Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dahlan: Sebuah Novel

Rate this book
Ia terlahir dengan nama Muhammad Darwis. Ayahnya, Kyai Abu Bakar, adalah seorang Ketib Amin di Masjid Gede Yogyakarta. Semenjak remaja ia sering bertanya: kenapa umat Islam begitu terpuruk dalam banyak hal? Saat itu ia berpikir umat Islam begitu terkungkung oleh hal-hal takhayul. Ia pernah mencoba bertanya dan memberontak, tetapi justru penolakan dan cacian yang didapatnya.

Keresahan batin mendorong Darwis menuntut ilmu setinggi-tingginya, hingga takdir melayarkannya ke Mekah. Di Mekah ia belajar pada banyak guru. Ia pun berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy, Imam Besar Masjidil Haram dari Sumatera, bersama teman seperjalanan dari Jombang: Hasyim Asy’ari. Di Mekah pula ia mendapat nama baru: Ahmad Dahlan. Sepulang dari Tanah Suci ia diangkat menjadi Ketib Amin Masjid Gede oleh Sultan Hamengkubuwana VII dan mendapat gelar Raden Ngabehi. Hasrat terpendam untuk memajukan umat Islam mengilhaminya mendirikan sebuah persyarikatan bernama Muhammadiyah. Ia bercita-cita Muhammadiyah bisa menjadi lokomotif perubahan bagi umat Islam di Nusantara.

Dahlan adalah sebuah novel langka yang membabar kehidupan, pemikiran, dan perjuangan Kyai Haji Ahmad Dahlan, seorang ulama besar pemancang tonggak pembaharuan Islam di Nusantara.

“Novel ini dapat menjadi penggerak pikiran kaum muda untuk menjadi pelopor pembaruan, sebagaimana kehadiran Kyai Dahlan di pentas sejarah.”
—Dr. Haedar Nashir, M.Si, Ketua Umum PP Muhammadiyah

“Pembaca tanpa terasa dibawa ke dalam suasana kehidupan keseharian Kyai Ahmad Dahlan.”
—Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, penulis Syekh Siti Jenar

414 pages, Paperback

First published December 31, 2016

10 people are currently reading
73 people want to read

About the author

Haidar Musyafa

20 books14 followers
Haidar Musyafa lahir dalam keluarga yang sederhana di Sleman, 29 Juni 1986, putra pertama dari pasangan Allahuyarham Bapak Sudarman dan Ibu Wantinem. Baginya, kehidupan ini tak lain hanyalah ladang untuk berbagi kemanfaatan bagi sesama. Berbagi kebaikan. Berbagi ilmu. Berangkat dari keyakinan itulah kemudian ia menekuni dunia tulis-menulis dan menjadi salah satu pendiri Sahabat Pena Nusantara (SPN).

Kegigihannya dalam berkarya telah melahirkan antara lain novel-novel biografi: Tuhan, Aku Kembali: Novel Perjalanan Ustad Jeffry Al-Bukhary; Cahaya dari Koto Gadang: Novel Biografi Haji Agus Salim 1884-1954; Sang Guru: Novel Biografi Ki Hadjar Dewantara, Kehidupan, Pemikiran, dan Perjuangan Pendiri Tamansiswa 1889-1959; Sogok Aku, Kau Kutangkap: Novel Biografi Artidjo Al-Kostar (proses terbit); Hamka: Sebuah Novel Biografi; dan Dahlan (Sebuah Novel).

Juga, buku-buku Islami inspiratif: Allah Maha Pengampun: Janganlah Engkau Berputus Asa; Detik-Detik Menjelang Kematian; Renungan Kehidupan; Hidup Berkah dengan Doa; Siapa Bilang Orang Berdosa Gak Bisa Masuk Surga?; Agar Pintu Surga Terbuka Untukmu; Jangan Kalah oleh Masalah; Kode dari Tuhan; Agar Rezeki Tak Pernah Habis; Tuhan, Saya Ingin Kaya; Ensiklopedi Muslim Harian; Cerdas Mendahsyatkan Potensi Hati dan Pikiran; Agar Nikah Berlimpah Berkah; dan Doa-Doa Harian bagi Muslimah.

