Konflik politik di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) bukan sekadar latar novel ini, tetapi juga inti cerita. Meski menjadikan gejolak politik lokal sebagai pokok cerita, naskah ini tidak terperangkap pada reportase jurnalistik. Ia menghadirkan seorang mantan tentara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang pulang ke kampungnya dan menemukan kenyataan-kenyataan yang tidak sepenuhnya bisa ia terima. Ada harapan yang tidak terpenuhi tetapi juga ada keajaiban yang datang tanpa diminta. Disampaikan dengan gaya reportase yang tidak kering, novel ini dengan sabar membangun peristiwa demi peristiwa tentang tema-tema lokal yang sangat politis. Pengalaman romantis yang membayang samar di akhir naskah ini adalah sejumput harapan di tengah segala yang begitu mengekang. Benturan antara banyak kepentingan dan karakter, dengan amunisi konflik politik lokal, bukan hanya membuat naskah ini sebagai naskah novel politis tetapi juga memberi humor yang baik.... (Dewan Juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016)
ARAFAT NUR adalah penulis penting Indonesia yang riwayat kehidupannya sendiri mirip kisah fiksi. Dia tumbuh dan besar di tengah gejolak politik, perang (konflik) panjang yang melanda Aceh yang menyebabkannya beberapa kali hampir terbunuh. Tahun 1999, saat kecamuk perang meningkat, Arafat yang masih remaja diculik sebuah kelompok yang mencurigainya sebagai mata-mata karena menulis puisi dan cerpen. Dua orang meringkus ke tengah hutan, dan di pinggir sebuah sungai dia hendak dibunuh. Jika saja tidak ada pertolongan dari organisasi kemanusiaan yang mengetahui hal itu, mungkin dia tidak sempat menulis novel dan namanya tidak pernah dikenal orang.
Tidak lama setelah terbebas dari penculikan, rumahnya dibakar habis berserta seluruh isinya, menyebabkan dia, ayah, ibu, dan empat adiknya tidak punya lagi tempat tinggal. Ayahnya yang sejak lama jatuh sakit, mengasingkan diri ke kampung asalnya di Ulee Gle. Sedangkan ibunya meninggal dunia dalam keadaan sakit dan kelelahan akibat menghindari perang yang tak ada habisnya. Dalam situasi kacau seperti itu, Arafat bertahan menamatkan SMA, lalu bekerja serabutan untuk menghidupi dirinya sendiri. Beberapa kali dia pernah terperangkap dalam perang terbuka yang hampir membunuhnya. Pada peristiwa lain, dia diancam komandan militer di tengah enam ratusan prajurit bersenjata lengkap akibat tulisannya yang muncul di surat, dan di lain waktu dia dipukuli oknum polisi yang lagi mabuk di Pajak Impres Lhokseumawe.
Seusai perang, tidak lama setelah pemberontak berjabat tangan dengan pemerintah, dalam kehidupan tidak menentu, miskin, dan kurang makan, dia bersikeras menyelesaikan novel Lampuki (Serambi, 2011) yang tiga tahun kemudian selesai. Novel itu memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010, lalu meraih Khatulistiwa Literary Award 2011. Terbitnya Lampuki menyulut kemarahan pihak tertentu yang menghujat dan mencaci-makinya, mereka melempari rumahnya dengan batu, dan beberapa kali peneror sempat mendobrak pintu rumahnya. Namun, Arafat berhasil melarikan diri sampai kemudian penjahat yang hendak memukulnya itu tidak muncul lagi.
Empat tahun berselang, novelnya Burung Terbang di Kelam Malam (Bentang, 2014) terbit, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul A Bird Flies in the Dark of Night. Berselang setahun, dia menerbitkan novel Tempat Paling Sunyi (Gramedia, 2015) yang semakin melonjakkan namanya sebagai novelis penting di Tanah Air. Tahun 2016, Arafat kembali memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta melalui novel Tanah Surga Merah (Gramedia, 2017) yang mendapatkan tanggapan baik dari pembaca, termasuk mereka yang sebelumnya tidak menyukai karya-karyanya. Novel terbarunya, Bayang Suram Pelangi direncanakan langsung terbit dalam edisi bahasa Inggris di Amerika.
