Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?

Rate this book
Kumpulan sajak yang memuat dua belas sajak ini, berbeda dengan kumpulan sajak Sapardi Djoko Damono sebelumnya. Sajak-sajak dalam buku ini lebih panjang atau berfragmen bagai membaca sebuah cerita pendek yang disampaikan dengan bahasa puitis dan liris. Selain itu, sajak-sajak ini juga kental dengan perenungan mendalam sehingga tampak menonjol nilai-nilai filosofisnya. Kumpulan sajak ini dinyatakan oleh Sapardi Djoko Damono sebagai kumpulan sajaknya yang terakhir.

75 pages, Paperback

First published January 1, 2002

15 people are currently reading
346 people want to read

About the author

Sapardi Djoko Damono

122 books1,589 followers
Riwayat hidup
Masa mudanya dihabiskan di Surakarta. Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis", dan "Kalam".

Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.

Karya-karya
Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sampai sekarang telah ada delapan kumpulan puisinya yang diterbitkan. Ia tidak saja menulis puisi, tetapi juga menerjemahkan berbagai karya asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.

Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet "Dua Ibu"). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.

Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan puisi), serta beberapa esei.

Kumpulan Puisi/Prosa

* "Duka-Mu Abadi", Bandung (1969)
* "Lelaki Tua dan Laut" (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
* "Mata Pisau" (1974)
* "Sepilihan Sajak George Seferis" (1975; terjemahan karya George Seferis)
* "Puisi Klasik Cina" (1976; terjemahan)
* "Lirik Klasik Parsi" (1977; terjemahan)
* "Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak" (1982, Pustaka Jaya)
* "Perahu Kertas" (1983)
* "Sihir Hujan" (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
* "Water Color Poems" (1986; translated by J.H. McGlynn)
* "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn)
* "Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
* "Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia" (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
* "Hujan Bulan Juni" (1994)
* "Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling)
* "Arloji" (1998)
* "Ayat-ayat Api" (2000)
* "Pengarang Telah Mati" (2001; kumpulan cerpen)
* "Mata Jendela" (2002)
* "Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?" (2002)
* "Membunuh Orang Gila" (2003; kumpulan cerpen)
* "Nona Koelit Koetjing :Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun)
* "Mantra Orang Jawa" (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)

Musikalisasi Puisi

Musikalisasi puisi karya SDD sebetulnya bukan karyanya sendiri, tetapi ia terlibat di dalamnya.

* Album "Hujan Bulan Juni" (1990) dari duet Reda dan Ari Malibu.
* Album "Hujan Dalam Komposisi" (1996) dari duet Reda dan Ari.
* Album "Gadis Kecil" dari duet Dua Ibu
* Album "Becoming Dew" (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu
* satu lagu dari "Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti", berjudul Aku Ingin, diambil dari sajaknya dengan judul sama, digarap bersama Dwiki Dharmawan dan AGS Arya Dwipayana, dibawakan oleh Ratna Octaviani.

Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata "Ars Amatoria" yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi SDD.

Buku

* "Sastra Lisan Indonesia" (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
86 (27%)
4 stars
122 (39%)
3 stars
83 (26%)
2 stars
16 (5%)
1 star
3 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 33 reviews
Profile Image for Jonas Vysma.
30 reviews32 followers
January 6, 2019
Setelah menyelesaikan buku ini, ada yang sempat terlintas, "ini baru yang namanya puisi". Sajak-sajak dalam buku ini begitu panjang, 'seolah' mengajak pembaca untuk masuk dalam pergumulan yang pelik, yang padahal (sepengetahuan saya) Sapardi menyampaikan hal-hal yang begitu sederhana.

Dari 12 puisi yang ada, favorit saya adalah yang berjudul "Rumput", "Ada Yang Bernyanyi" dan "Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?". Dari ketiga puisi itu, saya menangkap bahwa Sapardi benar-benar menghidupi puisinya. Ia tahu bagaimana cara menyampaikan isi pikiran dan perasaannya menggunakan sajak. Dan ada puisi Sapardi yang secara tak langsung menantang saya; "Surah Penghujan Ayat 1-24". Sapardi seperti seorang seniman lukis yang sabar & tekan. Gilak!

