Kapankah kita mau melepaskan genggaman yang menegangkan tubuh dan pikiran ini? Maukah kita berserah dan sepenuhnya percaya pada Ia yang mengatur segalanya? Kalau Ia mampu mengatur triliunan bintang di jagat yang tak terbatas, tentunya Ia juga mampu memelihara kita makhluk yang supermikro ini.
Apa gunanya seseorang mengenal begitu banyak hal dari mikroba sampai Pluto, tetapi tidak mengenal dirinya? Bukankah ia yang mengenal dirinya, mengenal Tuhan-nya?
Gobind lahir dan menghabiskan masa kecil hingga remajanya di Surabaya sebelum pindah ke Jakarta dan akhirnya menetap di sebuah desa di Bali yang bernama Ubud. Ia tidak lulus dari S1, namun sejak kecil gobind memiliki ketertarikan yang besar pada pelajaran yang bersifat informal, buatnya setiap orang adalah Guru, setiap tempat adalah sekolah dan setiap jam adalah waktu belajar. Ia senang menyebut dirinya dengan julukan Heartworker, seorang pekerja hati. Menjadi vegetarian lebih dari 20 tahun sama sekali tidak menghambat langkahnya dalam berkiprah di dunia yang dicintainya ini. gobind terus aktif berkeliling ke tempat-tempat konflik dan bencana di Indonesia dalam melakukan aktivitas sosialnya. Ia tergabung dalam berbagai organisasi dan klub sosial untuk menyalurkan kecintaannya terhadap setiap makhluk hidup. gobind menemukan kebahagiaan dalam berbagi dan memberikan apa yang Ia miliki kepada orang lain. Baginya hidup bukanlah sebuah perlombaan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya, namun, adalah apa yang bisa kita berikan kepada dunia sebelum kita meninggalkannya. Dalam seminar dan pelatihannya gobind selalu memotivasi orang lain agar terus berbuat sesuatu untuk menjadikan dunia ini tempat yang lebih indah, berpikir cerah, hidup lebih sederhana, pola makan sehat tanpa menyakiti makhluk hidup lain dan perduli pada Alam. Ia tidak menggunakan sabun, shampo, pasta gigi atau bahan-bahan yang mebebani Alam ini. Baginya Alam adalah Guru yang sudah terlalu baik yang patut kita hormati dan pelihara. Selain itu, ia juga selalu mengingatkan bahwa memiliki kesempatan hidup sebagai manusia adalah kesempatan yang tak ternilai harganya, sayang sekali bila harus dikotori hanya untuk kesenangan sesaat. Beratraksi sulap adalah hobby sekaligus sebagai jembatan yang menghubungkan dia dengan kecintaannya yaitu bermain dengan anak-anak. Selain sebagai seorang pembicara di beberapa radio di Jakarta, Surabaya dan Bali, Gobind telah merilis buku perdananya yang telah menjadi Bestseller, berjudul Happiness Inside dan kalender Abadi yg bernama Days of Wisdom.
Very down to earth, many of the wisdoms were laid in simple terms. Content wise, this is a nice development from the previous book, Happiness Inside, both in terms of writing style and insights.
There are insights that I find very difficult to explain, and yet they were described beautifully here. Well done.
This book is as fascinating as Gobind in person. Full of wisdom, sometimes it makes you laugh (laughing at yourself of course), sometimes it slaps you in the face, and sometimes it puts you in deep thought. This book is not only presents you 99 wisdom, but 99 ways to make you think twice.
99 Wisdom merupakan kumpulan kisah yang ditulis Gobind Vashdev, terbit di Noura Publisher pada tahun 2017 dengan tebal 222 halaman.
99 Wisdom terdiri dari 99 cerita yang mempunyai keterkaitan antara perilaku, emosi, pikiran, dan alam. Beberapa kisah menyimpan maksud tersebut. Salah satunya ada di 'November 2015' Pak Gede Prama sering mengulang kalimat, "Pohon adalah seperti pertapa agung yang tumbuh ke arah cahaya dengan keikhlasan sempurna."
Lanjut lagi ke Happiness is a Choice, satu cerita tentang keseharian keluarga penulis yang memutuskan hidup dekat dengan alam dan melepas produk kimia dalam beraktivitas. Beliau menjelaskan, akan ada konsekuensinya. "Kita dibekali kemampuan untuk memilih respon, apakah kita menerima atau menolak."