Pembaca dapat berintereaksi langsung dengannya melaui twetter di @arafat_nur. Kunjunganilah lampukinovel.blogspot.com/
"Tolong jangan paksa aku membaca buku. Aku ini orang aceh yang tidak suka baca buku. Kesukaanku adalah menipu... Aku orang Indonesia .. Orang Indonesia juga tidak suka buku. Kami ini keturunan orang yang dijajah Belanda dan Jepang. Kami tak suka buku, Kami suka menekan dan menyakiti orang.." (Halaman 98)
3,3 dari 5 bintang!
Dari segi ide saya sudah tertarik dengan isunya yang mengangkat tema tentang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dimana Partai Merah yang berkuasa dan menjadikan hidup rakyatnya semakin melarat dan disinilah sosok Murad buronan yang dicari-cari yang tampil kembali menjadi sosok pahlawan untuk membela ketidakadilan didepan matanya tersebut.
Saya menyukai sentilan yang ditulis oleh Penulis mengenai membaca buku dan betapa negeri ini lebih mempercayai ilmu sihir ketimbang ilmu pengetahuan. Yang sebenarnya tanpa kita sadari hal itu benar-benar nyata terjadi dalam lingkungan kehidupan kita sehari-hari. Tidak usah jauh-jauh ke Aceh di kantor saya sendiri yang notabenenya masih berlokasi di Pusat Jakarta Selatan saja yang suka membaca buku hanya 3-4 orang di dalam satu divisi ya. Bahkan ada yang membaca buku dalam setahun hanya sekali =___=a Apalagi kalimat "wajar saja Aceh tidak akan pernah maju penduduknya tidak ada yang gemar membaca yang ada malah gemar menipu dan rakus akan kekuasaan" secara tidak langsung itu seperti menyentil isu membaca di negeri ini
Sayangnya endingnya dibuat gantung atau sengaja dibuat open ending seperti itu kali ya agar pembaca bisa menafsirkan apa yang selanjutnya akan dilakukan atau dihadapi oleh Murad?
"Beginilah buruknya wajah peradaban bangsa yang terpuruk, miskin, dan bodoh ini, sampai-sampai banyak yang beranggapan bahwa membaca itu hanyalah pekerjaan sia-sia yang tidak ada pahala. Pendapat ini semakin menyeret mundur lebih jauh, sampai-sampai mereka lebih menyukai dan mengamalkan ilmu guna-guna daripada ilmu pengetahuan. Lebih memilih sibuk menyakiti sesamanya lalu merasa bahagia mendapati orang lain celaka" (Halaman 99-100)
Cerita penuh yang kosong. Kalimat seperti, "Ganjil yang ajaib," atau "Rumit yang membingungkan," lumayan membuat buku ini berputar-putar menjadi tebal. Repetisi yang mengganggu dan tidak membawa ke mana-mana.
Kisah baru menarik di halaman 206, sebelum itu rasanya... Mau apa, sih, Murad ini sebenarnya?
Saya harus akui bahwa tema yang diusung adalah tema yang seksi. Mungkin ini yang menjadikan naksah ini sebagai unggulan DKJ 2016. Tetapi, kalau boleh memilih, saya lebih suka Tempat Paling Sunyi. Mengapa? di Tanah Surga Merah ini flat sekali, bahkan saya berharap akan ada kejutan sebagaimana di Tempat Paling Sunyi.
Saya harus akui, saya memasang ekspektasi tinggi untuk novel DKJ yang satu ini. Pertama, karena tema GAM sudah terlalu sering dieksplore oleh Arafat Nur, sehingga harusnya novel yang ini, yang baru, dia punya konsep yang lebih segar. Terlebih masuk unggulan DKJ, jadilah saya pasang ancang-ancang yang tinggi untuk novel ini. Kedua, saya cukup terpuaskan dengan elemen surprise yang ada di novel sebelumnya, Tempat Paling Sunyi. Maka kudunya di novel ini elemen-elemen surprise dihadirkan lebih banyak dan lebih aduhai.