Aduh, Sapardi, janggan kau buat aku mengabdi
pada sajak-sajakmu yang membuatku jatuh hati
Profile Image for fayza R.
227 reviews56 followers
March 27, 2017
overall ngerti maksud sajak2nya mau dibawa kemana dan tentang apa, tapi belum sampai mendetail paham setiap frasa yang dipakai, tapi kalau secara keseluruhan ngerti

ini merasa better baca ini setelah baca Babad Batu yang 70% nya gak ngertii :)))

favorit : sebelum fajar dan sajak tafsir, suka!
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
March 28, 2017
dari empat buku sajak sapardi yang cetak ulang dan saya baca seharian, buku ini agak membuat kepala saya berkerut. rodo susah. selain formatnya yang panjang-panjang macam prosa. juga bahasa sapardi sedikit tak sama. yaaaaa meski tetap judulnya adalah judul favorit, tapi saya butuh pengulangan di banyak sajak biar mudeng......
Profile Image for Marsha28.
146 reviews9 followers
March 26, 2018
3 STARS

Untuk pertama kalinya aku coba membaca kumpulan puisi karya Pak Sapardi Djoko Damono.
Awalnya terjadi sedikit kesalahpahaman, karena awalnya aku kira akan membaca sebuah novel atau kumpulan cerpen. Ternyata, isinya adalah sekumpulan puisi. lol
Menurutku, puisi merupakan suatu karya sastra yang bermakna ganda, tergantung bagaimana cara pembaca menginterpretasikannya. Apa yang kita anggap adalah maknanya, belum tentu sama dengan apa yang dimaksud oleh pengarangnya.
Aku mencoba membaca karya sastra Indonesia, hanya sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahu, dan pemenuh rasa tanggung jawab untuk mendukung sastrawan dalam negri.

Ada berita apa hari ini Den Sastro merupakan bacaan yang menarik. Membawamu menyebrangi pedesaan, merasakan rasanya menjadi batu, mengikuti semangat perjuangan.
Profile Image for Rari Rahmat.
38 reviews7 followers
September 25, 2020
buku bacaan 2020 ke-45

/2/

Apakah kenangan bisa begitu saja meninggalkan tubuhku?
Ada yang terasa nyeri ketika sesuatu kebetulan kautangkap dalam kenangan, pada suatu pagi yang jeritnya bagai ombak, ketika perempuan itu dulu bertanya padamu tentang segala yang telah kaulalui, tentang bekas-bekas jari tanganmu yang masih bisa terbaca di seluruh tubuhnya.
---
Apakah ada yang bisa begitu saja meninggalkan tubuhku?
Kau benar, ada yang selalu berada di sampingmu ketika kau berjalan sendirian malam-malan, dan tak seorang pun pernah melihatnya, kecuali dirimu sendiri.

/9/
---
Mereka pasti tidak membayangkan bahwa mendadak semerbak, dan tidak akan bisa kautolak, bau wangi ketika kau pertama kali mencium perempuan itu di dalam becak, ketika malam-malan mengantarkannya pulang; ketika memeluknya di ruang kuliah yang kosong; ketika untuk pertama kalinya kaudengar jeritnya di hotel murahan itu.

(Ada yang Bernyanyi)

Ada yang bernyanyi. Ada
yang tak bernyanyi. Ada yang bergerak
di pohon itu: mungkin sebuah nyanyian,
mungkin bukan sebuah nyanyian —
hanya semacam kenangan
yang mengibaskan waktu. Ada yang bernyanyi. Ada yang tidak bernyanyi.
Ada nyanyian yang hendak kauusir

(Sajak Tafsir, 6)
---
Aku tidak terlibat dalam makna
seperti yang mereka bayangkan
tentang diri mereka sendiri —
bukan bahasa yang tak lain masa lalu.
---
Aku tidak memerlukan bahasa —
diam bukan batu, mengalir bukan sungai,
dicangkul bukan sawah,
terbang bukan burung,
bertahan bukan daun.
Aku tidak, bukan apa pun.

