“Saya datang ke hadapan Anda semua pada hari ini dengan niat teguh untuk menciptakan sebuah kehidupan baru dan perdamaian. Kita semua mencintai tanah ini, tanah Tuhan, kita semua, umat Muslim, Kristen, dan Yahudi semua menyembah Tuhan ...” (Pidato Anwar Sadat di Parlemen Israel,19 November 1977)
Selama ribuan tahun, Jerusalem merupakan kota ziarah agama samawi: Yudaisme, Kristen, dan Islam. Mereka berziarah ke Tembok Ratapan, Gereja Makam Kristus, Masjid Al Aqsha. Tetapi pada saat bersamaan, kesucian kota Jerusalem dirobek berbagai konflik yang tak kunjung selesai antara Israel dan Palestina. Bagaimana upaya penyelesaian damai antara Israel dan Palestina?
Kemudian benarkah Jerusalem akan menjadi kota pengadilan akhir umat manusia? Benarkah Mesias akan datang kembali melalui Pintu Gerbang Kerahiman yang kini masih tertutup? Buku ini mengajak Anda kembali ke sejarah masa lampau sekaligus melihat Jerusalem di akhir zaman.
If you don't have enough time reading thick time consuming book, maybe you could read this for a brief introduction to Jarusalem. From its history, building, people and conflict, Trias Kuncahyono has made me understand the basic knowledge of Jarusalem. He brought his personal experience and research, then cramped it into this book briefly, but also beautifully.
Dahulu pernah membaca buku ini saat saya SMP tetapi tidak sampai selesai karena bagi saya saat itu, konflik Israel dan Palestina merupakan konflik yang tidak berkesudahan. Sekarang, 10 tahun berlalu, saya membaca buku ini lagi. Buku yang ditulis Trias ini merupakah buku awal yang netral membahas mengenai sejarah Jerusalem dari 3000 SM hingga tahun 2000 an Masehi. Buku ini adalah buku perjalanan Penulis yang berkunjung ke Tanah Palestina. Dengan berbekal catatan sejarah serta ayat-ayat Al-Kitab (sebagian besar), Penulis menyajikan kisah yang runtut yang bisa dipahami oleh orang awam sebenarnya apa yang terjadi dengan Israel-Palestina. Sayangnya, menurut saya, buku ini kurang memberikan gambaran dari sisi sejarah Islam selain perang dan penaklukan oleh dinasti dan kekhalifahan.
Baru kali ini baca buku yang berbobot tetapi betah dan tanpa jeda bacanya. Apresiasi yang sangat tinggi kepada penulis karena sudah menjelaskan Jerusalem dengan terperinci dan ringkas, walaupun ada beberapa cerita yang diulang. Penulis sangat netral dalam melihat konflik yang terjadi seputar Jerusalem. Penulis sangat layak mendapatkan penghargaan atas karya ini.
Menyelesaikan buku ini dalam waktu sehari. Penulis menyajikan “cerita” tentang Jerusalem dengan sangat mengalir dan netral. Saya mendapati diri sedang benar-benar berada di tepi Sungai Yordan atau sedang menyusuri Via Dolorosa saat membaca buku ini. Recommended!
Apa yang terbayangkan bila mendengar Yerusalem? Itu adalah sebuah kota nun jauh disana, yang sudah didengar ceritanya dari sejak anak-anak lewat kisah para nabi hingga sekarang ini menjadi pusat tujuan wisata ziarah dan sorotan internasional karena konflik terus menerus antarbangsa yang mengklaim bahwa Jerusalem adalah milik mereka.