Dan, mungkin ini saya saja sebagai pembaca, merasa bahwa gerundelan penulis terasa sekali dalam buku. Dia mengkritik sana-sini. Dan seteru soal Partai Merah hanya menjadi lip-service di depan. Apalagi saat Murad sudah menjadi Teungku, ini benar-benar mengalihkan fokus penceritaan.
Mereka yang berjiwa bandit malah menjadi raja, dipuja-puja, dan diberikan kekuasaan. Jika tidak berbuat jahat, tidak menindas sesama, dan tidak menipu rakyat; jangan harap bisa jadi penguasa -Tanah Surga Merah, halaman 55.
"Tolong jangan paksa aku membaca buku. Aku ini orang Aceh yang tidak suka baca buku. Kesukaanku adalah menipu."
"Aku orang Indonesia. Orang Indonesia juga tidak suka buku. Kami ini keturunan orang yang dijajah Belanda dan Jepang. Kami tak suka buku. Kami suka menekan dan menyakiti orang." (P.98)
Biasanya, masalah yang kerap mereka bincangkan hanyalah seputar proyek, jabatan dan perempuan. Biarpun sudah menjadi anggota dewan dan pejabat terpandang, sifat kekanak-kanakan mereka tak pernah berkurang. Inilah yang terjadi bila orang-orang rakus dan bodoh menjadi penguasa negeri. (P.13)
Tanah Merah Surga sebuah buku yang berlatar Aceh setelah masa damai tahun 2004. Melalui Murad, mantan pejuang kemerdekaan aceh dan mantan anggota partai merah bertutur tentang kehidupannya dan kehidupan teman-teman seperjuangannya. Buku ini terasa nyata bagi saya dibeberapa bagian walaupun buku ini adalah fiksi. Ada beberapa hal yang masih relevan dan mungkin masih terjadi di Aceh. Membaca bab Partai Tuhan Aku langsung ingat dengan salah satu kampanye cagub Aceh kemarin. Buku ini bukan hanya tentang politik tapi juga penuh dengan kritik sosial. Seandainya endingnya nggak gantung gitu, aku pasti ngasih 5 bintang. Btw, penulis berani banget dalam menjabarkan beberapa hal dan beberapa tokoh walaupun namanya disamarkan tetep agak ketebak dan bikin ketawa miris, butuh kelanjutannya niiihhh.
Agak bosan. Ceritanya penuh, tapi kosong rasanya. Hanya sibuk menceritakan tentang kehidupan Murad aja. Cuma narasinya memang bagus dan ternyata memang se-detail itu. Sudah ciri khas ternyata. Yaaa, kalo gampang bosan ini bakal susah sih. Bukunya slow pace banget.
Seorang mantan tentara gerakan GAM menjadi sorotan yang membuat buku ini menarik. Penggambaran situasi Aceh pasca GAM menurutku lumayan memperlihatkan sisi prihatin. Banyak warga Aceh yang membenci kegiatan membaca. Terlahir menjadi generasi buruk, bodoh dan miskin yang membuat kegiatan membaca terlihat sangat sia-sia. Aku suka bagaimana penulis mengkritik isu literasi di tengah situasi Aceh yang gonjang ganjing. Tapi penggambaran suasana tegang, penuh kekejaman, penyiksaannya kurang terasa, membuat buku ini lebih slow pace.
Tujuan Murad pulang kampung seperti perjalanan pulang tanpa tujuan. Murad ingin memperlihatkan bahwa kampungnya berubah mengenaskan, tapi pergerakan Murad sendiri kurang jelas tujuannya mau kemana dan mau apa. Murad sendiri justru ketakutan dan sibuk melarikan diri dari kejaran tentara, yang membuat perjuangan Murad jadi kurang terlihat. Sehingga membuat tokoh Murad hanya sebagai buronan berdosa yang patut dibunuh. Murad lebih ingin mengkritik situasi sosial di Aceh tanpa membuat perubahan apa-apa.
Endingnya itu looh ... gantung. aku berharap perjalanan Murad di kampung 'aneh' yang jauh dari agama itu memunculkan kejutan yang WAH, tapi ternyata ceritanya dipaksa skip dan selesai begitu aja. Mungkin ada kelanjutannya?
