“Kesederhanaan gaya ceritanya menjadi kekuatan kedua novel menggetarkan hati ini –yang pertama adalah kedalaman maha cinta yang dijalin antara manusia dan anjing. Saya merasa, ini bukan perihal anjing, ini adalah kita, manusia.” (Edi AH Iyubenu, rektor Kampus Fiksi)
CARLOS adalah anjing ras Akita yang diadopsi oleh Ye Feng semenjak masih bayi. Anjing itu bukan sekadar hewan piaraan di rumah ini. Ia adalah anggota keluarga. Sejak tiga belas tahun yang lalu Carlos menemani Ye Feng tumbuh dan melalui hari-harinya. Kedekatan Ye Feng dengan anjingnya melebihi kedekatannya dengan anggota keluarga yang lain. Mereka adalah sepasang sahabat baik yang saling tergantung. Cinta melampaui segala sekat antar keduanya.
Anda bayangkan!
Maka sungguh tak masuk di akal bila disuatu hari, dalam papah dan lelahnya, ada anggota keluarga yang mengusulkan supaya Carlos dieuthanasia. Sungguh kejam, jahat –seperti tidak muncul dari lidah manusia yang disebut-sebut menyimpan hati!
Cerita anjing ini bukan sekadar novel tentang kehidupan seekor anjing, tetapi adalah kehidupan itu sesungguhnya. Sebuah cinta, sebuah hubungan batin tak tepermanai, sebuah keagungan yang denyar-denyarnya sungguh mengharukan dan mengguncang jiwa manusia-manusia yang masih merawat kelembutan hatinya. Bacalah, tahanlah air mata Anda bila mampu!
Jujur yah, buku ini merupakan angin segar bagi saya yang sudah bosan dengan cerita roman picisan yang lakonnya cewek dengan Cinderella syndrome dan hero yang menyandang status millionaire atau billionaire. Buku ini membawa saya ke bentuk cinta yang lain antara seorang lelaki dan anjingnya. Sebuah tema yang tidak biasa. Namun semakin saya membaca buku ini, semakin pula besar rasa ketertarikan saya akannya.
Menceritakan kisah tentang seorang pemuda down syndrome bernama Ye Feng. Ye Feng ini bersahabat karib dengan Carlos, seekor anjing yang diadopsinya dari tempat penitipan bertahun-tahun yang lalu. Ye Feng ini tumbuh dewasa dengan anjingnya. Dia bahkan rela untuk tidak tidur di kamarnya asalkan dia tetap dekat dengan Carlos. Singkat kata, Carlos ini didiagnosis sakit karena dia sudah tua. Anjing jenis seperti Carlos hanya mampu hidup selama 12 tahun namun Ye Feng dengan ketelatenannya mampu membuat Carlos bertahan sampai berumur 13 tahun. Semenjak Carlos sakit inilah, konflik-konflik banyak bermunculan (bisa dibaca nanti di bukunya...).
Bagi saya, buku ini sangat menarik karena menyajikan cerita yang lain daripada yang lain. Buku novel yang ditulis oleh pengarang Indonesia yang betemakan persahaban manusia dengan hewan khususnya anjing sangat jarang ditemukan. Saya hanya menemukan buku Alberthine Endah yang sama-sama menceritakan tentang anjing namun buku beliau hanya sebatas pada pengalaman-pengalaman pencerita dengan anjing mereka. Oleh karena itu,saya dari awal mengatakan bahwa buku fiksi ini merupakan angin segar bagi saya sebagai pembaca.
Terlepas dari sisi menariknya, buku ini juga masih mempunyai banyak PR (menurut saya). Sebagai contohnya; 1. Banyaknya typo yang berkeliaran dan"punctuation" yang kurang konsisten. Contohnya "A Ling. Jangan...." atau pada halaman 16 "Carlos makan. Beri vitamin." Saya tidak tahu kenapa penulis terus menulis titik. Apakah itu untuk "emphasise" sosok Ye Feng yang down syndrome dan harus ngomong terbata atau bagaimana? 2. Banyaknya kalimat yang nggak efektif dan diulang-ulang. Ah, saya tidak dapat banyak berkomentar di hal ini karena saya menyadari Bahasa Indonesia saya pun jelek sekali. hehe 3. Transisi tiap paragraf atau sub bab yang kadang kurang mulus, seperti contoh halaman 33, yang menceritakan bab baru tentang Champion. Dituliskan di halaman tersebut, sedikit penjelasan tentang Doberman yang sama sekali nggak nyambung dengan bab sebelumnya. Saya paham maksud penulis kenapa beliau memberi penjelasan tentang hal tersebut dan itu ok-ok saja sih. Tapi alangkah baiknya kalau ada sedikit "glue" yang mampu mengaitkan paragraf baru atau bab baru dengan yang sebelumnya.
