Jump to ratings and reviews
Rate this book

Amor

Rate this book
Kamu boleh jadi percaya pada
semua hal, dan segala yang
menerimamu atau yang tidak.
Namun, ada kalanya kamu sendirian
dan tiada habis-habisnya
mengutuk nasib buruk.

Suatu hari kamu terbangun,
lalu menatap ke dalam cermin.

Kamu merasa terpencil. Kecil.
Namun, Tuhan terus memandangmu,
terus memberimu hidup.

- Puisi "Dalam Cinta"

*

Mendadak aku sulit bernapas,
kurasa paru-paruku akan rontok,
dan aku akan mati sebelum bisa menemukanmu.

Aku mencintaimu untuk hal apa pun.
Aku mencintaimu hingga rasanya
hal itulah yang bisa kulakukan sebaik-baiknya.

- Puisi "Dari Ekselsa ke Liberika (Secangkir Kopi yang Tumpah di Rumah Kita)"

*

Kumpulan puisi ini berisi 50 puisi yang ditulis dalam periode 2015–2016. Melalui puisi-puisi ini para pembaca dapat merasakan dan mendengarkan kejujuran. Sebab dengan puisi, baik penulis maupun pembaca memiliki kesempatan untuk menumpahkan kejujuran, dan semoga puisi-puisi ini dapat menghibur jiwa yang sedih menjadi jiwa yang ceria.

112 pages, Paperback

First published January 13, 2017

Loading...
Loading...

About the author

Muhammad Rajab Al-mukarrom

1 book32 followers
Write what you want to read. Think what you want to hear.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (33%)
4 stars
1 (33%)
3 stars
1 (33%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Muhamad Tegar Pratama Putra.
77 reviews3 followers
February 12, 2026
Warsa 2012, saya yang baru pindah kantor, menyambut rilisnya album Red, album musik ke-4 biduanita Amerika, Taylor Swift, yang bereksperimen mengobok-obok beragam genre di luar zona nyamannya di genre country. Hasilnya, terasa tak kohesif, bahkan kritikus musik saat itu menyebut albumnya kacau balau. Namun, di hati saya album ini adalah album nomor wahid Swift hingga hari ini, karena menggambarkan suasana hatinya saat menulis lagu-lagu di album ini yang riuh redam dengan jatuh cinta-patah hati-lalu jatuh cinta lagi.

Nah, seperti inilah rasa yang saya dapat saat menyantap buku kumpulan puisi tulisan M. Rajab Al-Mukarrom, teman dekat saya yang juga mencintai film ini. Inti puisinya pun tentang cinta (amor) yang juga dijadikan tajuk. Menariknya cinta di sini bukan sekadar cinta hetero, tapi beragam cinta khususnya cinta para queer dan para wanita yang pilu, penuh duka dan tragis.

Beberapa puisi sangat menonjol dan patut beroleh tepuk tangan, namun beberapa puisi lainnya terkadang berasa biasa saja bahkan beberapa terasa repetitif. Meski harus diakui gaya penulisan Rajab memiliki keunikan tersendiri. Layaknya Red, cinta hadir dalam segala macam rasa di sini, dari yang menggebu-gebu, terpendam, getir, penuh harap hingga yang surreal. Meninggalkan sedikit perasaan yang campur aduk lepas melahapnya.

Ditulis beberapa tahun yang lalu, saya yakin gaya penulisan Rajab seharusnya sudah jauh berkembang. Ditunggu buku-buku berikutnya, ya, Jab! Teruslah menulis.
Profile Image for Muhammad Rajab Al-mukarrom.
Author 1 book32 followers
November 18, 2025
Buku puisi pertama saya, Amor, telah terbit dan dapat dipesan melalui saya atau di sini: http://www.leutikaprio.com/produk/110...

Saya sangat berharap buku puisi ini dapat dibaca banyak orang, termasuk teman-teman sekalian. Berikut deskripsi mengenai buku ini:


Kamu boleh jadi percaya pada
semua hal, dan segala yang
menerimamu atau yang tidak.
Namun, ada kalanya kamu sendirian
dan tiada habis-habisnya
mengutuk nasib buruk.

Suatu hari kamu terbangun,
lalu menatap ke dalam cermin.

Kamu merasa terpencil. Kecil.
Namun, Tuhan terus memandangmu, terus memberimu hidup.

- Puisi "Dalam Cinta"

*

Mendadak aku sulit bernapas,
kurasa paru-paruku akan rontok,
dan aku akan mati sebelum bisa menemukanmu.

Aku mencintaimu untuk hal apa pun.
Aku mencintaimu hingga rasanya
hal itulah yang bisa kulakukan sebaik-baiknya.

- Puisi "Dari Ekselsa ke Liberika (Secangkir Kopi yang Tumpah di Rumah Kita)"

*

Kumpulan puisi ini berisi 50 puisi yang ditulis dalam periode 2015–2016. Melalui puisi-puisi ini para pembaca dapat merasakan dan mendengarkan kejujuran. Sebab dengan puisi, baik penulis maupun pembaca memiliki kesempatan untuk menumpahkan kejujuran, dan semoga puisi-puisi ini dapat menghibur jiwa yang sedih menjadi jiwa yang ceria.
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 16 books65 followers
November 17, 2025
Satu jam setelah ia berhasil menenangkan diri dengan mantra:
Hidupku baik-baik saja, tidak seburuk
apa yang kupikirkan selama ini,


ia masuk ke salah satu kamar hotel dan bertemu seseorang yang
baru dikenalnya. Seseorang itu berkata,
Kamu tidak perlu naik ke lantai dua,
aku tidak suka kamu diejek orang-orang.


Baginya, itu adalah kata-kata paling indah yang ia dengar hari ini.

-Puisi "Hal Kecil" di halaman 30.

Di banyak kesempatan aku sudah sering bilang kalau aku bukanlah penikmat puisi. Maksudnya, ya aku (sesekali) baca puisi. Tapi, puisi yang aku mudah menjangkaunya, tidak terlalu banyak menggunakan kata-kata "aneh" di tesaurus atau metafora yang hanya dipahami filsuf. Sebab, bagaimana pun, puisi adalah isi hati. Bagaimana bisa menangkap isi hati seseorang (dalam hal ini penulisnya) jika isi hati itu disampaikan dengan bahasa yang njelimet.

Beruntung, saat main ke rumah teman* aku mendapati buku ini berada di rak dan mulai melihat-lihat isinya. Satu halaman, dua halaman, terus tahu-tahu buku puisi ini terselesaikan di sela-sela obrolan dan menyantap camilan. Makanan lezat dan buku yang apik adalah kombinasi maut, bukan?

Berbagai macam topik diangkat lewat deretan puisi yang ada di buku ini. Umumnya ya tentang kehidupan dan segala hal yang menyertainya. Dengan warning 18+ di sampulnya, aku penasaran juga, sedewasa apa puisi yang disajikan di buku ini.

Terima kasih untuk tidak bicara lagi, tersebab kupingku
sudah panas, sebentar lagi akan gosong, terlewat matang oleh
ucapanmu yang merah-biru seperti nyala api. Andai saja kau
perempuan, aku mau kita saling entot, dan kita akan bergelimangan
rasa senang,
kau berkata.


-Puisi "Entot (Kata Vulgar)" di halaman 41.

Pada akhirnya, buku kumpulan puisi Amor ini menarik untuk dibaca hingga tuntas. Dan, sekali lagi, puisinya tidak bikin sakit kepala.

Skor 8/10

*Makasih Tegar atas pinjaman bukunya
Displaying 1 - 3 of 3 reviews