Novel yang berlatar belakang konflik politik di Aceh ini membuat ku semakin pensaran dan semakin membuka mataku bahwa konflik2 di negara kita itu masih terus ada tenyata. Dengan menceritakan tokoh utama yang bernama Murad seorang mantan gerilya tentara yang telah menembak mati seseorang, yg membuatnya terus menerus di untit dan dicari keberadaannya. Hingga ia mengalami berbagai peridtiwa di luar nalar. Di akhir bab ini Murad terpaksa menjadi seorang Teungku, kalau di Aceh ini berarti seorang ulama atau pemangku agama yang di hormati oleh masyarakat. Karena menjadi Teungku itu Murad mendapatkan kejadian2 diluar nalar, hingga pada akhirnya ia bertemu dengan seorang gadis yg menarik perhatiannya.
Tetapi menurutku, di ending tuh kurang puas karena kayak nge gantung gituu ceritanya😓 dan sebenarnya aku masih ingin mengetahui banyak hal dari cerita di novel ini, tetapi gara2 endingnya yang kurang gimana gituu, jadi ya aku ngasih rating 4/5 untuk novel ini.
well, not my cup of tea tbh. 😌✌🏼 cuma salut sama rasa persahabatan temen-temennya Murad yang tidak main-main.
nggak suka sama Murad. udah tau masih diburu eh malah pulang. ngebahayain temen-temen dan keluarganya udah gitu ngrepotin demi menikmati kampung halamannya tok? apa itu sepadan? kukira dia pulang tuh berusaha mau bikin nama-nya ngga jd buronan lagi.. tapi malah nggak jelas mau ngapain.
hobi ngritik dan nyindir seakan-akan dirinya orang paling bermoral tapi kenyataanya? (dia nyindir orang pacaran tp dia ngajak anak kecil nonton kucing yg mau wleo-wleo? -_-). hobi ngeluh juga. apalagi pas jadi Teungku itu. udah ditolongin, tapi masih marah² sama yang nolongin. emang nggak habis pikir. (i know hidupmu susah bang, tapi dengan sifatmu yang kaya gitu aku jd hilang respek)
endingnya astaga. kenapa ngga dr awal aja dia ketempat itu, kan mempersingkat waktu tanpa ngebayahain & ngrepotin temen²nya.
Konflik batin mantan pejuang GAM di tengah pelarian menuju kehidupan normal dan berusaha lepas dari jerat tragedi masa lalu. Terbungkus konflik fisik dalam usaha kembali ke tanah kelahiran, sekaligus perjalanan dalam proses penerimaan dirinya oleh mereka yang sedarah di atas bumi pertiwi. Aceh, Serambi Mekah, keremajaan dan santunnya budaya, menjadi bulan-bulanan bagi mantan pejuang kemerdekaan penikmat kursi pemerintah. Lupa akan impian bersama pada kemerdekaan hakiki. Hingga tak sadar, bahwa sumber hidup yang menjadi incaran dan penuh kontroversi bagi dunia, tertanam cukup subur di relung-relung rahasia di tanah Nangroe. Gerakan, perjuangan, romansa, dan ganja.
Ini buku Arafat Nur yang pertama kali saya baca, pantas jadi pemenang lomba novel DKJ. Ceritanya tidak jauh dari Aceh, dan tetap kutipan satire dan menyentilnya itu lho. Kutipan menyentil pun tidak jauh dari keadaan kebanyakan anak negeri ini tidak suka membaca :)
Judul Buku : Tanah Surga Merah Penulis : Arafat Nur Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Terbitan pertama 2016 Halaman : 312 ; 20 cm ISBN : 6-17-1-73-001
Ini novel Arafat Nur pertama yang saya baca. Novel ini juga menjadi pemenang unggulan sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2016.
Kisah dalam novel ini diceritakan dari sudut pandang pertama seorang pria bernama Murad. Murad ini adalah mantan tentara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang pulang ke kampung halamannya setelah hidup dalam pelarian selama lima tahun lebih. Sebelum kesepakatan damai antara pemerintahan RI dan GAM terjadi, Murad ini adalah pimpinan pasukan gerilyawan yang sosoknya dipuja, ditakuti, sekaligus disegani oleh rekan-rekan seperjuangannya. Dia dan rekan-rekannya jua lah yang menjadi penggagas terbentuknya Partai Merah yang nantinya akan mendominasi kekuasaan politik di tanah Aceh. Namun, sebuah peristiwa nahas menimpa murad yang membuat keadaannya berbalik menjadi penjahat, menjadi buronan polisi dan Partai Merah.