Buku bergenre motivasi ini bukan sekadar motivasi eksternal, tetapi, melalui buku ini seakan mengajak ke dalam. Iya, memasuki dalam diri, bahkan dalam ketakutan dan kecemasan itu sendiri. Mengutip satu cerita lagi, ketika penulis merasa sensitif dan marah ketika kendaraan dihadang oleh polisi. Lambat laun, beliau mencari tahu dan merenung, "Sekarang tugas saya adalah merawat dan merawat luka yang disebabkan ketidaksadaran ini. Kalau dibandingkan, tentu lebih enak menyalahkan yang lain. Namun, bila kita ingin sembuh, tidak ada cara lain selain menghadapi rasa sakit yang timbul, memeluknya dengan kasih serta sabar menunggu hingga kering menjemput." (Hlm: 190)
Rasa-rasanya ketika membaca buku ini, beberapa tokoh antar agama juga disebut. Aku yang awam tentang hal ini merasa tercerahkan, para pendahulu yang memahami hubungan antara individu dan alam telah melakukannya dengan baik dan bijaksana.
Sepertinya tidak akan cukup jika dituliskan semuanya di sini. Jika kamu ingin membacanya dan terhalang budget, 99 Wisdom telah tersedia di aplikasi iPusnas. Sebagai penutup, izin mengutip ungkapan Pak Gobind dalam buku ini, "Untuk setiap jiwa yang sedang bertumbuh."
I always love reading motivational books which are closely related to spirituality. This book has everything I need. The content is relatable to our life. I specifically love the parts where Gobin emphasized on human ego. I have the same opinions with him. Ego is what drives us to consume things greedily without being thoughtful to the impacts on our environment. I get a lot of meaningful insights about how the world and life can't be defined with black and white. I recommend this book to everyone who is on their journey to find the true meaning of life. This is such an eye-opening and a heart-warming book.
Buku kedua dari mas Gobind yg mencerahkan pikiran saya tentang bagaimana cara dirinya memandang kehidupan dan spiritualitas. Jika buku pertamanya, Happiness Inside, memiliki cerita panjang di tiap chapter bukunya. Maka di buku 99 Wisdom ini, lebih kepada kumpulan cerita pendek yang yg ditulis olehnya. Ada chapter yang menarik dan cukup panjang, ada juga chapter yg pendek dan terlalu sederhana, seperti membaca status sosmed mas Gobind.
Overall, membaca buku ini cocok untuk saat santai oleh karena singkatnya tulisan per chapter. Mengingatkan saya akan pengalaman membaca cerita pendek ala buku 'Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya' karya Ajahn Brahm. Sama-sama menjernihkan pikiran :)
Seperti judulnya, ada 99 bagian utama dalam buku ini, yang berisi semacam pencerahan dari penulisnya, bagaimana memandang sebuah persoalan dari sudut yang netral. Memandang bahwa pada dasarnya semua hal di dunia ini adalah baik, semua kejadian; seburuk apapun tetap mempunyai makna. Dan yang terpenting adalah memandang arti ikhlas dari prepektif yang berbeda.
Buku pertama yang mengenalkan saya pada konsep mindfulness tanpa menyinggung kata - katanya sama sekali. Potongan - potongan pengalaman penuh dengan pembelajaran ditulis dengan sederhana, lengkap dengan kutipan bijak tokoh - tokoh spiritual seperti Rumi, Buddha atau Yesus.
Saya kagum dengan bagaimana penulis begitu tulus menjalani hidup tanpa pamrih, berserah tapi bukan pasrah, dan mengajak untuk mengenal Tuhan yang bersemayam di masing - masing individu untuk dapat menjalankan hidup selaras dengan semesta. Well written, kind of a book that changing minds.
Karena ada buku Chicken Soup for the Soul, saya juluki buku ini Yoga for the Mind. Sebuah media refleksi diri agar kita bisa meraih ketenangan dan keseimbangan hidup. Disampaikan dalam 99 cerita ringan dan sederhana namun membuat kita mendefinisikan ulang makna kebahagiaan yang selama ini lekat dengan kepemilikan dan pencapaian.
"Bersyukur adalah menerima sepenuhnya apapun yang hadir saat ini tanpa keinginan untuk menggantikanya, bahkan juga tanpa keinginan untuk mendapat nikmat." - Gobind Vashdev