"Adat muda menanggung rindu, adat tua menahan ragam.
Peribahasa di atas patutlah menjadi judul dari buku menarik karangan Bagindo Saleh ini. Menceritakan tentang kisah cinta dua remaja di zaman penjajahan Jepang. Nurlela, gadis keturunan Manado yang bapaknya disekap oleh penjajah Jepang karena diduga sebagai prajurit Belanda. Ditengah kebingungan dan juga kesusahan hidupnya kala itu, dia mendapat bantuan untuk membebaskan ayahnya dari Ahmad, seorang pemuda yang menaruh hati padanya.
Hal itu tentunya bukan perkara yang mudah karena tentara Jepang terkenal lebih kejam daripada tentara Belanda. Oleh sebab itu, dengan bantuan seseorang, Ahmad berhasil berkomunikasi Bapak Mohambing, bapak Nurlela yang sedang di penjara dalam kamp. Pak Mohambing berkata bahwa Nurlela dan ibunya harus pindah ke rumah Tuan Van der Hyde di Menteng. Tuan Van der Hyde adalah teman satu sel ayah Nurlela di Kamp yang berkata bahwa dia "mengubur" sedikit harta karun di belakang rumahnya dan berpesan agar bapak Nurlela mengambilnya untuk nanti ia pergunakan.
Sayang di sayang, rumah tersebut telah ditempati oleh Kaneko, salah satu serdadu Jepang berumur 60 tahun dan berpangkat letnan satu. Nurlela kemudian berinisiatif untuk menjadi buruh cuci di rumah itu dengan memakai nama samaran Djenap. Pekerjaan Nurlela alias Djenap tidaklah susah. Ia hanya menjadi pembantu Mak Girah-kepala rumah tangga Kaneko saja.
Singkat cerita, si Nurlela dan Ahmad mempunyai rencana. Nurlela akan mengambil harta yang terpendam dan Ahmad akan membantu Bapak Nurlela lari dari penjara saat Jendral Tojo, jendral Jepang termasyur pada saaat itu datang ke Jakarta. Si Nurlela diam-diam mengambil harta itu dan kabur dari rumah Kaneko sementara Pak Mohambing lari dari kamp tawanan karena pada saat itu penjagaan sedang tidak seketat biasanya. Pak Mohambing lari pulang, dan berkumpul dengan keluarganya. Sementara sesudah reuni yang membahagiakan tersebut, Ahmad memimpin keluarga itu untuk pergi dari Jakarta. Sampai akhirnya mereka tiba di Medan setelah lama melalu Singapura dan tiba di Pelabuhan Belawan. Ibu Nurlela minta mereka singgah ke Jalan Puri baru mereka akan mengunjungi keluarga Ahmad. Tak disangka, ternyata Ibu Nurlela yaitu ibu Fatimah mempunyai rumah di sana. Hal lain yang menggembirakan adalah pada akhir cerita disebutkan bahwa keluarga si Ahmad yang pada awalnya meminta Ahmad untuk menikahi wanita lain, pada akhirnya mau menerima Nurlela sebagau menantu karena ternyata keluarga Nurlela merupakan famili mereka.
Saya jujur sangat menyukai buku Bagindo Saleh ini karena disamping bahasanya yang khas, jalan ceritanya yang tidak "njlimet" buku ini juga menceritakan jalinan cinta yang romantis tanpa terkesan murahan. Saya menyukai perkataan Nurlela ketika dia rindu kepada Ahmad..
“Aku merindukan dia, dan ia merindukan aku pula. Penyakitkah cinta rindu iti? Memanh, orang menamakan rindu suatu penyakit. Tapi aku merasa,menanggung rindu inilah yang seenak-enaknya dalam hidup manusia. Merindu kekasih yang merindukan kita pula. Aduh senangnya! Betul kata pepatah: Adat muda menanggunh rindu! Tiap-tiap pemuda dan putri yang cantik, kalau tidak menanggunh rindu, hidupnya hampa tak merasai lezat murninya perasaan masa mida. Cinta rindu dendam itulah pakaian anak muda. Suatu nikmat yang tak ada tandingan nilainya.” -Nurlela, Adat Muda Menanggung Rindu karya Bagindo Saleh, hal. 90-91.
Saya juga sangat menyukai sosok Ahmad yang karena cintanya dia rela untuk mengorbankan apa yang ia punyai untuk Nurlela tanpa mengharap imbalan apapun,
“ Aku akan terus bekerja untukmu sampai cita-citamu tercapai dan bapak keluar dengan selamat. Ingin engkau mengetahui sebab aku demikian? Terus terang aku katakan, kecantikanmu meliputi segala sukmaku, aku tak kuasa bercerai lagi. Biar aku jauh dari padamu, tapi hatiku terikat kepadamu. Cintaku hidup dalam hatiku seperti dian yang tak kunjung padam. Hatiku merindu dijalin kasih sayang. Bagimu tentu tak terasa, apa yang kurasai…” Ahmad kepada Nurlela dalam buku Adat Muda Menanggung Rindu karya Bagindo Saleh, hal. 80.