Sebenarnya Murad bisa saja hidup tenang dan bahagia setelah melarikan diri dari Aceh. Akan tetapi, kecintaannya pada tanah surga tempat kelahirannya membuat Murad selalu ingin kembali. Ada sesuatu yang belum tuntas dan ingin Murad selesaikan. Ada sebuah misi dan perjuangan yang harus kembali ia tegakkan dan luruskan. Nah, di sanalah Murad berada. Kembali ke kampung halamannya. Di sana pula perjalanan berat, ganjil, juga mistis menyambut kepulangannya.
Ketika membaca bab pertama buku ini, kita langsung disuguhi oleh konflik yang mendebarkan. Sungguh membuat betah dan ingin lanjut membuka halaman berikutnya. Konflik politik yang terjadi di Aceh menjadi menjadi latar sekaligus inti cerita dalam novel ini. Penulis mampu menyampaikan kondisi politik juga konflik sosial yang terjadi di sana dengan baik dan cukup menarik.
Sebelum membaca buku ini aku berpikir bahwa di Aceh sana keadaannya baik-baik saja. Sebuah wilayah yang damai dengan nilai-nilai religiusitas yang tinggi. Warganya hidup tentram berdampingan dengan syariat islam sebagai pondasi kehidupan. Ternyata bayangan itu tidak sepenuhnya benar. Bahkan saat membaca halaman-halaman yang lebih jauh, aku mendapati begitu banyak fakta yang membuat dada sesak. Kekuasaan yang sewenang-wenang, kekayaan yang hanya dikuasi segelintir orang, dan lagi-lagi banyaknya konflik kepentingan dalam lingkup politik yang menaungi Aceh. Sedikit banyak yang terbayang dalam benakku adalah Indonesia saat baru merdeka dan kekuasaan berada di tangan partai Komunis.
Pada bab kedua sampai akhir babak pertama di buku ini memang aku merasa agak membosankan dan terlalu bertele-tele. Terutama bagian saat penulis menyampaikan keseharian Murad yang menumpang di rumah rekannya. Sampai akhir babak kedua pada cerita ini aku berharap bisa menemukan motif kuat Murad yang katanya ingin kembali ke hutan dan bergerilya, tapi belum juga aku temukan. Aku juga tidak melihat usaha Murad untuk mewujudkan keinginan itu. Selain mengajak satu rekannya untuk kembali, setelah mendapat penolakan ya sudah. Tidak ada usaha lain lagi. Pasrah dan seperti tidak ada kelanjutan dari rencana itu. Juga terlalu banyak karakter yang muncul dengan konflik masing-masing akhirnya hanya mendapat porsi yang sedikit. Kurang kuat.
Aku lebih merasa kalau Murad kembali ke Aceh ini hanya untuk sekadar napak tilas dan ingin mengenang kembali perjuangan serta memeriksa hasil kerja kerasnya selama menjadi pasukan gerilyawan, lalu dia kecewa dan malah dikejar-kejar mantan rekan-rekannya.
Dan aku kesal, juga kecewa pada Murad. Harapan aku cukup tinggi pada karakter Murad ini. Dia ini kan mantan tentara GAM, pernah gerilya ke hutan-hutan terdalam Aceh selama bertahun-tahun. Tapi kok ya masak bela diri saja tidak bisa? Minimal kan dia punya kemampuan bela diri dasar. Menghadapi dua sampai tiga orang harusnya bisa lah ya. Tapi ini si Murah terus saja babak belur saat di hadang orang-orang Partai Merah. Meninju dan menendang dengan asal. Kentara sekali ia tak bisa bela diri.
Pada penghujung babak kedua, aku menemukan sesuatu yang menarik. Ide penulis untuk menghadirkan karakter Tengku Jabar Sallam yang mencari sedekah dari orang-orang di pasar dengan cara berceramah. Bukan sekadar menadah tangan dan meminta-minta. Nasihat-nasihat satir yang disampaikan si Tengku cukup membuatku tertawa sendiri. Rasa humor itu semakin kental sampai memasuki babak ke tiga.