(Rumput)

/5/
---
Tidak ada apa pun selain kulitmu
yang mulai keriput,
matamu yang semakin kabur,
gendang telingamu yang tak lagi lentur.
Apakah kau masih juga bersitahan
menyanyikan masa kanak yang mengharamkan
pertanyaan, yang seluruhnya merupakan jawaban?

(Sebelum Fajar)
---
Hanya sebuah meja makan,
sisa makanan, dan bayangan seekor cicak
yang terkejut dan lari entah kemana,
hanya sebuah kenangan akan sesuatu
yang mungkin memang tak pernah ada,
hanya sebuah harapan
yang tidak mungkin diharapkan,
hanya sebuah kehidupan. Yang tak mungkin
dihidupkan kembali
sebab menang tak pernah dijalani.

(Perihal Waktu)

/3/
---
Kenapa kita tidak bersama-sama
sebelum dewasa untuk berbagi
sepinggan masa kanak? Kenapa
aku di situ dan kau di sana—

/4/

Kita mungkin memang diciptakan agar ada
yang bisa merasa bahagia.
---
Siapa yang berusaha membujukku berduka,
menafsirkan kuning sebagai hitam,
menerima air mata sebagai tangisan?
Jika ada yang lewat — lewat sajalah.
Tak boleh ada yang merasa terganggu
ketika waktu lewat, ketika satu demi
satu yang kita cintai
tak ada lagi di sekeliling kita,
ketika tak ada lagi yang mengembalikan
setiap tarikan napas kita
menjadi debu.
Profile Image for weirdniss.
39 reviews5 followers
August 9, 2020
Wow... dari sekian buku puisi Pak Sapardi yang kubaca, sepertinya baru ini kubaca buku puisi isinya panjang-panjang. Sungguh, sajak Pak Sapardi memang tidak perlu diragukan lagi.

Ajaibnya, meski buku puisi ini panjang-panjang, namun makna nya tetap sederhana. Suka sekali.

Dari 12 puisi yang ada, yang paling kusukai adalah 'Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?', 'Ada yang bernyanyi' dan 'Rumput'. Dan puisi yang paling menamparku adalah 'Surah Penghujan: Ayat 1-24'.

"...musim harus berganti musim agar langit bergeser dari kelabu ke biru agar air jadi kabut dan mendaki lereng agar pohon busuk menjadi pupuk pohon yang baru agar daun meneteskan butir embun untuk diserap akar agar bunga layu kembali menguncup menawarkan madu agar rumput menunggu tukang kebun agar telur menetas dan burung terbang dan hari bergeser dan batu berguling ke lembah agar kau melupakan untuk kembali mengingat-Ku
dan kau menyalakan api
*
dan Aku telah melaksanakan kehendak-Ku
ㅡ Surah Penghujan: (ayat 24)
Profile Image for Hëb.
170 reviews7 followers
January 4, 2021
Disclaimer; Aku sedikit bingung karena ada perbedaan jumlah halaman di goodreads (75halaman) dengan iPusnas (124 halaman). Entah karena perbedaan format atau cetakan XD

Hal pertama yang membuatku bertanya² adalah soal pemilihan judul buku. Setelah membaca sampai akhir, aku berpikir bahwa mungkin buku ini akan lebih baik apabila diberi judul "Surat Penghujan, ayat....." seperti judul 'surat' dalam buku ini. Bagian Surat Penghujan sendiri menurutku cukup apik karena ditulis seumpama terjemahan dari ayat² kitab suci. Ini menjadi salah satu hal baru yang aku temukan dalam buku² mendiang Sapardi.

