“Raedu penyair muda berbakat. Beberapa langkah lagi ia dapat diharapkan muncul dengan sajak-sajak yang bernas. Persoalannya ialah bagaimana dia mampu menjelajahi dunia kata-kata hingga ufuknya dan mengeksplorasinya untuk kepentingan gagasan dan pengalaman estetik pribadinya...”
Abdul Hadi WM sastrawan, guru besar Universitas Paramadina
***
“Puisi Raedu Basha tampak khas ketika ditulis dalam bentuk narasi, panjang, serta dibumbui nama-nama; ruang dan waktu. Saya menyukai statemen-statemennya yang mengutamakan permainan kopula sebagai ciri khas dari statement-metaphor, jika Raedu Basha bisa membuat dan mempertahankan gaya statement-metaphor seperti ini, sungguh keren lah puisi-puisinya. ..”
M. Faizi sastrawan, kiai muda PP Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep
***
“Sajak-sajak Raedu Basha menunjukkan betapa jauh manusia modern dari Pencipta dan tampak susah-payah mencari jalan untuk bisa kembali lebih dekat.”
Natalia Laskowska ahli Indonesian Studies di Polandia
***
“Memang dan harusnya puisi ini mengantarkan perubahan paradigma dari Timur ke Barat, bukan dari Barat ke Timur…”
Faruk HT guru besar ilmu sastra Universitas Gadjah Mada
***
“Membaca puisi Hikayat Negeri Sorga bagai mengintip Madura dari filter instagram yang aduhai apiknya sekaligus menonjolkan ironi negeri. Puisi Menjelang Tahajud seperti membaca surat setia anak lanang pada ibu dan alamnya. Saya sampai berdeklamasi sendirian. Ah, aku menangis! Puisi Matapangara, Begitu dieja seperti mantra. Kuatnya kata. Disepuh lembut makna.”
Nadhief Shidqi budayawan, kiai muda Rembang
***
Editor Mahwi Airtawar Fotografi Bagas Jiddan Lukisan Kekal Hamdani Ilustrasi Clara Nugroho, Inez Kriya Janitra