbicara dengan Rory, itu salah satu scene yang menurut saya cukup dalam, di mana sebenarnya di situ sudah cukup tersirat bagaimana emosi batin Rory yang tertakan semenjak ditinggalkan oleh keduanya.

Kehilangan memang tema yang sudah sering diangkat, but it's different. Ini lebih ke gimana Rory juga Liam berusaha bangkit untuk meninggalkan, hhmmm no, bukan meninggalkan sih ya, tapi lebih ke bangkit untuk memulai sesuatu yang baru, dan nggak tenggelam terus dalam rasa penyesalan dan menyalahkan diri sendiri. Para tokoh berkembang, ya kita bisa lihat gimana dari awal mereka yang jalan di tempat aja, kemudian berusaha membuka diri, mencari sosok baru. Penggunaan POV yang seimbang, pergantian POV, juga cukup membantu, pembaca lebih mudah mengerti (dan juga terkejut) dengan apa yang mereka baca di lembar-lembar selanjutnya, dan itu adalah pilihan yang tepat.

Ditutup dengan memuaskan, menurutku. Cukup untuk mengakhiri kisah keduanya. Terharu juga karena ternyata bisa sampai ke titik ini. Kehidupan ini ya seperti yang kita jalani saat ini, Some Kind of Wonderful. Tapi tetap saja, tergantung seberapa jauh, dan seberapa bisa, kita menjalani dan mengekspresikan diri dalam menjalaninya.

Review lengkap : http://fikriah-bookaddict.blogspot.co...
Giveaway : http://fikriah-bookaddict.blogspot.co...
Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
March 6, 2017
Satu kata: WONDERFUL!

Review dan rating akan saya berikan ketika saatnya tiba ;) Well, tapi saya akan memberikan ulasan singkatnya: buku ini indah, indah banget. Hebat, hebat banget. Emosi yang diberikannya, cara menyampaikan perasaan karakternya, cara memperkenalkan para tokohnya... Bagaimana penulis bahkan memberikan sentuhan kecil macam mengetuk-ngetuk jemari saat sedang gugup, itu detail yang berkesan.

Duh, sayang sama Bunda Ida <3
Profile Image for Yuli Pritania.
Author 24 books286 followers
February 27, 2017
Memukau seperti biasa, dengan segala kesederhanaannya.

Saya selalu bertanya-tanya akan seperti apa tulisan Mbak Winna jika menulis genre dewasa. Jauh sekali dari kata mengecewakan. Dan, selalu ada adegan yang membuat saya akhirnya meneteskan air mata.

Bacaan yang indah.
Profile Image for MAILA.
481 reviews121 followers
February 13, 2017
ceritanya maniiis, rasanya udah lama banget gak baca bukunya mbak Winna hhe.

di awal-awal saya masih sempat mbayangin buku Refrain ya, tapi lama-lama saya bisa menikmati kisah Rory dan Liam dengan baik.

saya suka nama-nama tokohnya, suka set lokasinya. bikin pengen kesana juga sih. Saya selalu berpikir kalau ke Jepang itu keren. tapi kayaknya ke Australia (dan beberapa bagian negara sana) gak bakal kalah keren deh. jadi inget raditya dika juga masa pas baca buku ini hhe.

saya juga suka dengan latar belakang pekerjaan tokohnya. pemain musik, tukang foto, tukang masak. saya dapat beberapa ilmu tidak terduga dari buku ini. saya juga suka yang bagian Rory bahas roti. saya gak ngerti perihal masak memasak, dan pas dapet pengetahuan itu dari buku ini, saya jadi membayangkan mbak Winna pasti melakukan riset yang begitu serius (atau mungkin ilmu itu sudah dimiliki?) pas nulis itu. saya selalu suka kalau ada orang yang memasukkan fakta-fakta tentang masakan di buku yang mereka tulis.

