Jump to ratings and reviews
Rate this book

Rule of Thirds

Rate this book
Apalagi yang paling menyakitkan dalam pengkhianatan selain menjadi yang tidak terpilih?


Demi mengejar cinta Esa, Ladys meninggalkan karier sebagai fotografer fashion di Seoul dan pulang ke Bali. Pulau yang menyimpan kenangan buruk akan harum melati di masa lalu dan pada akhirnya menjadi tempat ia menangis.

Dias memendam banyak hal di balik sifat pendiamnya. Bakat terkekang dalam pekerjaannya sebagai asisten fotografer, luka dan kerinduan dari kebiasaannya memakan apel Fuji setiap hari, juga kemarahan atas cerita kelam tentang orang-orang yang meninggalkannya di masa lalu. Hingga dia bertemu Ladys dan berusaha percaya bahwa cinta akan selalu memaafkan.

Ini kisah tentang para juru foto yang mengejar mimpi dan cinta. Tentang pertemuan tak terduga yang bisa mengubah cara mereka memandang dunia. Tentang pengkhianatan yang akhirnya memaksa mereka percaya bahwa hidup kadang tidak seindah foto yang terekam setelah mereka menekan tombol shutter .

288 pages, Paperback

First published December 27, 2016

5 people are currently reading
97 people want to read

About the author

Suarcani

9 books35 followers
Dulu suka peri. Sekarang pun masih.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
18 (12%)
4 stars
73 (49%)
3 stars
51 (34%)
2 stars
5 (3%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 65 reviews
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews298 followers
January 23, 2017
Review dan Giveaway bisa kalian lihat di http://www.kubikelromance.com/2017/01...


Seperti yang Suarcani tuliskan di bukunya, 'Semuanya memang tidak semudah kamu menekan tombol shutter, tapi dengan bereksperimen, kita akan tahu setelan yang pas.' Tiga kali mengikuti karyanya sejak buku pertama di mana bisa dibilang dia penulis multi-genre; YA-fantasi, self dicovery dan sekarang contemporary romance, saya benar-benar merasa klik setelah mencicipi yang ketiga. Bukan berarti karya sebelumnya tidak bagus, bukan. Sejak karya pertama ciri khasnya sudah terbentuk dan saya cukup menyukainya, hanya saja ada beberapa poin yang membuat saya sangat menikmati buku ketiganya ini daripada karya sebelumnya. Saya Jatuh cinta akan detailnya, pemilihan kata, karakter cowok yang mudah sekali disukai, konflik keluarga yang menyayat hati, profesi tokoh utamanya, serta ending ceritanya.

Suarcani masih membawa formula khas ke bukunya; tokoh utama yang memiliki masa lalu suram di mana karakter cowok biasanya lebih pendiam daripada karakter cewek yang lantang menyuarakan akan apa yang dirasakan, membawa pesan untuk belajar memaafkan, menyisipkan humor di tengah apesnya hidup, menyisipkan perjalanan ke suatu tempat dan Bali. Bedanya, kali ini penulis yang berasal dari Bali ini memberi sentuhan dunia fotografi. Suarcani sangat baik menggambarkan dunia fotografi di sini, begitu melekat, melebur dengan cerita sehingga selain mendapatkan ilmu tambahan kita akan juga ikut merasakan kecintaan sang tokoh utama akan profesinya. Dunia fotografi di sini tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap cerita, tapi menjadi nafasnya cerita.

"Kata orang, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Mungkin saja kamu dan saya ketemu agar bisa sama-sama membantu, sama-sama bisa memaafkan masa lalu."

Ladys. Kurasa aku tahu untuk apa aku dan dia dipertemukan seperti ini. Seperti kamera ponsel, ada shutter lag yang membuatku sedikit terlambat menyadarinya.

"Harusnya kamu tahu, Yas. Kalaupun dulu memorimu belum cukup, foto saya itu fleksibel kok. Bisa di-resize hingga muat di ruang sekecil apa pun, satu kilobyte ruang kosong saja cukup."

Berselingkuh? Ada yang lebih indah daripada itu. Menikahinya adalah salah satunya. Lainnya, mempertahankannya sampai mati.

Ladys kembali ke kampung halamannya dengan alasan sama ketika dia pergi bersama ayahnya belasan tahun yang lalu sampai akhirnya menetap di Seoul, karena cinta. Bali adalah kenangan yang buruk bagi keduanya, tapi Ladys percaya cintanya akan sanggup mematahkan mantra sakit hati dan membuktikan pada ayahnya kalau dia bisa bahagia di sana, lebih dekat dan mengenal keluarga Esa, bahkan berharap untuk bisa segera menikah. Di Bali Ladys menempati rumah lamanya dan bekerja di studio foto milik Om-nya, banting setir dari juru foto fashion ke wedding.

Kemampuan Ladys menjadi fotografer profesional tentu tidak diragukan lagi, tapi ada satu orang yang meremehkan, selalu mendikte teknik yang Ladys gunakan tidak tepat sasaran. Dia adalah asisten fotografer di studio milik Om-nya, orang yang selalu antar jemput Ladys karena belum bisa menyetir mobil setir kanan, orang yang menganggap dirinya sendiri tidak berbeda dengan kacung, lelaki pendiam yang sebenarnya memiliki talenta besar di bidang fotografi, Dias. Keduanya tidak pernah bisa dekat, Ladys sangat sebal dengan Dias yang selalu tak acuh, dingin, dan terlebih apa yang dikatakan Dias tentang foto benar adanya.

Walau terlihat tidak pernah akur, Ladys dan Dias memiliki banyak kesamaan, mereka menyukai foto, sama-sama pernah dikhianati, sama-sama merindukan sosok di balik apel Fuji dan jasmine tea. Tanpa mereka berdua sadari, kehadiran masing-masing membuat mereka belajar memaafkan, apa yang diinginkan, memandang dunia dari sisi lain.

"Bagi saya, foto adalah keajaiban," kata saya sambil mendongak, menerawang ke arah langit-langit rumah. Sambil tersenyum, saya kemudian melanjutkan. " Saya selalu bawa Jasmine kalau ke mana-mana, selalu ngambil foto. Pas lihat-lihat hasilnya, kadang saya menemukan detail yang awalnya terlewatkan saat melihat objek aslinya. Yang paling sering adalah kesan saya terhadap suatu tempat kadang berubah setelah melihat hasil fotonya. Tempat yang awalnya biasa, tidak begitu menarik, tiba-tiba saja, setelah difoto seperti punya dimensi lain yang menyedot saya ke sebuah dunia yang bisa mengaduk-aduk imajinasi. Dunia yang membuat saya terpukau dan tidak pernah bosan melihatnya. Jadi, lama-lama saya merasa foto itu sebagai mata kedua, yang memberi saya pemahaman lain ketika mata sendiri tidak cukup mampu mengenali keindahan dunia secara langsung."

Saya sangat menyukai sentuhan fotografi dalam Rule of Thirds ini, tidak langsung membuat saya ahli dalam hal mengambil gambar, setidaknya saya tahu apa saja yang ada dalam dunia visual storyteller secara sederhana. Tidak perlu takut dengan berbagai istilah yang ada seperti POI (point of interest), overexposure, shutter speed, shutter lag, aperture priority atau teknik yang menjadi judul buku ini, karena ada catatan kaki yang memudahkan kita memahami artinya. Semua penjelasan tentang foto dirangkai secara alami, lewat dialog atau narasi, cukup detail dan begitu menyatu dengan cerita, tidak terasa sebagai tempelan, tetapi menjadi fokus utama selain apa yang dialami oleh kedua tokoh utamanya, menjadi satu kesatuan yang utuh. Bahkan saya sampai ingin melihat langsung foto-foto karya Dias, saking 'hidupnya' deskripsi yang Suarcani berikan ke pembaca.