Seperti buku-buku Trias lainnya, buku ini adalah buku catatan perjalanan jurnalistik yang dilakukannya di Yerusalem. Bedanya, kunjungannya ke Yerusalem adalah impian dari semasa kecil.
ketika masih kecil, Trias sering diceritakan tentang kisah nabi oleh ibunya. Adam, Nuh, Abraham, Musa, Daud dan banyak nabi lain. Setting cerita nabi itu yaitu antara lain Yerusalem, Yudea, Samaria, Mesir, Bethelehem, dan sebagainya. cerita dari ibu di masa kecil itu diperkuat dengan lukisan-lukisan dari sang ayah.Ayah Trias yang berprofesi sebagai seniman turut menyumbang di imajinasi Trias bagaimana dan seperti apa tempat-tempat itu. Selain itu ayah Trias juga sering membelikan buku yang menceritakan kisah nabi dalam gambar. Sungguh suatu paduan yang sangat klop. Ibu yang pintar bercerita, dan ayah yang pintar melukis dan suka membelikan komik/buku bergambar.
Perjalanan ke yerusalem tidaklah gampang. Ada puluhan prosedur yang harus dilewati sebelum mendapat izin berkunjung. Apa pekerjaan anda? Apakah anda punya kenalan disana? Sudah berapa lama koper ini di anda? Siapakah yang menyusun koper anda? Apakah anda wartawan? apakah isi laptop anda? kalau anda wartawan, tunjukkan satu tulisan anda pada saya! Inilah "sedikit" dari pertanyaan yang harus dijawab Trias di meja petugas imigrasi. Ternyata, akibat dari serangan-serangan militer dan bom bunuh diri yang terus menghangat di yerusalem, membuat prosedur pemeriksaan orang yang mau datang ke sana semakin diperketat.
Suci. karena itu adalah sifat Tuhan. Konflik. karena sifat manusia yang rakus, dan tamak, dan selalu ingin menguasai. Yerusalem yang unik, milik tiga agama samawi, yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi. Kota yang penuh kenangan, dimana ketiga agama tersebut mengakui bahwa Abraham (ibrahim) adalah nabi mereka, dimana sangat teruji kesetiaannya ketika Tuhan memerintahkan ia untuk mengorbankan anaknya.
Namun, dimanakah letak konfliknya? Sejarah menuliskan bahwa dari sejak dulu kala, Yerusalem sudah sarat dengan perebutan kekuasaan. Dari sejak zaman raja Daud hingga sekarang ini. Karen Armstrong menulis,bahwa perang salib memberi andil yang tidak sedikit bagi konflik yang terjadi hingga saat ini. Pihak yang berseteru sekarang, Israel dan Palestina, terus berupaya mencapai kata sepakat, yang seolah-olah memang sepakat untuk tidak sepakat mengenai
batas-batas wilayah yang menjadi kekuasaan dua negara tersebut. Berbagai usaha telah dilakukan, hingga sampai menelan nyawa pemimpin dunia, namun tetap perdamaian di kota damai itu tidak kunjung tercipta. Ironis, Seharusnya kota suci itu milik bersama seluruh umat di seluruh dunia, sehingga gaung perdamaian selalu diperdengarkan.
Dalam buku ini, Trias menceritakan bagaimana detil-detil kota Yerusalem. Yerusalem yang terletak di atas Gunung wilayah Yudea, terbagi atas Yerusalem Utara dan Yerusalem Selatan. Yerusalem terdiri dari kota lama yaitu kota yang dibatasi oleh tembok. Tembok itu sendiri terdiri dari delapan pintu gerbang, tujuh diantaranya terbuka, namun satu pintu gerbang, yatu pintu gerbang Kerahiman yang masih terkunci. Dipercaya bahwa pintu gerbang itu dibuka oleh Mesias yang akan datang ke dunia untuk menghakimi dunia.
Mengapa dimiliki oleh agama Islam, karena adanya bangunan Dome of the Rock dan Masjid Al Aqsa (tempat Nabi Muhamad miraj dari Masjidil Haram ke Masjid Al Aqsa). Mengapa dimiliki oleh agama Kristen? karena adanya bangunan Gereja makam Kristus, yang dibangun oleh Raja Konstantinopel atas permintaan ibunya raja, Ratu Helena. Mengapa dimiliki agama Yahudi (Yudaisme) karena ada Bait Allah atau Kenisah.