***

saya bersyukur baca ini tahun ini. beberapa hari lagi adalah perayaan(?) tepat satu tahun saya putus. sebenarnya saya sudah berhasil (atau kira2 begitu) untuk move on. cuma beberapa bulan terakhir ini tiba2 suka keinget lagi gitu, surem. bahkan saya akhirnya stalk akun instagramnya (SETELAH BERHASIL TIDAK PEDULI SELAMA 10 BULAN) dan ugh, saya benci perasaan baper dan cemburu yang hadir setelahnya.

pas baca buku ini, awal2nya saya sempat baper2 gitu. tapi lama-lama, saya jadi seperti ikut tumbuh dan melepaskan bersama Rory dan Liam. Saya juga merasa seperti ikhlas dan siap untuk menyambut hati yang baru (dan untung saja ini terus saya rasakan sampai sekarang setelah beberapa hari selesai membaca ini).

pas selesai baca ini, saya menyelipkan sedikit doa saya sambil perlahan2 menutup buku ini, ''seperti halnya Rory dan Liam, semoga kebahagiaan saya juga segera datang. kebahagiaan dalam bentuk yang memang Engkau kehendaki untukku''. saya memang tidak meminta macam2. siapa tau tuhan memberikan kebahagiaan dalam bentuk menang kuis jalan2 ya kan?

ya pokoknya saya juga ingin menemukan kebahagiaan seperti Liam dan Rory gitu. tapi tidak melulu harus dalam bentuk seseorang.

kutipan kesukaan? BANYAK BANGEEETTTT

''.. waktu rasanya aku bisa ngerti kalau dengan caramu sendiri, kamu pun lagi menjalani hidupmu. dan yang penting, kamu kelihatan bahagia.'' (waktu saya baca ini, saya nangis sesunggukan, trus iseng buka instagram saya, melihat foto2 yang telah saya unggah dan membatin, mungkin saya juga sedang belajar dan dalam proses menuju yang demikian)

''ada sesuatu yang magis dari kesederhanaan sebatang pohon, trees always silent- no silent they look like they are yearning for something. i feel like i should capture that yearning lalu orang lain dapat menginterprestasikannya sesuka mereka"

"untuk keberanian, hanya kau yang bisa menemukannya dalam dirimu sendiri. sedangkan urusan keberuntungan hanya dapat terlihat setelah kau mencoba''

''jangan berlama-lama berusaha mencari tahu isi hatimu yang sebenarnya. ambil tindakan, dan berhenti bertele-tele''

''kamu nggak bisa berhati-hati dalam urusan hati''

''kekuatan bukan dinilai dari seberapa sedikit air mata yang diteteskan atau dari seberapa banyak kau pernah merasa goyah. kekuaan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup''

suka.

walau endingnya....
Profile Image for Amaya.
745 reviews57 followers
December 6, 2022
Baca ini di tengah-tengah bacaan yang nggak menggugah mood sama sekali tuh kayak oase di tengah gurun pasir. Narasinya indah, tapi nggak too much sampai bisa bikin kadar gula naik. Terus ini yang paling penting, feel dan emosinya dapat.

Cerita soal dua orang yang sama2 kehilangan memang nggak pernah mudah bagiku. Apalagi dengan tingkat kehilangan kayak Rora. Aduh, malah udah skeptis duluan lah mereka nggak bisa bakal heal, tapi ya nggak mungkin, dong. Untungnya karakter Rora berkembang (iya, aku cheating nengok ending). Terus apa ya, aku suka sama narasinya; nggak terlalu banyak porsi sampai bikin eneg. Malah bisa dibilang buku ini slow burn-nya nggak bikin garuk2 tembok.

Ada satu hal yang bikin aku sadar, trope strangers to lovers begini emang kudu banyak proses, ya. I mean, kalo kecepetan juga nggak bakal bisa nge-feel. Malah yang ada serba simsalabim dan tambah bikin ilfil. I love when Liam not try to forced his feeling ke Rora. Nggak tau ya, rasanya lihat dua orang yang sama-sama punya luka besar tuh kayak ... yah, nggak bisa berharap lebih kecuali jadi teman. Tbh, aku khawatir sama kebiasaan Rora ngomong sendiri ini (yaaah, walaupun kebanyakan di rumah, sih), apa nggak perlu periksa gitu, ya? Tapi, kayaknya fokus buku ini nggak ke situ, sih. Proses penyembuhan traumanya lebih ke person to person dan sepertinya nggak terlalu parah sampai harus ke psikiater, ya (cmiiw)

Terakhir, aku puas sama ending-nya. Alasan kenapa Rora nggak bisa langsung "cus" gitu aja karena emang masih banyak banget yang mesti dia selesaikan. Good job, girl! Plus deskripsi makanan yang dibikin Liam bikin ngiler. Pengin ke Homey jugaaa //o_o//
Profile Image for Arsiani Pramanti.
43 reviews
January 22, 2023
Seperti yang saya kira sebelum membuka buku ini kalau Liam akan menjadi tokoh favorite saya, dan ternyata benar. Buku ini sukses membuat mata saya basah dan hati saya remuk karena saya tau betul seperti apa rasanya menjadi Rory dan Liam.

