Ia tak menulis untuk menginspirasi banyak orang. Ia bahkan tak bisa baca tulis. Tapi kepeduliannya pada pendidikan telah mengubah nasibnya, nasib kami, anak-anaknya. Juga nasib banyak orang di kampung kami.”
Emak memang bukan Kartini. Dia sama sekali buta huruf Latin hingga akhir hayatnya. Dia perempuan sederhana, bagian dari rakyat kecil yang mudah dijumpai setiap Hari. Namun, Emak punya mimpi besar. Mimpi indah. Yang dibangunnya dari cucuran keringat Dan kerja keras tiada henti, demi masa depan anak-anaknya. Keinginan Emak cuma satu: anak-anaknya harus sekolah sampai pendidikan tinggi. Keinginan sederhana yang tak mudah terwujud karena di kampungnya tak Ada sekolah, miskin, Dan hampir tak punya apa-apa. Namun, Emak bukanlah Emak bila berhenti pada ketiadaan. Tak Ada sekolah? Dia dirikan sendiri. Tak Ada uang? Dia berjuang mencari. Membuka ladang, jadi petani, jadi pedagang, pengurus jenazah, sampai perias pengantin dia lakoni. Meski kadang letih, penat, Dan jemu. Toh, ketika tiba waktunya anak-anaknya terbang mencari ilmu, Emak tak selalu tegar melepas mereka pergi. Kisah Emak, Dan Ayah-suami Emak, adalah gambaran sebagian besar orangtua di Indonesia. Orangtua yang kadang dibelit berbagai sekat keterbatasan. Kisah-kisah perjuangan yang senyap inilah yang turut membentuk generasi demi generasi di Indonesia sampai sekarang. Namun, dalam keterbatasan mereka, para orangtua itu tak akan menyerah untuk menyiapkan mimpi terbaik bagi anak-anaknya.
Aku lahir di Teluk Nibung, kampung yang kuceritakan dalam buku “Emakku bukan Kartini”, tahun 1968. Bulan dan tanggalnya aku tak pernah tahu. Di masa itu tak ada orang yang merasa perlu untuk mencatat tanggal berapa anaknya lahir. Emak hanya sering bercerita bahwa aku berumur kira-kira 40 hari waktu Long, kakakku yang tertua menikah di tahun itu. Kampung kami ini terletak di pesisir selatan Kalimantan Barat, kini masuk dalam wilayah Kabupaten Kubu Raya.
Sejak kecil aku sudah bermimpi untuk sekolah ke luar negeri. Tamat SD di kampung, aku melanjutkan sekolah ke Madrasah Tsanawiyah I Pontianak, atas suruhan Ayah. Ayah ingin aku jadi guru agama. Sempat terpikir olehku untuk melanjutkan ke Gontor, tapi Ayah menolak, karena tak sanggup membiayai. Aku kemudian masuk SMA 2 Pontianak. Atas saran De, abangku, aku kemudian melanjutkan kuliah di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Gadjah Mada. Lulus kuliah aku sempat bekerja sebentar di perusahaan minyak di Pendopo, Sumatera Selatan. Kemudian aku menjadi dosen di Pontianak.
Tahun 1996 aku mendapat beasiswa untuk. Elajar bahasa Jepang melalui Asian Youth Fellowship Program di Kuala Lumpur, lalu tahun berikutnya aku melanjutkan S2 dan S3 di Department of Applied Physics Tohoku University. Aku lulus doktor tahun 2002. Setelah bekerja 2 tahun sebagai peneliti tamu di Kumamoto University, aku kembali menjalankan tugas sebagai dosen di Pontianak. Kemudian aku kembali ke Jepang, bekerja sebagai assistant professor, lalu visiting associate professor di Tohoku University, Sendai, Jepang.
Sejak tahun 2007 aku kembali ke Indonesia, bekerja di perusahaan Jepang, hingga kini.
Di belakang seorang pria sukses, berdiri wanita yang hebat. Pepatah ini mungkin sudah sering kita dengarkan. Demikian pula yang terjadi dalam hidup Hasanudin Abdurakhman, seorang Doktor di bidang Fisika, lulusan Tohoku University, Jepang.
Wanita hebat itu adalah Emak, seorang ibu dari delapan orang anak yang tinggal di pesisir selatan Kalimantan Barat. Emak dan Ayah bukanlah orang berada, tetapi mereka pekerja keras. Sebagai petani, mereka mengolah kebun kelapa dan kopi. Setahun sekali mereka menanam padi. Hasil kebun dan sawah dimanfaatkan untuk hidup sehari-hari dan membiayai keperluan rumah tangga.
Aku melihat semangat hidup Emak dipicu oleh 2 hal tadi. Ia dilarang belajar, dan ia hidup miskin. Sepanjang hidupnya ia berjuang untuk 2 hal itu, membebaskan dirinya dan anak-anaknya dari kebodohan dan kemiskinan (Hal 24)
Yang mengagumkan dari sosok Emak adalah usahanya membebaskan anak-anaknya dari kebodohan dan kemiskinan. Selain membantu Ayah berkebun, Emak juga berdagang. Emak pun menjadi perias pengantin. Semua dimulai dari nol, dari hanya coba-coba hingga akhirnya mendapat untung. Emak juga manajer pendidikan yang ulung. Dia mengatur pendidikan setiap anaknya, hingga berhasil. Ketika anak-anaknya semakin banyak yang bersekolah di kota, Emak membangun rumah untuk mereka.