Last, untuk rating? jelas belum bisa untuk memberi 4 atau 5 meskipun novel ini sangat menarik karena masih banyak PR untuk buku ini. Untuk memberi 2 juga terlalu sedikit karena cerita novel ini sangat bagus, terlepas dari transisi tiap paragrafnya yang kadang kurang mulus, storyline novel ini terlihat jelas dan gampang sekali dipahami. Jadi saya kira 3,5 bintang itu pas untuk novel ini.
Tak salah jika dibilang novel Carlos memiliki gaya penceritaan yang sederhana. Namun bukan dalam artian tak memiliki kosakata yang kaya. Erin Cipta menceritakan kisah Carlos dengan lugu, apa adanya, tapi sarat emosi. Begitu memasuki halaman pertama, pembaca belum disuguhkan konflik, tapi bangunan suasana yang langsung menghangatkan hati. Sebagai pembaca, saya langsung dapat merasakan ikatan kuat antara Ye Feng dan anjingnya yang bernama Carlos.
HERAN! TULISAN SEBAGUS INI KOK DIKASIH RATING 3.35?!
Okay, buku ini ditulis dengan apik oleh Erin Cipta, yang secara mengejutkan bahwa ini adalah novel perdananya. Cerita ini berasal dari cerita pendek yang di-novel-kan. Bahasanya sangat sederhana, temanya juga sangat sederhana, tapi sangat mengejutkan karena mampu mengaduk emosi saya. Beberapa bagian membuat saya menitikkan air mata. Awal cerita sangat menghangatkan hati, hingga akhirnya bikin patah hati. Bisa dikata buku ini "another similar to Mitch Albom" yang juga memberikan ajaran hidup tentang keluarga, kebaikan, kasih sayang, dan cinta tak bersyarat terhadap sesama makhluk hidup.
Buku ini bercerita tentang persahabatan Ye Feng seorang pemuda penderita down syndrome dengan seekor anjing yang berusia 13 tahun bernama Carlos. Berlatarbelakang keluarga menengah atas di Taiwan yang begitu harmonis.
Mungkin kalian bisa menebak bagaimana akhirnya, tapi bagi saya proses berceritanya cukup menguras emosi saya. Anda bisa ambil kesimpulan dari penamaan bab-nya, tapi saya cukup menikmatinya. Ending yang mudah ditebak tapi, proses berceritanya sangat menghangatkan hati!
Awalnya aku sempat pesimis jika novel ini akan mampu menguras emosi yang cukup mendalam, tidak seperti novel-novel roman yang bisa menghanyutkan pembacanya hanya dengan diberi sentuhan adegan manis saja. Namun yang terjadi justru di luar dugaan. Novel ini, aku katakan, selain berhasil menyampaikan temanya dengan sangat baik, juga berhasil membubuhkan elemen-elemen cerita yang berhasil bikin aku—sebagai pembaca—merasakan gejolak emosi yang luar biasa.
Hubungan antara manusia dan hewan piaraan mungkin memang sudah sering kita dengar, itu pun pasti hanya sekilas dan kesan kita terhadap hal tersebut mungkin biasa saja. Namun lewat novel ini, penulis mampu mengubah pandangan ‘biasa aja’ tersebut menjadi luar biasa dan mau tidak mau meninggalkan kesan tersendiri setelah kita membacanya. Seperti kata Pak Edi AH—rektor Kampus Fiksi—di bagian kaver depan buku ini, kekuatan utama Carlos adalah terletak pada kedalaman mahacinta yang terjalin antara manusia dan anjing. Dan, buku ini, tidak mengangkat tentang apa/bagaimana anjing itu sendiri, melainkan lebih mengarah kepada seperti apa makna kehidupan yang bisa kita petik, yang uniknya, dihadirkan bersamaan dengan kisah menarik dari seekor anjing.