Sebagai seseorang yang senang berada di dapur dan dunia kuliner, Liam berhasil mewakili perasaan saya. Betapa indah sekaligus susah berada di dalam dunia kuliner itu. Butuh beberapa macam komponen untuk menghidangkan sebuah masakan. Dan Kak Winna memaparkannya dengan begitu indah, membuat saya tak henti-hentinya untuk berkata setuju dalam hati.

Dan sebagai seseorang yang pernah merasakan kehilangan untuk selamanya seseorang yang sangat berarti bagi sebuah keluarga, Rory juga sangat berhasil mewakili perasaan saya. Saat Rory tak berani untuk memindahkan bahkan menyentuh barang-barang sepeninggalan Jay dan Ruben, saya merasakan betul bagaimana sedihnya untuk mengingat seseorang yang tak akan pernah pulang ke rumah. Walaupun hanya dengan menggambarkannya dengan sandal jepit yang tak lagi mempunyai sang pemilik. Saya ikut hancur bersama Rory.

Buku ini berhasil membuat saya seakan berada bersama Rory dan Liam. Bagaimana Kak Winna membawa saya untuk melihat pilu sekaligus bahagianya masa lalu Rory dan Liam, bagaimana Kak Winna membuat saya merasakan kehangatan sebuah persahabatan dan cinta serta rasa sayang yang tak perlu ditunjukkan oleh sebuah ucapan tapi tindakan, bagaimana Kak Winna menyadarkan saya bahwa semua penghalang dari semua mimpi adalah alasan.

Untuk saya yang mulai bosan dengan genre romance / teen fiction, buku ini sukses menarik hati saya dan membuat saya berat untuk meletakkannya walau hanya sebentar. Saya tidak ingin cerita ini cepat selesai, saya masih ingin mengabiskan waktu dengan Rory dan Liam lebih lama. Saya masih ingin tersenyum dan menangis bersama mereka berdua. Saya masih ingin lebih.

Terimakasih untuk 358 halaman yang telah membawa saya berjelajah bersama Rory dan Liam berkeliling Australia, Kak Winna. Perjalanan saya kali ini benar-benar berarti, membuat saya tidak ingin menyelesaikannya dan mencari perjalanan baru.

Dan yang terakhir, buku ini sukses mengalahkan posisi Happily Ever After sebagai buku terbaik karya Kak Winna Efendi di lemari buku saya :p
Profile Image for ami.
210 reviews26 followers
January 15, 2020
Jujur berharap banyak setelah membaca 20 halaman pertama yang langsung menarik perhatianku, dan cukup lega saat tahu buku ini tidak mengecewakanku. Some Kind of Wonderful is, ultimately, a book dealing with 'loss'. Konsep kehilangan, mencari jati diri, melepaskan, hingga berdamai dengan kepahitan hidup. Heartbreakingly well-written.

Liam dan Rory bukan orang-orang dengan kepribadian sempurna yang bisa dengan mudah melepaskan diri dari bayang-bayang kehilangan pun dibahas di sepanjang buku ini, dan menurutku mereka adalah karakter yang yah, kadang pitiful, kadang bodoh, kadang bisa melakukan hal terbaik; layaknya manusia biasa. Penuturan karakter Rory yang memang bernuansa kelam, dan Liam yang berwarna (sedikit) lebih ringan namun tetap menyesakkan. Sejatinya, novel ini mengingatkanku dengan salah satu karya favoritku dari Ika Natassa, The Architecture of Love, metropop yang gak kalah bagusnya dengan buku satu ini. Dan aku selalu suka dengan cerita cinta yang gak hanya melulu tentang bagaimana kita bertemu dengan orang yang 'tepat', tetapi lebih dari itu, bertemu dengan orang yang membagi luka dan masa lalu yang sulit dan berusaha sembuh dari itu.