Sayangnya, buku ini sangat minim dengan gambar-gambar, akhirnya pembaca harus berimajinasi sendiri lagi. Selain itu, sangat sedikit sumber-sumber yang menceritakan tentang bagaimana Yerusalem dipandang dari sudut pengadilan akhir (seperti judul buku ini). walaupun begitu, semoga tidak mengurangi gairah kita untuk menghentikan membaca buku ini sampai selesai, dan berharap kita bisa suatu saat kesana.
Buku ini merangkum berbagai sumber literatur (terutama yang ditulis dalam bahasa asing) tentang Yerusalem dan dibingkai dengan pengalaman sang penulis saat berziarah ke sana. Dengan demikian, buku ini bisa menjadi titik awal bagi pembaca untuk belajar tentang sejarah Yerusalem dalam bahasa Indonesia. Catatan perjalanan itu sendiri tidak terlalu dalam, hanya banyak mengutip keterangan pemandu serta komentar-komentar tentang suasana di sana. Jangan mengharapkan anekdot-anekdot unik atau perenungan akibat guncangan budaya, yang biasa menjadi daya tarik utama kisah-kisah perjalanan ke wilayah yang eksotik. Yang terasa mengganggu bagi saya adalah kebiasan sang penulis untuk mencantumkan sederetan nama untuk tempat-tempat tertentu dalam berbagai versi bahasa, yang tidak banyak memberi informasi tambahan pada pembaca (terutama karena kadang-kadang bahasa asal nama-nama tersebut tidak disertakan). Kronologi perjalanan juga melompat-lompat: di bagian depan sudah diceritakan pengalaman di tiga kota utama latar Injil, lalu di belakang dikisahkan saat penulis baru mendarat di Ben Gurion dan melanjutkan perjalanan ke Yerusalem. Beberapa kutipan dari Alkitab diulang-ulang, begitu pula sejarah Bait Allah. Banyak istilah (Kenizah Allah, dll.) mungkin membingungkan karena tidak semua pembaca berasal dari latar belakang agama yang sama dengan sang penulis, sehingga tidak akrab dengan istilah-istilah yang dipakai di buku tersebut. Saya sangat berharap lebih dari seorang jurnalis yang punya kesempatan menyaksikan berbagai peristiwa bersejarah penting di dunia, di luar kesan-pesan singkat semasa tur di Israel dan mengutip sumber-sumber lain. Hanya ada satu sumber langsung (seorang perempuan Israel korban bom mobil), dan itupun tidak membahas tentang makna dan posisi Yerusalem di mata penduduk lokal. Buku ini memang bukan reportase, tetapi seharusnya bisa menawarkan satu sudut pandang yang unik dan tajam tentang kota suci Yerusalem yang (seperti disebutkan dalam buku tersebut) telah banyak dibahas dan dituliskan sedari dulu.
Banyak buku tentang Jerusalem, berbagai versi telah diungkap. Salah satunya karya Trias Kuncahyono. Buku yang mencoba menggambarkan konflik Palestina dengan Israel dengan Jerusalem sebagai titik sentral.
Trias mencoba "bermain" aman dengan ketidakberpihakkan. Melalui gaya jurnalis yang dipadu kutipan sejarah dan referensi dari berbagai pengarang sebelumnya Trias menyodorkon sisi jalur tengah meski di beberapa bab mengkritik sikap Israel yang semakin jauh meretas jalan perdamaian dengan Palestina. Namun saya anggap buku ini masih save. Jauh dari kutipan berapi-api ala Yusuf Qodhlorwi maupun gaya logika rumit Karen Armstrong. Trias mencoba lebih menyederhanakan. Namun, penyederhanaan perebutan Jerusalem membuat buku ini semakin sulit untuk diurai. Mungkin karena Trias bukan ahli sejarah, melainkan hanya mereportase apa yang ia lihat, rasakan, kumpulkan informasi dan dijabarkan dalam buku yang saya rasa terlalu singkat untuk sebuah buku karangannya.
Sejarah Palestina yang merupakan sejarah semua bangsa seharusnya menjadi syarat semua kepentingan untuk dibahas. Bagaimana peran Liga Arab yang kian mandul, yang pada akhirnya cuma menyempitkan konflik Palestina hanya sebatas dua negara saja. Bukan lagi ideologi atau agama sebagaimana awal berdirinya negara Israel.
