Buku ini selesai dalam waktu 3,5 jam. Gaya tulisan kak Ari mengalir dan konfliknya bikin geregetan, jadi ya langsung habis sekali duduk.
Dari awal aku gak suka Ladys. Segitu cinta banget ya sama Esa sampe mau pindah ke Bali, kota yang dia tinggalkan selama dua belas tahun terakhir?
Ladys Cantika, seorang fashion photographer di Korea banting setir menjadi wedding photographer di studio Pak Agung, Pamannya di Bali. Karena Ladys kesulitan menyetir kanan, (well, di Korea biasa pake setir kiri), Pak Agung meminta Dias, asisten fotografer, untuk menjadi supir sementara Ladys. Interaksi mereka selama tujuh bulan tanpa terasa menjadi momen menyelesaikan masa lalu mereka masing-masing.
Pov 1 Ladys menggunakan kata ganti "Saya" dan Pov 1 Dias menggunakan kata ganti "Aku". Jujur saja awal-awal aku bingung, karena terbiasa membaca dengan Pov 3 atau Pov 1 salah satu tokoh. Tapi aku selalu suka pemilihan Pov 1 dua tokoh.
Alur maju-flash back. Deskripsi setting tempat dan budaya di Bali sangat kental. Berbeda dengan Purple Prose yang menyuguhkan aroma mistis dupa, di sini membahas tentang upacara kematian yaitu kremasi.
Karakter Dias, kurang tereksplorasi. Bagaimana Dias punya pemahaman teori tentang fotografi, feeling photoshoot yang keren dan skill editing yang canggih. Hanya dijelaskan kalau asisten fotografer cuma tukang angkut-angkut. Aku yakin, Dias punya waktu untuk latihan dan belajar dari fotografer di studio Pak Agung, tapi kurang banyak pembahasan tentang ini.
Cerita berfokus di interaksi para tokoh. Ladys-Esa-Rara, Dias-Prajna-Beni, keluarga Ladys, keluarga Dias dan teman-teman di studio. Tema yang diangkat selain tentang fotografi yaitu tentang perselingkuhan. Bagaimana keluarga Ladys dan Dias menjadi korban perselingkuhan ibu mereka, Ladys menjadi korban perselingkuhan Esa, Dias menjadi korban perselingkuhan Prajna, Hem, ya, sinetron banget sih. Tapi pesan yang ingin disampaikan sangat jelas dan ekseskusinya cukup baik.
Hal yang kurang yaitu bagian endingnya terlalu mendadak. Aku suka filosofi F&J, tapi sayang kurang dijelaskan. Pertanyaanku setelah baca adalah, "Dias dapat foto bagus pake kamera siapa?" wkwk. Aku terlewat baca atau memang poin ini terlewat?
Secara umum aku menikmati membaca novel ini. Sangat menghibur dan kurekomendasikan untuk yang tertarik dengan tema fotografi. Banyak istilah baru yang kudapat dari novel ini. Aku lebih suka Rule of Thirds daripada Welcome Home, Rain. Tapi, favoritku masih Purple Prose. Kurang baca Stardust Catcher nih. Ditunggu karya selanjutnya ya, kak Ari. Thank you for write this heart warming story.
Rating: 3,7/5 bintang
Rating usia: 21+