Saya menyukai karakter Dias, dia tipe pendiam yang tidak suka basa basi, tidak pernah pamer akan kelebihan yang dimiliki. Saya juga menyukai karakter Ladys, dia cewek yang kuat, dia tidak berlarut-larut dalam kesedihan, dia juga tidak malu mengakui kesalahan atau kelemahannya. Karakter pendukungnya juga menempati porsi yang pas, ada yang menyebalkan, ada yang lucu, ada yang tidak kalah menarik, misalkan saja Tyas, adik Dias yang masih SMA, pemikirannya begitu dewasa, dia sangat memahami kakaknya, keadaan keluarganya.

Saya juga menyukai konflik keluarga yang disodorkan penulis, yang mudah diterima pembaca karena dekat dengan realitas. Apa yang dialami Ladys dan Dias tentu bukan hal baru lagi, semua orang pasti pernah merasakan sakit hati, dikhianati, entah itu dalam hubungan atau impian, misalkan saja dalam hal pekerjaan. Ladys mungkin lebih beruntung, dia memiliki ayah yang sangat menyayangi dan tanpa kesusahan kalau ingin membeli kamera. Berbeda dengan Dias, dia menjadi tulang punggung keluarga, terlebih harus membiayai pendidikan adiknya, untuk membeli kamera saja dia harus menabung cukup lama. Relasi antara orangtua-anak cukup baik dibangun penulis, bahkan ada bagian yang akan membuat kalian sesak.

Bagian yang saya suka di buku ini adalah ketika Ladys dan Dias membicarakan fotografi, benar-benar menjadi informasi yang sangat segar bagi saya. Dua orang yang memiliki passion sangat besar dan ketika membahasnya, rasanya ikut tertular dan ingin ikut mempelajarinya juga. Misalkan saja waktu adegan di Pasar Badung, ketika Ladys meminta Dias untuk mengajarinya teknik mengambil gambar seperti hasil jepretannya yang memenangkan lomba.

Rule of Thirds adalah tentang dua orang yang sama-sama terluka dan menemukan cinta, tentang duka di balik apel Fuji dan jasmine tea. Buku ini sangat saya rekomendasikan bagi kalian yang menyukai dunia fotografi, ingin mempelajarinya, bagi kalian yang ingin belajar memaafkan.

Pada akhirnya, aku percaya bahwa hidup bukan hanya mengenai memiliki sesuatu, tetapi lebih pada menghargai sesuatu.

4.5 sayap bagi kalian yang mencari novel metropop yang nggak feminim.
Profile Image for Hana Bilqisthi.
Author 4 books279 followers
March 10, 2017
Hana Book Review

Review ini juga bisa dibaca di blog Hana Book Review

how do you know when a guy love you? Does his silence mean he is busy or he rejects you?
Ladys, the main character from Rule of Thirds, brave enough to move to Bali from Seoul so she gets closer to her lover, Esa and to prove her dad that true love is exist since her father no longer believes in love after he divorced from Lady's mother. Walapun ternyata berujung tidak mengenakan.

"Seharusnya aku mengatakannya sejak awal, tapi aku nggak tega. Aku cuma bisa kasih sinyal ke kamu. Tapi kamunya juga gak ngerti, malah memutuskan pindah ke sini. Maaf, Dys"


Agar tidak membuat ayahnya khawatir, Ladys pun memutuskan tetap berada di Bali, membantu usaha Om-nya. Disana dia berkenalan dengan Dias, asisten fotografi.

Sayangnya, karakter lelakinya Dias, bukan tipe cowok favoritku. Dias ini pendiam dan dingin. Ladys ajak ngobrol tapi tidak juga ditanggapi. Sekalinya ngomong malah ceramah kalau teknik fotografi Ladys salah :O kalau aku jadi Ladys bakal kesel dan bingung ngadepinnya gimana. Atau mungkin aku akan menyodorkan buku/artikel cara menasehati orang dengan baik. Hehe
Untungnya Dias punya hobi dan mimpi di bidang fotograpi. I love people who have passion and dream.

Selebihnya, aku menyukai interaksi Ladys and Dias. Their enthusiasm about photography made me enjoy their conversation.
"Bagi saya, foto adalah keajaiban"

....

"Yang paling sering adalah kesan saya terhadap suatu tempat kadang berubah setelah melihat hasil fotonya. Tempat yang awalnya biasa, tidak begitu menarik, tiba-tiba saja, setelah difoto seperti punya dimensi lain yang menyedot saya ke sebuah dunia yang bisa mengaduk-aduk imajinasi. ...."


"Saya merasa foto itu sebagai mata kedua, yang memberi saya pemahaman lain ketika mata sendiri tidak cukup mampu mengenali keindahan dunia secara langsung."



Aku merasa novel ini cocok dengan seleraku: page turner, fast paced, tema realistis dan relatable, karakter yang kuat dan terasa real, kombinasi humor dan romance yang pas.

Aku salut bagaimana Suarcani mampu membuatku berempati dengan tindakan Ladys dan Dyas meski aku tidak setuju dengan tindakan mereka, salah satunya: bersedia memaafkan kekasih yang berselingkuh. "Mereka orang dewasa yang terjebak dalam pilihan ... Mereka harus memutuskan dan ke mana pun mereka melangkah, akan selalu ada orang yang menganggap pilihan mereka salah."


I had fun reading this :D Suka banget :D

Jadi penasaran sama karya Suarcani yang lain. :D
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
January 8, 2017
Pada akhirnya, aku percaya bahwa hidup bukan hanya mengenai memiliki sesuatu, tetapi lebih pada menghargai sesuatu


Agar tinggal lebih dekat dengan sang pacar, Ladys rela pindah dari rumahnya yang nyaman di Korea Selatan ke pulau Bali yang asing baginya. Dulu ia dan Papanya pernah tinggal di Bali, namun setelah Mama pergi, Papa memutuskan untuk memboyong Ladys dan membangun hidup baru di Seoul. Kepindahan Ladys ke Bali disambut baik oleh Esa, kekasihnya. Meski jadwal pekerjaan Esa padat, Ladys tetap bahagia bisa dekat dengan kekasihnya lagi.

Ladys sendiri merupakan seorang juru foto. Di Seoul, namanya sudah terkenal di dunia mode. Ia sering menjadi juru foto perhiasan, gaun-gaun baru rancangan desainer tenar, serta segala hal yang berkutat dengan fashion. Sementara di Bali, ia memulai pekerjaannya menjadi juru foto di studio milik Pamannya. Ladys dibantu oleh seorang asisten, Dias namanya.

Dias bukan seorang asisten yang ramah. Terlebih lagi saat sesi pemotretan mereka yang pertama, Ladys sering dikritik oleh Dias. Merasa muak dan marah, Ladys mulai sebal dengan lelaki ini. Bagaimana mungkin seorang asisten malah memberi kritik tentang fotografi kepada juru fotonya?

Tak hanya membahas kisah cinta Ladys, serta hubungannya dengan Dias, buku ini juga menceritakan kisah pribadi Dias dan adiknya yang menjadi korban broken home.


Pertama kali membaca judul buku ini, saya sudah tertarik banget untuk segera membacanya. Saya yang punya hobi mengabadikan sesuatu lewat kamera, langsung penasaran apa hubungan Rule of Thirds dengan cerita di buku ini.

Rule of Third sendiri didefinisikan sebagai cara pengambilan foto dengan Point of Interestnya yaitu menempatkan obyek di sepertiga wilayah keseluruhan foto. Cara gampangnya sih bayangkan ada dua grid horizontal dan vertikal saat mengambil foto, nah obyek ini ditempatkan di titik pertemuan garis horizontal dan vertikal tadi.

