Jump to ratings and reviews
Rate this book

Aku dan Film India Melawan Dunia #1

Aku dan Film India Melawan Dunia: Buku I

Rate this book
Menonton film India, membahasnya, apalagi menuliskannya adalah semacam kerelaan menjadi–meminjam judul film garapan Mehmood tahun 1996 –dushman duniya ka; sang musuh semesta.

150 pages, Paperback

First published January 1, 2017

4 people are currently reading
51 people want to read

About the author

Mahfud Ikhwan

22 books75 followers
Mahfud Ikhwan lahir di Lamongan, 7 Mei 1980. Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada, tahun 2003 dengan skripsi tentang cerpen-cerpen Kuntowijoyo. Menulis sejak kuliah, pernah menerbitkan cerpennya di Annida, Jawa Pos, Minggu Pagi, dan di beberapa buku antologi cerpen independen.

Bekerja di penerbitan buku sekolah antara 2005–2009 dan menghasilkan serial Sejarah Kebudayaan Islam untuk siswa MI berjudul Bertualang Bersama Tarikh (4 jilid, 2006) dan menulis cergam Seri Peperangan pada Zaman Nabi (3 jilid, 2008). Novelnya yang sudah terbit adalah Ulid Tak Ingin ke Malaysia (2009) dan Lari Gung! Lari! (2011). Novelnya yang ketiga, Kambing dan Hujan, memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014.

Selain menulis dan menjadi editor, sehari-harinya menulis ulasan sepakbola di belakang gawangdan ulasan film India di dushman duniya ka, serta menjadi fasilitator dalam Bengkel Menulis Gerakan Literasi Indonesia (GLI).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (10%)
4 stars
26 (55%)
3 stars
12 (25%)
2 stars
3 (6%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 17 of 17 reviews
Profile Image for Indah Threez Lestari.
13.5k reviews270 followers
December 14, 2017
432 - 2017

Well, meskipun enjoy membaca kumpulan esai ini, harus kuakui selera film Indiaku berbeda dengan Mas Mahfud Ikhwan.

Meski waktu kecil sering menonton film India golongan "angry young man", aku tidak begitu suka, dan tidak merasa kehilangan ketika genre ini hilang. IMO, bisa jadi genre ini bukan hilang semata-mata karena laku dan mendunianya film roman India model Kuch Kuch Hota Hai, tapi karena genre action 80-an ala Norris-Stallone-Schwarzenegger-cs yang gayanya serupa dan dijadikan panutan juga sudah mulai menghilang dari Hollywood mulai awal 2000-an (ataupun kalau masih ada sudah tidak terlalu populer lagi).

Dan iya, aku salah satu penggemar Shah Rukh Khan, diawali tentunya dari Kuch Kuch Hota Hai. Tapi tentunya, sebagai penggemar aku juga mencari dan menonton film-film lainnya, termasuk film di mana ia berperan sebagai antagonis.

Terakhir, aku juga tidak suka menonton film-film India yang menjiplak film-film Barat. Kira-kira sama tidak sukanya lah dengan menonton film/sinetron Indonesia yang "terinspirasi" film/sinetron Jepang/Korea/Barat. Skip saja deh.