Trias sepertinya lupa mengambil banyak sisi, yang seharusnya tidak banyak menyadur dari Injil. Padahal, ia kerap menyebut Palestina merupakan kota suci bagi tiga agama samawi dunia, Yahudi, Kristen dan Islam. Referensi harus lebih dari itu. Saya lebih terkesan dengan gaya Dirk melalui bukunya Ibrahim Sang Sahabat Tuhan, meski sedikit memusingkan, yang mencoba menelusuri sejarah Ibrahim melaui pendekatan informasi tiga kitab suci.
Namun, secara global buku ini cukup ok dan menjadi tambahan referensi bagi yang mulai tertarik mempelajari konflik Israel-Palestina.
Banyaaaaak bgt informasi yg aq dapatkn dr Jerusalem ini. Dr yg gak tau apa2 smp jd tahu.. Penulis menggunakan bahasa jurnalistik yg mudah dipahami oleh masyarakat. Layaknya seorang informan, maka penulis berhasil melakukan'a..
Melalui buku ini, pembaca diajak untuk mundur sejenak melihat Jerusalem dulu kala. Penulis memaparkan Jerusalem dari segi tiga agama, politik, dan sejarah dengan cukup netral.
konflik tiada akhir, kata itu yg plg mewakili Kota Suci 3agama samawi yg bernama Jerusalem ini. buku ini menggunakan gaya penulisan story telling dimana si penulis menceritakan pengalamannya jln2 ke kota yg saat ini diklaim oleh Israel tsb. Dengan disertai beberapa cuplikan sejarah berdasarkan data data sejarah, arkeologi, alkitab, al qur'an, dan taurat. Konflik seakan tdk pernah lepas dari kota ini, sejak jaman Raja Daud (Nabi Daud-muslim) merebut kota ini dari orang2 kanaan.
Mungkin lebih tepat jika ada label "Liputan Personal" pada buku ini. Trias Kuncoro dengan gaya bahasa jurnalistiknya mampu membangun Jerusalem yang hampir utuh dan hampir obyektif... Meski demikian harus diakui adalah kesulitan besar bagi seorang wartawan atau siapapun untuk menjaga obyektifitas ketika harus menulis sesuatu yang berkaitan langsung dg ideologinya.
Keinginan saya untuk berziarah ke kota penuh keberkahan; Al-Quds Asy-Syarif ( Jerusalem ) sedikit terbayar dengan membaca buku ini. Sebuah karya jurnalistik yang amta sangat patut diacungi jempol karena obyektifitas penulisnya yang benar-benar netral dalam memandang kota tiga iman tersebut...
Buku mas Trias ini yang membawa saya lolos dari sidang skripsi. Skripsi tentang peranan bangsa Yahudi. Selain menjadi referensi,buku ini juga membawa saya lebih banyak memahami, bagaimana sebenarnya latar belakang "kampung halaman" yang terus menarik konflik ini.
Buku ini juga membuat saya sedikit iri dengan orang-orang yang sudah secara langsung menjejakan kakinya di tanah Yerusalem.
Harapan saya terlalu besar saat membeli buku ini. Inginnya sedikit menyerap makna kota suci itu bagi tiga agama, tapi isinya lebih banyak berkisah dari kacamata pribadi. Mungkin lebih tepat lagi kalau buku ini diberi embel-embel memoar.
Puji Tuhan, setelah sekian lama menabung untuk membeli buku ini akhirnya bisa juga membelinya :) Isinya benar-benar menarik, memberikan perspektif yang jelas dan dinarasikan secara mengalir sesuai latar belakang jurnalistik penulis.
Sebuah karya jurnalistik untuk memahami permasalahan Jerusalem. Et in terra pax hominibus bonae voluntatis!- dan damai dibumi bagi orang yg berkehendak baik!
i love this book, more knowlegde less racism. over all this book so interesting. Even i has just finished to read this book for the secong times. hahaha yield i loved this :)