Ini kenapa jadi malah bahas RoT xD
Oke, lanjut.

Di buku ini, saya suka dengan karakter karakter utama yang berkembang sepanjang cerita berlangsung. Terutama Ladys, betapa tindak tanduknya memengaruhi tokoh tokoh lain dalam cerita yang bersinggungan dengannya. Meski disebutkan bahwa ia tidak sensitif dengan perasaan orang lain yang berinteraksi dengannya, tetapi sifatnya yang selalu ceria dan pemaaf menjadi kunci dalam berbagai masalah yang datang dalam hidupnya.

Hal lain yang membuat saya suka dengan buku ini adalah karena tema yang diusung bukan sekadar jatuh bangunnya cinta sepasang kekasih. Meski cinta tetap menjadi tema utama, tetapi ceritanya juga melebar karena turut membahas cinta dalam keluarga, antara suami dan isteri, orang tua dan anak, kakak dan adik. Bahwasanya cinta itu universal.

Diceritakan dari dua sudut pandang, alur yang cepat serta bahasa yang luwes mengalir, saya cukup yakin novel dengan latar tanah Bali ini akan mendapat tempat di hati pembacanya.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book267 followers
February 6, 2017
Temukan 5 persamaan antara Ladys dan Dias!
1. Sama-sama suka fotografi, dan tentunya menjadi fotografer
2. Sama-sama dari keluarga broken home, korban perselingkuhan.
3. Sama-sama mencari mama/ibu yang menghilang.
4. Memandang kalimat "cinta bisa memaafkan" dengan cara yang sama.
5. Karena poin 4, mau aja balik sama mantan yang tukang selingkuh.

Jujur saja, saya tidak begitu suka dengan Ladys. Kesan pertama yang ditampilkan adalah gayanya yang meremehkan orang lain, dalam hal ini Dias. Mungkin karena dia berasal dari Seoul, keponakan bos, dan menganggap diri sudah lama terjun di dunia fotografi, seenaknya saja menghina Dias yang cuma "asisten" fotografi. Lalu, tiba-tiba saja Ladys berubah jadi baik ke Dias.

Yang cukup konsisten karakternya adalah Dias dengan segala gaya acuh tak acuhnya. Kadang saya malah seperti susah menebak jalan pikiran Dias ini.

Ohya, novel ini menggunakan dua POV yaitu POV-nya Ladys dan Dias. Saya nyaris kesulitan membedakan antara keduanya. Maksud saya selain penggunaan kata ganti "saya" untuk Ladys dan kata "aku" untuk Dias, saya tidak menemukan perbedaan lainnya baik itu gaya bercerita apalagi model hurufnya. Tidak ada batas yang jelas antara POV Ladys dan Dias. Jadi setiap masuk paragraf/sub bab yang baru saya harus membaca beberapa kalimat dulu baru bisa menebak "oh sekarang bagiannya Ladys/Dias". Dan ini ngeselin buat saya.

Positifnya, ada beberapa istilah fotografi yang bisa dijadikan bahan pembelajaran bagi pembaca. Ini menjadi poin plus yang membuat orang akan tertarik membacanya.

Dua setengah bintang untuk Rule of Thirds
Profile Image for Wardah.
952 reviews172 followers
December 14, 2017
UPDATE: Bulantkan jadi 5 bintang karena novel Kak Ari yang paling memuaskan sampai detik ini.

Kebenaran itu kadang adalah proses. Banyak orang yang menemukannya setelah seratus kali kesalahan sebelum akhirnya bisa memutuskan hal yang terbaik. (h. 124)


Ladys meninggalkan karir fotografer dan ayahnya di Seoul untuk mengejar cinta dan komitmen pacarnya, Esa. Sayang, kenyataan di Bali tidak seindah itu.

Dias gagal berhenti jadi asisten fotografer karena keponakan bosnya bergabung di studio. Pemuda itu terpaksa menjadi kacung lagi, kali ini untuk seorang gadis. Ditambah ayahnya semakin tidak peduli, adiknya butuh dilindungi, dan seorang dari masa lalu terus hadir.

Novel ini bercerita pertemuan mereka. kedua orang yang memiliki latar keluarga mirip, sama-sama ditinggalkan sosok ibu. keduanya juga mencintai fotografer, meski awalnya bersiteru. Keduanya pun mengenal namanya dikhianati.

Rule of Thirds punya perkembangan karakter yang bagus. Pembaca akan menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi pada karakter setelah peristiwa demi peristiwa terjadi. Karakter dalam novel ini berhasil mendewasa seiring halaman. Mereka membuat keputusan, berubah, dan menjadi hidup. Ini alasan utama kenapa Rule of Thirds susah lepas ketika mulai dibaca.

Cerita cintanya pun tidak sederhana. Penulis berhasil memasukkan unsur perselingkuhan, komitmen, hingga masalah keluarga dalam kisah romance ini. Saya sendiri merasa puas ketika menamatkannya. Akhirnya benar-benar membuat saya khawatir, cemas, sekaligus lega.

Yang paling saya suka adalah fakta bahwa Dias selalu melindungi Tyas, begitu juga sebaliknya. Saya selalu suka cerita keluarga, dan Rule of Thirds memberikan paket lengkap. Kakak dengan adik, anak dengan ibu, anak dengan bapak. Semua ada dalam di sini.

Momen favorit Dias-Tyas favorit saya itu di halaman 43.

Tyas tergelak, menggodaku. Aku membiarkannya merancang angan untuk diriku, hanya agar dia tetap bercahaya seperti sekarang. Agar dia tetap bisa tertawa dan bahagia, karena dengan begitu, aku juga masih bisa tersenyum. (h. 43)


Bacanya tuh meleleh.

Saya rekomendasikan novel ini bagi mereka yang menikmati kisah keluarga. Juga bagi mereka yang suka kisah romance berbalut profesi dan latar tempat yang indah. Profesi fotografer di novel ini tidak terasa tempelan, begitu juga latar Bali-nya. Ulasan lengkap bisa dibaca di sini.
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
February 1, 2017
12 - 2017

Suka dengan unsur fotografi yang dibahas dalam novel ini :)
Profile Image for Mery.
Author 40 books218 followers
April 3, 2017
yaaay sudah terbit....

metropop pertama yang aku pruf. ^^
Sukaaaaa.

Kisah cintanya ga bertele-tele, lebih banyak menggambarkan kasih sayang keluarga.
"Cinta itu akan selalu memaafkan." bener banget, Ladys...
Profile Image for Ardina Rahma.
134 reviews14 followers
March 18, 2017
Kadang saya suka kepikiran sama hal yang spele, misalnya pas baca bagian awal agak risih sama kata ganti "Saya" sebagai kepemilikan si cantik Ladys dan kata ganti "Aku" sebagai kepemilikan si tampan Dias.
Semakin saya terbuai dengan kisah Ladys dan Dias saya udah ngga peduli sama kata ganti yang buat saya risih di awal. Hehehehe...