Profile Image for Akmal A..
172 reviews8 followers
August 15, 2017
Seingat aku sekitar tahun 1999 / 2000 tengah hangat filem Bollywood. Demam ini bertambah-tambah lepas TV mainkan cerita Kuch Kuch Hota Hai dan selepas itu macam-macam lagi filem Bollywood ditayangkan, Mohabbatein, Kal Hona Pyar Hai, Maan, Hello Brothers, Baadshah dan sebagainya. Lagu-lagu Bollywood menjadi halwa telinga ketika itu sama ada dihimpunkan dalam bentuk VCD Karoke, klip video atau pun dimainkan di radio. Sebagai seorang budak yang masih bersekolah rendah aku tak berapa into dengan Bollywood mungkin disebabkan jalan ceritanya yang sama romatik dan selalu teresak-esak, durasi filemnya terlalu lama, lagu-lagunya menggunakan bahasa yang sangat asing atau mungkin ceritanya kompleks untuk aku cerna ketika itu. Aku lebih kepada baca komik dan menonton anime (Dragonball, Dr. Slump dan Pokemon). Pada aku Bollywood ini ceritanya begitu sahaja; filem romantik yang penuh tangisan esak-esakan. Ternyata sangkaan aku salah lepas menonton filem 3 Idiots sekitar tahun 2012 / 2013. Walaupun aku pernah menonton Slumdog Millionaire sebelum tu, namun seperti penulis buku ini, aku tak mengkategorikan filem Slumdog sebagai filem Bollywood. Stereotaip yang melampau terhadap filem Bollywood menyebabkan aku meletakkan batas dan syarat untuk tidak menonton lagi filem-filem India walaupun ketika 3 Idiots tengah hits sekitar tahun 2009/2010 aku berkeras untuk tidak menontonnya, sampailah satu ketika kawan serumah aku yang tak henti ulang menonton filem 3 Idiots selepas frustrasi peperiksaan akhir semester di university. Kalimah “all is well” semacam zikir yang menyedap dan melegakan hati kawan aku selepas gagal menjawab dengan cemerlang subjek peperiksaan tersebut. Dari situ, aku cuba melepaskan stereotaip yang membelenggu aku terhadap filem India dan cuba menonton 3 Idiots dan ternyata aku benar-benar terpesona. Sejak dari itu, pandangan aku terhadap filem Bollywood berubah 360 darjah, dari benci kepada suka dan akhirnya telah jatuh cinta. Filem kedua Bollywood yang merupakan personal favourite adalah Highway 2014, jenis filem ‘roadtrip’ yang mana jalan ceritanya di luar dari kebiasaan. Dari situ perlahan-lahan aku cuba menggali dan menonton filem-filem India yang berkualiti.

Ikhwan benar-benar cinta dengan filem India dan ianya jelas dilihat dengan cara gaya penulisannya yang sangat personal dan details di setiap bab-bab yang cuba di jelaskan. Terutamanya tentang chapter angry young men, aku baru sedar bahawa genre ini merupakan genre yang sangat popular dimainkan di India, tidak kiralah filem itu berbasiskan Hindi atau Tamil. Kalau dalam filem Hollywood aku kategorikan filem Rambo yang mana hero mestilah yang paling kuat tipikal filem-filem Sylvester Stallone. Untuk peminat filem Bollywood, nama Aamir Khan sudah barang tentu merupakan nama yang sakral dan kalau tak keterlaluan disebutkan sebagai wali dalam scene Bollywood. Filem-filem seperti Lagaan, 3 Idiots, Taare Zameen Par, PK dan yang terbaru Dangal merupakan filem kesukaan ramai. Aku kira buku ini sesuai dibaca untuk sesiapa sahaja yang masih ada ragu-ragu dengan potensial filem India- aku bersetuju dengan penulis;-


“Saya baru sadar belakangan, film India punya arti lebih besar di hidup saya daripada yang saya perkirakan. Tak bisa dibantah bahwa itu berkah. Karunia yang besar. Jika kepala saya adalah sebuah lemari penyimpan, film India adalah salah satu harta yang tak akan pernah saya buang, seusang apa pun. Dan taka da satu pun hal yang bisa mengambilnya dari saya. Tidak rasa snob, tidak juga intelektualitas, lebih-lebih lagi pseudo-intelektualitas.” Halaman 5.

seperti yang di jadikan judul, “Aku & Film India Melawan Dunia”.



p/s : baru nak sambung buku 2.
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books99 followers
May 27, 2018
Masyarakat India punya dua agama (lainnya dianggap gaya hidup), yakni kriket dan film. Mereka sangat terikat dengan dua hal tersebut. Soal betapa pentingnya kriket bagi rakyat India, bisa dilihat dalam film Lagaan (2001). Sepak bola yang disebut-sebut sebagai olahraga paling populer di dunia, hanya mampu menempati urutan kedua di hati masyarakat India. Menyoal film, tak perlu ditanya lagi, sebab Negara Anak Benua itu merupakan salah satu produsen film terbesar di dunia.