Membaca pandangan Rory bagi kebanyakan orang memang lebih menarik; karena pikirannya yang sarat dengan memorinya dengan Jay dan Ruben. Anehnya aku merasa lebih terenyuh membaca bagian Liam terutama di penghujung buku ini, saat ia menjelaskan tentang definisi hidup yang a life's worth-living. Kadangkala, Liam terasa begitu tersesat, dan kehilangan yang dirasakannya tidak hanya bertumpu pada satu objek, semua tersebar dalam kehidupannya. Dari Ibu kandungnya, Bunda Ida, Wendy, hingga keinginannya yang ingin merasa lebih bahagia yang diutarakannya dengan Stan. Kompleksitas karakternya ditulis agar bernada seringan mungkin, tetapi aku tetap menyukainya. Percakapan tengah malamnya dengan Willem sebelum hari pernikahan Wendy & Willem, dialog telefonnya dengan Ayah sebelum ia memutuskan berangkat untuk menyelusuri dunia yang belum pernah ia lakukan namun utamanya adalah mimpi terbesarnya, sikap dewasanya terhadap Rory yang selalu sabar dan tanpa paksaan, obrolan dalamnya dengan Philly sebelum keberangkatannya, semuanya.

Membaca buku ini membuatku tersadar bahwa aku benar-benar menyukai tulisan Winna Efendi yang 'dewasa' dan jujur saja mengingatkanku dengan Melbourne: Rewind, salah satu novel terfavoritku hingga kini dan sampai sekarang masih memegang karya terbaik yang pernah ditulisnya (versi aku, tentu saja). Gaya penulisannya yang tidak pernah bertele-tele dan selalu melekat dalam pikiran, karakter-karakternya yang kompleks dan punya masalah dan kehidupan yang berbeda, setting cerita yang selalu memesona. Banyak banget alasan kenapa aku suka buku ini, dan jadi pengen teriak UDAH BELI TIGA TAHUN LAMANYA DAN BARU DIBUKA SEKARANG NYESEL KAN :)

Hehe.
Profile Image for Lelita P..
628 reviews60 followers
June 25, 2017
Saya terbiasa membaca novel remaja Mbak Winna Efendi. Seingat saya, saya belum pernah membaca novel dewasanya, yang kalau tidak salah ingat juga, di GagasMedia hanya Melbourne. Jika saya diminta merekomendasikan novel remaja yang bagus dan worth-to-read, saya tak akan ragu merekomendasikan novel remajanya Mbak Winna karena memang dia jago sekali meramunya. Tapi apakah novel dewasanya sebagus novel remajanya?

Saya membeli Some Kind of Wonderful salah satunya karena penasaran akan hal tersebut. Juga, karena saya penasaran bagaimana ramuan Mbak Winna di penerbit lain yang bukan zona nyamannya.

Awal-awal membaca, saya sempat menaikkan sebelah alis karena tidak biasa membaca novel Mbak Winna yang penuh selipan bahasa Inggris. C'mon, you know whose trademark is that style. Namun kemudian saya teringat bahwa ini novel Metropop Gramedia, bukan novel remaja GagasMedia. Latarnya Sydney pula. Jadi, kenapa tidak? Maka lama-kelamaan saya terbiasa, malah banyak dialog Indonesia yang otomatis saya Inggris-kan dalam hati. :)))

Ternyata, namanya penulis profesional pastilah punya ciri khas, meski genrenya berbeda. Novel ini pun tetap memiliki citarasa khas Mbak Winna--deskripsinya yang penuh detail-detail kecil, tema "kehilangan" dan "menemukan" dan "saling menyembuhkan", karakter-karakter dengan latar belakang broken, juga memasak dan musik--dua hal yang kerap ada dalam novel-novelnya.

Membuai dan menghanyutkan seperti biasa, dengan gaya, sentuhan, dan konflik yang lebih dewasa.

Saya suka perjalanan Liam dan Rory, dikisahkan pelan-pelan, sepenggal-sepenggal dalam kilas balik saat karakter-karakter itu berbicara. Cerita masa lalu mereka tidak ditampilkan secara utuh, tetapi semua hal yang perlu diketahui sudah cukup dikisahkan. Pembangunan karakternya tentu tidak perlu diragukan. Hanya saja, saya sedikit kurang merasakan awal chemistry Liam dan Rory, walaupun karakterisasi personal mereka kuat dan hidup sekali dengan segala latar dan adegannya.

Tapi yah... this is maybe just me... beberapa kali membaca novel romansa dewasa (muda) selalu saja polanya sama... dinamika naik-turunnya hubungan kedua tokoh utama pasti seperti itu alurnya, seolah tidak ada jalan lain selain menarik-ulur: sengaja mendekatkan, lalu menjauhkan, kemudian mendekatkan lagi. Novel ini pun tidak berbeda. Mungkin memang pakem untuk novel yang genre utamanya romansa seperti itu, ya... karena tujuan utamanya memang agar si kedua tokoh bersatu, di samping subplot-subplot lain seperti pencarian jati diri atau perubahan karakter tokoh dari sifat jelek menjadi sifat baik.