Hubungan antara Ye Feng dan Carlos dibuat dengan sangat manusiawi sekali. Hal itulah yang menurutku menjadi kekuatan utama penulis dalam menyalurkan emosi yang ada dalam cerita ke benak pembaca. Berdasarkan cerita yang ada di buku ini, aku cukup berani menyimpulkan bahwa tidak ada batasan antara mana golongan manusia dan mana golongan hewan, terutama di Taiwan—negara yang menjadi latar utama cerita ini. Kedekatan yang sangat intens antar keduanya telah menyamarkan perbedaan tersebut. Beneran, cerita ini berhasil melibatkanku dengan penuh emosional. Hubungan antara manusia dan hewan yang awal mulanya sangat tidak terpikirkan, berubah menjadi sebuah kisah yang sarat akan makna dan pelajaran hidup. Sudah bisa dipastikan, Carlos menjadi novel dengan tema berbeda—yang pertama kali kubaca—yang anehnya, membuatnya aku sangat suka. Selain itu, kondisi Ye Feng yang juga digambarkan sebagai sosok kurang sempurna—baik secara fisik atau pun psikologis—juga sangat menarik rasa peduli dan simpati kita, yang mana ini turut menambah intensitas emosi yang kita rasakan terhadap ceritanya.
Selain itu, aku ingin sedikit bercerita tentang gaya hidup masyarakat Taiwan yang mampu mencuri rasa ketertarikanku. Tapi sebelum itu, perlu kalian ketahui, tidak hanya mengangkat Taiwan sebagai latar utama, namun juga tentang budaya dan keadaan masyarakatnya di sana. Semua disampaikan dengan cukup baik, tanpa menyamarkan garis utama ceritanya. Yang membuatku tertarik adalah gaya hidup masyarakat Taiwan yang cenderung kurang bisa kita mengerti sebagai bangsa Indonesia—terlebih bagi kita pemeluk agama Islam. Di sana, hubungan antara manusia dan anjing adalah hal yang umum. Mungkin hal tersebut juga kita temui di Negara kita, namun bedanya, di sana, makna ‘umum’ berarti lebih besar lagi dari yang kita kira. Anjing seolah dituankan. Banyak adegan di novel ini juga sangat mendukung kesan tersebut. Seperti keluarga Ye Feng yang sangat sedih sesedih-sedihnya saat mengetahui Carlos sakit, bahkan dukacita mereka terhadap anjing sangat besar sekali. Jika di Indonesia, seperti menangisi kepergian keluarga/saudara.
Meski di Negara kita, anjing masih belum mendapat tempat yang baik sepenuhnya, namun terlepas dari itu, buku ini berhasil menyampaikan pesan yang cukup berpengaruh. Terutama terhadap sikap kita kepada hewan piaraan yang seharusnya. Lewat buku ini pula, mata kita seolah dibuka bahwa rasa kasih sayang dan peduli terhadap hewan adalah salah satu wujud kebaikan. Mulai sekarang, ayo sayangi piaraanmu. Overall, sebagai novel debut dari Kak Erin Cipta, novel ini pantas dapat 4 bintang!
Udah kuduga kalau novel kaya gini bakal membuatku nangis bombay.
Novel ini sebenarnya sederhana. Penulisannya sederhana dan alurnya juga gampang ketebak. Jadi ya kalau mau dibilang bagus banget karena berhasil membuatku nangis tu enggak lah ya. Cuma cukup. Cukup baik untuk bisa dinikmati pembaca, terutama yang punya hewan peliharaan yang sudah dianggap seperti saudara atau anak sendiri.
Selain penulisannya sederhana, novel ini juga cuma 150an halaman. Kombinasi dari kedua faktor itu membuat novel ini cocok untuk dijadikan bacaan ringan yang bisa selesai sekali duduk. Kayanya juga cocok buat kalian yang sedang mengalami reading slump kurasa, atau juga untuk kalian yang mau kejar target jumlah bacaan heheheh.