Selain Mahfud Ikhwan, mungkin jarang ada orang Indonesia yang secinta itu dengan film India. Baginya, film India adalah berkah yang menjadikannya merasa istimewa. Antusiasme pada lagu-lagu India hingga ulasan film bergenre "Inspektur Vijay" sering ia tuangkan dalam blog pribadinya yang diberi nama Dushman Duniya Ka; sang musuh semesta—esai-esai yang ia tulis di sanalah yang kemudian melahirkan buku Aku & Film India Melawan Dunia.

Dengan menulis buku ini, Mahfud Ikhwan seolah ingin menyindir snobisme akut penonton Indonesia yang kerap memandang rendah film India, terutama bagi mereka yang terbiasa mengultuskan film-film Hollywood.

Berbeda dengan mayoritas kita yang sempat mengelu-elukan Kuch Kuch Hota Hai (1998) ketika booming, sang penulis malah membenci film Shah Rukh Khan yang satu itu. Drama cinta segitiga prominen itulah yang membuatnya vakum sejenak dari tontonan Bollywood—sebutan tidak resmi untuk sinema India. Hasratnya pada film India kembali muncul tatkala ia berkenalan secara tak sengaja dengan 3 Idiots (2009) beberapa tahun kemudian. Film yang juga secara kebetulan menjadi stimulanku untuk menonton lebih banyak film India, hingga membawa kekaguman pada sosok Aamir Khan.
Profile Image for Dedi Setiadi.
291 reviews24 followers
February 22, 2020
Walaupun pengetahuan dan referensi film India saya bisa dibilang sangat minim tapi entah kenapa membaca buku bisa menjadi sangat menarik.
Seperti sebuah memoir (?), di buku ini sang penulis bercerita tentang hidupnya dan obsesinya dengan film India (musiknya dan aktornya juga diceritakan).
Terkadang menggelitik, tapi lebih sering mencerahkan dan juga menambah referensi film India!
Lanjut buku kedua!
Profile Image for Op.
375 reviews125 followers
February 3, 2018
Membaca "blog yang dibukukan" (dengan sedikit perubahan) dgn tutur yang kusuka dan tema yang asing tapi terasa dekat.
29 reviews1 follower
June 20, 2017
“Seperti film porno, film India disukai sekaligus tidak diakui, dikonsumsi tapi dianggap terlalu kotor untuk dibincangkan, ditonton sendirian kemudian dihinakan di depan banyak orang.” (hal. 4)

Banyak orang yang sudah menonton film biru di dalam kamar tertutup. Akan tetapi, di depan teman-temannya ia akan berpura-pura sebagai seseorang yang lugu yang belum pernah melihat adegan-adegan dewasa itu sedikit pun. Begitu pula dengan film India. Banyak yang dengan rela menumpahkan air mata saat si tokoh utama berpisah dengan kekasihnya di film India atau ikut menggoyangkan pinggul saat si tampan dan si seksi bernyanyi dan berjoget mengelilingi pohon. Namun—sebagaimana film porno—tak ada yang membicarakan adegan-adegan film India dalam arisan bulanan atau obrolan ngalor-ngidul di kafe sepulang kerja. Intinya, film India adalah tontonan rendahan dan menjadi aib bagi orang yang menontonnya.

Generasi 90-an merasakan betul keadaan tersebut. Demikian pula yang dirasakan oleh Mahfud Ikhwan, si penulis yang masa remajanya disesak-penuhi heroisme film India, dan juga goyangan artisnya. Maka, menuliskan sesuatu—seremeh apa pun—tentang film India adalah sebuah keberanian luar biasa. Sebuah keberanian untuk melawan pandangan orang banyak, melawan dunia, melawan semesta. Kata penulisnya, dushman dunia ka, ‘sang musuh semesta’.