Overall saya menikmati membaca ini, sebagaimana saya selalu menikmati membaca novel-novel Mbak Winna. Cocok bagi yang mencari novel Metropop berlatar luar negeri dengan nuansa serius, sendu, dan kelam.

Profile Image for Ifnur Hikmah.
Author 5 books13 followers
February 15, 2017
Selalu ada rasa haru setiap kali membaca novelnya Winna Efendi. Begitu juga halnya dengan Some Kind of Wonderful. Aku suka karakter Liam dan Rory yang multidimensional. Especially Rory.

Yang enggak disangka adalah Jay dan Ruben. I know that their dead. Tapi enggak nyangka aja kalau mereka meninggalnya setragis itu. I cried for several nights everytime i think about them.

Kelebihan novel ini adalah gaya menulis Winna yang--as usual--lembut dan mengharukan. Manis tapi enggak berlebihan. Pilihan diksi yang menarik, tapi enggak maksa untuk terlihat high class. Kali ini dimaklumi bahasanya yang banyakan Bahasa Inggris, karena settingnya di Aussie.

Chemistry antara Liam dan Rory juga bagus. Aku suka cara PDKT mereka, saling menantang dalam hal makanan. Simpel tapi ngena.

Bukan cuma Rory dan Liam, tapi juga tokoh-tokoh pendamping di novel ini yang kehadirannya cukup kuat tapi tetap di porsinya alias enggak menutupi tokoh utama. Aku suka cara Winna memberikan penyelesaian untuk semua tokoh-tokohnya. Dan yang pasti, akhir bahagia dan manis untuk Liam dan Rory.
Profile Image for Tirta.
252 reviews38 followers
April 22, 2017
It's never easy reading a book in which the main characters are in love with other people (first)... but since this is a Winna Efendi's book, I knew I'd be safe. What I always love from her writings is the typical quiet, calm vibe that only arise out of Winna's books, and it's still 'there' in Some Kind of Wonderful. A nice comfort read.
Profile Image for Putri Review.
74 reviews13 followers
April 21, 2017
Actual score : 4 from 5 stars

Baca lebih lengkap review novel ini di blog Putri Review : Belajar Melepaskan Kenangan dalam novel "Some Kind of Wonderful" by Winna Efendi

Saya cukup suka dengan tulisan Winna Efendi. Novel Winna sebelumnya yang berjudul One Little Thing Called Hope cukup membuat saya terpukau, sebegitu sukanya saya pada novel tersebut sampai saya nobatkan menjadi novel terbaik versi Putri Review untuk periode 2016.

Winna selalu mampu untuk menggambarkan cerita dengan syahdu dan detail. Kisahnya selalu rapih, lengkap dengan pernak-pernik romansanya yang manis (sudah baca Melbourne? saya nonton juga dan saya masih terpukau).

Maka bayangkan betapa senangnya saya saat tahu bahwa Winna mengeluarkan novel terbarunya beberapa bulan kemudian (dan ada label Metropop-nya di ujung kiri atas!), disusul dengan Someday yang saat review ini dituliskan sudah buka P.O. di salah satu portal jual beli buku online.

Kisah Rory dan Liam dalam novel "Some Kind of Wonderful" ini tidak kalah syahdu dan rapih, meskipun kalau mau dibandingkan, saya masih lebih suka One Little Thing Called Hope dan Melbourne.

Ceritanya cukup detail. Lagi-lagi mengambil latar kota besar di Australia. Mungkin karena mengingat genrenya yang merupakan Metropop dari Gramedia, tokoh prianya dibuat 'yummy', berprofesi sebagai celebrity chef keturunan Indonesia yang menjadi bintang di stasiun televisi Australia. Sementara tokoh wanitanya memiliki bakat besar di bidang musik, namun karena satu dan lain hal memutuskan untuk mengubur dalam2 mimpinya dan menjalani hari sebagai anggota dari host acara anak2 ala2 Hi-5, itu pun kalau tidak sedang menjadi waitress di kafe milik sahabatnya.