Penulis berharap pembaca berkenan mendoakannya agar di kemudian hari dapat menghadirkan karya-karya baru yang akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat luas. Bagi para pembaca yang ingin menyampaikan saran, kritik, atau bertegur sapa menjalin korespondensi dapat menghubunginya melalui: Email: haidarmusyafa2014@gmail.com dan Fanpage FB: Haidar Musyafa.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
15 (41%)
4 stars
14 (38%)
3 stars
5 (13%)
2 stars
1 (2%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Risyca Pujiastuti.
45 reviews
March 14, 2017
Review lengkap bisa dilihat di sini --> http://antararisycadantweety.blogspot...

Buku ini saya rekomendasikan untuk siapa saja yang menyukai sejarah dan biografi tokoh, terutama untuk kamu yang mengaku sebagai anggota dari Peryarikatan Muhammmadiyah

Dahlan merupakan salah satu novel karya Haidar Musyafa, novel ini merupakan novel biografis tentang perjalanan hidup K.H.Ahmad Dahlan, dan merupakan novel pertama karya Haidar Musyafa yang saya baca. Haidar Musyafa ternyata sudah menghasilkan karya yang lumayan banyak, dan memang sudah terbiasa menuliskan novel biografi sejenis ini.

Bagi saya pribadi, cerita mengenai K.H.Ahmad Dahlan tidaklah asing, tentunya pemikiran-pemikiran beliau pun sudah tidak terlalu asing untuk saya, karena saya memang mengenyam pendidikan di sekolah Muhammadiyah, yang merupakan salah satu buah dari hasil pemikiran dan kerja keras K.H.A.Dahlan. Tetapi, cerita yang saya dapatkan masih bentuk potongan-potongan cerita, termasuk pemikiran-pemikiran beliau mengenai Islam, hanya sedikit sekali yang saya tahu, padahal sudah sejak lama saya penasaran. Beliau memang semasa hidupnya lebih senang melakukan kerja nyata dan mengedepankan amaliah dalam melakukan dakwah dan pembaharuan islam kepada masyarakat, bukan seorang cendekiawan yang meninggalkan jejak-jejak berupa tulisan. Oleh karena itulah, kehadiran novel ini membuat saya sangat bersyukur dan senang sekali, karena dengan begitu saya dapat mempelajari dan mengenal sosok beliau lebih dekat lagi, sekaligus dapat mengetahui gagasan-gagasannya serta pemikiran-pemikirannya mengenai pembaharuan islam.

Jika kamu sudah pernah menonton film Sang Pencerah, maka secara garis besar cerita novel ini tidak jauh berbeda dari filmnya, hanya versi lengkapnya saja, dan memang jauh lebih lengkap novel ini daripada filmnya. Novel ini menceritakan kisah K.H.Ahmad Dahlan secara runut dan berurutan, sehingga pembaca lebih mudah untuk menerima jalan ceritanya. Ketika menonton film Sang Pencerah, saya merasa ada beberapa adegan yang terasa hilang pesannya, naah setelah membaca novel ini barulah saya paham.

Novel ini menggunakan sudut pandang pertama, di mana penulis memposisikan diri sebagai tokoh utama, sehingga menggunakan kata ganti Aku. Menurut saya, di awal bab, novel ini terasa kaku karena terlalu banyak pengulangan kata "aku", lumayan mengganggu. Namun, disisi lainnya, penggunaan sudut pandang ini, membuat pembaca dapat memposisikan diri sebagai tokoh utama yaitu sebagai K.H.Ahmad Dahlan, sehingga pembaca dapat merasakan emosinya, dapat merasakan kegelisahan-kegelisahan beliau terhadap perkembangan islam di Kauman, dan juga membuat pembaca lebih merasa dekat dengan tokoh tersebut.

Novel ini menyajikan cerita perjalanan hidup K.H.A. Dahlan dari kecil hingga menemui ajalnya. Sangat terasa kalau penulis memang melakukan riset yang cukup mendalam sebelum menuliskan kisah beliau, karena novel ini termasuk mendetail dalam menceritakan kisah hidup K.H.A.Dahlan, apalagi penulis dari awal sudah mengajak pembaca untuk mengikuti pemikiran-pemikiran kritis beliau mengenai Islam di Kauman.