Rule of Thirds merupakan buku yang page turner menurut saya. Aku suka pokoknya!
Saya terbawa perasaan ketika menyadari bahwa Ladys dan Dias adalah dua orang yang asing namun ternyata memiliki banyak kemiripan dalam kisah hidup yang mereka jalankan. Sama-sama hidup di dunia fotografi, sama-sama ditinggalkan oleh Ibu, dan memiliki prinsip yang sama dalam cinta : Cinta itu memaafkan.
Ladys memaafkan Esa, Dias memaafkan Prajna. Iya kisah Ladys - Dias tidak semudah itu, mereka sama-sama memiliki kekasih yang amat mereka cintai. Apakah mereka bersatu ?
Baca bukunya dan temukan jawabannya! #saik

And yassss.. saya suka endingnya, smooth! :))
Profile Image for Mia Prasetya.
403 reviews267 followers
December 27, 2016
Cinta selalu memaafkan. Begitulah setidaknya yang dipercaya Ladys, sehingga selalu ada kesempatan kedua. Ladys meninggalkan ayah dan pekerjaannya sebagai fotografer fashion di Seoul untuk mengejar cintanya kepada Esa di pulau Bali. Pulau yang menyimpan berbagai kenangan baik manis maupun buruk, atas nama cinta Ladys berusaha membuktikan kepada dirinya dan ayahnya bahwa dengan menyimpan amarah berkepanjangan sama saja dengan menunda bahagia.

Dias, seorang fotografer pendiam yang menyimpan banyak misteri dan luka masa lalu. Perceraian orang tua, kesulitan ekonomi sampai kebiasaanya mengunyah apel Fuji membuat Ladys terbengong-bengong. Sering kali akibat karakter mereka yang bertolak belakang, pertengkaran pun muncul. Dimulai dengan kejadian rules of third, saat Dias mengoreksi keahlian foto Ladys saat mereka bekerja bersama dalam sesi foto prewedding. Ladys kesal dengan gaya blak-blakan Dias, namun seiring waktu Ladys malah terbiasa dengan Dias yang dingin dan tanpa mereka sadari, kehangatan mulai timbul di antara mereka.

Saya sebagai seorang warga Bali sangat senang dengan nuansa Bali yang mengiringi Rules of Third, tidak sebagai tempelan dan thank-god-bukan-hanya-kuta-seminyak-ubud, Suarcani menambahkan lokasi-lokasi tempat saya main saat kecil bersama oma saya, Pasar Kumbasari! Ah senangnya! Saya yang rumahnya juga di sekitar lokasi kantor Ladys dan Dias malah jadi menebak-nebak jangan-jangan saya pernah berpapasan dengan Mbak Suarcani nih saat menulis :p

Setelah lumayan lama tidak membaca Metropop dan dengan alur awal Rule of Third sejujurnya saya sempat menebak ke mana arah novel ini. Ternyata tebakan saya salah, penulis menyisipkan tentang hangatnya berkumpul bersama keluarga, tentang kerasnya hidup yang tidak harus dibalas dengan keras dan ketus dan memaafkan bukan hal yang mudah. Memaafkan butuh suatu proses namun semuanya dibayar dengan indah, bisa jadi seindah foto prewedding di Pantai Suluban :)

Selamat membaca novel Rule of Third, selain berkenalan dengan Ladys dan Dias yang bawaanya pengen saya peluk #eh, banyak informasi tentang ilmu fotografi yang bisa didapat! Salah satunya adalah saya jadi tahu kegunaan garis-garis saat hendak posting di Instagram!
Profile Image for Risyca Pujiastuti.
45 reviews
January 30, 2017
Review dapat juga dilihat di sini http://antararisycadantweety.blogspot...

“… saya merasa foto itu sebagai mata kedua, yang memberi saya pemahaman lain ketika mata sendiri tidak cukup mampu mengenali keindahan dunia secara langsung. Mungkin berlebihan, tapi dengan foto saya bisa lebih menghargai alam, waktu, dan keadaan.” (Ladys - Hal. 129)

Ladys Cantika adalah seorang fotografer fashion di Seoul – Korea Selatan, yang akhirnya memutuskan untuk pulang ke tanah kelahirannya di Bali agar dapat lebih dekat dengan pujaan hatinya, yaitu Esa. Selama di Bali, Ladys hidup seorang diri dan bekerja sebagai fotografer Wedding di studio milik kerabatnya, yaitu Om Agung, itu adalah konsekuensi yang harus diterimanya karena ayahnya masih memendam trauma terhadap Bali sehingga memutuskan untuk tetap tinggal di Seoul. Ladys menyukai bunga melati, dan terobsesi dengan jasmine tea.

Pranadias Putra alias Dias adalah seorang asisten fotografer yang memiliki sifat pendiam, sekalipun Dias hanya seorang asisten fotografer tetapi sebenarnya, kemampuan yang dimilikinya sudah setara dengan kemampuan fotografer handal, hanya saja nasib memang belum berpihak terhadap dirinya. Dias belum mampu untuk membeli kamera sendiri karena harus menjadi tulang punggung keluarga. Berbeda dengan Ladys, Dias menyukai apel Fuji, dan selalu memakan buah apel jenis ini, sudah seperti makanan pokok untuk dirinya.

Sejak Ladys bekerja di tempat Om Agung, Dias menjadi asisten sekaligus sopirnya. Kesan pertama yang diberikan Dias terhadap Ladys pun tidak terlalu baik, sehingga sejak awal hubungan antara keduanya sudah memasuki fase kritis dan diliputi ketegangan.

“Apakah studionya jauh dari sini?”
“Hmm….”
“Apa artinya ‘hmm’ …?”
Dia menoleh. Tatapannya tajam sekilas lalu beralih pada jalanan. (Hal. 21)

Hari pertama bekerja, Ladys melakukan pemotretan pre-wedding di Pantai Suluban bersama pasangan Amanda dan Damar. Sejak kejadian percakapan di mobil bersama Dias, Ladys memang menjadi lebih sensitif, dan kesal dengan asistennya itu, ditambah selama pemotretan Dias beberapa kali mengomentari pengambilan gambar yang dilakukan oleh Ladys. Selain dipusingkan oleh tingkah laku Dias, Ladys juga ternyata harus menghadapi sebuah kenyataan pahit bahwa Esa yang merupakan kekasihnya telah berselingkuh. Ia memergoki Esa di pantai tersebut.

“… Tatapan saya lekat pada sang lelaki yang kini tengah tersenyum pada perempuan di hadapannya. Esa. Esa yang mencium saya tadi pagi. Esa, lelaki yang menjadi tujuan saya pindah ke Bali. Fokus saya yang mulai berbayang karena genangan air mata lalu pindah ke meja, tempat tangannya sedang memeras tangan perempuan itu. Saya tidak sedang berhalusinasi, dia … dia mengkhianati saya.”(Hal. 35)

Bagaimana Ladys akan bertahan di Bali? Sedangkan orang yang menjadi tujuannya pindah ke Bali telah berkhianat. Selain itu, ternyata Esa lebih memilih perempuan tersebut dari pada Ladys. Apalagi yang paling menyakitkan dalam penghianatan selain menjadi yang tidak terpilih?
****
Rule of Thirds adalah novel karya Suarcani yang pertama kali saya baca :D hehehe . Sejujurnya, saya jatuh cinta dengan cover depan novel ini, melihat cover nya langsung membuat saya ingin membaca novelnya, cover-nya itu sederhana tapi cantik banget. :’))

Rule of Thirds merupakan novel fiksi yang bergenre romance. Wuaah, tapi tenang saja, bukan romance yang hanya berpusat pada dua orang saja, tapi justru cerita ini lebih kompleks daripada kelihatannya. Novel ini juga membahas hubungan cinta di dalam keluarga masing-masing tokoh utama, antara suami dengan istri, antara anak dengan ibu, antara anak dengan bapak, serta antara kakak dengan adiknya. Terdengar kompleks bukan? Tetapi tenang saja, tidak sampai membuat pembaca sakit kepala, karena cerita disampaikan dengan alur yang cepat, jelas, dan tegas.