Ditutup dengan pengalaman romantis di akhir bab. Seakan ingin meninggalkan kesan manis bagi pembaca agar berimajinasi sendiri tentang akhir cerita. Tentang perjalanan Murad yang masih panjang.
Kutipan yang aku suka dalam novel ini :
“Aku mengangguk-angguk pelan, berpikir bahwa ada suara rusak yang berasal dari rumah ini pada pemilihan umum mendatang. Penipuan yang berlarut-larut dilakukan pemerintah membuat rakyat sulit percaya. Untuk menyelamatkan kertas suara agar memiliki satu lubang yang tepat, maka yang dibutuhkan adalah uang. Maka, partai terkayalah yang bakal menang!”
Tanah Surga Merah karya Arafat Nur jadi buku kedua yg selesai aku baca di bulan februari. ini jg buku kedua karangan beliau yang aku baca setelah Lampuki.
buku ini berlatar belakang konflik politik di Nangroe Aceh Darussalam. bercerita ttg Murad, mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang memberanikan diri utk pulang ke kampung halamannya. Murad harus mengubah penampilannya agar tidak dikenali karena orang-orang yg masih mencarinya. kepulangan Murad ke Lhamlok berdekatan dgn pemilihan umum sehingga menimbulkan kecurigaan besar kalau Murad ingin mengacaukan pemilihan anggota dewan. Aceh, sebagai tanah kelahiran Murad tak bisa menerima dirinya saat itu. perjuangan Murad utk tanah kelahirannya banyak menemui batu sandungan. menghadapi para bandit yang menduduki posisi-posisi penting dan strategis di pemerintahan.
"Tolong jangan paksa aku membaca buku. Aku ini orang aceh yang tidak suka baca buku. Kesukaanku adalah menipu. Aku orang Indonesia. Orang Indonesia juga tidak suka buku. Kami ini keturunan orang yang dijajah Belanda dan Jepang. Kami tak suka buku, Kami suka menekan dan menyakiti orang." (hlm. 98)
selain membahas soal konflik dan kritik sosial, buku ini jg menyelipkan sindiran prihal rendahnya minat baca. hal itu yg membuat Murad dan temennya, Abduh, memiliki visi dan misi utk bisa memajukan masyarakat kampungnya dgn seruan giat membaca agar terhindar dari kebodohan massal.
aku merekomendasikan buku ini utk temen-temen yg lagi nyari novel dgn latar belakang politik dan ingin mendalami kritik sosial tapi dengan bahasa yg ringan dan mudah dipahami. wajib masuk reading list! selamat menyelami cerita Murad, teman-teman!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Bagi penyuka novel yang page turner, novel ini cenderung slow pace apalagi dengan ending yang menggantung, sebab saya sendiri juga didera sedikit kebosanan di beberapa bab. Namun, alih-alih fokus pada ending dan tempo cerita, novel ini memang lebih fokus pada kritikan tajam dan keras tentang politik dan kekuasaan sebuah partai dan pemerintah setempat, yang juga kerap terjadi di negeri kita sendiri.
Selain mendapati tamparan realita negeri kita, novel ini juga membawa saya seperti berada di Aceh dengan keindahannya. Daerah yang disebutkan : Pasong, Sawang, Nisam. Dua daerah lain Lamlhok dan Klekklok sepertinya nama samaran. Ya taulah ya, novel seperti ini agak rawan.
Tokoh kecil yang saya suka di sini adalah Abduh, Teungku Jabar Salam, dann Jemala. Abduh, seorang guru yang peduli dengan literasi, hingga berani mengkritik pemerintah dengan mengadakan pementasan seni. Teungku Jabar Salam, seorang pemuka agama yang kerap menyuarakan kritikannya di sejumlah pasar. Ia disingkirkan sebab ceramahnya yang keras. Jemala, seorang remaja yang bisa membaca dan menulis bahkan bisa bahasa inggris walau tinggal di lingkungan terbelakang. Saya juga menyukai development character dari Murad ketika terpaksa menjadi teungku, yang awalnya tidak peduli dengan penduduk setempat, pada akhirnya menerima bahkan mulai mengajari pelan-pelan agar mereka mendapat hidayah. Bahkan Murad sendiri awalnya tidak rajin ibadah, menjadi rajin beribadah.