Saya cuma merasa kisah Rory dan Liam kurang riak. Chemistry-nya kurang terasa. Bahkan meski mereka sudah mengadakan tur makanan pedas seantero australia (dan tur2 lainnya), semuanya masih kurang mengena di hati. Berbeda dari Rory yang jelas2 memiliki kesulitan besar untuk mencintai lagi, Liam terlihat sudah siap melepaskan Wendy sejak awal. Saya hanya merasa Liam kurang memiliki rasa, kurang bumbu, cukup ironis mengingat profesi karakternya yang berperan sebagai chef.

Di luar itu, Winna sama sekali tidak mengecewakan. Saya bisa melihat novel ini difilmkan lagi di masa depan. Mungkin menggaet Morgan Oey sebagai Liam dan Isyana Sebagai Rory? Atau mungkin Sheryl Sheinafia? Siapa yang tahu?

Gak sabar untuk baca novel Someday dari Winna!
Profile Image for Airin.
38 reviews23 followers
February 5, 2017
Lucu bagaimana takdir membawa Liam kepada Rory. Terkadang hidup yang sulit ditebak memang menarik. Dua insan dengan luka lama yang tak kunjung sembuh dipertemukan secara tak terduga dengan cara yang tak biasa, membawa keduanya pada hal yang tidak mereka nanti-nantikan sama sekali.

Kisah Liam dan Rory menarik sejak dari awal mereka dipertemukan. Bagaimana dua pribadi yang sama-sama menyimpan luka yang dalam di hati dan memiliki benteng perlindungan yang kokoh dapat saling membuka diri dan berbagi cerita, saling mengenal dan pada akhirnya menyembuhkan.
Sebab sering kali, hanya mereka yang pernah merasakan yang dapat mengerti.



Novel karya Winna Efendi yang ini pasti akan kalian sukai, wahai pecinta kota Sydney--baik yang pernah berkunjung ke sana ataupun belum. Saya pribadi bukan penggemar Australia, tetapi membaca "Some Kind of Wonderful" makes me want to be there. To be blunt, penggambaran Sydney dalam novel ini dapat saya bayangkan dengan lebih jelas di dalam imajinasi apabila dibandingkan dengan kota Melbourne dalam Melbourne: Rewind. So yes, I like it much better.

Besides, "Some Kind of Wonderful" menyajikan sebuah kisah yang sangat dewasa--bagaimana manusia yang sesungguhnya rapuh mengalami kehilangan, luka, amarah, ketakutan, rasa bersalah, dan pada akhirnya menemukan cara untuk kembali pulih. It's also about finding your forgotten dreams. Above all, it's about love, and the courage it takes to keep it or let it go.



So pals, since it has taken me too long already to write a review for this book, let me just make it simple and tell you these things.
If you are feeling hurt from loss, read this book.
If you believe some persons are destined to meet, read this book.
If you want to know more about love, read this book.
If you want to understand how the heart heals, read this book.
And if you want to get yourself some kind of wonderful gift, read this book.

Just like the title, this is some kind of wonderful book. I felt the emotions while I was reading, which is why I enjoyed reading every single page of it.
I enjoyed being tempted by the foods.
I enjoyed "my walks" around Sydney, whether it's by the seaside or the suburbans.
I enjoyed "being" at Liam's penthouse or Rory's flat.
I enjoyed "sitting" inside a cafe* or restaurant*, watching the view by the window side.

And so will you, pals.


*not gonna mention the names
Profile Image for Nike Andaru.
1,637 reviews112 followers
July 11, 2020
96 - 2020

Akhirnya baca karya Winna Efendi lagi setelah lama gak baca, kali ini dengan label Metropop.

Soal luka dan kehilangan ini memang sebenarnya tema yang menurut saya gampang susah. Gampang menarik hati banyak pembaca sehingga bisa larut ke dalamnya lebih mudah, tapi sekaligus susah karena bisa jadi malah terlalu larut ceritanya dalam kesedihan sehingga bagi sebagian pembaca akan merasa terlalu bertele-tele. Namun, saya masuk di kategori pembaca pertama yang gampang merasakan kesedihan cerita ini.

Eh, kok sedih?
Kesedihan Rory itu sungguh nyata. Jika saja ada yang pernah (mungkin semua orang akan pernah merasakannya) ditinggalkan oleh orang terkasih, tidka mudah untuk kembali menata hidup, butuh waktu dan perjuangan besar. Sosok Rory memperlihatkan itu dengan pas.

Liam sebenarnya punya masalah yang terlihat sepele, gak bisa ngomong ke sahabatnya akan perasaannya, tapi itu juga dibalut dengan masalah lainnya, keluarga yang tak mendukung keinginannya dan luka ditinggalkan oleh orangtua.