Penulis menggunakan alur maju, hanya sedikit menggunakan alur mundur, itu pun untuk keperluan flashback cerita sebagai pelengkap bagian cerita dan juga untuk memperkuat karakter tokoh-tokohnya. Sudut pandang yang digunakan oleh penulis yaitu dua sudut pandang orang pertama berdasarkan tokoh utamanya. Satu dari sudut pandang Ladys dengan kata “saya”, dan satu lagi dari sudut pandang Dias dengan kata “aku”. Jenis sudut pandang ini membuat pembaca dapat lebih mengenal dan merasakan emosi dari masing-masing tokoh utamanya. Pembaca tidak akan mudah melupakan isi dari novel ini karena penulis berhasil menciptakan karakter tokoh yang kuat sehingga melekat di hati pembaca. Namun, di awal cerita saya sempat mengalami kebingungan dalam perubahan sudut pandang yang digunakan ini, karena tidak ada keterangan yang cukup jelas sedang menggunakan sudut pandang siapa, tetapi untungnya tidak berlangsung lama, karena seiring berjalannya cerita akhirnya saya mulai terbiasa, sehingga dapat menikmati cerita dari sudut pandang Ladys maupun Dias.

Tokoh utama terbagi menjadi 2 orang, yaitu; Ladys digambarkan sebagai seorang perempuan cantik yang memiliki rambut berombak sepunggung, berkepribadian kuat, pantang menyerah, dan optimistis, meskipun terkadang cenderung egois. Dias digambarkan sebagai seorang laki-laki dengan wajah datar, sedikit senyum, bahkan nyaris dingin, Dias menyimpan banyak luka di dalam hidupnya sehingga memiliki sikap seperti itu. Selain dua tokoh utama tersebut, banyak juga tokoh-tokoh lainnya seperti Esa yang merupakan mantan pacarnya Ladys, Tyas, Om Agung, Bli Pasek, Mbak Sandra, Putra, Mamanya Ladys, Papanya Ladys, Ibunya Dias, dan tokoh lainnya. Tokoh-tokoh ini memberikan warna tersendiri di dalam cerita. Tokoh favorite saya adalah Tyas yang merupakan adiknya Dias. Tyas ini memiliki kepribadian yang menyenangkan dan kebalikan dari sifatnya Dias, sosok Tyas inilah yang akhirnya membuat hubungan antara Ladys dengan Dias mencair dan menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Novel ini tidak hanya terfokus pada romansa dari kedua tokoh utama saja, novel ini juga akan mengajak pembaca untuk memahami arti keluarga, sekalipun keluarga tersebut sudah tidak menjadi sebuah satu kesatuan dari keluarga yang utuh. Selain itu, saya menyukai konsep penulis mengenai “cinta akan selalu memaafkan”, tagline ini menurut saya berhasil penulis sampaikan melalui cerita demi cerita di novel ini. Seperti pada konsep yang diterapkan penulis untuk kedua tokoh utamanya, Ladys sangat menyukai melati, dan Dias sangat menyukai apel Fuji. Sebenarnya ada latar belakang cerita yang pedih sekaligus menyakitkan bagi keduanya, namun penulis justru membuat keduanya menyukai hal tersebut, bahkan membuat tokoh utama ini selalu menjadikan melati dan apel Fuji menjadi bagian kehidupan yang tidak bisa dipisahkan dari mereka, secara tidak langung, inilah sebenarnya proses memaafkan yang sedang dijalankan oleh keduanya, perlahan namun pasti, membuat masa lalu yang pedih menjadi salah satu bagian hidup mereka dalam kehidupan sehari-hari.
“… Sungguh, sekali saja nama itu disebut, saya yakin Papa tidak akan keluar dari kamar sebelum saya meminta maaf. Kami punya kesan buruk atas nama itu. Namun kesan buruk itu juga dibayangi dengan rasa penasaran. Saya jadi terobsesi dengan melati, sampai-sampai menamai kamera kesayangan saya ini dengan nama Jasmine. Saya juga tergila-gila dengan jasmine tea.” (Ladys – Hal. 9)

“Ternyata aku dan dia sama. Namun, aku suka apel Fuji bukan hanya karena itu nama Ibu. Apel Fuji memiliki arti khusus. Setiap berangkat sekolah dulu, Ibu selalu menyelipkan buah itu sebagai bekalku. Ketika kutanya kenapa, jawabannya hanya singkat, ‘Ibu menitipkan sayangnya Ibu sama kamu pada setiap benda yang namanya Fuji’.” (Dias – Hal, 154)

Selain itu, profesi fotografer sebagai pekerjaan yang dilakukan oleh kedua tokoh utamanya juga menjadi latar cerita yang asyik untuk dibahas. Unsur fotografi di novel ini sangat dominan dan dapat dikatakan sudah menjadi jiwa dari novel ini, setiap percakapan yang terjadi antara Ladys dan Dias seringkali menghubungkan istilah fotografi dengan kehidupan yang sedang mereka jalani. Meskipun saya sendiri sangat awam dengan istilah-istilah di dunia fotografi, namun setelah membaca novel ini saya justru jadi ingin belajar fotografi :D . Hmm, sebagai pembaca tidak usah takut kebingungan dengan banyaknya istilah fotografi yang digunakan, karena selalu dilengkapi dengan catatan kaki (footnote), dan dijelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Jadi, membaca novel ini akan membuat kita mendapatkan beberapa ilmu baru seputar dunia fotografi, sangat sayang untuk dilewatkan.

“Ladys. Kurasa aku tahu untuk apa aku dan dia dipertemukan seperti ini. Seperti kamera ponsel, ada shutter lag yang membuatku sedikit terlambat menyadarinya.” (Dias - Hal. 188)

“… Ilusi maya semacam itu tidak hanya ada dalam foto, tetapi sekarang juga hadir dalam hidupmu sendiri. Esa, dia adalah moiré pattern yang sedang kamu lihat. Dia produk dari mata kedua kamu, mata yang membuat otakmu tidak terpakai. Keindahan yang kamu lihat pada pola itu kenyataannya tidak ada.” (Dias – Hal. 209)

“… foto saya itu fleksibel kok. Bisa di-resize hingga muat di ruang sekecil apapun, satu kilobyte ruang kosong saja cukup.” (Ladys – Hal. 263)

Rule of Thirds bisa dibilang berhasil menyajikan cerita romance dengan latar kekeluargaan yang sangat kuat, konflik yang realistis, dan dengan penyelesaian yang jelas. Saya sangat puas dan menyukai novel ini, penulis berhasil mengaduk-aduk emosi saya sebagai pembaca, ada tawa, sedih, kesal, sekaligus khawatir. Bahkan, saya sendiri berhasil dibuat cemas dengan ending ceritanya, karena mendekati akhir cerita, penulis justru membuat kemungkinan demi kemungkinan yang membuat hati pembaca merasa was-was. :D

Jadi, saya merekomendasikan novel Rule of Thirds ini untuk teman-teman pembaca yang menyukai cerita romance, penyuka cerita dunia fotografi, dan juga penyuka cerita keluarga. Novel ini sangat sayang untuk dilewatkan, kamu akan banyak mendapatkan momen indah sekaligus momen yang dapat membuat kamu terharu. :’D
“Kamera adalah keseharian yang membuat saya lupa pada rasa sepi.” (Hal. 214)

“Jadi, pastinya, sesuatu yang berbau mantan itu lebih berasa saat mau pisah.” (Hal. 138)

“Pada akhirnya, aku percaya bahwa hidup bukan hanya mengenai memiliki sesuatu, tetapi lebih pada menghargai sesuatu.” (Hal. 241)
Profile Image for Nike Andaru.
1,644 reviews111 followers
July 11, 2019
137 - 2019

Buku pertama Suarcani yang saya baca.
Rule of Thirds ini adalah istilah dalam fotografi, saya gak ngerti jg kalo disuruh jelasin. Tokoh utama, Ladys dan Dias berkubang dalam dunia fotografi jadi banyak istilah dan teknis foto dijelaskan singkat dan padat dalam buku ini. Ini menarik sih ya, karena beberapa istilah dikaitkan dengan kejadian yang mereka berdua alami.