Membaca buku ini sama halnya dengan membaca karya Sapardi yang lain. Seperti biasa, pemilihan gagasan yang menjadi inti dari bait² puisinya membuatku berpikir -bahwa Sapardi bisa dengan mudah menciptakan bait² puisi hanya dengan melihat satu-dua objek. Mulai dari sinetron, telepon, daun, bahkan hujan -yang menjadi nama 'surat'. Dari buku ini, aku juga mulai memahami ciri khas Sapardi yang membagi bait² puisi dalam penomoran yang menunjukkan urutan kejadian.
Profile Image for Ahmad Baihaqi Musyafa.
31 reviews6 followers
April 26, 2020
Aku tidak memerlukan bahasa—
diam bukan batu, mengalir bukan sungai,
dicangkul bukan sawah,
terbang bukan burung,
bertahan bukan daun,
Aku tidak, bukan apa pun


Menyerupai prosa—panjang—tetapi lebih liris, juga lebih dalam. Puisi-puisi Sapardi di sini mengalir indah pada setiap larik dan bait. Jika memang—semoga tidak— ini adalah kumpulan sajak terakhirnya secara individu, maka kita akan merasa kehilangan. Kehilangan karena merindukan karya salah satu maestro puisi Indonesia.

Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? dan Sajak Tafsir ada pada level yang lain. Tabik.
Profile Image for Tresdomaio.
6 reviews
Read
December 22, 2024
Di zaman Teknologi canggih ini, kami menciptakan Portal Tresdemio untuk menginformasikan berita terkini untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat dan akan menerbitkan peristiwa politik, sosial, ekonomi, kuliner, dan mancanegara

TresDemaio adalah platform artikel terpercaya yang menyajikan berbagai informasi menarik, inspiratif, dan edukatif. Kami hadir untuk memenuhi kebutuhan pembaca dengan konten yang berkualitas, mencakup beragam topik seperti Kuliner, gaya hidup, Politik, bisnis, dan banyak lagi.

Profile Image for Ghaida Setiana.
98 reviews6 followers
March 18, 2020
Benar, kau pernah bilang tak perlu membedakan pergi atau pulang, mengosongkan atau mengisi teka-teki silang. Stasiun bukan Pohon, bukan Bukit, bukan Gua — stasiun adalah tempat orang gelisah karena menunggu kereta, bukan Sabda. Beberapa patah kata di papan-papan itu hanya menunjukkan arah, suatu peluit sekedar syarat — selebihnya kitalah yang berurusan dengan makna.
Charming as always. Tapi buku ini agak berat jadi jangan buru-buru bacanya, ya.
Profile Image for tia.
239 reviews7 followers
July 1, 2020
Berbeda dari beberapa buku puisi yang lain, dengan buku puisi yang berjudul ‘Ada Berita Hari ini, Den Sastro?’ lebih filosofis dan membuat merenung.

Bahasa yang sederhana namun terkena tepat di hati, rasa-rasanya memang menjadi kelebihan dari buku ini ketimbang buku puisi Eyang Sapardi yang lain.

Yang dibahas pun sesungguhnya sederhana, tentang kejadian sehari-hari yang kadang luput dari pandangan diri sendiri namun ditelaah lebih jauh, mampu membawa diri menuju ke perenungan mendalam.
Profile Image for Widia Kharis.
47 reviews
March 23, 2019
akhirnya selesai juga. cukup berat ya sajak-sajak pak sapardi di buku ini, terlebih modelnya panjang-panjang seperti prosa. tapi saya suka. dua puisi kesukaan saya adalah Sajak Tafsir dan Rumput. saya sangat menikmati setiap kata yang dirangkai dengan indah. ada satu puisi yakni Surah Penghujan Ayat 1-24 yang menarik sekali, sayangnya otak saya nggak nyampe buat memahami isinya hehe.
Profile Image for tiara.
46 reviews
September 5, 2020
4.5/5

"Dan ketika Rabu menyebrangkan aku ke Sabtu, kau ternyata sudah berada disana bersiap untuk berangkat ke Rabu, tanpa melambaikan tangan padaku sebab kita senantiasa bersama di dalamnya — di luar waktu."