Emak adalah perintis mode, pembawa berbagai gaya busana kota ke kampong kami. (Hal. 143)
Bukan hanya anaknya, Emak juga "pahlawan" bagi kampong Teluk Nibung. Emak mendorong Ayah untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak di kampong. Emak menjual baju-baju dari kota supaya para wanita bisa berpakaian layak.
Selain kisah Emak, buku ini juga menceritakan perjalanan pendidikan Hasan. Saya kagum dengan sosok Hasan yang punya mimpi besar. Dia memilih ilmu Fisika, ilmu yang jarang dilirik oleh orang. Jalannya meraih pendidikan tinggi tidak mulus, ada banyak sandungan. Tapi keteguhan hatinya dan tekadnya mengantarnya menjadi seorang doktor.
Menyandingkan Emak dengan sosok Kartini bagaikan ironi. Emak bukan bangswan. Emak buta huruf. Emak tidak menulis surat untuk kawannya. Tapi Emak mengantar anak-anaknya menuju kesuksesan. Catatan hidup anaknya menjadi bukti nyata. Sosok Emak mewakili banyak sekali orangtua di Indonesia yang berjuang habis-habisan untuk pendidikan anak-anaknya. Tentu ada di antara kita yang punya "Emak-Emak" yang mungkin menempuh cara yang berbeda. Tanpa menafikan dan mengabaikan perjuangan Ibu Kartini, Emak adalah sosok Kartini yang sesungguhnya.
Membaca buku ini secara tidak langsung mengingatkan saya akan kisah Laskar Pelangi dan Negeri 5 Menara tentang perjuangan anak kampung dari desa terpencil di Pontianak yang gigih dalam menggapai ilmunya sampai ke Jepang dan betapa emak beliau mengambil porsi peran terbesar didalam hidupnya. Sedih pas membaca mereka berdelapan bersaudara dan emak bercita-cita anaknya harus menggapai sekolah setinggi mungkin mereka tidak boleh tidak sekolah harus menjadi pintar agar bisa mengubah nasib dan tidak miskin
Kasih ibu memang sepanjang masa dan tidak akan lekang oleh waktu! >__<
Di dunia ini tak ada sosok yang begitu berpengaruh pada diri seorang manusia, di samping ayah kecuali seorang Ibu, bahkan bagi sebagian orang, ibu (Emak) adalah sosok sentral dalam kehidupan mereka. Dan bagi Kang Hasan, Emak adalah sumber energinya.
Buku ini berisi catatan-catatan kesaksian Kang Hasan tentang Emaknya. Emak yang bersama suaminya (ayah Kang Hasan) menyingsingkan lengan baju untuk menebang pohon dan membuka lahan untuk mengubah nasib keluarganya dengan cara berkebun, Emak yang tak menyerah pada kemiskinan yang membelitnya dengan cara berdagang dan merias, Emak yang meski tak pernah sekolah, namun cakrawalanya terbentang jauh melampaui pulau kecil tempat kampungnya berada, Emak yang memiliki kesadaran bahwa pendidikan adalah jalan untuk memastikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya.
Banyak orang menganggap perempuan adalah makhluk lemah yang bersimpuh tak berdaya di hadapan kezaliman, tekanan sosial, atau terhadap keadaan yang tak bersahabat. Namun hal demikian tidak berlaku bagi perempuan yang telah melahirkan, membesarkan dan mendidik Kang Hasan. "Emakku bukan Kartini. Ia tak menulis untuk menginspirasi banyak orang. Ia hanya berbuat, membuktikan bahwa perempuan tak selalu lemah dan menyerah. Ia menunjukkan dengan perbuatan, bahwa kemiskinan bisa dilawan. Emak bukanlah tokoh bangsawan, ia pun bukan petinggi di tengah masyarakat. Tapi ia telah menunjukkan hal yang paling substansial dalam soal kepemimpinan. Yaitu bahwa kepemimpinan itu adalah memberi pengaruh pada orang, untuk membuat perubahan", kesaksian Kang Hasan.
Menurutku, hadirnya buku “Emakku Bukan Kartini” karya Hasanudin Abdurakhman ini teramat sayang untuk di lewatkan begitu saja, khususnya bagi para perempuan. Banyak hal yang bisa kita teladani dari Emak. Apa saja hal itu? Baca bukunya, dan temukan jawabannya :)
Sebuah cerita menggugah tentang sosok Emak yang tak bisa membaca namun bercita-cita menyekolahkan kedelapan anaknya sampai perguruan tinggi. Beberapa kali saya menyeka air mata terharu. Membaca ini membuat saya makin mencintai orang tua.
suka banget sama buku ini. tulisannya menarik dan nggak membosankan. jadi bisa ikut ngerasain perjuangan emak dan ayah menyekolahkan anak2nya. sampe nangis2 bacanya.
Beberapa bagian dalam buku ini seakan membawa saya kembali ke pengalaman masa kecil di kampung tempat saya tinggal dulu. Buku ini sangat mudah dan enak dibaca, tidak terasa anda akan sampai pada bagian akhir dari buku ini.