Mungkin kalau komen dariku cuma satu. Kurasa bagian awal, bagian pengenalan tokohnya, kurang panjang. Awal masuk ke cerita Carlos sudah tua. Meskipun awalnya memang masih sehat, cuma progress sampai Carlos sakit buatku terlalu cepat. Meskipun sebenarnya ini bukan masalah besar juga sih.
Buku ini dibelikan oleh teman satu kampus tahun 2020 kalau tidak salah. Aku memilih membaca buku ini karena tertarik dengan judulnya "Carlos" yang mirip dengan nama adikku hahaha. Aku punya anabul di rumah berjumlah 2 ekor dan novel ini membuatku semakin mencintai keberadaan mereka. Aku suka hubungan antara Carlos dan pemiliknya, Ye Feng, seorang pemuda istimewa. Novel ini mengajarkanku bahwa manusia dengan hewan peliharaannya benar-benar bisa saling mengerti dan mencintai, Ye Feng mengajarkanku dengan kepolosannya bahwa keberadaan anabul tidak bisa digantikan dengan apapun. Mereka bisa menjadi teman atau bahkan saudara. Bagian yang paling sedih adalah Carlos bisa meninggal dengan tenang dipangkuan Ye Feng dan Ye Feng bisa mengikhklaskan kepergian Carlos.
yesterday, i borrowed this book on ipusnas. aku temuin secara nggak sengaja karena temanya bikin aku tertarik. also i have 3 cats dan satu di antaranya tadi pagi meninggal. 🙁
then, i read this book tonight. yah, nggak terlalu relate sama apa yang aku alamin, tapi aku berpikir kalo buku ini bisa sedikit ngobatin perasaan nggak ikhlas-ku karena ditinggal hewan peliharaan sendiri. :D
it did. a bit. not that much. it really healed me a little. so thanks a lot for writing this book. :]
Bagi saya yang punya kisah pribadi kehilangan binatang peliharaan tentu saja buku ini mengharukan. Ditambah dengan pemeran Ye Feng si anak istimewa yang sangat menyayangi Carlos, anjing kesayangannya. Bahasa yang digunakan ringan, tidak bertele-tele. Walau sudah bisa ketebak alurnya akan seperti apa, namun karna ceritanya yang ringan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat buku ini masih bisa dinikmati dan jadi bacaan ringan
Kisah sederhana yang memiliki makna mendalam. Dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak ada kejutan berarti sebab dari blurb-nya sudah bisa menduga bagaimana cerita akan berjalan dan seperti apa akhirnya. Tiga bintang.
Kisah mengharukan persahabatan antara manusia dengan peliharannya. Tapi, bagi saya yang tidak pernah punya hubungan sentimental dengan binatang, cerita ini tidak terlalu berkesan tapi cukup menyentuh. Dan gaya bahasanya yang digunakan tidak sulit, serta karakter Yefeng yang polos dan lugu menambahkan perasaan hangat dalam cerita ini.
Sejujurnya berat menulis resensi novel ini, kepalaku jadi penuh dengan Ref. Kejadian itu memang sudah bertahun-tahun yang lalu, dan aku sudah move-on. Tapi membaca cerita ini, khususnya bagi pecinta binatang, akan kupastikan kalian semua akan kembali merasakan kerinduan pada binatang piaraan kalian di masa lalu, seperti aku.
Tidak disangka, ternyata Carlos juga sakit. Seorang dokter hewan keluarga Ye Feng menyarankan agar Carlos dieutanasia (suntik mati tanpa rasa sakit) agar dia tidak terus-terusan menanggung derita akibat sakitnya diusia tua itu. (Benar-benar kisah yang mirip dengan Ref-ku! Hiks!)
Umur Carlos 13 tahun, biasanya anjing ras akita paling tua itu berumur 12, tapi karena Carlos dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang berlebih dari Ye Feng, dia mampu bertahan lebih dari itu. Ye Feng sendiri adalah pemuda berusia dua puluh enam tahun yang menyandang down syndrome. Dia tinggal bersama kedua orangtua, nenek, serta perawat neneknya yang bernama A Ling di Taiwan. Dia juga mempunyai adik lelaki yang bekerja sebagai polisi.