Sebelum diterbitkan, sebagian besar tulisan dalam buku ini diunggah dalam blog pribadi penulisnya yang beralamat di dushmanduniyaka.wordpress.com. Sebagai penikmat film India yang kadang-kadang malu mengakuinya, saya sudah sering bertamu ke blog tersebut. Sebagai sebuah blog, tulisan-tulisan Mahfud Ikhwan memang cenderung bersifat pribadi, bersifat intim. Demikian pula buku ini yang pembahasannya memang subjektif. Dalam bab “Thank You, India (Movies)!”, Mahfud Ikhwan memberikan tiga alasan mengapa ia menyayangi, merawat, dan membela film India. “Pertama, ia sulit didapat; kedua, ia membuat saya merasa kaya; dan ketiga, ia menjadikan saya merasa istimewa.” (hal.6)

Saya membuat resensi buku ini lebih lengkap di http://www.sukrisnosantoso.com/2017/0...
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books64 followers
December 19, 2025

"Seorang teman lewat kontak pesan di media sosial bertanya kepada saya tentang film India jenis (genre) apa yang paling saya sukai. Saya hanya bisa nyengir membaca pertanyaan itu. Itu tidak saja pertanyaan yang sulit dijawab secara langsung (apalagi dengan yakin lagi mantap), tapi juga terdengar aneh."

"Sulit karena menonton film India bagi saya tak semata aktivitas menonton, tetapi lebih kompleks dari itu. Bahkan kadang lebih kompleks dari yang bisa saya sadari. Ia campur aduk antara aktivitas mencari hiburan, mengenang masa kecil, mengaji (karena, seperti seorang santri, saya biasanya bertekat mencermati, meyakini, dan kemudian berkehendak untuk menyebarkannya), dan kadang-kadang untuk melawan dunia." Hal.121 & 122.


Sama seperti halnya Cak Mahfud (eh saya ikut-ikutan netizen aja memanggil Cak, dan semoga panggilan ini tepat dan berkenan), saya juga awalnya mengenal India ya dari film-film yang ditayangkan di televisi. Tapi, ingatan saya blass menguap. Saya nggak tahu film atau serial apa yang dulu sering saya tonton sepulang sekolah. Yang saya ingat, aktor dan aktris di film/serial itu mengenakan pakaian ala dewa-dewa (dan ya emang ada perwujudan dewa durga yakni dewa dengan banyak tangan), dan pemainnya melakukan pertarungan dan mereka akan mengeluarkan efek sinar dari tangan dan mata mereka saat memamerkan jurus.

Baru, ketika Kuch-kuch Hota Hai meledak, dan kaset bajakan dapat dibeli dengan murah, semakin banyak film yang saya tonton. Sebagian besar judulnya masih dapat saya sebutan dengan mudah, dan jalan ceritanya pun masih saya ingat. Yang sayangnya, film-film yang saya tonton itu tak banyak disebutkan di buku ini.

Tapi, ya namanya juga buku pertama ya, kemungkinan film-film yang saya tonton lebih banyak dibahas di buku kedua*. Di buku ini Cah Mahfud lebih banyak mengulik film-film yang bahkan ditayangkan di tahun 50-an. Dan, oleh karena baca buku ini pula, wishlist saya di letterboxd semakin menumpuk hwhw.


"Di tengah massa yang memuja secara membabi buta segala yang dibuat Hollywood dan histeris berat terhadap semua hal yang berkait dengan rambut kejur dan kulit langsat, film India tiba-tiba jadi semacam gambar durjana. Sama seperti porno, film India disukai sekaligus tidak diakui, dikonsumsi tapi dianggap terlalu kotor untuk dibincangkan, ditonton sendiri kemudian dihinakan di depan banyak orang." Hal.3 & 4.