Novel ini layak kamu baca bagi penyuka novel kritik sosial - politik.
Cerita novel ini dengan latar belakang pada salah satu wilayah di NAD. Latar waktunya yaitu tahun 2014 menjelang masa pemilu. Cerita yang begitu berani menurut saya karena menceritakan tentang buruknya kepemimpinan yang dipimpin dari Partai Merah (partai yang menang pada pemilu di 5 tahun sebelumnya). Di mana para pemimpin/pejabat dari Partai Merah yang berkuasa tersebut adalah yang dulu berjuang untuk membawa Aceh pada kemerdekaan.
Tokoh utama pada novel ini yaitu Murad, mantan pengurus Partai Merah--dulunya juga seorang prajurit yang berjuang di hutan melawan pemerintah--, yang kemudian mengundurkan diri karena nilai-nilai dari Partai Merah dirasa sudah menyimpang dari nilai-nilai ketika dia dulu berjuang. Lalu dia menjadi buronan karena menembak seorang pejabat yang akan memerkosa seorang gadis. Dia kembali ke tanah Aceh setelah 5 tahun melarikan diri.
Bagi saya sendiri, novel ini mulai menarik justru ketika dia berada di Kampung Kleklok yang terpencil itu. Banyak kejadian lucu dan juga menggambarkan masyarakat kampung pada umumnya.
Sayangnya, endingnya seperti menggantung. Menurut saya kayak belum end. Entah ini bakal ada lanjutannya atau gimana. Kalau ada kelanjutannya sepertinya lebih menarik.
Agak kesulitan menceburkan diri ke dalam kisah ini, karena banyak sekali deskripsi tempat. Bagus dan menarik, tentu saja, seandainya ada tujuan yang jelas mengapa kisah itu penting untuk dipaparkan.
Tanah Surga Merah baru menunjukkan jadi dirinya di bagian tengah menuju akhir, yang aneh, segar, dan fantastis, untuk kemudian diakhiri begitu saja tanpa menuntaskan misteri dan membiarkan saya bertanya-tanya. Seperti, misalnya, mengapa Murad harus kembali ke Aceh? Sekadar rindu kampung halaman kah? Jika ya, mengapa Nissam hanyalah sekedar persinggahan? Tidak rindukah Murad pada Ibu? Hal apa yang begitu mendesak yang mengharuskan Murad pergi menemui Imran? Karena sepucuk senjata?
Kisah tentang seseorang yang pernah menakutkan aksinya di masa lalu begitu menarik perhatian. Pembaca penasaran akan berakhir seperti apa kisahnya. Dikejar-kejar oleh mereka yang pernah memiliki dendam, bersembunyi di rumah teman, berpindah-pindah tempat agar kedoknya tidak ketahuan, seluruhnya bikin hati deg-degan.
Bercerita tentang kembalinya seorang pelarian, mantan tentara GAM bernama Murad dan dominasi Partai Merah yang sedang berkuasa serta potret teman-teman Murad yang hidupnya tetap di garis kemiskinan.
Alur menarik, narasi dan deskripsi yang dituangkan cukup membantu menghadirkan situasi yang genting namun juga memikat terutama nuansa kedaerahannya.
Novel hasil dari sayembara DKJ tak pernah mengecewakan, selalu memukau.
Berlatar menjelang Pemilu 2014, novel ini banyak menyampaikan kritik sosial politik terhadap masyarakat Aceh. Melalui perjalanan Murad, mantan pejuang GAM, novel ini memperlihatkan banyak permasalahan masyarakat Aceh, terkhususnya ditujukan kepada Partai Merah, partai yang mendominasi dan berisi mantan pejuang GAM lainnya namun pada akhirnya dimabuk oleh kekuasaan dan tidak membawa kemajuan. Kritik-kritik tersebut diselingi oleh banyak unsur humor sehingga tetap membuat ceritanya tetap menarik. Namun sayang akhir ceritanya menggantung, persis seperti permasalahan politik Aceh, atau mungkin negara ini.