Kisah Rory dan Liam sungguh menghanyutkan. Saya terbawa oleh alurnya yang lambat tapi penuh dengan langkah keduanya menjadi dekat dan punya arti satu sama lain.

Oh ya, beberapa kalimat quote-able banget dalam buku ini.
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
September 20, 2020
Baguuus... karakter-karakternya hidup dan setiap aspeknya dapat banget, baik itu latar tempat, kehidupan televisi dan koki selebritas, dan terutama kesedihan Rory (😭). Akhir ceritanya bikin pengin buru-buru membalik halaman, dan rasanya puasss banget dengan ending realistis yang terjadi. Alurnya juga mengalir.

Sepertinya saya memang lebih cocok dengan novel dewasanya Mbak (Kak? Ci?) Winna ketimbang novel remajanya, tapi buat saya SKOW ini masih bertempat setelah Unforgettable. Jadi, tiga bintang yang berarti 'saya suka' dan memang, saya suka ceritanya. Mungkin setelah ini saya akan coba baca Melbourne yang juga novel dewasa. Mbak Winna ini tampaknya fasih banget soal Australia ya, hehe.

Ini bukan kisah HEA, bukan juga kisah terlampau sedih, tapi yang terjadi di antaranya. Ini jenis kisah yang membuat pembacanya merasa beruntung dipertemukan dengan buku seperti ini, karena mengenalkan arti 'bahagia selamanya' dengan makna baru. Kisah yang merangkum hidup. Kisah yang membuat pembacanya bergumam, bahwa hal menakjubkan selalu terjadi di sekeliling kita. Buat yang suka Metropop manis tapi nggak giung, ini salah satu yang terbaik.
Profile Image for Yoyovochka.
309 reviews7 followers
March 15, 2022
Ini adalah buku kesekian Mbak Winna Efendi yang saya baca. Saya selalu suka gaya penulisan Mbak Winna yang mengalir, puitis, dan mengandung makna. Ada banyak percakapan dalam bahasa Inggris seperti biasanya, tetapi masih oke untuk dibaca dan terkesan alami alias nggak dipaksakan. Sayangnya, saya rasa tema kematian masih melekat di sini. Dari mulai Ai, Girl Meet Boy, kisahnya hampir mirip-mirip, berbau mengobati rasa kehilangan akibat kematian orang terdekat.

Tetapi, jujur saya suka ceritanya yang manis, ringan, dan super enak buat dibaca.
Profile Image for andini FIJRI.
64 reviews
February 7, 2017
"Kekuatan bukan dinilai dari seberapa sedikit air mata yang diteteskan, atau dari seberapa banyak kau pernah merasa goyah. Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyuman mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan." - Enrico | Some Kind of Wonderful, Winna Efendi
Profile Image for Nureesh Vhalega.
Author 20 books151 followers
July 22, 2021
Akhirnya menyelesaikan novel ini setelah beberapa waktu berselang. Aku memutuskan untuk skimming di 30% akhir karena nggak mau lebih lama terjebak di buku ini dan berakhir dengan DNF. Apakah seburuk itu? Tidak. Aku suka premisnya. Aku juga suka penggambaran dukanya. Hanya typo dan teknis tabrak lari yang bikin tekanan darahku naik. Sisanya oke. Memang ada alasan kenapa Winna Efendi jadi favorit orang-orang. Sayang, buku ini bukan salah satu yang bikin aku jatuh cinta.
Profile Image for Nathania Heniwijaya.
8 reviews26 followers
February 5, 2017
Available at: The Geeky Booknook

Tujuh tahun silam, Liam Kendrick pergi ke Sydney meninggalkan rumah dan keluarganya di Jakarta. Kini ia adalah seorang koki muda yang terkenal karena acara memasaknya. Meskipun terbilang sukses dan digandrungi oleh perempuan karena ketampanannya, Liam tetap tidak bisa memiliki Wendy, gadis yang dicintainya. Liam harus merelakan Wendy, teman masa kecil dan perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istri dari adiknya.

Rory adalah perempuan beraut sendu yang tanpa sengaja menarik perhatian Liam. Perempuan itu berbeda, tidak seperti perempuan yang selama ini menjadi pengganti Wendy dalam hidup Liam. Seperti Liam, Rory pernah merasakan kehilangan orang yang dicintainya. Rory masih tidak bisa merelakan Jay dan Ruben, dua sosok yang dengan setia menunggunya di rumah yang sebenarnya kosong. Selama ini Rory membangun tembok dalam hatinya dan menutupnya rapat-rapat, seakan jika ia membiarkan hatinya terbuka Jay dan Ruben akan lenyap begitu saja. Selain itu, kepergian Jay dan Ruben dan rasa bersalah yang menghantuinya membuat Rory memutuskan untuk mengubur cita-citanya.