Saat pertama kali berangkat ke Tanah Suci, di sana K.H.A.Dahlan menimba ilmu agama dari para Syekh, salah satunya yaitu Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy, dari Syekh Ahmad Khatib lah beliau banyak mendapatkan pencerahan sekaligus pemahaman baru soal ajaran agama, di sini diterangkan bahwa beliau memang tertarik dengan pemikiran dan gagasan mengenai sistem pembaharu islam yang dikampanyekan oleh Syekh Muhammad Abduh dan Syekh Jamaluddin Al-Afghany, yang merupakan dua ulama pembaharu dan reformis Islam yang berasal dari Mesir dan Afghanistan.
"Sedikit demi sedikit, pemikiran Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afghany mulai meresap dalam pemikiranku. Apa yang disampaikan kedua ulama pembaharu itu, sekaligus yang disampaikan oleh Syekh Ahmad Khatib, sesuai dengan jalan pikiranku dalam memahami ajaran agama islam. Islam yang berpegang teguh pada ajaran Al-Quran dan bertumpu pada hadis-hadis Nabi. Tanpa campur aduk dengan budaya-budaya dan adat istiadat yang cenderung menyesatkan masyarakat dari jalan Islam yang lurus." (Hal. 122)

Dakwah yang dilakukan K.H.A.Dahlan sebenarnya mengikuti cara Nabi Muhammad SAW, yaitu melalui cara halus, tidak memaksa, dan lemah lembut. Namun, tetap saja, banyak sekali pro dan kontra yang terjadi sejak K.H.A.Dahlan melakukan perubahan sedikit demi sedikit di lingkungan Kauman, banyak yang mendukungnya, tetapi banyak juga yang menolaknya. Bahkan beliau sampai dituduh sebagai Kyai yang sesat.
"Memilih jalan hidup yang bertentangan dengan adat dan tradisi masyarakat bukan perkejaan mudah. Selain membutuhkan banyak tenaga dan pikiran, ada konsekuensi besar yang harus ditanggung, yaitu dimusuhi dan dikucilkan warga. Hal seperti itulah yang aku alami sejak memilih berdakwah dengan pemikiran-pemikiran Islam modern." (Hal. 289)

Menurut saya, K.H.A.Dahlan ini sangat keren :D, salah satu tokoh yang pemikiran serta gagasannya masih diperlukan untuk kemajuan Islam di Indonesia ini. Beliau tidak pernah merasa tinggi hati dan tidak pernah merasa puas sekalipun wawasannya memang sudah sangat luas, sepanjang hayat beliau terus belajar dan terbuka dengan ide-ide baru, serta tidak ragu untuk mencoba hal baru. Hal ini dibuktikan dengan menjadi anggota dari Jami’atul Khoir, Budi Utomo, menjadi guru agama di Kweekschool, membangun sekolah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah untuk murid-muridnya, hingga akhirnya beliau mendirikan Peryarikatan Muhammadiyah pada tanggal 18 November 1912 M atau 8 Dzulhijjah 1330 H.
"Aku memberikan penjelasan bahwa dengan menggunakan nama Muhammadiyah, aku berharap semua anggota perkumpulan dapat menjadikan Kanjeng Nabi Muhammad sebagai teladan, bersemangat mengikuti ajarannya, dan menghidupkan sunnah-sunnah beliau." (Hal. 295)

"Aku juga berharap Muhammadiyah akan menjadi organisasi umat Islam sampai akhir zaman, sebagaimana Kanjeng Nabi Muhammad menjadi penutup para nabi. Adapun tambahan kata “i” di belakang nama “Muhammad” dimaksudkan agar siapa saja yang menjadi anggota organisasi atau perkumpulan Muhammadiyah dapat menyesuaikan diri dengan perikehidupan Kanjeng Nabi." (Hal. 295)

