Aku melepas pelukmu dengan harapan ini bukan yang terakhir. Namun, kamu tetap pergi. Air mataku yang jatuh satu per satu, tak pernah kamu gubris lagi. Begitu saja kamu putuskan untuk lari, tanpa peduli dengan segalanya yang sudah kita bangun sejauh ini. Sehebat apa dia hingga mengubahmu jadi lelaki yang tak lagi kukenali?
Kamu ciptakan perpisahan, tanpa menatap aku yang kesakitan. Kamu kuburkan semua kenangan, seakan aku tidak pernah kamu jadikan tujuan. Kamu bunuh semua harapan hingga membuat aku muak dan kelelahan.
Kapan hari itu akan datang? Saat pada akhirnya kamu akan berhenti mencari, kemudian menyadari bahwa akulah harusnya tempatmu kembali.
Kalau penulis menyebut buku ini sebagai sebuah novel, akan jujur kukatakan tidak ada yang spesial dari buku ini. Bukan berarti jelek bukan berarti bagus bagus amat. Tidak seperti itu.
Buku ini menguatkan pembaca pada sisi kedalaman batin tokoh "Aku" yang baru saja putus cinta dan melalui segelintir peristiwa asmara yang mengubah pandangannya tentang kisah cintanya yang telah pupus.
Buku ini lebih cocok disebut sebagai kumpulan prosa ketimbang novel. Novel punya alur dan konflik yang jelas, terdapat perkembangan karakter yang signifikan dan logis. Tapi buku ini lebih cocok disebut Prosa. Buku ini terdiri dari beberapa bab yang masing-masing jumlah halamannya sedikit dan menawarkan isi pikiran seorang "Aku" atau wanita yang patah hati dan mencoba bangkit.
Setiap orang yg pernah patah hati pasti akan merasa sangat relate dengan kisah si "Aku" ini. Ia sosok perempuan yang terlalu banyak berpikir, membanding-bandingkan dan juga bergumul dengan perasaannya sendiri. Kisah cinta yang pahit, itulah yang sebagian besar kutangkap dari buku terbaru Dwitasari ini.
Kudengar kabar buku ini masuk cetakan kedua. Hmmm, mungkin pembaca setianya sangat mengapresiasi karya seni ini.
Untuk kumpulan prosa sederhana bagai buku harian ini, aku acungkan jempol untuk Penulis dan juga para editor yang telah membuat buku ini menjadi terasa lebih indah dan juga sentilan motivasi bagi pembaca yang sedang mencoba move on dari kisah cinta masa lalunya.
saya enggak pernah baca buku dwitasari sebelumnya, baru ini yang pertama kali dibaca. kalau bukan karena ini diberi dan disuruh untuk menceritakan kembali, mungkin saya enggak bakalan baca-baca. bagi saya, buku ini kayak sebuah catatan hati si 'aku' ini. menurut saya, ini juga enggak cocok disebut novel, sih. untuk penggemar dialog, saya agak bosan juga baca buku ini. demi apapun, ini rekor baca terlama saya dengan buku setipis ini, menurutku. terlalu banyak narasi. bahkan saya tertidur sewaktu baca buku tersebut. untuk kover dan quotesnya, saya acungi jempol. saya enggak tahu sebelumnya, ini memang ciri khas dwitasari atau bukan, menulis dengan keseluruhan narasi, karena saya belum baca buku dia yang lain.
Seperti yang bisa kita tebak dari judulnya, Setelah Kamu Pergi menceritakan kehidupan sang 'Aku' setelah ditinggal kekasihnya, si Abang. Galau itu pasti. Ia kemudian bertemu dengan seseorang yang dipanggilnya Koko yang menjadikannya kekasih gelap.
Dwitasari seperti buku-buku sebelumnya hadir dengan gaya bertutur yang sangat ringan ala remaja. Mungkin memang buku ini memang bukan saya banget. Alur penceritaan yang sangat lamban hingga 70 halaman pertama, kemudian tiba-tiba banting setir ke plot lain.
This book strengthens the reader to the inner depths of the character "I" who has just gone through a breakup and through a handful of romantic events that change her view of her lost love story.
This book is more suitable as a collection of prose than a novel. Novels have a clear plot and conflict, there is significant and logical character development. But this book is better suited as prose. The book consists of several chapters, each with a small number of pages, and offers the thoughts of an "I" or a woman who is heartbroken and trying to get back on her feet.
For this collection of simple, diary-like prose, I give a thumbs up to the author and the editors who have made this book feel more beautiful and also a motivational jolt for readers who are trying to move on from their past love stories.
Saya pria dewasa yang baca buku romance remaja. Hehe. Bagi saya setiap anak karya pastilah spesial bagi penulisnya. Jadi ketika disodorkan buku ini utk kemudian mengupasnya dalam sebuah acara meet and greet penulisnya, saya terima saja. Toh jarang saya mengupas buku romance remaja. Jd sebagai tambahan pengalaman tak apalah. Cerita dalam buku baru beberapa halaman saja sudah bs menebak bahwa ini cerita pribadi penulisnya. Tidak ada yg salah dgn itu, dan saya rasa kebanyakan penulis menuliskan kisah yang mereka alami juga. Naik turun kisah cinta yg diangkat dalam buku ini juga menjadi related dengan pembaca wanita yg kemungkinan mengalami hal yang serupa. Ditinggal pas lagi cinta-cintanya. Ciieee. Tapi toh hidup harus maju, yg lama harus ditinggal. Di sinu diceritain banyak hal yang bikin kita terus jalan dengan kondisi perasaan kayak gimana pun. Jadi sebenernya membaca buku ini mah santai-santai aja. Cenderung cepat malahan. Mungkin krn saya enggak baperan dan tidak menganggap semua yg diceritakan benar adanya. Hehe. Nyatanya kalo semua itu sudah berlalu, kamu bakalan merasa semua hal yg bikin kamu sakit itu berguna dan enggak ada apa2nya dengan apa yg sudah kamu miliki sekarang. Ciao!