Menjelang pergantian tahun ke 2026 saja, saya masih loh mendengar anggapan jelek tentang film India. Celetukan semacam, "males ah dikit-dikit joget. Kayak gak bisa lihat pohon nganggur aja." masih sering saya lihat berseliweran di sosial media.

Jika celetukan itu saya dengar langsung, maka, saya akan bersemangat untuk nanya, "kamu suka film (kayak) apa?" dan kemudian akan saya infokan film-film India dengan tema/genre serupa. Sebab, ya, udah banyak banget film India (nggak hanya Bollywood, tapi juga ke Kollywood, Tollywood, Mollywood, dsb) yang bahkan nggak ada tarian dan nyanyian sama sekali. Ya harapannya mereka mau mengenal jika film India tuh nggak sebatas yang ada di kepala mereka (atau representasi film India sebelumnya yang mereka tonton, yang kebetulan banyak jogetnya, bahkan film Homebound yang masuk short list Oscar tahun depan juga begitu).

Dan, di lingkungan keluarga, rasa-rasanya pengetahuan saya terhadap film India tuh jauh di atas rata-rata (tapi kalau dibandingin sama geng Palembang Movie Club ya saya minggi dulu hehe), dan takjubnya, pengetahuan Cak Mahfud terhadap film India tuh bikin bengong. Bukan saja cinta, tapi beliau bahkan berusaha menerjemahkan film-film tersebut agar bisa ditonton lebih banyak orang. Ya, ini level cintanya udah beda sih.

Ada banyak yang dibahas di buku ini. Dan, lagi-lagi, walau saya gak paham semua film yang dibicarakan (sebab ya belum ditonton), tapi bank wishlist saya semakin numpuk. Dan semoga beberapa di antaranya dapat saya tonton dalam waktu dekat.

Skor 8/10

*Kalau ada yang punya buku Aku & Film India Melawan Dunia Jilid 2 bolehkah saya meminjam sebentar?

** Terima kasih Rido atas pinjaman buku ini. Susah banget euy dicari bukunya >.<
Profile Image for Nourman Yafet Goro.
99 reviews7 followers
December 28, 2020
Menarik sekali pengalaman membaca blog yang dibukukan dari seorang penggila film India. Walaupun saya sendiri jarang sekali menonton film dari negara yang katanya mempunyai banyak persamaan dengan Indonesia ini.

Bagian favorit saya adalah bab Nonton India : Perjuangan Tak Berkesudahan, yang membahas bagaimana perjuangan penulis untuk bisa menonton film India. Sebagai seorang yang juga menggandrungi film (namun bukan film India), beberapa hal yang dilakukan penulis seperti memperbaiki subtitle yang kacau, pernah saya lakukan. Juga bagaimana saya mengajak teman-teman saya menonton film yang saya sukai untuk bisa membuat mereka kagum (yang pada akhirnya tidak ada yang kagum wkwk, mungkin karena beda selera), juga pernah saya lakukan. Namun hal yang saya lakukan tentunya tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang dilakukan penulis. Selain itu, bagian favorit saya adalah bab Nana dan Saya, yang membahas tentang Nana Patekar, aktor kesukaan si penulis yang cukup sulit untuk ditemui film-filmnya. Entah kenapa membaca dua bab ini terasa sangat menyenangkan.

Buku ini tidak hanya membahas tentang pengalaman penulis dengan film India, tetapi juga tentang bagaimana perkembangan film India yang terkadang terpengaruh oleh film Hollywood, dan berusaha kembali mencari keindiaannya untuk bisa menunjukan kepada penonton bagaimana kehidupan di India. Secara keseluruhan, pengalaman membaca Aku dan Film India Melawan Dunia ini sangat menyenangkan, banyak sekali pencerahan yang saya dapatkan tentang film India.
Profile Image for The Book Club Makassar.
127 reviews8 followers
Read
December 24, 2021
Mahfud membawa kenangan sinematik saya kembali seperti saat kanak-kanak dahulu, sewaktu film india mash merajai stasiun TV di Indonesia. Persis seperti yang dituliskan Mahfud, pengalaman menonton film india pertama adalah serial Hyder Ali, kisah seorang raja muslim Mysore melawan pemerintahan kolonial Inggris yang waktu itu tayang di TVRI.

