Wu Zhao baru berusia 13 thn ketika menjadi selir tingkat ke-5 dari Kaisar Tang Tai Tsung. Mungkin karena sifatnya blak-blakan, dia tidak pernah naik tingkatan selir lagi hingga kematian Tai Tsung memaksanya harus ke biara Budha menjadi biksuni. Sewaktu Tai Tsung sakit-sakitan, Kao Tsung (anak Tai Tsung) kerap mengunjungi ayahnya sehingga sering bertemu dengan Wu Zhao (dan ada kemungkinan mereka sudah "main belakang"). Dan saat Wu Zhao menjadi biksuni, dia tetap tidak melupakan ambisinya untuk kembali ke istana.
Nasib baik menyertainya ketika Kaisar Kao Tsung mengunjungi biara Budha dimana Wu Zhao berada dan mereka bertangisan bersamaan mengenang masa lalu. Kebetulan, Permaisuri Wang (istri Kao Tsung) berkompetisi dengan Selir Hsiao, selir kesayangan Kao Tsung saat itu dimana Permaisuri Wang tidak memiliki anak alias mandul sedangkan Selir Hsiao sudah melahirkan putra untuk Kao Tsung. Takut dirinya disingkirkan oleh Selir Hsiao, maka Permaisuri Wang memerintahkan Wu Zhao untuk memanjangkan kembali rambutnya dan kembali ke istana (yang merupakan keputusan yang amat salah besar) dan langsung Kao Tsung terlena dan melupakan Selir Hsiao demi Wu Zhao. Dengan lihai nya, Wu Zhao mulai membuat pendukungnya di istana sehingga waktu Permaisuri Wang dan Selir Hsiao baru menyadari kekuatan Wu Zhao, mereka sudah terlambat dan tidak memiliki pendukung sama sekali. Wu Zhao mulai melancarkan strategi-strateginya supaya Selir Hsiao dan terutama Permaisuri Wang digeser dari kedudukannya. Walau Wu Zhao sudah mengorbankan anak perempuannya yang dicekik mati olehnya dan menimpakan kepada Permaisuri, Wu Zhao tidak puas jika blm menjadi Permaisuri (Wu Zhao sendiri masih menjadi selir tingkat dua, masih dibawah Selir Hsiao), dan perjuangannya tidak mudah karena Permaisuri Wang walaupun mandul, memiliki pendukung seperti Chang-sun Wu Chi yang mendukung kenaikan Kao Tsung menjadi Putra Mahkota juga. Tapi Wu Zhao juga tidak kalah pendukungnya sehingga akhirnya dia mendapatkan tujuannya untuk menjadi Permaisuri.
Kao Tsung yang lemah dan sakit-sakitan otomatis menyerahkan kendali kerajaan kepada Wu Zhao dan menuruti semua keputusannya (termasuk pindah ibukota negara). Walaupun banyak penentangnya, Wu Zhao terbukti cakap dan mampu menangani kerajaan Tang yang sangat luas ini dan ditambah keberhasilannya dalam invasi Korea membuat namanya makin populer. Kao Tsung yang lemah pada akhirnya meninggal juga di usia 55 tahun. Wu Zhao menjadi wali dari Kaisar Chung Tsung (anak tengahnya yang peragu) namun dia tidak puas dan mengganti Chung Tsung dengan Jui Tsung (anak bungsunya) yang sama saja seperti kakaknya hanya menjadi boneka dari ibunya.
Wu Zhao tidak puas hanya menjadi wali dan dalang dibalik layar. Dia mau menjadi kaisar wanita tapi dia memiliki banyak penentang terutama penganut Kong Hucu yang menentang wanita berkuasa di garis kepemimpinan yang diperuntukkan untuk wanita. Tapi berkat kecerdasan, kecerdikan dan kesabarannya serta dukungan dari para menteri2 nya yang cakap, akhirnya dia bisa menjadi Putri Langit (sebutan untuk Kaisar Wanita, dia pertama dan satu-satunya Kaisar Wanita yang berkuasa atas namanya sendiri dan berkuasa cukup lama selama 20 tahun). Dia berhasil menyatukan penganut Budha, Tao dan Kong Hucu sehingga tidak pernah perang satu sama lain dalam periode pemerintahnya.