Hal lain yang membuat saya jatuh cinta kepada sosok Ahmad adalah ketegasannya sebagai lelaki. Dia tetap saya setia kepada Nurlela dan tetap memilih Nurlela meski Tengku Mahmud, ayah si Ahmad telah menjodohkannya dengan Siti Asma. Saya langsung "meleleh" begitu si Ahmad berkata bahwa ia menolak ide ayahnya untuk hidup berpoligami, akrena itu akan menyakiti istrinya.
“Jadi anakda akan beristri dua?” “Ya, apa salahnya?” “Tak mungkin, pak, maafkan anakda. Beristri dua anakda tak pandai. Itu pangkal perselisihan ,bunga perkelahian, menyakitkan hati perempuan. Anakda tak suka berbuat begitu, anakda tak mampu menyakiti hati istri,” kata Ahmad - Ahmad kepada bapaknya, Adat Muda Menanggung Rindu karya Bagindo Saleh, hal. 119.
Disamping keromantisannya, buku ini juga mengandung pesan moral yang disampaikan melalui karakter-karakternya. Seperti contoh dalam karakter ibu Fatima yang berpesan kepada Nurlela, anak gadisnya..
“Itu benar! Itulah sebabnya ibu peringatkan anakku supaya berjalan peliharakan kaki, berkata peliharalah lidah. Petunjuk orang tua-tua ini jangan engkau sia-siakan…kalau ada kejadian kurang enak atas dirimu dalam pergaulan, sudah cukup bagi ibu akan membuangkan diri, lari darimu. Biar mati berkalang tanah, daripada menanggung….Ibu tak suka anak ibu bercela namanya biar sebesar rambut dibelah tujuh.” -Ibu kepada Nurlela, Adat Muda Menanggung Rindu karya Bagindo Saleh, hal. 88-89.
Oleh karenanya, saya berharap bahwa buku-buku menarik seperti ini dapat dicetak ulang kembali. Dan pantaslah buku ini mendapat 4 bintang dari 5.
Catatan: Review ini tidak dimaksudkan untuk membantai, menjatuhkan, atau membuat pihak terkait dan pihak tertentu tidak nyaman, namun review ini saya tulis sebagai bahan refleksi perasaan saya setelah membaca dan dalam posisi atau porsi saya sebagai pembaca yang mau jujur mengungkapakan apa yang dibacanya. Matur nuwun.
Review in Indonesia {LAGI-LAGI BUCIN] . Tidak cukup dengan kebucinan Zainudin dan Hayati di Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, lagi lagi aku kembali menyelami kisah bucin era Jadoel seorang Ahmad dan Nurlela dalam kisah "Adat Muda Menanggung Rindu" karya Bagindo Saleh. . Berlatar di Indonesia era penjajahan Jepang, seorang gadis bernama Nurlela harap-harap cemas menanti ayahnya yg tidak kunjung pulang. Ditengah kegalauannya itulah muncul seorang pemuda bernama Ahmad yg menyampaikan kabar menggemaskan mengenai ayahnya. Masih hidup, tetapi terlunta, merekapun mencari siasat untuk keselamatan ayahnya. Disinilah benih benih cinta tumbuh di dalam kerasnya penderitaan bangsa Indonesia di tangan penjajah Jepang. . Tidak setragis ataupun se-mellow kisah tenggelamnya kapal Van der Wijk, tetapi nuansa yg tergambarkan di sini cukup suram dan penuh dengan penderitaan. Kita bisa mengetahui dengan baik apa yang terjadi di Indonesia selama masa penjajahan Jepang, mulai dari berbagai bentuk penjarahan, perampokan, dan warga yg kelaparan hingga harus makan keong sawah. Karakter utama disini juga tergambar dengan cukup menarik. Interaksi antara Ahmad yg konservatif tetapi open minded, dan Nurlela yg liberal tetapi patuh pada orangtua cukup lucu dan menggemaskan. Bahasa yg digunakan di buku ini, meskipun dengan ejaan lama, tidak terlalu puitis apalagi berbunga bunga, sehingga lebih cocok untuk pembaca yg baru mengenal sastra klasik. . Untuk pembaca umum, meskipun tidak sepopuler tenggelamnya kapal Van der Wijk, buku ini lebih kurekomendasikan karena bahasa dan konfliknya yg lebih mudah dicerna. Rating personal 8/10