Mahfud membuka dengan sedikit sinisme terhadap realitas kepenontonan di tanah air yang menurutnya menderita semacam snobisme dungu seperti yang tercantum dalam kalimatnya, "Di
tengah massa yang memuja secara membabi buta segala yang dibuat Hollywood dan histeris berat terhadap semua yang berkaitan dengan rambut kejur dan kuning langsat, film india tiba-tiba jadi
semacam gambar durjana".

"Seperti film porno, film india disukai sekaligus tidak diakui, dikonsumsi tapi dianggap kotor untuk dibincangkan, ditonton sendirian kemudian dihinakan di depan banyak orang".

*Review by Bob
Profile Image for Anggun P.W.
270 reviews91 followers
February 12, 2018
3.7 of 5 stars
Saya banyak tertawa bersama buku ini,
Saya jadi menyadari bahwa setiap orang tumbuh dengan hal yang berbeda2, ada yang tumbuh bersama kartun Disney dan adapula yang tumbuh bersama kartun jepang, dan ada yang tumbuh remaja bersama sinema bollywood ada pula yang tumbuh bersama telenovela meksiko, semua tergantung geografis dimana kamu dibesarkan.lol.

Ingatan saya sendiri samar2 mengingat kapan pertama kali saya berkenalan dengan film bollywood, yang pasti masa SD-SMP saya dipenuhi dengan nyanyian dan joget india film Mujhse Dosti Karoge, Dil To Pagal Hai, Kuch Kuch Hota Hai, Kabhi Kushi Kabhi Gham *maapkeun kalau typo* gak hanya joget dan nyanyiannya yang dihafal, kala itu juga sampai ngikuti mode pakaiannya.

Yang pasti buku ini makin membuka cakrawala saya akan sinema2 bollywood, okee sekarang mari download film yang kata penulis bagus dibuku ini~~
45 reviews4 followers
June 8, 2020
Aku dan Film India Melawan Dunia 1

Pada suatu masa, menonton film India seringkali dianggap tontonan rendahan yang tingkatannya bisa seperti menonton film terlarang. Tak boleh ramai, diam-diam, dan tak boleh dipamerkan. Pengalaman Mahfud Ikhwan tersebut ditulis dengan dramatis beserta deskripsi tentang pemain film india yang baginya patut untuk diperbincangkan. Selain itu, melalui buku, Mahfud ingin mengatakan bahwa film India sebagai bagian dari budaya populer, layak untuk diperbincangkan secara serius. Oleh karena itu, buku ini semacam cara untuk mengangkat martabat penonton film India di mana pun berada.
Profile Image for Inasshabihah.
42 reviews
October 28, 2017
Membaca buku ini membuat saya sadar, bahwa saya sudah cinta buta pada Shah Rukh Khan. Ternyata saya sudah menjadi sangat sok tahu saat bicara tentang drama Bollywood. Di balik apa yang saaya lihat, terbentang fakta-fakta yang menarik buat ditelusuri seputar sejarah perfilman Bollywood. Saya setuju bahwa Kuch Kuch Hota Hai adalah air bah, tapi Mas, Khan tetap "king" buat saya.

Terima kasih telah menulis ini. Aku padamu.
Profile Image for Nanaku.
155 reviews9 followers
April 14, 2018
Antara berusaha memahami jalan pikiran pecinta film India garis keras atau sebetulnya mencari pembenaran untuk menonton film India.
Profile Image for Pipa.
235 reviews3 followers
July 28, 2018
Jadi pengen nonton film India
Profile Image for Babra Kamal.
2 reviews
October 28, 2022
Buku keren dari Cak mahfud... Tidak menyangka ada orang yg menulis dengan detail tentang film India....salut
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 17 of 17 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.