Sebuah kisah yang berlatar di tanah Aceh, menggambarkan masyarakat Aceh yang tertinggal dari segi pemikiran hingga perilaku yang di tunjukkan. Beberapa realita yang di ungkapkan penulis tentang orang-orang yang malas untuk membaca yang tidak hanya terjadi di mayarakat Aceh melainkan hampir terjadi pada sebagian masyarakat Indonesia. Permasalahan politik yang di angkat dalam novel ini lumayan mudah di mengerti namun juga cukup ganjil. Akhir cerita yang terkesan menggantung membuat bertanya-tanya bagaimana kelanjutan dari permasalahan yang terjadi pada tokoh utama tersebut.
Banyak kali kemarahan Murad (atau, penulis?) yang dimuntahkan dalam pengisahan menyasar elite eks-pejuang lokal Aceh pascaperjanjian damai, politisi yang arogan setelah memperoleh jabatan. Sekelebat, Arafat menunjukkan kebijakan populis Partai Merah menjelang Pemilu, yang, tentu bukan hanya terjadi di Aceh. Pelarian Murad ke Klekklok, menyiratkan abainya pembangunan di desa kecil. Dimuka Partai Merah, Murad seperti kucing jantan garang. Hadirnya Bambang dengan perangainya, menyenangkan.
Di awal aku sangat menikmati tulisan Arafat Nur yang buku ini direkomendasikan oleh temanku. Dalam perjalanan pulang dari Surabaya aku membacanya dan tiba-tiba sudah lebih dari 50 halaman saya baca. Namun, perlu beberapa hari untuk bisa menyelesaikan buku ini, karena kesibukan dan lain hal.
Tiga bintang saya berikan karena ada sedikit rasa kecewa di akhir buku ini, tidak sesuai ekspektasi saya lebih tepatnya, yang menyukai tulisan-tulisan pergerakan. Namun di akhir....
Paruh pertama cerita, Arafat Nur kehilangan ciri khasnya dalam bertutur kisah. Saat Murad mulai bersembunyilah gaya Arafat kembali, gaya cerita yang jadi alasanku baca buku ini hehe
Aku suka dengan dinamika (dan segala metafora yang digambarkan Arafat) pada bagian kehidupan Murad di persembunyian, walaupun sangat disayangkan cerita terlanjur tamat sebelum memaparkan hasil dari motivasi dan upaya-upaya Murad dari awal cerita
Unsatisfied. Kalau diminta pendapat tentang buku ini dalam satu kata, gw akan menggunakan kata itu. Nggak puas dengan keadaan, Murad terus merutuki apa yang terjadi di tanah surganya. Hingga nasib membawanya ke sebuah kampung dengan penduduk yang begitu haus akan keajaiban. Dia membenci segalanya, bahkan rakyat dungu yang dia perjuangkan nasibnya.
“Asal ada uang, semua rahasia bisa dibeli. Apalah artinya cuma kunci jawaban. itu masalah kecil!” “Kalau ingin jadi gubernur, jadi bupati, atau bercita-cita jadi wali kota, janganlah pernah baca buku!” seru temannya
Saya dibuat tertawa dengan dialog ini. Pun, terselip sebuah curhatan dari si penulis tentang hobi membaca yang masih kurang. Suka sekali dan highly recommended!
Karena Novel ini sy dpt sedikit gambaran dan alasan mengapa Atjeh yg alamnya sangat kaya tetapi tetap miskin dan tak pernh beranjak dri kebodohan, kemiskinan dan kemunafikan.
Aku gak paham kenapa Murad mesti dijadikan tengku dan mengakhiri cerita seperti itu. Kurasa tanggung.
Buku yang sangat berani menceritakan tentang Partai Merah dengan gamblang dengan balutan fiksi, apakah orang-orang Partai Merah tidak tahu adanya buku ini ? Atau mereka tahu, tapi tidak akan pernah membacanya sampai mati ?
Buku yang cukup menyita waktu, karena selalu pesaran perihal kelanjutan ceritanya. Dilatar belakangi konflik di Provinsi NAD, cukup membuat diri terus menggali, sebenarnya apa yang terjadi di Aceh kala itu?