Kedua tokoh utama adalah korban orangtua yang salah satunya pergi meninggalkan karena perselingkuhan. Bertemu dengan kondisi yang sama-sama luka akibat orangtua itu yg membuat mereka saling berbagi, saling mengenal ya ketahuan lah ya akhirnya gimana.

Dengan setting Korea - Bali juga cerita tentang budaya Bali semakin membuat novel ini terasa manis tapi sayangnya saya agak kurang suka dengan gaya bahasanya, agak kaku gitu. POV berganti dari Ladys - Dias cuma diceritakan dengan penggunaan 'saya' dan 'aku', perpindahannya bukan per bab ini agak kurang enak aja bacanya.
Profile Image for wadesay.
355 reviews33 followers
February 2, 2017
3/5, sebenernya.
satu bintang lagi buat Bali dan fotografi :D.
dan kisah yang ga berkutat di percintaan melulu.

*dinginnya Bandung malam ini bikin gua mellow, kayaknya :))
Profile Image for Leila Rumeila.
1,000 reviews28 followers
June 24, 2023
Sedikit kecewa karna impresinya engga sesedih yg gue ekpekstasikan setelah baca beberapa review di sini.
Sebenernya alur ceritanya sendiri banyak mengandung konflik2 yg buat bikin sobbing.
Sayangnya, menurut gue buku ini kurang berhasil menyampaikan sisi emosionalnya tersebut.
Profile Image for Maria.
179 reviews882 followers
June 19, 2017
Meski agak sedikit plot hole menurutku, tapi overall cerita ini menarik
Tidak ada adegan yang sia-sia dan seolah semuanya mempunyai arti.
Ada pesan moral yang disampaikan dan pengembangan karakter dari dua pemeran utamanya.
Profile Image for Nur Fadilla Octavianasari.
565 reviews45 followers
April 4, 2018
#2018-[52]

Selesai semalam, but sudah ngantuk parah dan tadi kerjaan bener-bener seabrek so baru sempat update sekarang deh.

Unique, asique...
Apasih ini bahasa Saya, LOL

Yah kaya kamus soal fotografi yah, buat yang awam soal poto-poto kaya Saya gini cukup susah ngerti terlebih soal teknik-tekniknya meskipun sudah dijelaskan sama penulis sih. Kerennya si mbak penulis bisa menganalogikan hal-hal itu ke kehidupan nyata, claps!

Rule of thirds,
1/3 bagian adalah waktu untuk mencari
1/3 kedua untuk saling memahami, dan
1/3 terakhir adalah persiapan untuk melepas
Profile Image for Yonea Bakla.
322 reviews36 followers
November 22, 2020
Buku ini selesai dalam waktu 3,5 jam. Gaya tulisan kak Ari mengalir dan konfliknya bikin geregetan, jadi ya langsung habis sekali duduk.

Dari awal aku gak suka Ladys. Segitu cinta banget ya sama Esa sampe mau pindah ke Bali, kota yang dia tinggalkan selama dua belas tahun terakhir?

Ladys Cantika, seorang fashion photographer di Korea banting setir menjadi wedding photographer di studio Pak Agung, Pamannya di Bali. Karena Ladys kesulitan menyetir kanan, (well, di Korea biasa pake setir kiri), Pak Agung meminta Dias, asisten fotografer, untuk menjadi supir sementara Ladys. Interaksi mereka selama tujuh bulan tanpa terasa menjadi momen menyelesaikan masa lalu mereka masing-masing.

Pov 1 Ladys menggunakan kata ganti "Saya" dan Pov 1 Dias menggunakan kata ganti "Aku". Jujur saja awal-awal aku bingung, karena terbiasa membaca dengan Pov 3 atau Pov 1 salah satu tokoh. Tapi aku selalu suka pemilihan Pov 1 dua tokoh.

Alur maju-flash back. Deskripsi setting tempat dan budaya di Bali sangat kental. Berbeda dengan Purple Prose yang menyuguhkan aroma mistis dupa, di sini membahas tentang upacara kematian yaitu kremasi.

Karakter Dias, kurang tereksplorasi. Bagaimana Dias punya pemahaman teori tentang fotografi, feeling photoshoot yang keren dan skill editing yang canggih. Hanya dijelaskan kalau asisten fotografer cuma tukang angkut-angkut. Aku yakin, Dias punya waktu untuk latihan dan belajar dari fotografer di studio Pak Agung, tapi kurang banyak pembahasan tentang ini.

Cerita berfokus di interaksi para tokoh. Ladys-Esa-Rara, Dias-Prajna-Beni, keluarga Ladys, keluarga Dias dan teman-teman di studio. Tema yang diangkat selain tentang fotografi yaitu tentang perselingkuhan. Bagaimana keluarga Ladys dan Dias menjadi korban perselingkuhan ibu mereka, Ladys menjadi korban perselingkuhan Esa, Dias menjadi korban perselingkuhan Prajna, Hem, ya, sinetron banget sih. Tapi pesan yang ingin disampaikan sangat jelas dan ekseskusinya cukup baik.

Hal yang kurang yaitu bagian endingnya terlalu mendadak. Aku suka filosofi F&J, tapi sayang kurang dijelaskan. Pertanyaanku setelah baca adalah, "Dias dapat foto bagus pake kamera siapa?" wkwk. Aku terlewat baca atau memang poin ini terlewat?

Secara umum aku menikmati membaca novel ini. Sangat menghibur dan kurekomendasikan untuk yang tertarik dengan tema fotografi. Banyak istilah baru yang kudapat dari novel ini. Aku lebih suka Rule of Thirds daripada Welcome Home, Rain. Tapi, favoritku masih Purple Prose. Kurang baca Stardust Catcher nih. Ditunggu karya selanjutnya ya, kak Ari. Thank you for write this heart warming story.

Rating: 3,7/5 bintang
Rating usia: 21+
Profile Image for yanti.
117 reviews2 followers
February 26, 2017
Hal yang membahagiakan buatku adalah saat pagi hari terbangun dengan semangat, tidak bermalas-malasan meskipun semalam tidur jam 1 malam,begadang membaca buku. Dan ini karena "Rule of Thirds"
Ini kali kedua membaca karya Suarcani, yang sebelumnya The Stardust Catcher sukses membuatku jatuh cinta dengan gaya cerita penulis Bali ini.
Awalnya saya agak "pesimis" ketika membaca Novel dengan latarbelakang cerita fotografi karena saya blank pengetahuan tentang fotografi, jangankan tentang istilah atau cara pakai kamera. Menyalakan tombol on saja, nyari nya bisa lama banget #hiks
Tetapi setelah membacanya, justru saya tidak mau berhenti sampai selesai, jangankan berdiri, saya seakan lupa bernafas..

Saya bukan hanya menikmati cerita di dalamnya, tetapi saya seolah sedang belajar fotografi langsung dengan fotografer profesional. Bahasa yang digunakan dalam penyampaian istilah fotografi, menyatu dengan dialog-dialog yang membuat pembaca tidak akan bosan seperti halnya ketika sedang belajar teori fotografi

Saya suka karakter tokoh-tokoh di dalamnya. Ladys ; gadis naif yang dikhianati kekasihnya tepat saat ia membayangkan sebuah masa depan yang indah bersamanya. Ladys itu rapuh tetapi sekaligus ia kuat karena mampu bertahan dengan penderitaan yang di alami. Dias ; Pemuda dengan tampang yang datar, nyaris tanpa ekspresi tetapi menyimpan misteri. Masing-masing mempunyai masalah dengan Kesedihan dalam hidupnya dan Mereka dipertemukan oleh takdir, yang mungkin bertujuan agar mereka saling menguatkan satu sama lain

Saya kasinh rating 4,5. Sebenarnya tadinya saya mau kasih rating 5, tetapi ada bagian yang sedikit,yah sangat sedikit sih, yang menggangguku saat membaca, yaitu pada saat pergantian Pov antara Ladys dan Dias tidak ada penanda, bab baru ini bagian Pov siapa, setelah membaca beberapa kalimat baru saya bisa mengetahuinya. Tetapi overall its OK

Review lengkap di https://jendeladuniaku2015.wordpress....
Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
March 2, 2017
Selengkapnya di http://resensibukunisa.blogspot.co.id...

