Jump to ratings and reviews
Rate this book

Amor

Rate this book
Kamu boleh jadi percaya pada
semua hal, dan segala yang
menerimamu atau yang tidak.
Namun, ada kalanya kamu sendirian
dan tiada habis-habisnya
mengutuk nasib buruk.

Suatu hari kamu terbangun,
lalu menatap ke dalam cermin.

Kamu merasa terpencil. Kecil.
Namun, Tuhan terus memandangmu,
terus memberimu hidup.

- Puisi "Dalam Cinta"

*

Mendadak aku sulit bernapas,
kurasa paru-paruku akan rontok,
dan aku akan mati sebelum bisa menemukanmu.

Aku mencintaimu untuk hal apa pun.
Aku mencintaimu hingga rasanya
hal itulah yang bisa kulakukan sebaik-baiknya.

- Puisi "Dari Ekselsa ke Liberika (Secangkir Kopi yang Tumpah di Rumah Kita)"

*

Kumpulan puisi ini berisi 50 puisi yang ditulis dalam periode 2015–2016. Melalui puisi-puisi ini para pembaca dapat merasakan dan mendengarkan kejujuran. Sebab dengan puisi, baik penulis maupun pembaca memiliki kesempatan untuk menumpahkan kejujuran, dan semoga puisi-puisi ini dapat menghibur jiwa yang sedih menjadi jiwa yang ceria.

112 pages, Paperback

First published January 13, 2017

3 people want to read

About the author

Muhammad Rajab Al-mukarrom

1 book28 followers
Write what you want to read. Think what you want to hear.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (50%)
4 stars
1 (50%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for Muhammad Rajab Al-mukarrom.
Author 1 book28 followers
November 18, 2025
Buku puisi pertama saya, Amor, telah terbit dan dapat dipesan melalui saya atau di sini: http://www.leutikaprio.com/produk/110...

Saya sangat berharap buku puisi ini dapat dibaca banyak orang, termasuk teman-teman sekalian. Berikut deskripsi mengenai buku ini:


Kamu boleh jadi percaya pada
semua hal, dan segala yang
menerimamu atau yang tidak.
Namun, ada kalanya kamu sendirian
dan tiada habis-habisnya
mengutuk nasib buruk.

Suatu hari kamu terbangun,
lalu menatap ke dalam cermin.

Kamu merasa terpencil. Kecil.
Namun, Tuhan terus memandangmu, terus memberimu hidup.

- Puisi "Dalam Cinta"

*

Mendadak aku sulit bernapas,
kurasa paru-paruku akan rontok,
dan aku akan mati sebelum bisa menemukanmu.

Aku mencintaimu untuk hal apa pun.
Aku mencintaimu hingga rasanya
hal itulah yang bisa kulakukan sebaik-baiknya.

- Puisi "Dari Ekselsa ke Liberika (Secangkir Kopi yang Tumpah di Rumah Kita)"

*

Kumpulan puisi ini berisi 50 puisi yang ditulis dalam periode 2015–2016. Melalui puisi-puisi ini para pembaca dapat merasakan dan mendengarkan kejujuran. Sebab dengan puisi, baik penulis maupun pembaca memiliki kesempatan untuk menumpahkan kejujuran, dan semoga puisi-puisi ini dapat menghibur jiwa yang sedih menjadi jiwa yang ceria.
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books64 followers
November 17, 2025
Satu jam setelah ia berhasil menenangkan diri dengan mantra:
Hidupku baik-baik saja, tidak seburuk
apa yang kupikirkan selama ini,


ia masuk ke salah satu kamar hotel dan bertemu seseorang yang
baru dikenalnya. Seseorang itu berkata,
Kamu tidak perlu naik ke lantai dua,
aku tidak suka kamu diejek orang-orang.


Baginya, itu adalah kata-kata paling indah yang ia dengar hari ini.

-Puisi "Hal Kecil" di halaman 30.

Di banyak kesempatan aku sudah sering bilang kalau aku bukanlah penikmat puisi. Maksudnya, ya aku (sesekali) baca puisi. Tapi, puisi yang aku mudah menjangkaunya, tidak terlalu banyak menggunakan kata-kata "aneh" di tesaurus atau metafora yang hanya dipahami filsuf. Sebab, bagaimana pun, puisi adalah isi hati. Bagaimana bisa menangkap isi hati seseorang (dalam hal ini penulisnya) jika isi hati itu disampaikan dengan bahasa yang njelimet.

Beruntung, saat main ke rumah teman* aku mendapati buku ini berada di rak dan mulai melihat-lihat isinya. Satu halaman, dua halaman, terus tahu-tahu buku puisi ini terselesaikan di sela-sela obrolan dan menyantap camilan. Makanan lezat dan buku yang apik adalah kombinasi maut, bukan?

Berbagai macam topik diangkat lewat deretan puisi yang ada di buku ini. Umumnya ya tentang kehidupan dan segala hal yang menyertainya. Dengan warning 18+ di sampulnya, aku penasaran juga, sedewasa apa puisi yang disajikan di buku ini.

Terima kasih untuk tidak bicara lagi, tersebab kupingku
sudah panas, sebentar lagi akan gosong, terlewat matang oleh
ucapanmu yang merah-biru seperti nyala api. Andai saja kau
perempuan, aku mau kita saling entot, dan kita akan bergelimangan
rasa senang,
kau berkata.


-Puisi "Entot (Kata Vulgar)" di halaman 41.

Pada akhirnya, buku kumpulan puisi Amor ini menarik untuk dibaca hingga tuntas. Dan, sekali lagi, puisinya tidak bikin sakit kepala.

Skor 8/10

*Makasih Tegar atas pinjaman bukunya
Displaying 1 - 2 of 2 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.