Siapa bilang dunia penerbitan hanya soal mencetak buku dan menjualnya ke pasar? Faktanya, ini adalah industri konten. Sebuah naskah bisa menjelma menjadi apa saja: film, drama seri, game, komik, paket seminar, aplikasi, merchandise, bahkan musik.
Salman Faridi, CEO Bentang Pustaka, menawarkan gagasan-gagasan baru nan segar tentang masa depan literasi dalam buku ini. Mulai dari mengaplikasikan snack culture dalam produk bacaan, merilis karya dalam bentuk lisensi Creative Commons, menelisik hibah-hibah penerjemahan ke bahasa asing, mencari “pewaris” para penulis legendaris, hingga upaya memenangkan ruang display di benak pembaca.
Tak hanya bicara tentang seluk-beluk perbukuan, Salman Faridi juga mengajak kita menyelami percikan-percikan peristiwa yang akan membuat kita semakin jatuh cinta pada bahasa dan kata-kata.
Setelah membaca bukunya Pak Edi tentang sejarah berdirinya DIVA Press, perhatian saya tertuju pada buku hampir serupa yang ditulis oleh CEO penerbit lain di Jogja, Bentang Pustaka. Selalu menarik membaca kisah di balik sebuah buku, seperti yang dikisahkan secara singkat namun berisi oleh CEO Bentang ini. Banyak hal seputar penerbitan dikulik-kulik oleh beliau, terutama terkait Peerbit Bentang. Walau model tulisannya sederhana dan pendek-pendek untuk sekali dibaca, banyak pengetahuan seputar buku dan dunia penerbitan yang saya dapatkan. Terutama, yang paling menarik adaah terkait upaya Penerbit Bentang menyambut era internet. Benarkah orang sudah tidak membaca buku fisik lagi? Apakah mesin cetak sudah tamat? Ternyata tidak. Menurut beliau, buku elektronik tidak menggantikan buku cetak, tetapi melengkapinya. Dan, penerbit yang ingin tetap eksis di abad internet ini harus mulai mencari solusi kreatif untuk merangkul dunia maya, dan bukan mengabaikannya. Sebuah bacaan nonfiksi tentang dunia buku yang asyik menurut saya. Sayangnya, bagian terakhir di buku ini menurut saya hanya terkesan sebagai penambah halaman buku supaya tebal karena yang dibahas lepas-lepas, beberapa bahkan tidak banyak berkaitan dengan buku. Tetapi, lepas dari itu, buku ini sangat layak dibaca oleh semua yang ingin tahu seputar lika-liku dunia penerbitan.
Senang, bisa membaca buku ini. Bagi pecinta buku, membaca buku tentang buku bisa membuat saya lebih paham tentang buku. Apalagi yang membuat adalah seorang pekerja buku, pemimpin salah satu penerbit besar di Indonesia, yang dari hasil buah kerja penerbit dan anak buahnya lahir buku-buku yang sudah saya baca dan saya sukai.
Saya tahu tak mudah membuat buku yang bagus. Bermutu dan laris. Pasar buku di Indonesia memang lebih didominasi oleh trend sesaat. Dimana buku berkarakter sulit mendapatkan pembaca. Meski kadang membaca buku-buku pop, saya juga turut merasa getir ketika buku-buku sastra 'berat' kurang diapresiasi di Indonesia. Dan ini memnag tantangan berat.
Mas Faridi, cukup menguasai dunia perbukuan. Tulisannya dalam dan meski ringkas namun cukup efektif. Saya suka kedalamannya. Dan tak hanya di Indonesia semata, beliau cukup banyak menceritakan kondisi di luar negeri. Buat lebih memahani dunia buku, buku ini pantas jadi salah satu pegangan.
Di awal 2017, Salman Faridi yang tulisannya akrab kita jumpai di CEO Note Bentang Pustaka menuangkan pemikirannya lewat buku yang bertajuk "50 kisah tentang buku, cinta, dan cerita-cerita di antara kita". Bermula dari editor DAR Mizan, Kang Salman saat ini menakhodai lini penerbitan Bentang Pustaka, raksasa (kalau boleh dibilang seperti itu) dari Jogja, memiliki pandangan optimis terkait industri buku Indonesia. Tulisan yang lugas, padat, dan tepat sasaran.
Haremi Book Corner mencoba merangkum apa saja hal menarik yang ditulis pencinta buku asal Bandung ini, mari kita simak bersama.
Membaca buku yang bertemakan "Aku dan Buku" seperti buku ini betul-betul mengasyikkan. Pengalaman-pengalaman personal seputar buku seperti memberi nuansa gayeng saat saya menekuni satu demi satu topik yang dibahas. Cerita-cerita soal perbukuan yang demikian dinamis berhasil disajikan penulis dengan cara menghibur sekaligus mencerahkan.