Rule of Thirds adalah novel kedua penulis yang saya baca setelah sebelumnya saya cukup menikmati The Stardust Catcher. Jika The Stardust Catcher mengambil genre fantasy young adult, Rule of Thirds adalah cerita roman kontemporer berlabel Metropop.

Satu kesamaan antara novel ini dengan novel lain karya penulis adalah pengambilan setting pulau Bali sebagai tempat jalannya cerita. Bedanya, di Rule of Thirds, setting tempat lebih menonjol, dengan menjelaskan detail lokasi-lokasi menarik di sana. Sebagai orang yang tidak pernah menginjakkan kaki di Bali, tentu informasi ini menarik karena sedikit banyak jadi menambahkan wishlist tempat yang harus dikunjungi saat ke Bali. Dan setting tempat ini, menyatu dengan jalinan cerita. Konsep pekerjaan sebagai fotografer pre-wedding memang memberikan ruang yang besar untuk penulis gali, baik tentang lokasi pengambilan gambar, teknik-teknik seputar fotografi, bahkan dinamika dunia kerjanya. Banyak hal yang menonjol dan berhasil digali serta dieksekusi dengan baik oleh penulis di dalam novelnya.

Ada beberapa hal yang berkesan. Pertama, saya membaca adegan di buku ini, tadi siang, saat—mudah-mudahan ini gak spoiler—salah satu kerabat ada yang meninggal dunia. Kayak terkoneksi begitu aja. Dan saya merasakan feeling yang sama meskipun tidak sekuat yang diceritakan di sini tentang salah satu kisah tokohnya.

Kedua, kisahnya hanya tentang percintaan, tidak hanya tentang kisah cinta karakter metropolitan, karena ternyata genre "metropop" tidak melulu menyorot tentang itu.

Ketiga, alurnya tidak mudah tertebak, banyak kisah tak terduga yang manis untuk disimak.

Selebihnya, akan saya sampaikan dalam ulasan yang lebih lengkap, nanti.
Profile Image for Inggrid Hidayanti.
28 reviews7 followers
February 18, 2017
Baca buku ini karena dapat hadiah give-awaynya.
btw, Terima kasih sudah diajak jalan-jalan ke Bali dan berbagi ilmu fotografi.
Suka banget sama alurnya, kadang jengkel juga sama si Dias, tapi kalau dia nyata aku mau deh!
Tetep ya, gimanapun perlakuan ibu ke anaknya, pasti cinta pertama anaknya yaitu ibu.
Sempet terharu bacanya, tapi akhirnya lega di endingnya!
122 reviews2 followers
February 17, 2017
sukaak..
sesuai judulnya, banyak bahas tentang fotografi.
dan cara Dias mengirim pesan ke Ladys lewat foto-foto Ladys yang diikutkan lomba fotografi, itu superrrrr romantis...
tunggu review lengkapnya yaa... =)
Profile Image for ijul (yuliyono).
815 reviews971 followers
February 7, 2017
#5_2017
First line:
Mama pernah bilang bahwa pagi yang indah berawal dari dapur yang nyaman.
---hlm.7, Chapter: Flare

Saya hepi banget pas di pengujung Desember 2016 kemarin, Gramedia mempromosikan empat #novelMetropop baru yang akan dirilis di bulan Januari 2017. Ada Yes I Do But Not With You (Shandy Tan), Rule of Thirds (Suarcani), Lost & Found (Fanny Hartanti), dan Some Kind of Wonderful (Winna Efendi). Akhirnya, banyak lagi yang meramaikan rak buku #novelMetropop.

Sejauh ini saya sudah membaca dua di antara empat novel itu, Yes I Do dan Rule of Thirds ini. Agak kecewa, karena dua novel itu ternyata gagal mengimpresi saya. Semoga saja dua sisanya yang lain bisa membayar kekecewaan saya. Terlebih nama Fanny Hartanti dan Winna Efendi adalah dua nama yang cukup familier untuk selera bacaan saya.

Sejujurnya, Rule of Thirds berhasil menghanyutkan saya hingga seratusan halaman awal. Bab pertama menjanjikan karakter Ladys yang memukau tapi membumi dan Dias yang dingin tapi lembut. Ditambah antagonis pujaan: playboy tampan yang pintar merayu. Gaya tulisan Suarcani juga oke. Pada beberapa bagian tampil cukup efisien dan witty, sementara pada bagian lain berhasil menyampaikan hal-hal teknis seputar fotografi menjadi narasi yang luwes.

resensi selengkapnya: http://www.fiksimetropop.com/2017/01/...
Profile Image for A.R. Ainiyyah.
10 reviews
October 30, 2018
Awalnya aku rada susah nyesuain diri sama penggunaan POV-nya yang kadang tiba-tiba ganti antara Dias sama Ladys, tapi semakin aku lanjutin baca lama-lama jadi nikmatin alurnya apalagi di novel ini ada banyak ilmu tentang dunia fotografer yang penulis suguhkan dengan jelas ^^
Profile Image for Lelita P..
632 reviews58 followers
August 20, 2017
Sempat ketunda-tunda bacanya karena sibuk... tapi akhirnya ketika mulai membaca langsung habis dengan cepat.

Novel ini metropop jadi terasa jauh lebih matang--dan bikin saya lebih bisa relate--daripada novel young adult Mbak Ari, The Stardust Catcher. Mungkin juga karena cerita ini sangat riil berhubung tidak ada unsur fantasinya. Saya suka sekali Rule of Thirds ini.

Pertama, saya suka bagaimana karakter Ladys selalu bicara bahasa baku. Novel ini ditulis dari dua sudut pandang, dan masing-masing terasa memiliki suara yang berbeda terutama karena bahasa bakunya Ladys itu.

Kedua, saya suka ceritanya yang komposisinya pas antara drama keluarga dan romansa. Drama keluarganya menyentuh banget--Mbak Ari selalu berhasil mengemas emosi anak broken home dengan sangat menyentuh. Sementara romansanya, dibangun perlahan-lahan. Sempat agak zzz waktu ada drama salah paham blablabla antara kedua karakter utama plus kedua pasangan pesaing cinta mereka masing-masing, tapi secara umum masih sangat bisa dinikmati.

Ketiga, saya suka gaya bahasanya--terutama humor narasinya--yang nggak pasaran. Pemilihan kata-katanya unik, khas Mbak Ari.

Keempat, khas Mbak Ari juga, saya suka latar Bali-nya karena jarang ada metropop yang mengangkat setting di kota lain selain ibukota (untuk latar dalam negeri).

Kelima, saya suka tema fotografinya yang bukan sekadar pelengkap. Detail banget dan sukses bikin saya mengerang dalam hati betapa fotografi profesional itu susah! Karena satu dan lain hal saya suka fotografi (meski cuma amatir), jadi menyenangkan rasanya membaca kisah dua fotografer di sini.


Yang kurang saya suka di novel ini adalah endingnya.

