Beda tak berarti sama. Seperti kopi dan teh. Keduanya jelas minuman yang berbeda, baik dari warna maupun rasa, tapi keduanya sama-sama mengandung kafein dan ditanam di dataran tinggi.
Begitu juga Tara dan Alvan.
Mereka berbeda, tapi bagaikan magnet, meskipun berbeda kutub tapi mereka saling tarik menarik. Alvan yakin satu hal: they will be a really, really good friends.
Tara merasa Alvan perhatian dan baik banget, tapi Tara yakin Alvan hanya menganggapnya sebagai teman.
Teman, tapi bawain bekal setiap hari. Teman, tapi rela nganterin pulang ke rumahnya yang super jauh. Teman, tapi cemburu.
Benar-benar bikin aku flashback ke masa beberapa tahun yang lalu. Kangen dengan masa-masa SMA. Boleh balik ke masa itu nggak sih?
Kisah Alvan dan Tara ini sebenarnya pernah aku lihat sendiri kejadiannya saat aku masih SMA. Hampir mirip dengan apa yang terjadi dengan Alvan dan Tara. Bedanya itu terjadi saat masa MOS, bukan kesalahpahaman saat di UKS. Interaksi yang terjadi antara Tara dan Alvan saat pertama kali bertemu benar-benar lucu. Chemistrynya juga seru. Dari nggak kenal, merasa asing kemudian malah bisa dekat dan bisa berbicara apapun satu sama lain, merasakan kenyamanan.
Alvan sebenarnya bingung antara mau mengungkapkan perasaannya kepada Tara tapi takut jika Tara menolaknya. Sedangkan Tara malah takut salah mengartikan segala bentuk perhatian Alvan kepadanya. Serba membingungkan sebenarnya. Padahal sahabat-sahabat Alvan lebih memahami apa arti pandangan keduanya.
Aku suka banget sama ceritanya, dimana Alvan yang kebingungan dalam perasaannya kepada Tara. Kalau di dalam bayanganku sih, ini Alvan mukanya udah keruh aja. Antara maju atau mundur. Susah membaca perasaan Tara juga. Apalagi saat baca konflik dan endingnya, benar-benar kejutan banget. Sampai-sampai baca dua kali biar nggak salah kalau ekspektasiku sedikit benar. Agak nyesek sebenarnya saat membaca konflik yang terjadi antara Alvan dan Tara, rasanya pingin nyubitin Alvan sama Tara buat nggak egois.
Aku suka dengan cara penulisnya menuliskan cerita ini. Let it flow banget. Bikin pembaca betah buat menikmati jalan ceritanya dan susah move on. Seperti biasa, setiap kali membaca novel romance, aku pasti langsung berimajinasi dengan tokoh-tokoh di dalam novelnya dengan visualisasi di dunia nyata. Dan sekalinya udah dapat visualisasinya, aku pasti udah dapat banget sama ceritanya, semuanya dapat deh. Gemesnya, gregetnya, feelnya. Aku juga suka cara penulis menuliskan kisah romansanya, ringan, menghibur, terlebih andil dari sahabat-sahabat Alvan benar-benar bikin cerita ini hidup. Aku suka dengan cara penulis mengenalkan Alvan dan Tara serta beberapa tokoh yang ada sesuai dengan porsinya. Keduanya adalah karakter favorit aku, eh nggak, favoritku cukup Alvan seorang. Gentlenya Alvan bikin mupeng.
“Ada yang bilang, cinta itu nggak butuh dengan kata-kata, tapi tindakan. Padahal kata-kata juga merupakan suatu tindakan.” (hlm. 226).
Ini merupakan novel Mayang Aeni yang pertama kali saya baca, secara keseluruhan saya kasih bintang 3 dalam konteks asmaranya, tetapi secara khusus saya kasih bintang 4 untuk tema kesolidan persahabatan antara Alvan dan gengnya.
Seperti dalam kutipannya tersebut, sekalipun orang berhak berkata-kata soal cinta masa SMA itu cinta monyet belaka, pada dasarnya selalu ada pelajaran berharga. Seperti kata pepatah, malu "bercinta" manalah tahu.
Novel ini tidak hanya menyoal cinta dalam bentuk seginya, tetapi juga persahabatan, dan kehangatan keluaraga--hal ini bikin iri. Dan soal kesolidan seorang kawan, sangat diuji dan menarik, benar-benar mengingatkan masa sekolah. Penggambaran kekonyolan dari kelompok cowok yang diikatkan tali persahabatan berhasil bikin saya kangen masa-masa sekolah. Pada bagian-bagian Alvan and genglah saya merasakan bahagia, dan berhasil dibikin tertawa.
Kisah asmaranya sendiri sekalipun dirasa terlalu cepat, tapi itu semua tetap masih dalam batas wajar, dan hal tersebut sangat mungkin terjadi. Namanya jodoh enggak ada yang tahu bukan? Suka duka pun belum tentu gampang diterka. Sekalipun masih ada saltik, tetapi itu masih dalam batas wajar. Di awal-awal saya sempat ragu menyelesaikan, tetapi ke bagian-bagian akhir asyik juga!
4/5⭐ Di halaman 189 dan 228, ngebikin aku kesel sama Alea kayanya grgr Alvan ngomong apa gitu (tersirat) trs tiba² orgnya udah gamuncul lagi. Ini ringan, yang butuh manis² mungkin ini bisa.
Aku baca di iPusnas, ada bagian si temen Alvan ngirim foto di rc grup yg muncul cuma kosong doang, jadi sempet bingung.
Karna ini terbitan 2017 dan aku baru baca sekarang, jadinya sudah agak bisa nebak. (Keseringan baca wattpad 😭)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Gue suka banget dengan novel ini. Karena plotnya mengalir dengan smooth. Lalu, chemistry antara Tara dan Alvan juga dapet banget. Tara yang dewasa cukup mengimbangi Alvan yang sifatnya easy going.