Selain menerangkan kepada pembaca, seluk beluk dunia penerbitan yang sibuk (mencari naskah, memasarkan buku baru, berhubungan dengan pembaca, memastikan buku sampai di tangan pembaca tanpa cacat, bayar tagihan juga pastinya, ini sekadar tambahan saya) dan sederet tantangan yang menyertai kelangsungan hidupnya. Kang Salman menggugah rasa penasaran kita (baca: saya) dengan judul-judul bacaan yang menarik. Di setiap tulisannya, ia mampu memetik dan menceritakan keunikan judul buku yang disebut. Sungguh publisis handal. Seperti novel karya Jonas Jonasson jurnalis Swedia, misalnya. Bagaimana serunya petualangan si Kakek Tua di cerita "100 Years Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared wajib diikuti. (Baca: Pengumpul Tawa Asal Swedia yang Terobsesi dengan Bom)
Bicara soal Bentang, dalam benak saya yang terbayang adalah penerbit yang memberikan karya "berisi" kepada pembacanya. Baik karya non fiksi dan fiksi terjemahannya harus diakui memiliki mutu yang baik. Ke depan industri buku cetak masih akan bertahan seperti yang diakui Salman Faridi, namun idealnya karya-karya "bagus" layak tetap dikedepankan. Sembari mengorbitkan pengarang-pengarang baru untuk berlaga di kawah candradimuka industri buku Indonesia.
Industri kreatif termasuk diantaranya dunia penerbitan seperti yang Salman terangkan di dalam bukunya masih memiliki ruang yang besar untuk tumbuh. Semoga lewat buku ini, makin banyak orang yang terinspirasi dan terjun ke dunia penerbitan. Tidak perlu muluk-muluk tujuannya, seperti memberikan sumbangsih intelektual (yang terkesan menggurui sekali). Setidaknya memberikan alternatif bahan bacaan yang bermakna. Apapun itu akan lebih bagus lagi bila "karya" tersebut adalah "karya" yang mencerahkan hati.
Jika Anda seorang penikmat buku yang memiliki ketertarikan dengan dunia di balik industri buku, saya rasa inilah buku yang layak masuk dalam daftar bacaan di akhir pekan.
Don't judge a book by its cover. Jadi, abaikan sampul buku ini #eh, hahaha *sungkem ke Om Salman.
Sebagian tulisan di buku pernah saya baca secara lepas (baik dari media cetak, online, atau share penulisnya di grup WA :D). Mengasyikkan! Penulis berbagi seluk beluk tentang penerbitan buku dan pernak-pernik yang berkaitan dengan buku, secara renyah tapi bergizi. Saya percaya penulis nggak menabur micin :D
Tulisan-tulisan dalam buku ini terbagi dalam dua bagian besar: Menyelami Pesona Buku dan Menziarahi Ketakjuban Bahasa. Pendek-pendek tapi bernas. Dan tentunya yang lebih menarik, karena soal buku ini disampaikan oleh sosok yang sudah belasan tahun menjadi bidan buku, dari menjadi editor hingga saat sebagai CEO Penerbit Bentang.
3 bintang + 1 bintang untuk keberanian model sampul bukunya, haha!
tak seperti taburan endorsannya, tak semua artikel yang ada di dalam buku ini bagus dan mendalam. namun saya bilang buku ini penting, sebab memberikan pandangan bagi kita tentang makna sebuah buku dari sisi penerbit. bahwa penerbit bukanlah sebuah lembaga sosial, untuk itu mereka perlu memikirkan untung rugi, namun juga... tak melulu masalah laba, tapi yang penting dari itu semua adalah konsistensi dan kualitas dari buku itu sendiri. memberikan bacaan yang menarik, bergizi dan jauh dari kesalahan cetak.
terus terang, saya suka di bab-bab awal ketika Salman Faridi berbicara tentang pasang surut dunia literasi... dan di bab akhir ketika ia mengajak kita memahami bahasa agama. so full, tampaklah bahwa pengetahuannya sangat full. he's so sexy in his mind. :D
Saya menikmati pengalaman membaca buku ini, tiap halaman selalu menyajikan perspektif baru sang penulis yang begitu kaya. Dari permasalahan dunia perbukuan hingga menyangkut ilmu pengetahuan juga keagamaan satu persatu dijelaskan dengan gaya cerita yang menarik. Tak jarang penulis menyisipkan kutipan-kutipan orang terkenal di sela-sela tulisannya. Menunjukkan ragam bacaan penulis begitu luasnya. Buku ini layak dibaca! Inspiratif!
Ini kumpulan tulisan mas Salman pertama yang saya baca. Menarik karena rasanya seolah-olah sedang diceritakan banyak hal sama penulisnya. Sebenarnya begitu juga yang rasanya saya rasakan ketika ketemu mas Salman di Bentang. Bisa cerita banyak hal yang sederhana sampai serius sekalipun, lha kalo sudah bicara yang agak serius ini yang saya suka. Pengetahuan dan pengalaman penulis sebagai CEO Bentang Pustaka sejak lama membuat semua hal tentang penerbitan dan dunia perbukuan patut diikuti.