Mungkin menceritakan tentang dua orang yang saling mencintai, tapi tak pernah dipertemukan waktu, walaupun begitu, cintanya tak pernah sekalipun terkikis, karena cinta tak mengenal waktu?
Profile Image for Lidia.
91 reviews
July 28, 2021
Membaca buku ini serasa seperti membaca cerita pendek yang puitis. Ada tokoh, alur, dan konfliknya. Sajak-sajak panjang dibaca dengan seseorang yang pendek pemahaman seperti saya ini, butuh konsentrasi agar maknanya dapat.

Terlepas dari panjangnya sajak ini, saya jujur suka frasa2 yang digunakan pak Sapardi. Keren!
Profile Image for Michiyo 'jia' Fujiwara.
428 reviews
October 12, 2025
Aku tidak terlibat dalam makna seperti yang mereka bayangkan tentang diri mereka sendiri -bukan bahasa yang tak lain masa lalu. Dan kau juga tak akan mampu membayangkan aku sebagai kapan saja.

Aku tidak memerlukan bahasa diam bukan batu, mengalir bukan sungai, dicangkul bukan sawah, terbang bukan burung, bertahan bukan daun. Aku tidak, bukan apa pun. 

Hal. 34
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
October 14, 2017
ketika kau menengadahkan kepalamu kata hangus;
Kulihat kau meniti bekas-bekas tapak kai yang tak sempat dihalau
penghujan

biarlah kata hangus, bagai pokok kayu yang menjadi arang
yang mengingatkanku pada kemarau, katamu - tidak kepada-Ku
Profile Image for Panca Erlangga.
116 reviews1 follower
February 5, 2018
Yang bertajuk Sajak Tafsir dan yang menjadi judul buku ini, terbaik!
Dan, nampaknya, saya harus membaca lagi sajak terakhir yang terdapat dalam buku ini karena belum sepenuhnya paham.
Profile Image for readorables.
198 reviews95 followers
July 26, 2020
Puitis dan kias banget! Tapi sukaa dan ketagihan bacanya. Favoritku “Rumput” dan “Perihal Waktu” ☺️ keduanya berhasil membuatku tertegun.

Al Fatihah untuk Pak Sapardi Djoko Damono 🤲🏼
Profile Image for Mourning_elf.
585 reviews28 followers
August 19, 2020
Sajak- sajak di buku ini lebih panjang, semacam prosa yang bercerita tapi masih sarat makna. Favoritku dari buku ini adalah Perihal Waktu dan Surah Penghujan ayat 1-24.
Profile Image for muhammad romadlon.
36 reviews
September 14, 2021
Time present and time past
Are both perhaps present in time future,
And time future was present in time past.
Profile Image for Henny Alifah.
Author 1 book12 followers
December 11, 2022
(((kita mungkin memang diciptakan agar ada yang bisa merasa bahagia)))
Profile Image for Nindya Chitra.
Author 1 book22 followers
July 8, 2019
Apa ya? Singkatnya, saya penggemar sajaj-sajaknya Pak SDD. Udah, itu saja.
Profile Image for gieb.
222 reviews77 followers
June 12, 2008
buku kumpulan puisi SPD yang terakhir. ayuk berburu..

gieb.
Profile Image for Diah Didi.
689 reviews142 followers
November 4, 2011
Beli karna suka sampulnya. Jujur, saya nggak ngerti puisi atau sajak, tapi isinya lumayan menarik, meskipun mungkin saya tidak benar-benar bisa menangkap maksud dan isinya. ^^
Profile Image for 沈沈.
738 reviews
February 12, 2020
Kepala saya dibuat bingung. Tapi, inilah karya Pak Sapardi yang tak kalah saya sukai.
Displaying 1 - 30 of 33 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.