Saat Persyarikatan Muhammadiyah berhasil didirikan, bukan berarti dakwah beliau telah selesai, justru saat itulah perjuangan beliau semakin berat, terutama saat anggota Muhammadiyah mulai banyak, benih-benih komunis hampir saja menyusup ke dalamnya, untung saja beliau cepat menyadari hal ini, sehingga dapat bertindak secara tegas dan menolak ideologi yang mengarah kepada komunis tersebut.
"… Dari situ aku paham, selain melakukan propaganda politik, ISDV berusaha menciptakan perpecahan dengan menyebarkan bermacam isu sehingga membuat organisasi Islam terpecah dan saling curiga. Menyadari hal itu akan membawa dampak buruk bagi perkembangan umat Islam, khususnya Muhammadiyah, aku segera mengumpulkan petinggi Hoofd Bestuur Muhammadiyah dan Sarekat Islam. Tujuanku hanya satu, menegaskan bahwa Hoofd Bestuur Muhammadiyah menolak propaganda ISDV." (Hal. 381)

Naah, perlu diingat K.H.A Dahlan juga hanya manusia biasa, jadi tentulah pasti ada sisi beliau yang mungkin dapat membuat pembaca kecewa. Saya pribadi memang agak kecewa dengan keputusan poligami yang beliau pilih, tetapi tidak mengurangi rasa hormat dan kagum saya terhadap beliau, kalau saya sedikit kecewa ya wajarlah karena saya kan hanya perempuan biasa
Profile Image for Rizky Arya.
126 reviews2 followers
October 6, 2021
Ahmad Dahlan bukan hanya sosok penting dalam Muhammadiyah, tapi juga seorang pahlawan bangsa yang menyadarkan umat Islam bahwa nasibnya terjajah dan perlu untuk merdeka. Melalui Muhammadiyah, Ahmad Dahlan mendorong kemajuan dan kecerdasan tidak hanya dalam beragama tetapi juga ilmu pengetahuan. Selain itu, melalui Aisyiyah, berhasil mengangkat derajat perempuan pada waktu itu yang sebagian besar masih terkungkung dalam dominasi laki-laki.


Buku ini aku rekomendasikan buat kamu yang penasaran dengan kisah hidup Ahmad Dahlan. Penulis mengakui, meskipun disajikan dalam bentuk novel, alur dan peristiwa dalam novel ini berdasarkan fakta dari riset yang dilakukannya. Dengan memetik hikmah perjuangan Ahmad Dahlan, pembaca diingatkan tentang pentingnya mengamalkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh.

Next : https://kepinganarya.blogspot.com/202...
Profile Image for Ratnani El Ratna Mida).
Author 11 books14 followers
July 18, 2017
Haji Ahmad Dahlan merupakan salah satu tokoh Islam, yang juga termasuk pahlawan nasional. Dia memilik sumbangsih dalam kemajuan pembaharuan Islam yang bersifat terbuka, modern dan rasional, juga dalam pendidikan di Indonesia. Islam adalah agama yang menganut Al-Quran dan sunnah Nabi. Tidak bercampur dengan adat atau budaya Jawa yang jauh dari ajaran-ajaran Islam. Dan pendidikan—baik agama atau umum, harus sama-sama dipelajari agar seimbang, antara bekal di dunia dan di akhirat.

Ahmad Dahlan lahir di Kauman, 1 Agustus 1868 dengan nama asli Muhammad Darwis. Sejak kecil dia dididik ayahnya dengan budaya Jawa yang kental. Namun begitu, dia juga dididik soal ajaran Islam dengan sangat ketat (hal 11). Hanya saja dia tidak mendapat pendidikan formal.

Menurut ayahnya, dengan belajar di sekolah yang didirikan Belanda itu, sama saja kafir dan murtad. Inilah pandangan yang tidak disetujui Dahlan. Karena menurutnya dengan bersekolah orang bisa menambah pengetahuan. Selain masalah itu, Dahlan juga kurang setuju dengan kebiasaan masyarakat yang suka melakukan ritual-ritual yang menurutnya jauh dari ajaran-ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad.

Keresahan hatinya itu mendorong Dahlan untuk belajar setinggi-tingginya. Dia ingin mengembalikan ajaran Islam yang benar-benar murni yang tidak dikaitkan dengan adat Jawa yang kadangkala lebih menjurus pada ajaran syirik. Pada akhirnya takdir membawanya belajar ke Mekah. Di sana dia belajar pada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy dan beberapa ulama tersohor lainnya (hal 121).

http://tulisanelratnakazuhana.blogspo...


http://tulisanelratnakazuhana.blogspo...
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.