Untuk mencegah para oposisinya dia membentuk polisi rahasia yang kejam dan senang menyiksa dan meneror. Wu Zhao tidak pandang bulu dalam berbuat kejam. Anaknya, cucunya sendiri pun dilibas juga yang melawan dirinya. Walau punya sikap kejam, tapi dia sangat terbuka pada pemikiran moderen dan masuk akal dan bisa menerima kritikan kecuali kritikan tentang kehidupan seksual dan haremnya. Gara-gara salah seorang haremnya ini yang bernama Hsueh Huai-I (mantan pedagang obat dan menyamar menjadi biksu Budha padahal menjadi kekasih gelap Wu Zhao), Wu Zhao sering ketiban masalah karena kekasihnya sering melakukan korupsi dan menggunakan uang negara seperti air. Karena Wu Zhao tidak mau kehilangan muka di depan pejabat dan masyarakat akhirnya dia mengorbankan Hsueh Huai-I. Wu Zhao sering melakukan hal ini, beberapa orang yang berjasa kepadanya, namun karena sikap mereka yang keterlaluan dan banyak menimbulkan skandal terutama skandal seks dan korupsi, dia tidak segan-segan untuk membunuh mereka demi popularitas dirinya di mata masyarakat.
Menjelang usia tuanya di penghujung umur 70-an, Wu Zhao makin terlena dan bersenang-senang terus dengan 2 harem kesayangannya, Chang bersaudara, yang keluarganya tidak segan-segan menggunakan kedekatan dan akses saudara mereka kepada Kaisar, untuk kepentingan pribadi. Malah Chang bersaudara ini walaupun tidak ikut berpolitik tapi bisa menyingkirkan pejabat-pejabat istana teras atas sekalipun. Akhirnya karena muak dengan Chang bersaudara, konspirasi antara berbagai pejabat dilakukan dan pada suatu malam Wu Zhao disergap ketika berada di istana bersama Chang bersaudara. Wu Zhao dipaksa menyerahkan tahtanya dan Chang bersaudara digantung dan dimutilasi.
Wu Zhao tak lama setelah turun tahta, akhirnya meninggal dunia dalam damai. Sepertinya dia sengaja membiarkan prasastinya kosong dan membiarkan kita menilai sendiri atas pencapaian dan prestasinya. Memang tidak bersih tapi memang begitulah politik apalagi pada masa lampau seperti zamannya. Seperti yang dikatakan salah seorang pendukungnya, dia diperbandingkan dengan Permaisuri Lu yg kejam pada Dinasti Han. Permaisuri Lu itu kacau namun tidak cabul, sedangkan Wu Zhao itu cabul namun tidak kacau.
Setelah kematiannya, banyak wanita di istana kerajaan Tang yang berambisi dapat mencapai prestasi seperti dia dan menjadi orang berkuasa di negeri China seperti Permaisuri Wei, Putri An Lo, Putri Tai Ping (anak perempuan bungsu Wu Zetian sendiri) tidak ada yang bisa menandingi seperti Wu Zetian. Menurut analisa saya, hal ini dikarenakan Wu Zhao lebih tergembleng di istana walau bukan lahir di istana. Dia masuk sebagai orang luar dan bekerja di istana sejak usia relatif sangat muda. Dia menggunakan kecantikan, kecerdasan dan bakat seksualnya yang menyebabkan 2 kaisar takhluk terhadapnya. Dan setelah dia memerintah dan berkuasa, dia kejam sekali tapi diimbangi dengan meningkatkan semua sektor ekonomi dan terutama sastra yang berkembang amat pesat pada masa Dinasti Tang.
Saya memberikan 4 bintang, bukan 5 bintang, kenapa? Karena buku ini terutama di awal-awal cerita terlalu banyak tetek-bengek detil-detil yang tidak perlu seperti demografi, geografi rumah kediaman Wu Zhao, istana, hubungan seksual istana dll. Kalau menceritakannya lebih ringkas, mungkin bisa lebih nyaman bacanya.
Dan kalau soal complain banyak nama yang mirip-mirip, tidak heran orang zaman dahulu kasih nama mirip-mirip. Sama saja seperti di Barat, nama raja Henry saja sudah tak terhitung banyaknya di Inggris, blm lagi di Perancis dan berbagai negara dan pelosok lainnya. Kalau kurang mengerti, baca saja Wikipedia, penjelasannya komplit koq.