Overall, pengalaman membaca yang cukup menyenangkan. Direkomendasikan bagi yang mencari metropop "beda" dan berisi. #jempol
Profile Image for Ipeh Alena.
543 reviews21 followers
February 24, 2017
Lengkapnya silakan cek di : http://www.bacaanipeh.web.id/2017/02/...

Pertemuan pertamanya dengan Ladys, pun membuat Dias bukannya justru bersenang-senang, tapi malah menjadi semakin tak menentu. Pasalnya, Dias terus saja menjadi seorang asisten fotografer yang bahkan harus berusaha untuk menabung demi membeli kamera untuk dirinya sendiri (iya, harga kamera DSLR emang gak murah, Dias. I feel you #eeaa). Dari tabungannya sedikit demi sedikit inilah, Dias menyimpan impiannya.

Selain dua karakter ini, ada beberapa karakter lain seperti Tyas, adiknya Dias. Om Agung - adik papanya Ladys - yang juga merupakan bosnya Dias. Kemudian rekan kerja mereka di studio foto, dan Esa serta Prajna. Esa sih udah ketawan ya seseorang yang disukai Ladys, Prajna? Ketebak gak sih kalau Esa itu cowok yang disukai Ladys, sementara Prajna.... Ya bisa ditebak ya, kalau enggak berarti memang harus SEGERA beli bukunya.

Disamping karakter-karakter yang muncul, kisah kehidupan mereka, ada juga nih yang menjadi daya tarik tersendiri novel Rule of Thirds ini. Yaitu, adanya informasi terkait dunia fotografi, entah itu istilah seperti yang terpampang di judulnya : Rule of Thirds, kemudian overexposure, flare dan banyak istilah fotografi lainnya yang tidak kalah seru untuk disimak sedikit. Selain itu, dialog antara Ladys dan Dias, juga menyematkan beberapa sosok fotografer favorit mereka berdua - yang notabennya berbeda - yang justru membuat pembaca juga bisa mencari tahu lebih lagi tentang mereka.
Profile Image for Magdalena Rina.
115 reviews8 followers
July 8, 2017
3,5 bintang

...Cinta akan selalu memaafkan
-page 132-

...namun bukankah dengan pernah salah kita jadi tahu arah untuk menuju kebenaran.
kebenaran itu kadang adalah proses.
-page 134-

Rule of thirds
adalah novel Suarcani pertama yg saya baca.
dan sebenarnya novel ini sudah lama ada di lemari saya. tapi saya sll menunda-nunda buat membacanya.
dan begitu saya membuka segelnya...saya lagi2 lgsg menyesal,,,kenapa ga dei dulu2 saya baca ya.

saya suka tokoh perempuan nya,,,Ladys (entah kenapa kok saya sll ngebayangin ladys itu dr.kang ya alias Song Hye Kyo).mgkn pengaruh SongSong couple mau married kali ya #ga-nyambung haha

suka sama tokoh laki2 nya juga...Dias...aku suka laki2 yg ga banyak omong. haha

secara keseluruhan novel ini bercerita ttg masa lalu,,memaafkan,,dan berani melepaskan.
saya suka setting tempat di Bali (krn walaupun saya bkn org Bali,setidaknya saya hapal jalan2 ttg Bali).
Saya juga banyak nyambung nya ketika di bagian ttg teknik photography...setidaknya saya suka otak atik kamera,suka baca buku ttg photography (Hobby).

suka semuanya ttg buku ini...mulai halaman pertama sampai halaman terakhir.
#maafkeun,krn saya tdk pandai mereview.
Profile Image for Nadytia KS.
68 reviews6 followers
March 10, 2017
This novel really took my breath away! Alur cerita mengalir dengan indah banget. Kisah disampaikan dengan santai di awal, semakin nendang di pertengahan, dan berakhir telak. Novel ini mengupas dunia fotografer dan fotografi, dengan berbagai istilah-istilahnya dalam porsi yang memadai. Pembaca yang mengenal dunia fotografi pasti familiar dengan istilah-istilah yang tertulis, pun pembaca yang tidak terlalu dekat dengan dunia itu dapat memperoleh pengetahuan baru mengenai dunia potret-memotret.

Konflik yang disajikan membuat saya menghela napas beberapa kali. Mungkin konflik serupa sering dijadikan tema dalam novel-novel lainnya. Namun, gaya penulisan dalam novel ini membuatnya lebih menonjol dibandingkan kisah-kisah berkonflik serupa.

Menggunakan kata ganti orang pertama, novel ini bercerita tentang Ladys (ditulis menggunakan kata ganti 'saya') dan Dias (menggunakan 'aku') serta orang-orang di sekitarnya. Selain berkisah tentang keseharian mereka yang lekat akan unsur fotografi, imajinasi kita juga diwarnai dengan tempat-tempat indah di Pulau Dewata dan sekelumit lokasi di Seoul. Kisah indah ini, menceritakan tentang menggapai mimpi, berdamai dengan masa lalu, dan seperti yang tertulis di sampul depan: 'cinta akan selalu memaafkan'.
Profile Image for Alya N.
306 reviews12 followers
January 24, 2019
Karya kedua Suarcani yang saya baca. Sebelumnya saya baca Purple Prose. Suarcani sepertinya memang suka nulis genre dark romance, ya. Meski Rule of Thirds ini ngga 'segelap' Purple Prose, tapi tetap saja aura abu abu menaungi buku ini.

Lagi lagi, buku ini menggunakan Bali sebagai latarbelakang, sama seperti Purple Prose. Meskipun dalam kisah Dias dan Ladys ini, tidak sepenuhnya Bali, sedikit dicampur dengan Seoul, Korea Selatan (tepatnya di akhir buku). Kalau dari Purple Prose saya dapat banyak pengetahuan baru tentang dunia telekomunikasi (jadi sedikit tahu tentang dunia provider dan sejenisnya, thanks to Purple Prose), buku ini menyuguhkan pengetahuan informatif tentang fotografi yang meskipun ngga begitu asing di telinga saya karena saya sedikit-sedikit juga menyukai dunia perfotoan, jadi lumayan bisa merasa relate dengan dunia Dias dan Ladys.

Sudah pernah saya bilang di review Purple Prose sebelumnya, saya suka gaya bercerita Suarcani. Padahal biasanya saya lebih suka penceritaan yang witty dan lincah. Tapi ada yang berbeda dengan gaya bercerita beliau ini. Meski formal dan bukan yang tipe ceplas ceplos, tapi enak dinikmati. Kelihatan banget penulisnya kaya akan khasanah diksi.

Akan baca lagi karya Suarcani untuk selanjutnya. Tapi please, semoga latar ceritanya jangan di Bali lagi hehehe.
Profile Image for Nureesh Vhalega.
Author 20 books152 followers
May 10, 2020
Seperti yang beberapa orang tahu, aku paling anti kisah tentang orang ketiga ataupun perselingkuhan. Tapi buku ini bukan cuma soal itu, lebih menitik beratkan ke proses memaafkan dan melepaskan. Aku suka banget.

Pertama, suka setting Bali. Mungkin karena penulis orang sana, jadi hidup banget deskripsinya.

Kedua, tips and trick dunia fotografi. Cara penuturannya menarik dan kita bisa lihat jelas chemistry Dias dan Ladys waktu ngobrol soal ini.

Ketiga, konflik. Aku sempat menebak a, b, c tapi ternyata lebih sederhana dari yang kupikir. Justru aku suka. Konfliknya berpotensi drama banget, tapi pengemasannya nggak sinetron. Aku suka gaya nulis kakak penulis ini sejak baca Stardust Catcher dulu.

Keempat, endingnya! Wkwkwk setelah suram sama Pretty Girls, buku ini obat yang tepat buatku.
Displaying 1 - 30 of 65 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.