Kedatangan Liam dalam hidup Rory membawa angin baru yang berusaha meruntuhkan tembok yang selama ini dibangun oleh perempuan itu. Rory mulai kembali tertawa, kembali merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakannya lagi setelah kepergian Jay dan Ruben. Namun, rasa bersalah membuat Rory ragu untuk menyambut rasa itu.

Saya menyukai sosok Liam yang bersemangat dan begitu passionate mengenai dunia memasak. Dalam novel ini kita diajak untuk mendalami sosok Liam, yang mungkin di dalam kehidupan sehari-hari adalah laki-laki yang brengsek. Namun, laki-laki seperti Liam tentu punya kisah tersendiri yang membuat ia menjadi seperti itu. Dalam buku ini ada momen di mana Liam pun membenci dirinya sendiri dan ia tersesat. Semuanya itu disampaikan dengan sangat baik dan tidak lupa dengan beragam kata mutiara yang siap untuk menjadi bahan kutipan.

Rory, di sisi lain, adalah sosok yang gelap dan suram bagi saya. Rory begitu terpaku pada masa lalunya yang pahit dan tidak bisa melihat ke depan. Meski begitu banyak tangan-tangan yang siap untuk menopangnya, Rory tidak mau meraih tangan-tangan itu dan memilih untuk tetap bergeming. Meskipun saya tidak setuju dengan pemikiran seperti ini, tetapi setiap momen menyedihkan yang dialami oleh Rory tersampaikan dengan baik sehingga karakter Rory menjadi bisa dipahami.

It's the lonely nights that follow. Ruangan yang kosong, sikat gigi bekas di atas wastafel, sandal yang tak lagi memiliki pemilik. Those things punch you right in the gut, poking a hole in the center of your heart.
- Rory


Saya rasa itulah yang menjadi kekuatan dari novel ini. ditulis dari sudut pandang orang pertama, setiap katanya menghanyutkan saya ke dalam perasaan dan pengalaman masing-masing karakter sehingga saya bisa dengan mudah berempati dan memahami karakter-karakter tesebut. Meskipun jalan ceritanya sederhana dan dengan tema yang sudah berulang kali diangkat oleh penulis-penulis lain, novel ini tetap berkesan.

Bagi saya latar Sydney dan tema kuliner yang diusung dalam novel ini juga sangat cocok. Mungkin karena beberapa tahun terakhir acara Master Chef Australia sudah menjadi acara favorit saya. Jadi, setiap kali mendengar Australia, saya jadi teringat akan makanan-makanannya.

Kelemahan yang saya rasakan dalam novel ini adalah ketidakjelasan saat momen flashback. Satu-satunya yang menjadi pembeda adalah penggunaan italic pada kalimat langsung yang diucapkan oleh karakter-karakternya. Terkadang ini bisa jadi membingungkan. Kelemahan lain ialah kalimat-kalimat dalam Bahasa Inggris yang kerap kali tersisip dalam paragraf. Memang karakter Liam dan Rory tinggal di Sydney yang bahasa utamanya ialah Bahasa Inggris, tetapi untuk pembaca yang kurang fasih dalam berbahasa Inggris mungkin akan sedikit bingung karena tidak ada catatan kaki yang menerjemahkan.

Secara keseluruhan, saya menikmati ceritanya. Sebenarnya alurnya terbilang cukup lambat dan endingnya kurang lebih bisa ditebak. Namun, narasi Liam dan Rory ditulis dengan mendetil sehingga pembaca dapat dengan mudah hanyut ke dalam emosi karakter-karakternya.

Melalui Rory dan Liam, pembaca diajak untuk mengerti apa artinya kehilangan, bagaimana rasanya kehilangan. Kemudian, bagaimana caranya untuk merelakan dan melanjutkan hidup tanpa harus melupakan. Dan, karena buku ini sudah sarat akan makna yang cukup gamblang, I will let this quote speaks to you:

I used to think that leaving might feel lonely, but not anymore. Because sometimes goodbye means a promise to return to the people you love.
- Liam
Displaying 1 - 30 of 145 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.